Pawai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Pawai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:16 Rating: 4,5

Pawai

KETIKA kehidupan meneriakkan tentang keberadaan dirinya, Hafinuddin membalikkan tubuhnya membelakangi jalan. Dan ketika arak-arakan semakin dekat untuk mencoba mengelilingnya, Hafinuddin mulai beringsut, beranjak kemudian pergi. Sementara pawai kehidupan terus berjalan sambil menabuh-nabuh genderangnya. Suara itu bahkan kemudian membubung tinggim, memenuhi jagad, menembus sudut-sudut langit sehingga gemanya bisa didengar dari segala penjuru tempat, bahkanpun sampai di liang-liang persembunyian para makhluk bumi. Sedangkan di sisi lain Hafinuddin terus berjalan menelusuri jalan-jalan sepi sambil menghitung langkahnya sendiri, sambil merenung kemana sebenarnya pawai itu akan berjalan kemudian berhenti dan apa sebenarnya yang mereka cari dari kehidupan. Tetapi jawab dari eprtanyaan itu tentu tidak akan didapatkannya, sebab jawabannya akan menjadi bermacam-macam, sebanyak pawai yang setiap kali melintas di jalanan amat panjang itu. 

Kemudian Hafinuddin terhenti dengan sangat tiba-tba, suara aneh menyentuh gendang telinganya. Didengarkannya suara tadi dengan sangat hati-hati sambil melihat jari kakinya yang nampak sedikit berdebu, walaupun debu itu menjadi tak nampak tertutup dan tersekat dengan suara aneh yang terdengar semakin jelas. Setelah dia menengadahkan muka, betapa sangat terkejut karena tenryata suara yang didengarnya adalah suara pawai dan lebih terkejut lagi bahwa pawai itu sesungguhnya sedang merayap mendekati Hafinuddin dengan arah yang berlawanan. Tetapi karena masih agak jauh Hafinuddin sempat menghindar setelah sebentar menatapnya dengan penuh  keheranan. Dia memutar tubuhnya yang ramping membelok di gang sempir yang jarang dia lewati. 

“Din, saudara mau kemana?”

“Entahlah.”

“Tapi itu gang buntu!”

“Siang bilang ini gang buntu.“

Entah kenapa Hafinuddin menjadi sedikit emosi bicaranya setelah ada yang mengatakan bahwa gang yang dia lewati adalah gang buntu. Jalannya pun semakin dipercepat dari biasanya.

- ”Tetapi, tetapi sebentar.“
- ”Ah, Sudahlah. Waktu saya terlalu sempit untuk bicara dengan saudara dan aku memang tak akan pernah perduli dengan jalan, aku tidak mau terlalu berurusan dengan gang yang katamu buntu. Kembali saja kamu ke rumah atau sekalian ikut pawai.“ – 

- ”Saya tak mungkin ikut pawai.“ –

- ”Kenapa?” –

- ”Ya, sebab tak mungkin aku bisa berjalan sendiri tanpa saudara ikut bersamaku.” – 

- ”Baiklah, kalau begitu kamu ikut aku saja dan tidak usah bertanya macam-macam. Saudara harus tunduk apapun perintahku dan harus mengikuti kemanapun aku pergi.“ –

- ”Oh, itu tidak mungkin.“

- ”Harus mungkin dan harus bisa.“

- ”Kalau begitu sut saja untuk menentukan siapa yang menang diantara kita, kemudian yang kalah harus tunduk pada yang menang.“

- ”Boleh dengan cara itu, tetapi dengan satu sarat, bahwa saya harus menang.“

- ”Itu tidak adil.“ –

- ”Dalam hal ini kita tidak membutuhkan keadilan, yang butuh keadilan adalah orang-orang awam. Sedang kita tidak, kita tidak membutuhkan lembaga keadilan, tidak membutuhkan kantor, tidak perlu sarjana-sarjana hukum yang sering tak becus macam tetanggamu itu dan kita tidak membutuhkan apa-apa kecuali keputusan kita sendiri.“ –

Setelah berbicara panjang lebar, kemudian keduanya terdiam dan terus berjalan, Hafinuddin sedikit memperlambat jalannya. Dia kasihan melihta saudaranya berjalan tertatih-tatih.
”Saudaraku, mana yang engkau katakan jalan buntu itu? kenapa saudara diam.“

”Ya, kali ini saya kalah.“

”Ini bukan masalah kalah dan menang. Tetapi persoalannya benar dan tidak.“

“Maksud saudara?”

“Saya tahu saudara sudah mengerti, tapi pura-pura tidak mengerti. Tak apalah saya mau mencoba untuk menerangkannya. Begini, apa yang saudara sangka tadi ternyata keliru . . .”

”Aku telah berprasangka apa?”

“Itulah tanda, bahwa sebenarnya saudara bodoh.”

