[memento mori] - [batumata] - [menyapu pekarangan] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
[memento mori] - [batumata] - [menyapu pekarangan] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

[memento mori] - [batumata] - [menyapu pekarangan]

[memento mori] 

: Leil Fataya 

“demi semburat jingga senja ini 
jangan sama sekali hatimu mendambakan pagi nanti!“ 

aku datang bersama angin yang gigil 
menggenapimu di bawah langit yang ganjil 

akulah sebenar-benar utusan 
dirimu adalah tawanan 
kurisaukan darimu bentangan angan-angan 
juga sebab-sebab cintamu terpalingkan 

kauhimpun yang lekang 
yang tak abadi kaugadang-gadang 
putus segala kenikmatan 
punah kelak penderitaan 

tak tahu hukum mengampuni 
aku sunyi tak berbunyi 
yang selalu mengintaimu 
di manis dan getir 
lebih dulu menyergapmu 
di isyarat paling akhir 

yang merugi ialah lengah 
paling puncak ialah berserah 
cukuplah aku penasihat bagimu 
jadikan aku hadiah terhadapmu 

“di sepanjang perjalananmu 
baik-baiklah dalam mengingatku.
berapapun jarak larimu dariku 
sungguh rinduku kelak menemuimu!“

 2015 

[batumata] 

sungai paling getah 
mengering sudah 
menjelma batu-batu 
menggerus pipiku 

2014 

[menyapu pekarangan] 

: Tunsiyah Nur

       tiap kali aku ke pekarangan dan mengayunkan 
sapu lidi, menghimpun daun-daun dari pohon entah 
yang meranggas, ia, angin itu, selalu mengikuti dan 
menggodaku dengan perangainya yang jenaka 

       ia bersejingkat, melompat dan berlarian 
di sela-sela langkahku yang pendek-pendek 
sampai aku sulit melangkah 
sesekali ia berupaya menangkap sapu lidi 
yang kuayunkan 
lalu menggigit-gigitnya 
bila mulai lelah atau bosan menggodaku, ia akan 
berlari sendiri 
ke sana ke mari, jungkir balik dan naik-turun 
di gundukan pasir 
dekat pagar bambu 

       kalau terdengar suara anak-anak ayam tetangga 
ia berlekas sembunyi ke balik alamanda, atau tiarap 
dan merayap di rerumputan, lalu mengejar anak-anak 
ayam 
anak-anak ayam terlihat senang bermain dengan 
angin 
ini mengurangi beban tugas induknya. dan sudah 
tentu pula 
tugasku menyapu pekarangan kian cepat selesai 

2015 

Bayu Akbar Ambuari kelahiran Jakarta, 20 Agustus.Sejumlah sajaknya dimuat pada sejumlah antologi, antara lain Darah di Bumi Syuhada (2014), Saksi Bekasi (2015), Sajak Puncak (2015), Suttia (2015). Salah satu puisinya terpilih untuk disertakan dalam novel Air Basuhan Kaki Ibu (2013). Buku antologi tunggal puisinya (Bukan) Kumpulan Puisi Eureka (2012).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Akbar Ambuari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 1 November 2015

0 Response to "[memento mori] - [batumata] - [menyapu pekarangan] "