Nyanyian Hujan [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nyanyian Hujan [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:37 Rating: 4,5

Nyanyian Hujan [1]

Aku terpana pada sesosok lelaki jangkung bermata teduh, Keansantang. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Pak Tama, kolega Mama, mengenalkannya padaku. Beliau sepertinya sedang berusaha menjodohkanku. Yang tebersit di hatiku saat berjabat tangan dengan Kean hanyalah, “Sepertinya laki-laki ini orang baik.” Raut Kean seolah memancarkan sesuatu yang aku rindukan.

***
Udara siang yang menyengat di Dusun Kreyo, Palimanan, seakan tersamarkan oleh sambutan hangat  Mbok Siti, ibunda Kean. Ia terlihat bersahaja dengan balutan kebaya cokelat dan kain batik bermotif bunga. Sebuah aliran air sungai yang jernih terpancar dari matanya seolah berkata, “Selamat datang di keluarga kami.” Itu membuat hatiku sejuk. Ditambah lagi deretan pohon mangga cengkir yang lebat, pisang dan kelapa di sekitar halaman membuat suasana asri. Tak seperti suasana rumahku yang selalu panas oleh pertengkaran Mama dan ayah tiriku serta polah adik tiriku, Beni, yang  makin lama  makin menjadi. 

    “Priye, Mbok?” bisik Kean pada ibunya sambil melirik padaku.

    “Ibu setuju saja siapa pun wanita pilihanmu, Kean,” jawab Mbok Siti dalam bahasa Cirebon. Tak pernah sekalipun orang tua Kean turut campur dalam kehidupan ketujuh anaknya. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri menjalani hidup. 

    Cara Kean bertutur dan tawanya yang lepas berhasil menyejukkan jiwaku. Aku hampir lupa dengan tawa. Entah kapan terakhir kali tertawa. 

    “Kamu tahu rumba?” Kean mulai mempromosikan menu spesial di rumahnya.

    “Rumba?” Keningku berkerut. Bagiku, kata itu terdengar seperti nama alat musik tradisional.

    “Masakan Mbok yang enak banget.”

    “Kok, namanya lucu.”

    “Kadang-kadang masakan Mbok, tuh, enggak ada namanya, tapi rasanya luar biasa. Rumba terbuat dari daun singkong, kangkung, atau pisang klutuk muda. Semuanya pakai kelapa parut. Meski pakai kelapa, kalau Mbok yang masak, enggak akan basi,” jelas Kean.

    “Kok, bisa?” Aku tersenyum kagum, betapa Mbok pintar memasak. Tiba-tiba, nasihat Mama mengiang di telingaku, “Anak perempuan harus bisa memasak. Apalagi gadis Minang, bisa memasak rendang, itu satu prestasi membanggakan.” Mama dibesarkan oleh orang tua yang juga pintar memasak. Rendang buatannya paling empuk sedunia. 

Selama ini, aku hanya seorang penikmat masakan Mama. Aku malu pada Mama yang tetap sempat memasak, walau aktivitas di kantor eight to five. Saat hari libur tiba, aku lebih memilih bermalas-malasan atau hanya berbenah kamar tidur.

    Kean meneguk segelas air di hadapannya hingga tandas, lalu   pergi ke dapur dan bertanya, “Masak rumba ta, Mbok?”

    “Iya, nanti bikin. Masak telur pindang dulu,” jawab Mbok. Sesekali ia diganggu cucunya, Fajri, meminta ini dan itu.

    Menurutku selalu ada semacam magic spell di  tiap masakan seorang ibu. Selain bumbu rahasia, cinta dan ketulusan adalah dua hal utama yang mampu menghipnotis lidah. 

    Aroma masakan memenuhi semua sudut rumah dan menggoda hidungku. Terbit keinginan untuk bertanya tentang resep rahasia masakan Mbok, namun urung. Aku bukan tipe orang yang mudah mendekati orang baru kecuali pada Kean.

