Menemui Tuhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menemui Tuhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:52 Rating: 4,5

Menemui Tuhan

Tuhanku yang berada di mana-mana, tapi satu.
Rumah Tuhanku juga seluruh langit, bumi, dan udara
aku bisa berdoa di amna saja dengan hati yang tenang
juga jiwa yang siap melayang seperti ruap asap.
Tapi demi kesempurnaan diri dan rukun yang ganjil
aku hendak bertemu tuhan sebelum benar-benar bertemu
karena dunia yang sebatas ini menuntutku bersegera melangkah
dengan kemampuan yang kumiliki
sebab yang rahasia kadang tersembunyi di dalam cahaya.
Kau pun tahu waktu juga terbatas, jarak juga terpisah
dan bisa saja aku terperangkap pada jejak lain
yang lebih gelap dari tanah.

Tuhanku yang Mahasuci dan segalanya yang suci
untuk menjangkau memang suatu waktu perlu ke tanah suci.
Setiap hari, aku bekerja dan berdoa untuk mendapatkan rizki:
dari duha sampai tahajjud, yang ada hanya permohonan diri
untuk lebih mendekatkan diri dalam kesempurnaan rukun.
Kubayangkan diriku berjalan dengan kain putih tanpa jahitan
sambil melepas kerinduan dan melempar sejarah pada ibrahim.

Tapi, dari doa dan kerjaku, masihlah tak seberapa
maka kusabarkan diri dengan terus berdoa
dan memilih mendengarkan cerita dari setiap tetangga
yang berpulang dari tanah suci.
Ada cerita yang dipenuhi kepastian
ada cerita yang dilengkapi dengan bualan untuk kesombongan
beserta hal-hal aneh dan gaib:
semuanya sama bagiku selalu menambah getar rindu
untuk menemui tuhan di tengah lingkaran semesta
sambil membayangkan seketika itu ruhku ke langit.
Hanya sekejap, sekejap mata saja, dan kembali berserah diri.
Aku kembali berserah diri atas ketidakmampuan ini.

Kadang iklan-iklan mi instant sering menggodaku
untuk membeli dalam jumlah banyak,
namun aku merasa speerti berjudi dengan diri sendiri.
Dan mengapa tuhan tidak saja memberi hadiah
pada orang-orang yang kalah?
Aku berpikir agar aku selalu amanah
hingga sampai seberapa tingkat penghayatan pada tanah.

Dan ketika anak-anakku telah melepaskan diri dari kami
Maka dengan sisa harapan, aku menerima tawaran biro perjalanan.
Aku merasa bahwa waktu seolah tak lagi berpihak padaku
hingga kuberanikan membeli angan dan kerinduan pada jalan Tuhan.
"Barangkali inilah takdirku bertemu Tuhan
dengan ruh dan badan yang masih lengkap di tanah suci."
Dengan uang yang masih separuh, aku mengantre tahun ke sekian lagi
sisanya akan kubayar setiap bulan sabit
seperti membayar pada malaikat.
Mereka ramah dan sopan seperti menyembunyikan rahasia.

Aku ini bukan orang kaya bukan pula orang miskin.
Aku hanya merasa seolah mampu untuk menemui Tuhan.
Sempat juga aku merasa iri dengan tetangga
yang jarang salat, namun begitu cepat membeli tiket
untuk menemui Tuhan di tanah suci.

Jika memang tuhan bukan milik orang miskin sepertiku,
kenapa aku diberi impian dan boleh hutang?
Apakah uang itu untuk beranak
dan untuk membayar hutang negara yang tak lagi jinak?
Yang kutahu dari ayat-ayat suci memang sederhana:
konon tak ada beda antara kaya dan miskin
hingga menyempurnakan rukun saja begitu rumit dan berbelit
seperti ikatan-ikatan yang senantiasa melilit
hingga dadaku runtuh dan melumat perlahan dengan cermat.

Kadang dalam benak ini terpikir hidup mesti sabar dan ikhlas.
Sabar atas janji yang panjang.
Ikhlas bila tiba-tiba maut berpagut
dan bertemu Tuhan di alam lain.
Sabar dan ikhlas kadang memang membuat hati cemas
sebab janji itu berada di aats waktu yang tidak jelas.

Usiaku telah tua dan menuju renta,
maut belum juga berpaut.
Doa dan kerjaku telah menjadi milik anak-anakku.
Apakah tuhan itu hanya milik orang-orang kaya?
Aku tak bisa menemui tuhan di tanah sendiri.

2014



Arif Hidayat, lahir di Purbalingga Januari 1998. Dosen LB di STAIN Purwokerto dan STT Telematika Telkom Purwokerto.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 29 November 2015

0 Response to "Menemui Tuhan"