Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:54 Rating: 4,5

Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta

TETAPI, 48 tahun kemudian dia berkata di pemakaman:

"Ketika itu, aku pulang dari medan perang. Menyusur hutan. Terantuk akar. Menahan jirat kain di kaki yang tertembak. Tapi, itu tidak lebih sakit. Tidak lebih sakit dari melihat meja rumah kita telah ditata dengan dua piring di sisinya. Seseorang yang lain, sudah menggantikanku. Aku pun menjauh. Kembali ke markas. Melarat-larat sakit di kaki. Sakit di kaki. Memburu sisa tentara Jepang. Memutuskan untuk tidak pernah pulang."

Perempuan itu, sebagaimana perempuan lain, yang selalu tahu bagaimana cara mengabadikan cinta dan kenangan, memejam kuat-kuat. Memeras, entah penyesalan. Menahan, mungkin arus kesedihan. Punggungnya gemetar. Dan di pemakaman yang lengang, isak kecil selalu saja menjelma gema yang baru.

"Empat puluh  delapan tahun, empat bulan, 11 hari." Dia memutar cincin di jari manis yang mengerut seperti akar akasia. "Sejak pernikahan kita yang tergesa-gesa."

Dia bercerita bagaimana pernikahan tersebut terjadi seolah takut perempuan itu telah lupa, atau melupakan. Keadaan darurat. Kemerdekaan telah dikabarkan ke segenap pelosok. Lewat radio. Selebaran. Coretan di dinding dan kereta. Lewat pertemuan. Talu dan pekik yang menggetarkan.

Namun, sebagaimana pernikahan, usai ijab, bukan berarti masalah lenyap. Justru, segalanya baru saja dimulai. Kemerdekaan yang telah diikrarkan harus diperjuangkan dan dipertahankan.

"Aku bukan pemuda pengecut." Dia menatap wajah muda perempuan tercintanya itu, "aku harus ikut berperang."

"Apa Kangmas tidaka mencitaiku?"

"Justru karena aku mencintaimu. Aku ingin kamu dan anak-cucu kelak hidup dalam keadaan yang merdeka dan aman."

Perempuan itu diam. Ia membayangkan perutnya yang tidak lama lagi akan isi buah cinta. Ia menunduk. Mengusap. "Kangmas tidak mau apabila dia nanti..," ujar lelaki itu menyatukan tatapan, "Harus hidup dijajah bangsa lain. Merunduk-runduk. Menghamba. Ditindas. Dinista. Sehela napas pun Kangmas tidak rela untuk itu semua."

Perpisahan itu tak bisa dielak. Tangan takdir yang membuat keduanya harus slaing memandang di stasiun, tempat laskar pejuang kemerdekaan akan diberangkatkan di garis depan pertempuran.

Perempuan itu tak kuasa. Atau, adakah perempuan yang kuasa melepas suaminya terjun ke tempat dimana nyawa di dalam mara. Peluru. Ledakan. Kematian. Kehilangan. Hati perempuan mana yang tahan ?

Ia berlari. Kereta hampir berangkat. Ia mendekap erat seakan ingin menyatukan hatinya, jantungnya, napasnya, ke dalam hati, jantung, dan napas lelaki yang dicintainya. Dan pada masa itu, pemandangan yang demikian: pelukan perpisahan, kekasih, orangtua dan anak, adalah hal yang kerap, di stasiun, di sisi kereta, di dekat truk perang, di batas desa, di dalam kegelapan malam. Bahkan ada yang pergi diam-diam dengan meninggalkan sepucuk surat di tempat tidur, saat keluarga, atau istrinya sedang tertidur, sebab takut pada sedihnya perpisahan.

"Bawa ini, Kangmas, ingat aku selalu."

"Tanpa ini pun aku akan mengingatmu. Jaga dirimu baik-baik. Tunggu surat-suratku dari garis depan, ya."

Jerit kereta menjadi jerit batin mereka di dalam perpisahan. Hari-hari berjalan lambat dan cemas di hati. Minggu-minggu merambat dalam waktu tunggu. Satu kabar, cepucuk surat yang terus dibaca berulang-ulang. Penuh cinta. Penuh rindu. Mereka sedang memukul mundur pasukan Jepang.

Kabar kedua, lebih pendek. Namun, dengan kalimat cinta dan kangen yang lebih panjang. Kabar hamil sudah ia terima, saat ia bersiap menghadapi kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda.

