Pandemonium | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pandemonium Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Pandemonium

KETIKA itu aku baru saja tersadar. Aku mendapati tubuhku sendiri di hadapanku: meringkuk dalam posisi terjungkir layaknya janin yang hendak lahir, terjerat sabuk pengaman kursi kokpit. Wajahku hangus separuh dan telah kisut. Mulutku menganga, pecahan-pecahan halus kaca helm berserakan di dalamnya. Kedua mataku sedikit terbuka sehingga tampak selaput putihnya. Di sekelilingku puing-puing pesawatku berserakan layaknya mainan yang belum dirakit.

Aku terdampar di sebuah planet asing, sendirian. Aku jatuh di salah satu dasar kawah meteornya, kawah kecil yang diameternya paling-paling hanya dua ratus yard. Debu-debu tanahnya yang kuning oker berseliweran menembusku. Orang-orang bumi menjuluki planet ini: "Makam Para Penjelajah Antariksa." Ia adalah makam yang mencari sendiri jasadnya. Ialah Pandemonium. Namanya itu diambil dari nama istana neraka dalam sebuah puisi kuno." Erika pernah menceritakanku versi kanak-kanak dari puisi itu sewaktu aku masih kecil. Kata ia, "Para iblis menyusutkan tubuh mereka dan berkumpul di dalam Pandemonium. Di sana mereka menyusun rencana untuk mencelakakan manusia." Waktu itu aku bertanya-tanya, bagaimana bisa iblis-iblis itu menyusutkan diri tanpa teknologi penyusut ruang atom? Erika lantas menjelaskanku bahwa iblis dapat berubah wujud menjadi apa pun, termasuk menjadi hal-hal yang kita inginkan.

Merasa pening, aku pun menunduk untuk mengalihkan pandanganku dari kekacauan di sekelilingku. Aku memandang tubuhku yang baru dan tak mendapati banyak yang berubah. Kedua kakiku masih menjejak di tanah. Aku bahkan masih mengenakan pakaian penjelajahku. Kaca helmku masih utuh. Jemari tanganku tak berkurang seruas pun. Tak ada setitik pun bekas terbakar ataupun rasa sakit akibat luka. Aku tampak seperti diriku sebelum kecelakaan terjadi. Hanya saja perangkat-perangkat elektronik di sekujur tubuhku --perangkat navigasi, perangkat biomonitoring, penerang, pemindai materi dan energi-- tidak ada lagi yang bekerja. Aku meraba dadaku dan tak mendapati ada detak jantung. Aku menghela napasku dan perutku tak membusung. Aku tak lagi perlu bernapas. Tubuhku serasa seluwes udara.

Di atasku gulungan-gulungan awan kelabu membungkus langit, menyerupai otak. Sesekali petir membercak di situ, suaranya terdengar seperti geraman binatang buas. Bintang biner Leto dan Ghanima, yang menjadi sepasang matahari bagi planet ini, terlihat samar dibuyarkan gulungan-gulungan awan itu. Kedua bintang itu menyerupai sepasang mata binatang malam yang mengintai, menyala di balik kerumuman awan.

Aku berjalan ke bibir kawah, menanjak melalui sisinya yang paling landai. Dari situ aku dapat melihat permukaan planet ini dengan lebih leluasa, bagiku, ia tak tampak istimewa. Ia mirip triliunan benda langit tak berpenghuni lainnya, seperti Bulan sebelum masa koloni: gersang dan penuh dengan kawah. Cakrawalanya tampak amat jauh karena hanya sedikit dataran tinggi yang menghalangi. Akan tetapi, di balik permukaannya yang kelihatan biasa itu, planet ini memiliki semacam kemampuan gaib yang dapat mencelakakan orang-orang yang berada di dekatnya. Tipuannyalah yang membawaku ke mari.

