Membakar Penyamun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Membakar Penyamun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:19 Rating: 4,5

Membakar Penyamun

SEPASANG matanya tengah disaput kekosongan. Sekarang bapak nampak asing dan menyedihkan. Semenjak peristiwa itu sering diberitakan, aku terus mencari kebenaran. Mencari jawaban atas kesedihan yang bapak rahasiakan. Barangkali, kesedihan bapak datang dari tuduhan orang-orang. Katanya bapaklah yang menyebabkan kematian seorang begal.
SEKARANG jadi lebih murung dan memilih mengurung dirinya di kamar. Kesedihan bapak atas kepergian ibu belum selesai, tapi peristiwa ini, jelas telah membuat bapak semakin terguncang. Begitu hebat upaya bapak mempersiapkan diri menghadapi kematian ibu. Sementara untuk tuduhan-tuduhan ini, ia sama sekali tak pernah menduga dan tak mempersiapkan apa-apa. Bapak seolah ditimpa kesedihan yang lebih mengerikan. Bapak jadi sulit kuajak bicara. Ia semakin sering bersembunyi dan menatap jauh ke langit-langit.

Luka yang bapak sembunyikan dalam kantung matanya, aku yakin hanya kekecewaannya pada keadaan. Aku mencoba bersikap wajar, tapi pembicaraan orang-orang tentang bapak tak juga berakhir. Secara sembunyi-sembunyi, aku mengikuti kemana pun desas-desus itu berembus. Mencari setiap cerita tentang seorang begal yang mati, juga seseorang yang telah membakarnya.

Aku mencari keterangan dari cahaya yang masuk lewat atap rumah, mencari kebenaran dari angin yang membisik melalui celah jendela, dari suara-suara yang selalu membawaku kembali menghadapi kesedihan bapak, juga dari kabut, yang akhir-akhir ini sering menyelimuti kampungku ketika malam semakin larut.

Sejak kesedihan bapak, sore hari hujan selalu turun dan tak membiarkan anak-anak bermain petak umpet ataupun egrang. Suara tawa dan tangis mereka jadi jarang terdengar, begitu pula suara gaduh para peronda. Kampungku mendadak senyap. Tapi sepertinya orang-orang masih terus saling berbisik dan menuduh. Bukan di sini, melainkan di ruang lain, jauh di dalam kepala mereka. Di sebuah ruang kedap suara.

**
KESUNYIAN di kampung ini justru menjelma jadi suara-suara paling bergemuruh dalam kepalaku. Begal itu ditangkap. Diarak orang banyak. Sambil diseret, orang-orang terus memukulinya.

Mereka memotong jari tangan begal itu agar dengan begitu, ia tak bisa lagi memasukkan apa-apa yang ada di dunia ini ke dalam mulutnya. Begal itu berteriak-teriak memohon ampun, tapi amarah orang-orang tak juga mereda.

Penyiksaan itu tak juga berhenti. Orang-orang merentangkan tangan begal itu dan hendak memotongnya. Tapi bapak tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan. Bapak menyiramkan bensin lalu melemparkan korek api yang karenanya tubuh begal itu terbakar, hangus dan mengenaskan.

Begitulah gemuruh itu menyampaikan cerita sesungguhnya padaku.

Hari ini aku mendengar mayat begal itu akan dipulangkan dari rumah sakit ke rumah duka. Maka aku tak berpikir lama. Aku bergegas untuk melihatnya. Tiba di sana, orang-orang telah berkerumun dan berdesakan. Barangkali mereka ingin mendapat posisi paling baik untuk melihat mayat seorang begal yang dibakar.

Aku mendesak masuk. Tiba di dalam rumah, aku dikagetkan oleh anak kecil yang tengah menjerit-jerit memanggil bapaknya. Ketika aku duduk dan menundukkan wajahku untuk berdoa, anak itu menangis lebih keras, meronta meminta kepada orang-orang agar bisa membangunkan bapaknya. Aku menahan sesak luar biasa. Anak itu tiba-tiba membuka kain yang menutupi wajah bapaknya. Sebuah wajah yang kemudian membuat orang-orang mengernyit dan memalingkan muka.

Dari orang-orang yang saling membisik, aku mendengar anak itu telah lama ditinggal mati oleh ibunya. Aku tak bisa bayangkan jika anak itu harus tetap menjalani kehidupan dengan sebagian miliknya yang telah hilang, bahkan hampir seluruhnya. Jeritan anak itu tak urung reda. Malah kini betul-betul membuat aku terpukul. Aku sekarang mengerti ketakutan macam apa yang telah bapak sembunyikan di balik kantung matanya. Di sini, bapak nyatanya telah menciptakan sebuah kehidupan yang begitu mengerikan, kesedihan seorang anak penyamun, yang hanya dengan kematian ia akan hilang.

Aku langsung berpikir untuk melakukan yang bapak lakukan. Akan kutumpahkan bensin pada sekujur tubuh anak itu. Disusul dengan korek api yang akan menyulut habis rasa sakitnya. Nanti, aku hanya akan melihat kesedihan anak itu semakin lama semakin menguap.

Bapak pasti lega mendengar apa yang akan aku lakukan. Lalu setelahnya, aku akan memiliki mata serupa bapak; disaput kekosongan, asing dan menyedihkan.***

Februari 2015

Resna J Nurkirana, anggota ASA UPI. Bergiat di jurusna Bahasa Indonesia dan tengah menyiapkan kumpulan cerpen berjudul "Alegori Hujan."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Resna J Nurkirana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Membakar Penyamun"