Padri Penghabisan - Di Hadapan Hayat - Cubadak Paradiso - Kota yang Terkunci dari Dalam - Pialang dari Daratan Tinggi - Qunut Panjang untuk Pengarang Roman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Padri Penghabisan - Di Hadapan Hayat - Cubadak Paradiso - Kota yang Terkunci dari Dalam - Pialang dari Daratan Tinggi - Qunut Panjang untuk Pengarang Roman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:56 Rating: 4,5

Padri Penghabisan - Di Hadapan Hayat - Cubadak Paradiso - Kota yang Terkunci dari Dalam - Pialang dari Daratan Tinggi - Qunut Panjang untuk Pengarang Roman

Padri Penghabisan

Padri penghabisan dari daratan tinggi
nyala api di tanganmu telah lama padam
maka aku mengunjungi kuburmu
ketika hujan sering turun
dan angin buruk berkesiur

di jalan setapak licin
anak-anak tangga menujumu penuh lumut
masa silam terbungkuk-bungkuk
kau datang dari abad ke-19
yang baru saja lewat

batu pipih
pokok pohon
tajam rudus
bayangan orang-orang berkuda
rumah-rumah para darwis yang terbakar
harum kopi dan akasia
pasar candu, lapak madat
gelanggang adu jago
yang kaurobohkan
tempat para penghulu berapat
di balai adat yang hangus
terbakar...

tak henti-henti khotbah berkumandang
tapi keadaan terlalu gawat untuk diubah

penghulu-penghulu tamak
datuk-datuk dibuai tuak

Padri terakhir dari daratan tinggi
pedang-pedang telah henti berdentang
kabut menjalar sampai ke jenjang
aku katupkan giwang pada jaketku
kau ketatkan lilitkan sorban pada lehermu
bunyi ketukan pada pintu
nyala bohlam berpendar
beku cuaca dalam kabut petang
sunyi menyergapku lebih cepat
aku terkurung dalam abad-abad silammu
yang datang bersiderap.


Di Hadapan Hayat

Di hadapan hayat, manusia sungguh bebas
garis hidup sendiri dapat kauputus kapan saja

dengan ini racun yang akan menggeronggong dalam nadi
dengan pedang pada leher ini bergoyang bagai pendulum di seutas tali

padahal manusia seperti kuda yang ditunggang-pacunya sendiri
gelombang gadang nasib buruk menceburkan dirimu ke laut

memaksamu meminum 4 butir sublimat sebelum tidur
dan kau tetap bersikeras berkata: "Manusia sungguh bebas!"


Cubadak Paradiso

Dihantam torpedo Jepang, berpuluh-puluh tahun yang lalu
kapal Belanda dulu tenggelam di sini
kini kapan itu telah menjadi terumbu karang
yan dikerumuni ikan-ikan bewarna-warni.

Seorang pelancong yang tiap bicara diselingi kata 'maaf'
menyelam di lokasi yang sama, mencari jejak masa silamnya.

"Maaf, apakah benar di sini kubur ayah saya?
Maaf, saya tidak bisa melihatnya.
Maaf, kabut sangatlah tebalnya."

Matahari pasi-pucat, hutan di sini dibakar lagi
semua yang di dasar laut terlihat samar dalam pekat kabut.
Dia lalu memilih mengumpulkan cangkang-cangkang siput
di sepanjang pantai yang masih mencium pahit gambut.

Kota yang Terkunci dari Dalam

Pintu-pintu dari baja
engsel-engsel besar
dan kunci-kunci dengan gembok berkarat
dinding berwarna coklat
lumut yang menjalar
dipisahkan oleh gang-gang
sunyi seketika menyergap
suara Anda lama bersipongang
seakan sedang berada dalam gua-- atau Gulag?
ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan
bioskop yang ramai, bank-bank berdiri megah 
di depan melintang jalan raya yang sesak
kaki lima yang berbiak bagai kurap di kerampang!
kita bagaimana pulau terpencil, kata Anda, 
di tengah lautan yang terputus hubungan
hotel-hotel baru, pusat-pusat pertokoan
perumahan orang kaya dan kelas menengah
merebak bagai wabah cacar dari abad yang lalu
kita bisu diam
di bawah atap
dilingkup dinding
alang-alang besi
ruyung-ruyung beton
yang somplak!

Pialang dari Daratan Tinggi

Mereka yang berada di antara kulit dan batang pohon
yang lihai menembak di atas kuda
mencari nafkah dengan cara membeli dan menimbun
untuk kemudian menjualnya dengan harga yang mahal
yang membenamkan karung-karung berisi kopi ke dalam air
yang banyak menipu sukatan
yang telaten memainkan timbangan
mencampur kopi dengan jagung...

Celaka!

Mereka yang menolak jadi petani
bertungkus-lumus dengan humus
bercucur-keringan dalam susah lagi payah
yang lebih memilih tinggal berhimpit-himpitan
bersempit-sempitan di rumah sewa yang kecil
di depot-depot yang jauh
bersorak-sorak riuh siang hari
dan ketika malam mati dalam sepi...

Celaka!

Qunut Panjang untuk Pengarang Roman

Untuk pertama kalinya dalam sejarah
nama seorang pengarang roman
masuk dalam bacaan sembahyang.

Tiap subuh sebulan penuh
syekh-syeksh suluk yang memukul-mukul kening
dengan ini batu dari dasar sumur nafsu
membacakan qunut panjang mendoakannya celaka:

"Guru kami memangkas tiap tunasnya
si bala ini menyiramkan pupuk pada akarnya
bagaimana kami tidak akan murka?"

Guru mereka yang dulu tidur di atas bara menyala
memang tercatat dalam kitab perguruan
pernah memukul buah-buahnya sendiri
dengan ini batu dari dasar sumur ilmu
berkata, yang bagai telah menjadi sabda:

"Di antara getar farji, aku tidak ingat apa-apa lagi
-- aku menulis pengetahuanku dengan kalam yang buta!"


Deddy Arsya tinggal di Padang, Sumatera Barat. Buku sajaknya berjudul Odong-Odong Fort de Kock (2013)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 31 Oktober 2015

0 Response to "Padri Penghabisan - Di Hadapan Hayat - Cubadak Paradiso - Kota yang Terkunci dari Dalam - Pialang dari Daratan Tinggi - Qunut Panjang untuk Pengarang Roman"