***
Mentari senja beranjak pulang. Aku dan Kean pergi ke surau selepas azan ashar. Salat berjamaah sudah menjadi kebiasaan keluarga ini dan Kean menjadi imam. Mbok telah lebih dulu berada di sana, Fajri turut bersamanya. 

    Hatiku menciut dan kaku. Betapa aku merasa iri pada Kean. Mama tak pernah mengajarkanku bagaimana memperoleh ketenteraman hati seperti yang Kean dan ibunya lakukan di surau ini. Yang aku mengerti hanya bagaimana senyum Mama tetap mengembang di balik wajah lelahnya sepulang bekerja. Mungkin  tiap ibu di dunia memberikan makna ketenteraman yang berbeda pada anak-anaknya.

    Usai salat, aku meraih tangan kanan Mbok dan mengecupnya, setelah Kean melakukannya lebih dulu. Mbok mengangguk diiringi senyuman teduhnya padaku. Seketika itu, aku merasa diriku akan menjadi bagian dari keluarga Kean. Walau aku masih belum yakin apakah aku bisa menempatkan Kean di ruang hatiku setelah Teguh.

    Untuk pertama kalinya, aku mencium punggung tangan kanan Kean. Entah untuk apa aku melakukannya. Desiran di dada ini begitu menghebat hingga menggerakkan saraf tanganku. 

    “Dita, aku membangun surau ini bersama Bapak saat aku masih kelas satu SMA,” ujar Kean,  kedua matanya menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat peristiwa yang membuatnya merasa sebagai laki-laki dewasa. Kami duduk bersisian di teras surau sambil menikmati desiran angin senja yang membuatku  makin betah, sementara Mbok kembali ke rumah bersama Fajri.

    “Oh....” Aku mengangguk. Sesekali semilir angin memainkan helaian rambutku.
    “Setelah surau ini jadi, aku membuat sebuah madrasah supaya anak-anak di sekitar sini kalau mengaji tidak harus pergi jauh ke masjid desa sebelah.”

    Sebongkah rasa kagum hadir lagi di salah satu sudut hatiku. Seusia itu, aku hanya sibuk dengan perasaanku yang tak menentu. Sikap Teguh yang sesekali tak acuh padaku ditambah dengan perlakuan ayah tiriku pada Mama yang menjelma menjadi mimpi buruk.

    “Kang Kean berarti mengajar anak-anak mengaji  tiap hari?”

    “Ya, setelah ashar dan magrib.”

    “Murid Akang sudah banyak?”

    “Awalnya hanya sepuluh orang. Sekarang, sudah puluhan. Aku dibantu beberapa alumni yang sudah mahir membaca Quran.”

    “Wah, pasti lulusan madrasah di sini sudah jadi perantau seperti Kang Kean.”

    “Teman-teman pengurus madrasah sudah jadi dosen di perguruan tinggi di Bandung. Alumni juga banyak yang merantau ke Jakarta dan Bandung menjadi pedagang yang sukses.”

    “Kang Kean tinggal di Bandung sejak kapan?”

    “Sejak memutuskan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, almarhum Bapak hanya membekali uang dua ratus ribu untuk pendaftaran. Sisanya, aku cari sendiri dengan bertualang dari satu pesantren ke pesantren lain, berdagang kecil-kecilan, bekerja di pabrik, sampai akhirnya kuliah bisa selesai.”

    Alasan untuk mulai jatuh cinta pada Kean  makin jelas di benakku. Ia mirip Teguh yang gigih dengan tujuannya. Namun, Kean begitu matang dan religius. Teguh memang tak pantas untuk dipertahankan jika dibandingkan dengan Kean. Ia telah dirasuki setan hingga menghamili perempuan yang baru saja dikenalnya.

    “Dita, kamu sudah lama bekerja kantoran?” 

