Meria | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Meria Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:04 Rating: 4,5

Meria

SENJA jatuh di halaman. 

Begitu takzim bunga-bunga menadahkan senja pada kelopak dan wewangian yang harus seluruhnya memenuhi kuntum. Kediaman yang sunyi pada daun-daun lili seakan keindahan mimpi perawan. Bunda dan senja, bersatu dalam warna dan nuansa alstroemeria. Seluruhnya seperti dielus keayuan waktu, bunga-bunga ungu dan kuning gading bersatu dalam warna merah jambu, seakan perawan manja dalam eloknya yang sempurna, tersipu di depan kekasih belia.

Senja jadi begitu belia.

Memang waktu tak pernah tua. Selalu muda, meskipun senja bertarung berebut dengan kelam. Waktu selalu belia.

Yang tua hanya usia, badan, atau pohon, tidak pada sungai, lautan, tanah, atau gunung. Yang tua hanya hitungan, tidak pada musim dan cuaca. Bahkan, tidak pada cahaya atau bentangan cakrawala. 

“Berkali ia menolak, bahkan menunjukkan sikap bermusuhan,” yang lelaki menatap wanita di depannya dengan kesungguhan penjelasan. “Hingga aku hentikan perburuan.”

“Kau memang Don Juan, sejak pertama aku mengenalmu, kau memang pemburu….”

“Tapi kenyataannya aku hanya menemukan satu Yang pertama dan terakhir. Dan….”

“Dan apa?”

“Mengembalikanmu pada posisi dahulu, saat usiamu lima belas tahun. Saat aku tujuh belas, lima belas tahun yang lalu.”

Wanita itu menarik napas panjang.

Waktu seperti enggan berbagi kebaikan. Bahkan sesah dan derita tak mau ia ambil sendiri, selalu ditinggalkan sebagai luka pada hati yang mencinta. Tak mau ia ambilkan kenangan atau peristiwa, yang diambil selalu jam dan saat-saat yang melompat seperti nadi. 

“Mengembalikan bagaimana? Menjadi aku istrimu yang kedau?”

“Jadi belum kukatakan di telepon?”

“Katakan apa?”

“Tentang istriku!”

‘Sejak tadi belum kau kenalkan padaku, istrimu orang mana?”

“Sebentar nanti, kalau Meria pulang,” lelaki itu menatap lekat-lekat ke wajah wanita itu. Tak beda dari wajah Meria, anaknya, tak beda! Bahkan dalam senyuman dan logat bicara. “Yang memilih Meria sendiri!”

“Tentu ia cantik, lebih dari aku. Tentu ia wanita yang cerdas, lebih dari aku. Tentu ia wanita yang disukai, lebih dari aku. Di sukai orang tuamu dan anakku. Tentu ia wanita yang anggun dan elegan, bukan dosen yang sederhana seperti aku!”

“Meria yang memilih, bukan aku Mer. Aku sudah memilih tapi tak dapat. Aku sudah mencari, tapi tak pernah ia sukai. Anakku memang gadis pemilih. Aku tahu, ia bukan anak sembarangan. Ia sangat mengagumkan dalam hal selera. Tak mungkin aku memaksa!”

Wanita itu lagi-lagi menarik napas panajng (typo-typo sesuai yang terketik di koran – admin).

Ia hampir menyesal, mengapa mau saja datang ke rumah anaknya. Mau saja datang ke rumah bekas suaminya.

Bekas?

Kapan sebenarnya ia menikah? Tetapi anaknya? Bukankah ia sendiri yang melahirkan Meria? Alstroemeria, nama bunga yang ayu yang sering disebut lili peru. Bukankah nama itu namanya sendiri? Nama yang dikagumi suaminya. Mas Ery. Bukan suami, mantan suami.

Bukan juga!

Kapan ia pernah bercerai?

“Tapi istri dan anakmu tak keberatan jika aku malam ini saja bermalam di sini. Meskipun mungkin tak perlu Mas Ery perkenalkan aku ibunya.”

“Kurasa tak seorang pun keberatan.”