DI ANTARA rekan-rekan satu skuadronku memang akulah yang terbang paling dekat dengan planet ini. Kupikir jarakku masih aman, karena aku terbang sejauh satu juta mil darinya, lebih jauh ketimbang satelitnya, Mulciber, yang berjarak sembilan ratus ribu mil darinya. Padahal, Matt, ketua skuadronku sudah memperingatkan agar tak ada seorang pun yang boleh coba-coba mendekati Pandemonium, termasuk mendekati Mulciber. Ia bilang, lebih baik kita gagalkan misi ketimbang mati akibat tipuan iblis.

Namun, peringatan itu tak kuhiraukan ketika di depan mataku muncul gambaran semu pesawat penambang Padishah yang tengah melesat menuju Pandemonium. Pesawat itu adalah tujuan misi kami. Ia telah hilang kontak dengan Bumi selama seminggu lebih. Dan meskipun kami bekerja dalam tim, ada ketentuan bahwa barang siapa menemukannya lebih dulu akan menerima upah terbanyak. Ketika kulaporkan penglihatanku itu kepada rekan-rekanku, mereka berkeras tak melihat apa-apa. Mereka malah menyuruhku menjauh dari Pandemonium.

Aku menyangka mereka bersekongkol agar aku tidak mendahului mereka. Saat itu otakku mendadak jadi begitu tumpul. Aku malah berkeras dengan apa yang kulihat, padahal radar pesawatku sendiri juga tak mendeteksi keberadaan pesawat apa pun di sekeliling planet ini. Tanpa berpikir lebih lama lagi aku pun menukik ke dalam atmosfer Pandemonium dan langsung terbetot kekuatan gaya tariknya yang amat besar. Yang terlihat pada saat itu hanya lapisan awan yang tak habis-habis. Awan-awan itu seperti tangan-tangan raksasa yang membetotku dan mencabuti bagian-bagian pesawatku satu demi satu. Petir pun ikut menghantamku berkali-kali hingga pada akhirnya pesawatku tak ubahnya seekor burung cacat: tak bersayap dan tak berekor. Aku terjun ke tanah. Api melalapku. Sesudah itu aku tak sadarkan diri.

Di saat darurat yang tak lebih dari lima menit itu aku tak dapat menghubungi rekan-rekanku -- seluruh sistem di dalam pesawatku rusak. Lagipula, jika pun aku dapat menghubungi rekan-rekanku itu, mereka tak akan berani mendekati planet ini.

Pandemonium ada dalam daftar hitam para penjelajah antariksa. Tak ada yang betul-betul tahu tentang ia. Tiap satelit dan pesawat yang dikirim kepadanya hancur ketika memasuki atmosfernya. Banyak penjelajah Bumi yang pernah mendekatinya, dalam kontak terakhir sebelum mereka menghilang, mengaku melihat hal-hal muskil, seperti barisan kuda sembrani yang berlari menuju tebing-tebing emas yang menyembul ke atas awan, perempuan dengan jubah bercahaya yang berdiri menginjak rembulan, kerumunan manusia bersayap yang terbang mengitari planet ini, dan banyak macamnya lagi. Ia seperti penyihir dalam dongeng Norgard yang menjebak musuh-musuhnya dengan meniupkan sihir fatamorgana. Para serdadu yang dikirim untuk membunuh penyihir itu tergoda tatkala mereka menghirup aroma daging rusa panggang yang tersaji di atas meja makan di rumah penyihir itu.

Baru setelah mereka merasa terlalu kenyang, tak sanggup menghabiskan seluruh daging itu, terlihatlah bahwa yang sesungguhnya mereka makan adalah isi perut seorang serdadu yang telah lebih dulu dikirim untuk membunuh sang penyihir. Aku sendiri tak melihat hal yang terlampau musykil. Planet ini tampaknya dapat menakar seberapa dahsyat ia harus meniupkan teluhnya supaya dapat menjatuhkan mangsanya. Ia memiliki kecerdasan. Kecerdasan yang melebihi manusia. Ia dapat membaca pikiranku, mewujudkan apa yang kuinginkan, dan memengaruhi pikiranku agar mengabaikan akal sehat dan masuk dalam jerat umpannya. Ia seperti yang disebut para fisikawan-teoritis sebagai makhluk dari dimensi yang lebih tinggi. Wujudnya yang tampak sebagai planet ini adalah manifestasinya dalam dunia tiga dimensi ruang, dunia kita.