    “Belum lama, baru dua tahun. Awalnya, sih, aku cuti kuliah dan ingin bekerja supaya bisa bayar kuliah sendiri. Melamar ke restoran fast food, tapi enggak beruntung. Tiba-tiba datang kesempatan dari sebuah perusahaan tempat pamanku bekerja. Aku coba ikuti ujian masuk dan lulus.” Aku merasa sesuatu akan tumpah dari kelopak mataku, namun berhasil kutahan.

    “Mama sudah pensiun?”

    “Mama memilih pensiun dini. Mama enggak mampu membiayai kuliahku karena uang pensiun Mama habis begitu saja.” Memoriku berputar, ke saat ayah tiriku menguras semua pesangon pensiun Mama demi kesenangannya sendiri. Sejak itu, aku benar-benar membencinya. Aku merasa lega setelah Mama bercerai darinya.

    Tanpa sengaja, kami beradu pandangan. Kean menatapku dalam. Beberapa jenak aku kikuk, tak kuasa menerima tatapan itu. Aku membuang pandangan ke halaman rumah dan berusaha keras mengatur debaran hebat di hati. 

    “Besok pagi, setelah sarapan, kita pulang ke Bandung. Tapi kalau kamu masih betah, lusa saja.” Perkataan Kean menghentikan kegugupanku sejenak.

    “Wah, aku bisa kena tegur bosku di kantor karena bolos kerja. Karyawan kontrak harus rajin, Kang.”

    Kean tertawa renyah. “Enggak enak juga, ya, kerja kantoran. Enggak bisa seenaknya libur.”

    “Kang, kapan kita jalan-jalan ke Keraton Kasepuhan? Aku pengin tahu Masjid Merah.”

    “Mungkin nanti. Banyak hal menarik di sana.” Kean menyungging senyum, seolah menanam satu harapan untuk pergi bersamaku lagi.

    Langit mulai berubah pekat dan rinai hujan mulai membasahi pekarangan dan pohon-pohon. Mbok terlihat menggiring ayam-ayam peliharaannya ke kandang di samping dapur. Aku memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum magrib menjemput. Sementara Kean mencandai Fajri sambil menyimak tayangan televisi.

***
Usai makan malam dengan rumba daun singkong dan telur pindang yang lezat, Kean mengajakku berbincang tentang segala hal. Masa kecilnya hingga para pelaku politik yang aku tak terlalu paham dunianya. Kean berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati tawa di antara cerita dan kelakar. Jarum jam dinding telah menunjuk ke angka sepuluh. Aku mulai menguap. 

    “Dita, kamu tidur di kamar Mbok di depan. Mbok jarang tidur di situ, lebih sering sama Fajri di depan teve.”

    Aku mengiyakan. Sementara Kean memilih tidur di kursi tamu. Ranjang besi yang ada di kamar ini mengingatkanku pada Nenek. Namun, si kelambu tak lagi terpasang, hanya besi-besi penyangga yang terlihat. Pintu kamar yang tak bisa dikunci, kututup rapat. Kasur kapuk berbalut seprai batik yang bersih, bantal kapuk yang empuk, tak kunjung membuatku mengantuk. Pandanganku mengitari bilik langit-langit kamar. Aku enggak percaya, mengapa aku berada di sini? Nyanyian hujan mengalun merdu diiringi suara katak blentung yang hanya hadir di musim penghujan. Nyanyian penyejuk jiwa dari Yang Kuasa.  Aku berusaha memejamkan kedua mataku, dan hujan  makin deras diiringi petir. 

***
Entah pukul berapa aku terlelap. Malam berganti subuh. Suara azan membangunkanku. Segera aku mengambil peralatan mandiku, lalu keluar dari kamar. Kean tengah duduk di ruang depan. 

    “Mau langsung mandi?” tanyanya sambil merapikan sarung kotak-kotak hijau. 

    “Iya, Kang. Gerah.”

    “Aku salat Subuh duluan, ya? Kamu salat di kamar saja nanti.”    Aku mengangguk. 