“Kaurasa? Tetapi istrimu? Anakku? Belum pernah kukenal anakku. Belum. Kutahu bagaimana wajahnya, suaranya, tutur katanya. Sekarang usianya lima belas, persis aku dulu, lima belas dan Mas Ery…”

Pembantu telah membawakan minuman di tengah taman bunga.

Wangi bunga menguarkan haruman yang wangi. Wangi Jakarta. 

“Istriku dan anakku seperasaan denganku, Mer. Jadi tak ada yang perlu dirisaukan. Kecuali kalau Meria yang merisaukan sendiri.”

Wanita itu merasa dadanya perih. Jantungnyakah yang berdetak kencang karena perasaan tertekan? Hatinyakah yang memerih karena luka lama? Karena peristiwa lima belas tahun yang lalu?

Bayangan itu tiba-tiba menghantuinya membuat ia hampir tersedu.

Seorang gadis lima belas, jatuh cinta dengan lelaki tujuh belas tahun, ia kelas satu dan lelaki itu kelas tiga SMA. Cinta pertama yang manis, sangat manis, tapi akibatnya luar biasa. Ia harus menandatangani surat nikah dan pernyataan menyerahkan anaknya kepada lelaki yang menjadi suaminya, dan begitu saja ia direnggut dari kemanisan karena orang tuanya harus segera meninggalkan Yogya guna mengemban tugas di Samarinda.

Baru saja ia melahirkan, dan hampir ia tak mengenali wajah bayinya, saat ia sudah ada dalam perut Garuda.

Adakah Ery juga mencintainya? Bagaimana kehidupan putrinya? Seperti apa Ery mengasuh anak, sedangkan ia sendiri harus ujian SMA? Kini lima belas tahun yang lalu. Adakah anak gadisnya seperti dirinya dahulu, saat usia lima belas? Buah kecelakaan jiwa muda remaja?

Hampir lupa ia kalimat Ery, saat ia menyahut.

“Siapa tak risau jika seorang wanita dewasa ada bersama suami orang lain? Berkali aku menyesal mengapa aku nekat menyuratimu, ketika aku tahu alamatmu dari Nanang. Kau memang suka menjahati aku dengan membiarkan aku tersiksa, tak membalas suratku. Tapi…”

“Tapi apa, Mer?”

“Aku sangat bahagia kau meneleponku dari Yogya. Lima belas menit yang membesarkan hati. Sungguh, Er, aku seperti cacing kepanasan, aku menemukan diriku gadis lima belas tahun lalu, tak ingin lepas dari pelukanmu. Aku…”

“Kau apa, Mer?”

“Aku tak menyangka aku mendapat tugas penataran ini, dan aku angkat telepon. Sampai kau menjemputku tadi di bandara, aku masih tak yakin kau memiliki keberanian menjemputku. Kukira kau masih seperti di Yogyakarta, ada di bawah ketiak ibumu, dan membuang aku…”

“Ayahmu yang menampar wajahku sampai bibirku pecah. Bekasnya masih ada, sebagai tanda cintaku yang tak pernah berubah. Aku justru merasa cintaku makin berkobar!”

“Jangan merayu wanita yang sudah tua seperti aku, Er. Kalau didengar istrimu, aku bisa digampar. Sudahlah aku sakit melahirkan, lebih sakit lagi aku tak pernah diberi kesempatan untuk melihat apalagi mengasuh anakku….”

“Tak kurayu, aku sesungguhnya menyatakan apa yang seharusnya kukatakan. Aku teleponmu dari Yogya dari tugasku di Bulan Bahas. Sebenarnya aku masih kecut saat kurasakan bekas bibirku yang pecah. Tetapi suaramu membuat aku ingin segera merangkulmu, sampai tadi, saat kukontak subuh tadi, meyakinkan diriku bahwa kau memang datang. Dan suaramu, membuat aku sejak pagi menanti di bandara, meskipun aku tahu kau datang hampir senja.”

Wanita itu serasa menghirup aroma lima belas tahun lalu, aroma pemuda usia tujuh belas. Namun yang terdengar adalah suara lelaki itu, lelaki dewasa, usia tiga dua.