Tidak, sama sekali tidak diberitahukan kapan pulang ke kampung halaman.

"Satu tahun, delapan bulan, delapan hari kemmudian," katanya, "aku pulang dan mendapati itu semua. Ada lelaki lain di rumah kita."

Perempuan itu baru saja mau membuka mulut, ketika lelaki itu langsung menyela:
"Ya," katanya, "aku mengerti. Namun, terlambat. Aku mengerti semuanya saat aku berada dalam pendampingan perundingan di luar negeri. Rasa bersalah tumbuh, tapi aku tidak bisa menyalahkan takdir. Aku merelakannya, untuk itulah, 48 tahun, empat bulan, dan 11 hari sejak pernikahan kita yang tergesa-gesa, aku datang. Aku ingin berterima kasih, dan juga minta maaf, pada yang sekarang terkubur di depan kita. Dia telah menjagamu, seperti pesanku. Dia tidak salah, hanya takdir, sedang menginginkan sesuatu yang lain. Bahkan, sampai aku menjadi orang buangan di luar negeri akibat konflik politik."

"Aku...." perempuan tua itu mencoba setelah hening terlalu lama, "aku masih tidak tahu harus berkata apa."

"Ya sudah, kadang memang tak cukup kata."

"Tapi mengapa harus sekarang. Harus sekarang kamu datang?" Isak mulai tak bisa lagi dikenali.

Perempuan itu menatap cincin. Cincin yang mengikatnya dengan dua lelaki berbeda. Yang satu kini ada di sampingnya. Yang satu, terbaring di pusara, yang meninggal sepekan silam, namun di hari kemerdekaan, perempuan itu datang menyapa pahlawan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi bangsanya. Veteran yang tetap sederhana, bahkan sering menderita sampai akhir hayatnya.

"Kamu sendiri tahu, menjadi buangan, sulit untuk kembali pulang. Lebih dari itu, aku tidak ingin membuat kegaduhan. Ketika aku tahu,  sahabatku benar: memenuhi janji menikahimu, aku sadar. Itulah yang terbaik. Aku pernah berpesan, saat kakiku tertembak, sementara tentara Jepang kian dekat, kuberikan padanya sapu tangan merahmu, yang kauberikan di stasiun waktu kita berpisah. Kukatakan padanya, kalau aku tidak pulang lebih dari setahun, itu artinya aku mati dalam tawanan Jepang, maka nikahilah istriku setelah masa tunggunya selesai. Kutitipkan anakku yang belum lama lahir."

"Dia menolak dan menyeretku, namun segalanya kemudian menjadi gelap setelah sebuah ledakan. Aku mendapati diriku dalam ruangan, tersekap, disiksa. Dan satu tahun, delapan bulan,  delapan hari kemudian, aku mampu melarikan diri bersama tawanan lain, meski terkena ranjau di hutan batas."

"Dan anakmu lebih tahu kalau dialah Ayahnya."

"Itu lebih baik daripada mereka menunggu di dalam ketidakpastian. Dia telah memberikan hidupnya untukku, menjagamu, menjaga anak kita. Aku berutang budi dan belum bisa membalasnya. Malah seolah, aku melarikan diri dari tanggung jawab, tinggal di luar negeri dan tidak pernah berkeluarga sampai kini."

Dua ekor burung berkejaran di dahan kamboja. Menggoyang ranting. Menjatuhkan sehelai daun kering.

Dengan agak ragu, dan malu-malu, perempuan tua itu berkata, "Dia kini pergi meninggalkanku. Dan anak-anak yang sudah berkeluarga dengan cinta mereka masing-masing. Dan aku tidak ingin menjalani lagi kemerdekaan tanpa cinta."

Lelaki tua itu menyentuh pundaknya, sehingga angin pun bergetar.

"Buat apa cinta bagi manula seperti kita. yang sebentar lagi juga akan menyusul dia di sana?"

Perempuan itu melirik sejenak, kemudian, "Bukankah kamu dulu pernah bilang kalau, cinta tak pernah tua?" (k)  2015

Catatan:
Judul "Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta" diambil dari baris sajak Rendra 'Kangen': Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku / menghadapi  kemerdekaan tanpa cinta.


Eko Triono: lahir di Cilacap 11 Juni 1989, peraih penghargaan cerita pendek dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI (2013), mahasiswa pascasarjana PBI UNS Surakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 22 November 2015

0 Response to "Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta"