Mata Angin - Sajak Pejalan Malam - Dua - Kwartrin Pagi - Derai Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata Angin - Sajak Pejalan Malam - Dua - Kwartrin Pagi - Derai Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:11 Rating: 4,5

Mata Angin - Sajak Pejalan Malam - Dua - Kwartrin Pagi - Derai Hujan

Mata Angin

Rasa cemas pun berlari mengitari
bayangku. Antara lindap
merayap sabankali meratap
Di antara dua mata: buritan dan palka

Beberapa ranting ikan patah
Angin laut gelisah. Seperti dicatat
di buku penuh gurat
Oleh mata angin menahan ingin

di balik tubuh. Musim
mangsa labuh

Yogya 2015 

Sajak Pejalan Malam 

Kupindahkan tubuhku dari suatu malam
ke lorong kesenyapan. Dingin mengajak diam
Di ujung, sepotong cahaya dan segelintir suara
berencana
Mengangkatku ke suatu tempat. Berpadang datar,

berbutir pasir. Putih merintih getir.

Inikah Mahsyar yang kau janjikan? Tak ada teriakan
sangkakala. Hanya samar suara gemerincing
Scalpel mengadu pada gunting. “Aku lelah menjagai
kamar bedah.“
Kedua pengawal pun mencatat alamat singgah

Subuh tubuhku kutinggalkan dalam demam
Lamat-lamat kuingat tempat kuberangkat
Sebuah alamat di ruang penat.

Selamat datang pejalan malam
Tempatmu sudah dipersiapkan
Bimbang hilang.

Yogya 2015 

Dua

Satu diam, satu gemetar
Saling tatap

Satu tanya, satu lupa
Jadi dua

Satu lela, satu tabah
Lawan kalah

Satu kata, satu gerak
Dinding retak

Satu dingin, satu hangat
Lipat abjad
Satu kupunya, satu kaupunya
Barangkali

Kapan kembali?

Yogya 2015 

Kwartrin Pagi 

(1)
Gemeretak bukan detak
Dingin sembunyi di balik kawat
Dan deretan aksara meloncat
Tanggalkan koma lupa bertanya

(2)
Urat cahaya semburat pagi
Sepi mulai tersingkir rapi
Suara tuter menyemai gemas
Sekumpulan rindu lepas

Yogya 2015 

Derai Hujan 

Derai hujan melelehkan butir-butir diam.
Katak diam. Kata berlompatan.
Sebagian kuyup sebagian lain takjub.

Bagi kuyup, dingin merentak sungai
hingga hilir bekukan rindu. Sepetak tanpa retak
Tanpa jejak

Bagi takjub, semaikan benih jiwa
hingga angin beredar. Tak sekedar bertiup
Lepas katup

Yogya 2015


Slamet Riyadi Sabrawi, lahir 12 Juni 1953 di Pekalongan. Buku antologi puisinya terbaru Ujung Beliung (2015), sesudah enam antologi puisinya yang lain.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Slamet Riyadi Sabrawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Mata Angin - Sajak Pejalan Malam - Dua - Kwartrin Pagi - Derai Hujan"