Setelah korban terakhir jatuh di planet ini, kurang lebih lima tahun. Bumi yang lalu, tak pernah ada lagi misi yang ditujukan kepadanya. Aku sendiri baru pertama kali memasuki sistem Leto-Ghanima ini setelah mendapatkan misi dari Pusat Penjelajahan Antariksa untuk mencari Padishah. Dan tak kusangka, akulah yang menjadi incaran sang iblis.

PERLAHAN-LAHAN aku beranjak meninggalkan kawah yang berisi puing-puing pesawatku ke arah turunnya Leto dan Ghanima. Aku mendekati sebuah kawah lain yang letaknya paling dekat. Di dasarnya aku mendapati sebuah bangkai pesawat hitam yang tersungkur. Aku mendekatinya. Pesawat itu adalah pesawat penjelajah dari Bumi. Di kursi kokpitnya aku mendapati seorang pilot yang sudah menjadi kerangka. Ia mengenakan seragam yang sama denganku namun pesawatnya adalah jenis yang sudah lewat sepuluh tahun. Aku mengelilingi pesawat itu berkali-kali. Aku tidak tertarik dengan apa pun yang ada pada pesawat itu, tetapi dengan kemungkinan bahwa aku dapat bertemu dengan si pilot itu. Siapa tahu dia juga masih hidup dengan cara yang sama sepertiku. Aku sudah berputar berkali-kali dan tak menemukan siapa-siapa.

Aku pun beranjak lagi. Kawah-kawah yang bertebaran di segala penjuru--kutaksir ukurannya tak ada yang melebihi tiga ratus yard--membuat permukaan planet ini kelihatan seperti spons raksasa. Di tiap dasar kawah-kawah itu ada satu-dua bangkai pesawat. Aku menuruni beberapa kawah itu. Tak semua pesawat itu kuketahui berasal dari mana. Aku mendapati banyak lambang-lambang dan aksara-aksara asing baik pada badan pesawat-pesawat itu maupun pada seragam pilot-pilotnya. Namun, semua kerangka pilot yang kudapati adalah kerangka manusia--atau mereka hanya mirip dengan manusia? Aku tak pandai membedakan tulang-tulangan. Dalam hati aku bertanya-tanya, jika ada banyak sekali yang bernasib seperti aku, lantas kenapa planet ini begitu sepi?

Aku berjalan terus selama dua jam sampai kedua matahari berada kurang lebih tigapuluh derajat di atas cakrawala. Di kiri dan kananku kawah-kawah kering berganti danau-danau --danau-danau itu mestilah juga merupakan kawah meteor. Airnya kuning keemasan, berkilau-kilauan tertimpa cahaya. Semakin jauh aku melangkah, semakin penuh danau-danau itu kudapati, dan semakin tak terlihat dasarnya. Bangkai-bangkai pesawat menyembul ke atas permukaan beberapa danau itu. Aku menghentikan langkahku ketika aku tiba di tepi danau yang terbesar--diameternya mungkin mencapai sepuluh mil. Agak di tengah permukaan danau itu, terlihat sesuatu yang menjulang dan runcing dengan warna hitam yang mengilap. Aku berjalan ke wilayah tepian yang  lebih dekat dengan benda hitam itu. Aku langsung mengenali benda itu tatkala mendapati adanya ukiran lambang Pusat Penjelajahan Antariksa dan sebuah tulisan di bawah lambang tersebut: PADISHAH. Ujung runcing itu adalah haluan kapal Padishah. Pesawat itu juga terjebak  ke planet ini. Aku sudah menduga itu. Apalagi alasan yang paling kuat untuk pesawat yang hilang secara tiba-tiba di sistem Leto-Ghanima? Seharusnya misiku sejak awal tak usah dijalankan.