“Lho!” –

“Saudara tadi mengatakan dengan sangat yakin tentang kebuntuan jalan ini, tapi mana buktinya? Kita sudah berjalan entah menghabiskan berapa kilo meter dan jalan buntu tidak pernah kita temukan. Sekarang ingat kata-kata yang pernah saudara katakan itu?“ -

”Ya, saya ingat.“ –

”Dan ada yang lebih penting dari itu sebenarnya ketika kita lewat di gang ini.“

”Kali ini aku tak mengerti arah pembicaraan saudara?“ –

”Selama kita berjalan di atas gang ini saya tak akan pernah menemukan dan berjumpa dengan pawai yang memuakkan. Yang bisa kita ketemukan di gang yang kau anggap buntu ini adalah suara-suara takbir yang menyejukkan. Saudara dengar suara merdu itu?“ –

”Ya, saya mendengarnya. Tetapi saya tidak setuju dengan pendapatmu.“ –

”Alasannya?” –

”Sebab tidak setiap suara takbir itu menyejukkan, lain daripada itu pawai akan selalu ada ketika saudara merasa bahwa dirimu ada.” – 

“Memang tidak setiap takbir itu menyejukkan, terutama buat makhluk semacam saudara. Ah sudahlah kita memang tak pernah bisa bersatu kecuali dalam satu hal: HIDUP.

Hafinuddin diam, saudaranya diam. Kemudian berangkulan. Berjalan dan akan terus berjalan. 

***
HAFINUDDIN terbangun setelah jam dinding yang menempel di samping tempat tidurnya mengisaratkan pukul 03.00 dini hari. Tetapi sebenarnya bukan itu saja yang membuat dia terbangun dini hari. Ternyata gendang telinganya secara tidak sadar mulai tersentuh genderang suara pawai. Ya, pawai itu muncul kembali dalam mimpinya.

- „Din, siapa yang menyuruhmu bangun, kemudian harus bersusah payah mengambil air wudlu, padahal badanmu terlihat sangat lesu malam ini.“ –

Untuk yang kesekian kalinya Hanifuddin sangat terkejut dengan sapaan saudaranya. Sebab ternyata dia sudah lebih dulu bangun. Hanifuddin berusaha menjawab dari pertanyaaan saudaranya.

- ”Entahlah. Saya nggak tahu.“ –

- ”Tuhan barangkali?“ –

Hanifuddin merenung sejenak, kemudian dijawabnya pula.

- “Tidak. Tuhan tidak pernah menyuruhku berbuat apa-apa kecuali beribadah dan aku berusaha menyembahnya karena itu kebutuhanku.” –

- ”Wah, bicaramu sekarang hebat sekali dan mulai saat ini aku akan tunduk dengan setiap kata yang saudara ucapkan.“ –

Hanifuddin tersenyum, saudaranya tersenyum. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Dan Hanifuddin tersadar untuk kemudian berdiri sholat. Dalam hening doanya terdengar: Ya Allah, singkarkan jauh-jauh suara pawai yang setiap kali terdengar amat memekkan itu ya Allah. Jauhkanlah tatapanku dari pemandangan pawai yang amat membutakan itu ya Allah. Singkirkan aku dari bau pawai yang sangat memuakkan itu ya Allah. 

Dan selebihnya doa itu tak kedengaran lagi kecuali sebuah suar ayang datang entah dari mana: Tidak.
”Tidak mungkin.“ –

Hanifuddin terkesiap. Lebih dari sekedar kaget. Apakah ini jawaban dari Tuhan? Tidak. Pasti bukan. Tuhan tidak pernah punya suara yang membuat telinga menjadi gatal seperti ini. Tuhan selalu bicara dengan hati. Saya yakin ini pasti  bukan suara Tuhan!

- ”Apakah ini jawaban yang keluar dari suara Tuhan?” –

Kali ini tak ada suara jawaban apapun. Yang ada sepi, hening, lengang.

- ”Siapa sebenarnya engkau yang selalu menjawab dari doa-doaku?” 

- ”Aku. Saudaramu.”

Seketika darah kejantanan Hanifuddin memuncak, wajahnya merah, tubuhnya gemetar. Hanifuddin sangat bernafsu untuk segera menghabisi nyawa saudara yang selalu mengganggu dalam setiap aktivitas kesehariannya. Diambilnya pisau dapur untuk segera ditikamkan pada perut saudaranya. Di sisi lain saudara Hanifuddin malah tertawa-tawa melihat keberangan Hanifuddin malahan dia sempat bertanya tanpa sedikitpun merasa dirinya salah, tanpa merasa nyawanya terancam.

- ”Saudara ingin membunuhku? Silahkan. Tetapi yang perlu saudara ingat bahwa aku mungkin saudara bunuh. Pembunuhanmu padaku adalah bunuh diri atas dirimu sendiri Aku tak akan pernah mati sebelum saudara sendiri diterjang kematian.“

Hanifuddin diam, saudaranya diam. Kedaunya berangkulan untuk selanjutnya berjalan bersama kembali. ***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sadewa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Berita Nasional" Minggu, 24 Maret 1991

0 Response to "Pawai"