Menunaikan Ibadah Puisi - Perjalanan Bersama Penyair - Tak Ada Malam di Festival - Sepulang dari Ubud | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunaikan Ibadah Puisi - Perjalanan Bersama Penyair - Tak Ada Malam di Festival - Sepulang dari Ubud Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Menunaikan Ibadah Puisi - Perjalanan Bersama Penyair - Tak Ada Malam di Festival - Sepulang dari Ubud

Menunaikan Ibadah Puisi


saatnya berangkat dari rahim perawan kepenyairan
dari sucinya perjaka santri muda tengik Madura
dengan pesawat terbang yang lesat menuju suatu kota
bukan ke Mekah bukan Madinah untuk berhaji sepertimu,Mak
pun tak menjual sate, besi tua, potong rambut atau menjadi TKI
seperti masa mudamu, Pak
tapi di Pulau Dewata sana, orang-orang 
sudah menantikan anakmu ini
berpuisi

setiba di Bali, gending kutabuh sebelum subuh
aku khotbah layaknya kiai kampung ceramah:

"cita-cita orang Madura ada dua:
pertama, ingin menjadi penyair
kedua, ingin naik haji
kami bersyair seumpama mengumandangkan azan
kami berusaha mengumpulkan uang
guna menabung pergi haji
setelah dua cita-cita itu terpenuhi
kami boleh mati
itulah makna kebebasan bagi kami
mengisi kefanaan hidup ini"

lalu penonton tertawa aplaus meriah
seperti menertawakan pendengus kekuasaan
dan bertepuk tangan terhadap kehebatan orator
di antara hadirin yang polos padahal sebenarnya 
mereka diteror

tiba-tiba aku terkenang malam sebelum tidur
kakek menembangkan kidung
: kalbu kita terlalu puitis
Bagi sempitnya kata-kata

Ubud, 2015

Perjalanan Bersama Penyair

: Nathalie Handal


apa yang gemetar di bibirmu
padahal ombak belum
memukul pulau yang damai
merobohkan bangunan-bangunan
termasuk ruang perjumpaan kita malam ini
menuju panggung puisi

sepanjang perjalanan Ubud-Sanur
kita takzim mendengarkan musik ponselmu
lagu-lagu Umi Kalsum dan Fairuz
kita berdiam di Pulau dewata
namun seolah berada antara Ramallah dan Gaza
sehingga kata-kata saat kau bicara
bibirmu gemetar dalam ujar: "Rumahku telah rata dengan tanah, di Palestina
yang tersisa hanya puing masjid dan gereja
dan di sini, kenangan membadai
di dalam kepala"

apa yang gemetar di bibirmu 
membawaku kepada getar-getar waktu
di situ aku terkapar merekatkan kening
ke tanahmu sujud yang bising
oleh lemparan kerikil, pesawat, bom,
senapan, dan teriakan seorang bibi
mengazani anak yang mati

sepanjang perjalanan Ubud-Sanur
musik ponselmu berhenti diputar
aku diam di hadapan deklamasi puisi
penyair perempuan: adalah kau
bibir yang gemetar melafalkan 
nama rumahmu yang dihancurkan

Ubud, 2015

Tak Ada Malam di Festival

apa yang ditampilkan di sini
tak lebih tenang dari langit sehabis hujan
orang-orang bergegas pergi dan kembali
berbekal bicara berbekal mendengar
lalu dibayar lalu terkenal

sedangkan lidah kemarau masih menjulur-julur 
bagai desisan api pada haus kdamaian
di setiap ruang waktu di tanah yang kita tunggu
arti kebebasannya. tak ada manusia berkenalan
dengan kesunyian masing-masing
hanya saling melupakannya di keramaian nanti
berganti saling tukar kartu nama
saling melupakan malam buta
kepada siang yang fana di depan mata

tak ada malam di suatu festival 
kerlip kunang dan kerikan jangkrik
berganti babi panggang dan busa bir
orang-orang bersulang
entah dalam rangka kemenangan apa
berteriak menari berdansa
lupakan duka lara di luar ruang pesta

"hei, mari hilangkan letihnya puisi lukamu!"
seru seorang bule.

ah, aku jadi rumah
sudahkah mereka makan nasi jagung
dan kuah kelor malam ini?

"Mak, tak ada malam di festival
bersama lauk moksamu di pesta doa"

Ubud, 2015

Sepulang dari Ubud

dalam ingatan
aroma tengukmu menambat sepanjang kepulangan
wangi kembang patung dewa
jalan sempit ada anjing mengintai tiap mata
muka pucat berpesta bir di bar
kulit cokelat langsat jadi juru parkir dan sopir
menunggu pelancong di gerbang villa
mataku merekam segala yang visual
sedang hatiku mencatatkan kata-kata
rasa menginapkan lekat kenangan yang nancap
tentang kesepian, malam yang dingin
dan aku menggigil bersama puisi
yang tak segera dituangkan oleh luka

Ngurah Rai, 2015

Raedu Basha, lahir di Bilapora, Sumenep, Madura, 1988. Satu dari tiga penyair muda Indonesia yang diundang Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Bali, 2015. Buku puisinya Matapangara (2014) dan novelnya The Melting Snow (2014). Beberapa karyanya diterjemahkan ke bahasa asing.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 15 November 2015



0 Response to "Menunaikan Ibadah Puisi - Perjalanan Bersama Penyair - Tak Ada Malam di Festival - Sepulang dari Ubud"