Aku berniat untuk berenang ke pesawat itu. Akan tetapi, saat ujung-ujung jariku menyentuh permukaan danau itu, aku merasakan airnya begitu kental dan tekanannya menyedotku ke dalamnya. Ia seperti hendak memakanku. Aku buru-buru menarik tubuhku dan beringsut mundur dari situ. Dengan gemetar aku berjalan menjauhi danau itu. Aku berjalan ke arah selatan--jika kuanggap bahwa arah terbenamnya Leto dan Ghanima adalah barat.

Kedua matahari itu pelan-pelan turun. Tanah pandemonium berubah warna dari kuning menjadi jingga, lalu menjadi merah. Merahnya mengingatkanku pada minuman anggur, juga pada darah. Ghanima turun mendahului Leto. Pandemonium kemudian menjadi sangat gelap. Aku hampir tak dapat melihat apa pun yang ada di bawah langit. Aku berjalan sambil memandangi Mulciber yang menyala keunguan dan gugus-gugus bintang di angkasa. Rasi-rasi di atas planet ini tak kukenali sama sekali. Aku telah begitu jauh dari Bumi.

BARANGKALI orang-orang di bumi yang mendengar berita tentangku akan menjadikanku topik pembicaraan saat mereka makan bersama kerabat sambil menonton berita di televisi. Barangkali mereka akan mengatakan, "Betapa malang orang itu! bagaimana perasaan keluarganya saat mengetahui nasibnya? Bagaimana kalau hal semacam itu terjadi juga pada anggota  keluargaku? Apakah ia melihat  sesuatu yang aneh sebelum jatuh ke Pandemonium?"

Aku jadi mendadak teringat dengan kedua orangtuaku. Erika dan Luna, dua orang yang amat kucintai. Aku merindukan kisah-kisah ganjil yang sering mereka ceritakan sebelum aku tidur waktu kecil dulu. Aku rindu dengan spageti oglio olio yang sering mereka buatkan untukku --mereka tahu aku paling menyukai makanan itu. Apakah yang sedang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka masih suka membaca buku-buku lapuk yang mereka beli dari toko-toko buku-bekas? Apakah mereka masih suka pergi ke kedai kopi untuk menumpang duduk di kursi pelatarannya tanpa membeli apa pun? Apakah yang akan terjadi pada kedua orangtuaku itu jika mereka tahu keadaanku saat ini? Aku membayangkan Erika, sambil memandangi langit di pelataran, mencari-cari keberadaanku di antara titik-titik bintang, "Di manakah petualang kecilku itu? Apakah ia ingat untuk selalu cukup makan?"

Di pihak lain, para petinggi di Pusat Penjelajahan Antariksa akan mengadakan upacara peringatan untukku. Aku akan diberi lencana tanda jasa. Lencana itu akan dimasukkan ke sebuah kotak perak dan diserahkan kepada Erika, ibu yang melahirkanku.

Kegelapan berlangsung begitu lama. Bintang-bintang bergerak begitu perlahan. Aku tak dapat merasakan udara, tetapi pekatnya gelap membuatku membayangkan rasa dingin yang membekukan. Aku merasa telah berjalan naik-turun berkali-kali. Lalu aku berbaring di tanah. Aku memejamkan mataku, tetapi aku tak dapat terlelap. Demi menghindari rasa jenuh, aku pun bermain, menarik garis-garis maya dari satu bintang ke bintang lainnya. Aku menamai rasi-rasi bikinanku itu: rasi celana, rasi zig-zag, rasi huruf W, rasi kulkas. Aku tertawa-tawa sendiri karena merasa diriku sama sekali tak berselera dalam memberi nama. Sepanjang subuh aku melakukan itu hingga akhirnya  aku memutuskan untuk  kembali berjalan di dalam kegelapan.

