para pengungsi dalam tenda yang terlalu terang - karung merica heinrich heine dan jangkar tambora - der platz - filologi datangnya pulang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
para pengungsi dalam tenda yang terlalu terang - karung merica heinrich heine dan jangkar tambora - der platz - filologi datangnya pulang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:57 Rating: 4,5

para pengungsi dalam tenda yang terlalu terang - karung merica heinrich heine dan jangkar tambora - der platz - filologi datangnya pulang

para pengungsi dalam tenda yang terlalu terang

aku ingin bercerita padamu
suara rendah dan hati-hati di lantai goyah
wajahku tak berani menatapmu
agar kau tidak berada dalam lampu sorot siaran berita
atau sebuah titik sunyi dari sejarah yang patah
mencari bentuk akhir dari pelarian yang terus pecah
goyah. lalu setiap berita sibuk
membersihkan lantai yang berantakan

aku ingin bercerita tanpa lampu
dalam kegelapan yang terus membantah suara yang sibuk
mencari bentuk – dan tanah yang dijarah
selimut yang basah oleh air laut – angin dingin
dan bintang-bintang sirna dalam cahayanya

lampu aku matikan........................hanya suara
apakah bahasa ikut padam.........aku berbaring
mata aku pejamkan.......................apakah aku telah padam

suara mobil melintas datang lagi dan pergi lagi
kenangan tanah ibu di bawah mesin perampokan masakini
suara serangga terdengar dalam gelombang konstan
telinga membuat struktur dari keributan di luar
menjadi di dalam keributan
                 aku buka mataku
cahaya bulan mengabaikan bingkai jendela terakhir
membuat batas gelap dan terang
gerombolan-gerombolan di luar dan di dalam kematian

lampu aku nyalakan.......................udara mengirim kenangan
lampu aku matikan........................apakah cerita bisa padam
aku berbaring...................................mata aku pejamkan

tetapi bisik-bisik terus menyala
gerombolan bertopeng yang terus merampokku
penunggang kuda dengan pedang menikam bahasa
bahkan merampok kebisuanku
apakah ruang ketika angin berhembus – (tetapi tak terlihat)
               ketika waktu terus bergerak maju – (entah ke mana)

aku ingin bercerita padamu, persis seperti email yang kau tulis
untuk kami: “sebuah tempat untuk berhenti telah hilang
malam ini. dan kita siapa waktu tertidur.”

karung merica heinrich heine dan jangkar tambora

kau pakai tubuhku untuk berdiri di sini, tubuh dari bengkel ingatan. sekarang, 200 tahun berputar ke belakang, pamanku, saudagar “si karung merica” itu, berdiri di balkon villanya. di pinggir sungai elbe belum malam. berulang kali, apa itu? jaring laba-laba di antara arah mata-angin: layar kapal-kapal barang, kibaran bendera di bawah bau batu bara; melempar tambang ke depan dan ke belakang, menjerat pasar. melintas seperti pisau lipat dalam teropong, berulang kali. kau sedang menimbang beratnya waktu? lada, merica, kopi, tembakau dan impian dari tenggara. bau rempah-rempah yang tidak bisa dibekukan ke dalam robekan kata. rasa heran pada sambal dan kulit duren. berbelok, sebuah meriam seperti korek api dalam selimut, menatap garis kaki langit antara awan tebal dan kabut bergaram: “düsseldorf, hamburg, berlin, paris, batavia ... puisi di bawah bising bengkel bahasa.”

laut pasang – kesunyian jadi buas dan liar – masuk ke perut sungai. air mengepung kota. sungai elbe mencakar tubuhku, melewati batas bernapas. bias cahaya pada pantulan air, pantat kapal, reruntuhan ekonomi dan ringkik kuda napoleon. “si karung merica” itu tenggelam, tetapi terus mengintai dengan teropongnya. berulang kali: lompatan air pada dinding sungai, kayuhan kaki-kaki bebek meluncur menembus terbang; cahaya matahari seperti tebaran emas tak bisa digenggam. dan air surut. sebuah bungkusan hitam terapung- apung di sungai. terus memuntahkan asap dari tambora, 1815, setelah 200 tahun (sekarang yang berulang). sebuah gunung dari tenggara – melompat – menghentikan perang. jangkar dari material vulkanik yang mengubah waktu, dijatuhkan di wina. pintu-pintu asia tenggara terbuka dan lepas.