    Sesaat setelah Kean pergi ke surau, seorang wanita paruh baya berbalut daster batik memberiku alat salat sambil tersenyum ramah. Menurut perkiraanku, ia kakak Kean. Entah kapan ia datang. Mungkin tadi malam saat aku terlelap. 

***
Sejujurnya, aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Perasaanku mengatakan, aku akan kembali lagi ke sini. Kean pun sepertinya berat meninggalkan ibunya. Rutinitas kepulangannya hanya satu atau dua bulan sekali.

    “Nok Dita, ini untuk Ibu di rumah, ya?” kata Mbok dalam bahasa Cirebon. Ia membekaliku beberapa bungkus kerupuk beraroma bawang, buah mangga cengkir, kerupuk melinjo, dan gula batu.     
    “Terima kasih, Bu.” Aku menerimanya dengan senang, walaupun sebenarnya khawatir Kean kerepotan. Tas ranselku pun sudah sesak.

    “Wis Mbok, ora cukup ning motore.” Kean terlihat resah.

    Mbok memaksa Kean membawa seluruh bekalku. 

    Kean mengalah dan melaksanakan perintah ibunya.

    Kami pamit lalu menaiki motor Kean. Sisi kiri jalan pintas perkampungan yang kami lewati menyajikan siluet Gunung Ciremai. Begitu jelas terbingkai langit pagi yang berseri-seri. Area persawahan terbentang luas dan padi-padi di sana telah dipanen. Sungguh anugerah pagi yang tak bisa kusangkal.

    “Kang, bagus, ya, pemandangan di sini.”

    “Kamu baru lihat, ya, Gunung Ciremai?”

    “Iya. Cuma pernah dengar dari kakakku.”

    “Oooh….” Kean mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sesekali ia merespons pertanyaan-pertanyaanku.

    Tiba-tiba aku teringat perempuan yang memberiku alat salat, subuh tadi.

    “Kang, tadi subuh itu siapa? Ada perempuan di rumah, selain Mbok.”

    “Oh, itu Kang Kesturi. Anak pertama Mbok.”

    “Kok,   manggil Kang juga sama kakak perempuan?” tanyaku, kaget. 

    “Di sini, sebutan Kang itu berlaku untuk kakak perempuan, juga laki-laki.”

    “Oh, gitu.”

    Gapura ‘Selamat Datang di Kabupaten Cirebon’ telah terlewati. Kami singgah di sebuah warung di perbatasan Tomo-Sumedang. Dahaga sirna oleh aliran air kelapa muda. Pemandangan Sungai Cimanuk yang bantarannya dihiasi ilalang tak luput dari penglihatan kami.

    Kean menyesap air kelapa mudanya perlahan lalu menoleh ke arahku. “Dita, gimana kalau awal bulan depan aku melamar kamu?” 

    Aku terkejut mendengar itu. Aku mengaduk air kelapa di hadapanku sambil mencari jawabannya.

    “Mmm... melamar?” Aku masih ragu, terlebih ketika Kean mengajakku ke kampungnya dan berkata, “Aku ingin mengenalkanmu pada ibuku sebagai calon istri.”

    Kean mengangguk dan menatapku cukup lama, menunggu jawaban.

    Aku menyesap air kelapa untuk melegakan dadaku, sambil menganggukkan kepala. Jujur, bayangan Teguh belum benar-benar hilang di ruang hati ini. Sangat sulit menghapus kenangan-kenangan yang telah terukir selama enam tahun. Ya, Tuhan, apakah Kean adalah pengganti Teguh? 

***
Setelah otot-otot kaki cukup nyaman, kami melanjutkan perjalanan. Aku melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan sebagai pengusir kantuk.

    “Dita, kok, kamu enggak ada suaranya? Ngantuk?” Kean menepuk lututku tanpa menoleh ke belakang.

    “He…he…, iya, Kang.” Aku merasakan perih di kedua mataku.

    Kean tertawa ringan. Hening menguasai kami. Hanya suara deru mesin motor dan kendaraan lalu lalang mendominasi. Sampailah kami di kawasan Nyalindung. 