TIBANYA pagi ditandai dengan terbitnya Ghanima. Tanah Pandemonium berubah warna dari hitam menjadi merah. Sesudahnya, ketika Leto muncul, merah itu pelan-pelan menguning. Debu-debu yang berseliweran pagi itu amatlah pekat, sedikit demi sedikit menutupi pandanganku. Angin meraung-raung. Di antara pekatnya badai debu itu tiba-tiba muncul sesosok wanita di hadapanku. Ia hanya berjarak beberapa langkah dariku. Aku mengenali sosoknya. Rambutnya panjang dan berkibar-kibar. Ia menatapku sejenak, lalu berbalik badan, dan berjalan menjauh. Aku segera mengikutinya. Ia menolehkan wajahnya sedikit, sepertinya memastikan jika aku mengikutinya.

Wanita itu berjalan menuju seberkas cahaya putih di kejauhan. Ia melesap ke dalamnya. Perlahan-lahan aku mendekati cahaya itu juga. Semakin dekat semakin terlihat bahwa di dalam cahaya itu ada sebuah ruangan putih--hampir setiap perabot di dalamnya pun berwarna putih. Ada dua orang wanita di situ --salah satunya ialah yang tadi kuikuti. Mereka duduk bersebelahan di sebuah kursi panjang dengan kedua tangan terlipat di meja. Di atas meja itu ada sebuah mangkuk besar yang berisi penuh makanan, tiga buah piring porselen, dan sebuah garpu di samping setiap piring itu.

"Erika, Luna," ucapku.

"Scott, duduklah," kata salah satu dari mereka, "Sudah lama kan kau tak makan ini?" Aku tak perhatikan betul siapa yang mengatakan itu karena sibuk memandangi setiap sisi ruang makan itu. Tanah gersang dan badai debu di belakangku itu telah  lenyap dan berganti menjadi dinding.

Aku bergeming sejenak, lalu berpaling dari dinding itu, dan duduk menghadap kedua wanita itu. Di depanku terhidang semangkuk spageti aglio olio. Aku menatap kedua wanita itu tanpa mengucapkan apa-apa. Mereka menyengir kepadaku seolah mengatakan, "Silakan makan sepuasmu!" Perlahan kuulur tanganku untuk meraih spageti itu. Baru pada saat itu aku menyadari bahwa aku sudah tak lagi mengenakan pakaian penjelajah. Tahu-tahu saja aku sudah berpakaian kaus oblong dan celana pendek, layaknya yang kukenakan di rumah.

Tatkala aku baru saja membuka mulutku, aku melihat ujung-ujung jariku membuyar menjadi gas. Garpu yang telah tergulung dengan spageti jatuh dari peganganku. Aku tercekat. Air muka kedua wanita di hadapanku itu tiba-tiba saja sudah berubah. Mereka membeliak menatapku. Mulut mereka menganga, namun tak tampak lidah ataupun gigi di dalamnya, hanya lubang hitam yang gelap sempurna. Tubuhku luruh pelan-pelan dan terisap ke dalam kegelapan itu. Aku menjatuhkan diriku ke lantai dan meronta-ronta.

Kaukah itu, Pandemonium? Kau memakan jiwaku. Kau sengaja mewujud menjadi sesuatu yang kukenali. Kau mempermainkanku lagi. Kau tahu keinginanku yang paling kuat saat ini adalah untuk pulang dan bertemu dengan kedua ibuku.

Kedua lengan dan kakiku luruh. Aku tak dapat bergerak lagi setelah itu. Ruangan di sekelilingku meredup hingga menjadi gelap sempurna. Sekarang ini yang tertinggal hanya pikiranku yang melayang-layang. Entah semua ini nyata atau tidak, aku pun tak tahu. Aku tak pernah melihat terang lagi semenjak itu.

Catatan:
*Puisi yang dimaksud adalah Paardise Lost karya John Milton.

Leopold A. Surya Indrawan lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan, Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leopold A. Surya Indrawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 14 November 2015






0 Response to "Pandemonium"