“si karung merica” kembali muncul di permukaan sungai. berulang kali, apakah ini? sebuah masakini digital. kapal-kapal konteiner, pesawat udara dan kamar chatting. yang bebek teruslah bebek, yang sungai teruslah sungai. setelah 200 tahun jangkar diturunkan, sebuah teropong gila antara yang melihat dan dilihat. berdiri, seperti bengkel ingatan setelah lupa. di pinggir sungai elbe, setelah log out.

filologi datangnya pulang

30 mei. 12:10 berlin-amsterdam
             16:45 amsterdam-jakarta

31 mei. 15.45 satu koper ditelan perut pesawat
membatalkan kenangan
membatalkan waktu
1 kg = 20 usd
garuda di balik monitor penerbangan internasional

genggaman yang melawan tangan
bayangan tergelincir dalam cahaya
birokrasi ambruk di depan drama formulir kehilangan

ribuan bayi menunggu badai makna dalam rumah

sebuah negeri yang kehilangan koper
terjepit dalam reruntuhan faktur pengeluaran
teks kehilangan bahasa – sejajar kata kehilangan cerita
pengeras suara melawan frekuensi – menyayat atmosfir
iklan melawan kenangan – mesin cetak pasar beringas
rakyat membuat warung di mana-mana
memasang nama toko – membatalkan bahasa ibu
             apakah kita stres, tuan?
membeli motor di mana-mana – mengejar kecepatan
kecepatan tetap di depannya, menukarnya dengan kemacetan
            bising. panas. nyamuk. pantat ac membatalkan kota
relijiusitas dalam fashion kontemporer
menjual batu akik di mana-mana
            apakah kita stres, tuan?
menggali tambang liar – membatalkan tanah leluhur
roh kehilangan arsip: ladang-aku yang bergetar
simbol masakini yang membatalkan paduan cerita
            – negara dalam badai kwitansi kosong

20 agustus. 07:25............jakarta-dubai

ibu-ibu tki mencari dering telfon dalam padang gurun pasir

            15:00...........dubai-hamburg

aku peluk buah kelapa
dengan kunci koper di dalamnya

der platz

kami sedang berjalan ke rumahnya. seraya berjalan ke rumahnya kami mencari alamatnya. antara kata “rumah” dan “alamat” ada masalah dengan kata ganti “nya”. sebuah tempat tak tersentuh dalam bahasa. mungkin kita bisa mencium bau ladang jagung di balik kata ganti ini. lupakan tata-bahasa. alamatnya ada di sana, ketika kita mulai mencium bau jagung di pagi hari.

apakah kata ganti ini mengenakan huruf “n” kecil atau “N” besar? tunggu. kita melihatnya lebih dekat melalui teropong-yang-lain: apakah kata ganti “nya” itu nyata atau sebuah keributan dalam bahasa? seperti orang ngamuk mencari rumah dalam kata rumah. atau: apakah huruf besar lebih tepat dipasang untuk kata Berjalan. mungkin kata rumah juga ingin huruf besar. lihatlah perubahan kalimat yang jadi sempurna ini: “kami sedang Berjalan ke RumahNya.” tentu, kami tidak membutuhkan mahkota huruf “K” besar di depan sebutan kami. setiap aku di sini sedang berlibur jadi sang majemuk tanpa huruf besar dalam sebutan kita.

kami sedang berjalan ke rumahnya: der platz. tetapi bagaimana dengan sebutan “der” di antara sebutan “nya” untuk tempat der platz-nya? sebentar untuk artikel tentang perbedaan interliterer ini. dengar, dengan kuping biasa-biasa saja: rumah itu tentang sebuah tempat. sebuah komunitas dengan kotak-kotak surat seperti susunan batu nisan. sebuah danau. jalan kecil berkelok seperti sedang menuju ke sebuah dunia yang terbuat dari batu kerikil. ladang pertanian solidaritas. rumah-rumah dari gerbong kayu. pohon-pohon rimbun. tembok tanah liat untuk tidur sebagai serangga bahasa. pompa air dan anak-anak bermain. bau tubuh yang menghemat air. barang- barang bekas dengan bekas kenangan. kompos kotoran manusia:

semua yang secukupnya, seperti keramahan tanpa huruf besar. mereka membantah pemukiman formal di kota yang hampir selalu lapar dan kekurangan. letaknya tidak terlalu jauh dari sini. di lesum – pinggir kota bremen. bagaimanakah caranya berjalan antara tubuh kami ke rumah kami? sejauh kau menyamar sebagai peradaban, katamu. jarak antara daun yang tumbuh, berubah warna, kemudian layu, rontok dan – menjadi apa pun yang tak terlihat lagi.

ya, kita sedang berjalan di sini.
selamanya di sini.

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Berlin Proposal (2015) adalah buku puisinya yang terbaru.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Afrizal Malna 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 15 November 2015

0 Response to "para pengungsi dalam tenda yang terlalu terang - karung merica heinrich heine dan jangkar tambora - der platz - filologi datangnya pulang"