    Aku menepuk pundak Kean dan memintanya untuk berhenti di depan kios penjual peuyeum gantung. “Kang, aku mau beli peuyeum buat Mama.” 

    Kean menepikan sepeda motornya. 

    Selesai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan. “Kang, maaf, ya, jadi menambah beban penumpang motor, nih.”

    “Enggak apa-apa. Mumpung kita lewat sini.” Kean menggantungkan keranjang peuyeum di motornya.

    Di sisa perjalanan, Kean setia mendengarkan ceritaku tentang Mama, juga tentang Teguh. Entah untuk apa aku jujur soal Teguh. Namun, rasa sakit yang masih bercokol di dada perlahan menguap karenanya.

***
    “Mamaaa! Aku pulang!” Aku mengecup pipi Mama, kiri dan kanan.         

    Mama sedang menikmati ubi ungu kukus dan segelas teh pahit di ruang depan. Aku membawa masuk buah tangan dari Mbok dan peuyeum tadi. Kean mengekori setelah memarkirkan motor.

    “Assalamu’alaikum.” Kean meraih tangan kanan Mama dan mengecupnya.

    “Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat,” ujar Mama sambil mengulas senyum.

    “Sebentar ya, Kang. Aku ambil minum dulu.”

    Kean terlibat obrolan ringan dengan Mama.

    “Gimana Ibu, sehat?” tanya Mama pada Kean.

    “Alhamdulillah, Bu. Mbok selalu sehat.”

    “Terakhir Mama ke Cirebon waktu papa Dita masih ada. Ada paman Dita di Majalengka.”

    “Oh, Majalengka agak jauh dari Palimanan.”

    “Wah, Mama enggak bakal kuat naik motor ke sana.”

    “Bisa tiga jam nonstop sampai di Palimanan. Kami tadi sempat istirahat di Sumedang. Jadi kurang lebih empat jam,” jelas Kean. “Bu, nanti kalau saya ajak Dita lagi ke sana, boleh, ya, Bu?”

    “Kalau Dita mau, ya, silakan. Hati-hati di jalan. Perjalanan jauh naik motor itu bahaya.”

    Aku menyajikan secangkir kopi di meja untuk Kean lalu pamit sejenak untuk mengganti baju.

***
Sabtu pagi, Mama mengizinkanku pergi bersama Kean ke kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu. Aku yang mengajak Kean ke sana. Kupikir kejenuhan pekerjaan sebagai staf administrasi yang monoton selama lima hari di kantor akan sirna. 

    Laju motor Kean tak terlalu terburu-buru hingga perjalanan sangat kami nikmati. Pintu masuk menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu telah di depan mata.

    Aku membayar tiket masuk. Kami melewati jalanan yang tertutup kabut. Samar-samar terlihat beberapa pengunjung sedang berjalan kaki, dan lainnya menaiki sepeda motor. Setelah sampai di tempat parkir, kami berjalan ke tepian kawah yang berpagar kayu. Beberapa pengunjung   mengabadikan momen. Kami memperhatikan kepulan asap kawah Tangkuban Perahu dan terdiam. Hanya aroma belerang yang tak mau diam menusuk ke hidung. 

    Kean membelah kebisuan. “Dita, kira-kira kapan, ya, tanggal yang tepat?”

    Kami saling berpandangan, lalu aku tertunduk. Tetesan hujan mulai ribut bersama kabut. Beberapa orang terlihat berlari menuju warung tenda penjaja makanan. Aku dan Kean masih berdiri di sana. 
    “Tanggal sembilan?” tanya Kean lagi dengan senyuman lucu.

    Aku menangkap sorot bola matanya yang jujur, lalu berkata, “Boleh.”

    Tetesan air dari langit  makin merdu, seolah membelai luka hatiku. Kean meraih tanganku dan mengajakku ke warung penjual bandrek. Hatiku melagu seiring sesapan minuman hangat itu.(f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beta Widias
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Nyanyian Hujan [1] "