Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:32 Rating: 4,5

Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso

Padri Penghabisan

Padri dari daratan tinggi
Puntung api di tanganmu telah lama pudur
maka aku mengunjungi kuburmu
ketika hujan sering turun
dan angin buruk berkesiur
di jalan setapak licin
anak-anak tangga menujumu penuh lumut
masa silam terbungkuk-bungkuk
kau datang dari abad ke-19
yang baru saja lewat
batu pipih
pokok pohon
tajam rudus
bayangan orang-orang berkuda
rumah-rumah para darwis yang terbakar
harum kopi dan akasia
pasar candu, lapak madat
gelanggang adu jago
yang kaurobohkan
para penghulu berapat
di balai adat yang hangus
terbakar...

tak henti-henti khotbah terkumandang
keadaan terlalu gawat untuk diubah

penghulu-penghulu tamak
datuk-datuk dibuai tuak!

Padri dari daratan tinggi
pedang-pedang telah henti berdentang
kabut menjalar sampai ke jenjang
aku katupkan giwang pada jaketku
kau ketatkan lilitan sorban pada lehermu
bunyi ketukan pada pintu, nyala bohlam berpendar
beku cuaca dalam kabut petang
sunyi menyergapku lebih cepat
aku terkurung dalam abad-abad silammu
yang datang bersiderap.

Khotbah Rahib Tua

Di hadapan hayat, manusia sungguh bebas
garis hidup sendiri dapat kauputus kapan saja

dengan ini racun yang akan menggeronggong dalam nadi
dengan pedang pada leher ini bergoyang bagai pendulum di seutas tali

padahal manusia seperti kuda yang ditunggang-pacunya sendiri
gelombang gadang nasib buruk menceburkan dirimu ke laut

memaksamu meminum 4 butir sublimat sebelum tidur
dan tetap bersikeras berkata: “manusia sungguh bebas!”

Cubadak Paradiso

Dihantam torpedo Jepang,
kapal Belanda dulu tenggelam di sini
berpuluh-puluh tahun yang lalu
kini kapal itu telah menjadi terumbu karang
yang dikerumuni ikan-ikan.

Seorang pelancong yang tiap bicara diselingi kata “maaf”
menyelam di lokasi yang sama, mencari jejak masa silamnya.

“Maaf, apakah benar di sini kubur ayah saya?
Maaf, saya tidak bisa melihatnya.
Maaf, kabut sangatlah tebal.”

Matahari pasi-pucat, hutan di sini terbakar lagi
semua yang di dasar laut terlihat samar dalam pekat kabut.

Dia lalu memilih mengumpulkan cangkang-cangkang siput
di sepanjang pantai yang masih mencium pahit gambut.

“Maaf, rahasia hari lalu kadang memang sulit diterka
Kapan waktu mengatup, kapan waktu menganga!”


Deddy Arsya, tinggal dan bekerja di Padang, Sumatera Barat. Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso"