Paket Air Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Paket Air Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:49 Rating: 4,5

Paket Air Mata

Bukan karena perang melawan penjajahan buatku meradang, tapi jauh darimu dan rindu yang menghujam

ALESIA, ini kukirimkan padamu air mata. Simpanlah jika kamu bersedia. Taruhlah di tempat berbahan beludru kecil merah itu. Bekas tempat cincin tunangan kita. Lalu, letakkanlah di ranjangmu. Bayangkan aku ada di sampingmu dengan senyum tulus. Bayangkan aku membelai rambutmu dengan halus. Kunyanyikan sebuah lagu kesukaanmu. Tidurlah. Berhentilah menungguku. Hapus kerinduanmu. Sebab air mata ini adalah aku. Walau bukan aku yang seutuhnya. Tapi itu termasuk dari aku. Aku yang tak akan pernah dan tak bisa jauh darimu.

Air mata ini kupetik dari mataku sendiri. Bukan dari mata orang lain. Karena kau pasti tahu aroma air mataku. Kau sudah hafal betapa ketika aku bersedih dan bahkan menangis, kaulah yang mengusapnya. Bagaimana aku bisa menyayangimu sepenuh hati kalau air mata saja milik orang lain? Maka dari itu, Alesia. Inilah bukti kalau aku masih selalu ada untukmu. Ini air mataku sendiri. Meski sakit. Meski perih. Tetap aku petik.

Jika kau pernah mendengar cerita pendek tentang Peri-peri Pemetik Air Mata , barangkali itu adalah kewajaran. Mereka memang pemetik air mata sejati. Memetikkannya pun tanpa menimbulkan rasa sakit. Mungkin terlalu lihai dalam profesi seperti itu. Beda lagi denganku yang sebelumnya tak pernah melakukan hal semacam ini. Tapi, Alesia. Lagi-lagi, tapi karena demi kau, aku abaikan sakit ini.

Perihal pemetikan air mata, beginilah kronologinya. Ya, malam itu, Alesia. Aku tengah terbangun dari tempat tidurku. Tempat yang tak pernah kau bayangkan seperti apa. Tempat di mana tak ada manusia bersedia menyakiti manusia yang lain. Tidak bersedia menguasai tempat orang lain seperti di duniamu. Pada saat jalan-jalan, tiba-tiba kulihat kau duduk di bangku tua tempat kita mengucap janji agar saling bersama. Menyayangi dan saling melengkapi kekurangan-kekurangannya. Kau duduk begitu sendu. Lama-lama sembab pelupuk matamu. Sepertinya sedang menangisi seseorang. Seseorang yang sangat kau tunggu kehadirannya.

Tentu kau masih seperti dulu, suka memakai kerudung ungu pemberianku. Ketika memakai kerudung itu, kau selalu anggun. Sampai sore kau tetap di sana. Tanpa beranjak sama sekali. Ah, kasihan sekali. Bagaimana keadaan rumahmu bila kau tinggalkan seperti ini.

Aku tahu, kau menungguku. Maka, bergegaslah kupetik air mataku. Biar kau tahu, aku memang selalu ada untukmu. Walau tak bisa bersama, pikirku.

Tenanglah, Alesia. Hapus air yang menggantung di kelopak matamu. Sebab kiriman air mata ini akan segera datang. Kubungkus dengan kertas terbaik. Dan di sana, kuberi puisi terindah yang pernah aku karang.

Paket air mata ini kukirimkan lewat pak pos khusus. Pak pos yang bisa melintas dua alam. Walaupun aku bisa melihatmu, aku tak bisa mengirimkan air mata ini secara langsung. Biayanya gratis, Alesia. Karena pak pos di sini tidak mengenal uang. Apalagi kekuasaan. Maka berhentilah menungguku. 

Aku sudah sampai di pelukanmu. Begitulah kira-kira tulisan di bungkus paket air mata ini. Tentu dengan huruf Braille semua. Termasuk puisi di dalamnya. Karena aku tahu engkau adalah orang yang tunanetra.

***
Pagi sekali mereka bangun. Sebelum embun turun dan mentari hangati pagi.  Orang-orang di luar rumah sudah ramai. Semuanya laki-laki. Sementara yang perempuan hanyalah bergumul dengan tangisan. Istri-istri pada takut kalau seandainya ditinggal mati suaminya.

Alesia tidak menangis kala itu. Ia hanya merundukkan kepala.

”Tenanglah, Alesia. Ini demi tanah air kita. Aku pasti kembali, kok,” ucap suaminya seromantis mungkin.

Alesia tidak bicara apa-apa. Suaminya berangkat bersama banyak laki-laki yang lain. Tentu pergi berperang. Karena penulis cerpen ini sedang ingin menulis tentang mereka pergi berperang. Mereka tidak boleh mengelak.

***
Suamiku, apa yang aku lakukan saat ini bukanlah sia-sia. Sebab, aku yakin kau akan datang. Dan seandainya kau telah tiada pun, akan menemuiku. Kau orang paling setia yang pernah aku temui.

Gugur daun-daunan di depan, belakang, kanan dan kiriku adalah saksi kalau aku akan sesetia mungkin sepertimu. Kau telah menerimaku apa adanya. Kau telah membangkitkan aku dari keterpurukan hidup. 

Burung-burung yang bersarang di atas beringin yang mengayomiku saat ini, sudah entah berapa kali pulang pergi setelah mencari makan. Rumput-rumput hijau entah sudah berapa kali bergoyang diterpa angin.

Aku tetap menunggumu.

***
Perempuan berkerudung ungu itu duduk di bangku tua sampai senja. Sampai malam tiba. Ia tak beranjak sama sekali. Menunggu seseorang yang sangat ia cintai. Sudah dua hari ia duduk di situ. Matanya sembab dan wajahnya layu. Ia tidak ingin pergi sebelum suaminya pulang dari peperangan.

Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Begitulah perempuan itu mengingat-ingat perkataan suaminya. Suami yang begitu tulus mencintainya, walau ia tunanetra. Walau ia tak sesempurna perempuan lainnya. Maka dari itu, sampai kapan pun ia akan menunggu.

Sementara di alam lain, pak pos yang mengantarkan air mata itu kecelakaan. Lalu mati. Hal seperti ini hanya bisa terjadi di cerita pendek. Air mata tumpah ruah. Bungkusnya sobek karena terseret mobil sepanjang satu kilo meter. 

Paket itu tak pernah sampai pada perempuan berkerudung ungu itu. Kau pasti sudah tahu nama perempuan itu adalah Alesia. Alesia yang malang. Sampai berkali-kali senja datang. Berkali-kali malam menjelang. Ia tetap di situ. Sampai kaki bangku rapuh. Sampai rambutnya beruban. Sampai sakit. Sampai malaikat menjemputnya. Sampai ia beranjak ke surga. Ia tetap menunggu suaminya. Walau hanya dengan kerangka tubuhnya. - k

Daruz Armedian. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 22 November 2015 


0 Response to "Paket Air Mata "