“Suratmu membuat aku hidup. benar, Mer. Suratmu membuat aku hidup. bulan lalu, pas di hari ulang tahun, aku terkapar masuk rumah sakit. Rasanya, kalau tak ada Meria, aku sebaiknya sudah pergi. Tapi suratmu dan suaramu di telepon, membuat aku kembali seperti lima belas tahun lalu, aku menemukan gairah yang berlimpah. Belum kulihat wajahmu, belum kutahu siapa suamimu, tapi suaramu sungguh membuat aku hidup kembali. Baru kurasakan aku bahagia…”

“Bahagia…? Lalu istrimu? Kau menderita karena istrimu?”

“ya. Aku menemukan segala yang seharusnya kuberikan kepada istriku, tapi justru apa yang kudapatkan membuat aku sangat menderita. Lima belas tahun tak kutahu kau ada di mana.”

“Kau munafik kalau begitu. Kau memang tak lebih dari pemuda ingusan yang lemah jiwa. Bagaimana mungkin kau membuat istrimu sendiri menderita karena kau tak menghargainya?”

Tak cepat suara lelaki itu datang dalam kalimat pembelaan. Yang diingatnya adalah saat ia memperkenalkan Tatik. Wajah Meria menunjukkan kebencian, dan suaranya yang berang sangat tidak simpatik. Demikian juga pada Lydia, pada Murniati, pada Romlah, dan wanita selembut Frieda. “Papa jangan lagi bawa wanita-wanita seperti itu, Pak,” suara Meria, anaknya “Meria tak suka!” Bahkan pada teman sekantornya, Erika, Meriam menunjukkan sikap memusuhi tanpa toleransi. “Mer bosan Papa kenalkan dengan wanita yang Papa sebutkan sebagai Ibu. Cis! Mer benci, Pa!”

Lalu wanita yang akan ia perkenalkan, adakah Meria menolak lagi? Jika menolak, apa yang harus dilakukannya? Mengalah seperti dulu ketika Meria ditolak oleh ayah-ibunya? Membiarkan wanita itu lepas bebas selama lima belas tahun, dan ia merasakan penderitaan seorang pria? Telah terlanjur ia katakan kepada Meria bahwa senja ini ia akan memperkenalkan seorang wanita, nanti sepulang Meria dari kursus bahasa. 

Hatinya nyaris mengutuk keadaan dan waktu.

Sebagai lelaki ia membutuhkan. Tetapi sebagai ayah, ia harus mengalah. Ia mengasihi Meria dan ia mencintai Meria yang lebih tua, Alstroemeria. Di atas kertas wanita itu pernah menjadi istri.

“Tapi mengapa kau menikah,Mer? Kau bersuami lagi?”

“Bersuami? Siapa yang mengatakan aku bersuami? Kau tahu dari mana?”

“Secantikmu, tak mungkin tak menemukan lelaki ganteng. Darah birumu membuat aku ditampar ayahmu. Sementara aku menderita, tentu kau bersuka-suka dengan lelaki….”

“Jadi kau cemburu jika aku bersuami? Apa alasanmu mencemburuiku?

Sementara kau sendiri telah memilih wanita lain? Bukankah pernikahan kita hanya sebatas perjanjian sampai aku melahirkan? Sesudahnya kita lajang lagi. Kau jejaka, aku gadis!?”

Lelaki dan wanita itu sama-sama menarik napas panjang.

Angin sedikit menaburkan bebauan bunga dan senja yang belia diwarnai cahaya kuning yang indah di antara rerimbunan bebungaan di kebun yang ditata cantik sehingga terasa asri.

Ingin wanita itu mengatakan bahwa ia belum bersuami. Terlalu sibuk kuliah dan mengajar dan membangun masa depannya sendiri, terlalu ruwet ia memikirkan cintanya sendiri, cinta manis yang membawa bencana. Bahkan hingga ia memutuskan mengikuti penataran para dosen di Jakarta, ia belum memikirkan suami, hatinya masih beku, meskipun dulu-dulu ia menyadari, ia berlomba dengan waktu karena usianya seperti perjalanan jauh, hitungannya telah genap tiga puluh. Namun, perjumpaannya dengan Ery membuat tak menentu, bahkan sebelumnya, saat ia memberanikan diri menulis surat, dan sura Ery di telepon dari Yogya. Dan tadi di bandara dan di kendaraan sampai di rumah Ery. Ia merasa menyesal mengapa mau dijemput, bahkan dibawa ke rumah, seakan memberi peluang kepada Ery memamerkan keberhasilkannya. Menunjukkan rumahnya, segala perabotan yang luks, mobil, taman yang asri, deposit bank, harta, dan istri, gelar kesarjanaan, dan…

Serasa ia menelan duri.

“Kau sudah menyakiti aku, jangan sakit istrimu…”

Suaranya yang terasa meninggi, ia putuskan di situ karena suara kendaraan begitu saja berhenti di halaman. Seorang gadis ayu tampak melompat dari pintu kiri. Ery merasa begitu cepat anaknya itu pulang, lebih cepat dari biasanya. Adakah ia mengejar suatu pertemuan yang dijanjian ayahnya? Pertemuan untuk suatu perkenalan?

Wanita itu terkesima, seperti juga Meria, ketika matanya bersirobok dengan mata wanita yang ada bersama ayahnya. Sesaat ia terpana, seperti ingin memekik, mengusir wanita itu. Dalam suasana yang berhawa tegang itu, sang ayah segera  bangkit dan suaranya yang kalem meluncur dalam nada yang jernih.

“Mer, kenalkan dia yang ayah katakan ingin ayah kenalkan kepadamu.

Baru saja tiba dari Samarinda untuk penataran di Jakarta….”

Wajah Meria menampakkan mimik yang aneh. Tak seperti mimik dahulu, saat ia bersikeras menolak para wanita yang diperkenalkan ayahnya, wajahnya kini tak menegang dalam mimik membenci. Wajahnya menunjukkan warna yang cerita, seperti keceriaan suara yang meluncur lewat bibrnya yang indah.

“Pa,” suara itu meluncur dengan cepat, seperti datang tanpa dipikirkan, “Inilah wanita yang harus Mer panggil Ibu. Kenalkan,” ia dengan takzim mengulurkan tangannya, sementara dalam bola matanya wanita ia merupakan kembaran dirinya sendiri. Jika saja tak lebih berusia, ia merupakan duplikat wajahnya.
“Namaku Meria Alstroemeria.”

“Alstroemeria?” wanita itu terperanjat. “Namamu namaku. Ayahmu yang memberikan nama itu? Mana ibumu?”

“Ibuku? Kata papa, ibuku namanya Meria, Alstroemeria. Tak suka Mer ibu yang lain, kecuali yang namanya sama dengan Mer dan yang fotonya Mer simpan. Ini…” ia mengulurkan foto itu. Foto Alstromeria saat usia lima belas tahu. “Kata Papa, ini foto ibu saat seusiaku…”

“Jadi?” wanita itu masih terpana.

“Tak pernah Mer terima ibu lain, sampai suatu ketika ibu Mer datang. Belum pernah Mer kenal ibu, tapi telah lima belas tahun Mer kenal ia.

Foto ibu selalu Mer bawa tidur. Hari ini kan ulang tahun Mer yang kelima belas. Kita rayakan, Pa, Ma…”

Senja jatuh di halaman, makin belia. Seperti tanpa sengaja, bertiga sama saling berpelukan. Bunga-bunga di kamar seperti bersaing dengan senja menaburkan haruman yang wangi.

Wangi yang wangi.

“Tak perlu juga Mer jelaskan bahwa Mer masih sendiri,” wajah itu juga wajah Meria lima belas tahun yang lalu, seperti kini wajah Meria yang ada di depannya.

Aroma yang wangi semakin wangi.

Dua wanita itu makin erat memeluk lelaki itu, seakan tak mau melepaskan. Satu memeluk karena kasih, satunya memeluk karena kasih dan cinta. Bukankah hidup sangat indah karena hidup ini adalah cinta?

Senja tersenyum. Senyuman yang wangi.

Bertiga tersenyum kepada bumi. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Korrie Layun Rempan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu Pahing, 15 Desember 1991

0 Response to "Meria"