Pelabuhan Hati [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:27 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [1]

Aku dipanggil Pak Julius untuk masuk ke ruang rapat direksi. Di sana berkumpul para petinggi perusahaan obat hewan ini. Aku sungguh resah, khawatir ada peternak ayam yang komplain dengan kinerjaku dan mengadu pada Pak Julius, pemilik perusahaan ini. Maklumlah, selain pemilik perusahaan, Pak Julius juga memiliki breeding farm dan peternakan ayam potong skala besar serta aktif di organisasi peternak di Jabotabek, sehingga ia akan lebih mudah mengetahui kinerja pegawainya dari sesama peternak!

“Kamu tahu, mengapa kamu dipanggil ke ruang ini, Elda?” tanyanya, sambil tersenyum.

Aku menggeleng. “Ada apa, Pak? Ada peternak yang mengeluh pada Bapak?”  jawabku dengan perasaan tak tentu.

Pak Julius tersenyum.

“Tenang Elda…,” Pak Jonathan, sales manager perusahaan ini, menatapku. “Kami ingin menawarkan, apa kamu mau menjadi kepala cabang perusahaan kita di Sulawesi? Kedudukannya di Makassar?”

“Menjadi kepala cabang Sulawesi? Serius, Pak?” aku benar-benar tak percaya.

“Ya!”

“Tentu saya mau, Pak!” jawabku pasti dan penuh semangat. Ke Sulawesi! Bukan main! Ah… akhirnya aku akan meninggalkan Jakarta, yang akhir-akhir ini membuatku gerah, membuatku tak betah dan tak sumringah. Terlalu banyak kenangan di kota ini yang telah kurangkai bersama Lexi, Laksamana Saragih kekasihku, yang tiga bulan yang lalu memilih meninggalkanku, setelah tak kuasa menolak perjodohan orang tuanya.

Aku hanya ingin pergi dari Jakarta. Itu saja, alasannya. Tak ada tebersit di benakku, bagaimana jika kelak aku kesepian, karena tak memiliki sanak saudara di Sulawesi. Tak kupikirkan pula betapa sulitnya, jika di sana aku harus mbabat alas, karena perusahaan ini memang benar-benar baru mulai membuka pemasaran bagi produk vaksin dan obat-obat hewan yang harus bisa kujual tanpa didahului market research. Padahal, aku belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di bumi Sulawesi. Saking semangatnya, bahkan aturan perusahaan yang mewajibkanku di sana selama dua tahun juga kuanggap angin lalu. Aku hanya ingin enyah dari Jakarta. 

Aku tengah membereskan laporan stok vaksin dan obat-obat¬an kantor cabang yang kupimpin, ketika Wati, pembantu rumah sekaligus kantorku ini, masuk. “Bu, ada tamu di depan. Daeng Rafi, peternak yang ingin bertemu Bu Elda!”

Daeng Rafi? Bukankah peternak itu yang selalu menolak penawaran produkku habis-habisan, ketika aku berkunjung ke peternakannya? Bukankah dia begitu setia pada produk lain dan mengelu-elukan kehebatan produk kompetitor itu padaku seminggu yang lalu? Untuk apa tiba-tiba dia datang ke sini? 

Aku beranjak dari meja kerjaku. Kuseret kakiku menuju ruang depan.

“Selamat sore, Dokter Elda. Maaf saya mengganggu sore-sore ini.” Laki-laki peternak ayam broiler atau ayam pedaging berskala lumayan besar itu menyambutku.

“Ah, tak apa-apa, Pak!” Aku buru-buru menyalaminya, tanpa sedikit pun memendam dendam atas kearoganannya selama ini padaku. “Mari duduk. Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

“Begini, Bu...,”  wajahnya tampak tegang. “Ayam saya banyak yang mati sejak siang tadi. Apa Ibu bisa datang ke peternakan saya? Saya sebenarnya berat hati hendak minta tolong Ibu, karena saya tidak pakai produk Ibu. Tapi, mau bagaimana? Dokter Hewan Kukus yang jual vaksin itu pada saya, tidak ada di kantor, sedang meeting ke Jakarta. Dokter Hewan Gustaf, yang obat-obatannya saya pakai juga, sedang dinas ke Gorontalo. Saya memberanikan diri ke mari agar Dokter Elda sudi ke peternakan saya, walau malu rasanya.”

Aku tersenyum. “Oh, tak apa-apa, Pak!” ujarku. “Kalau begitu, mari kita berangkat segera.”

“Sekarang?”

“Ya! Bapak bawa kendaraan? Kalau tidak, ayo, sekalian naik mobil kantor saya saja.”

Daeng Rafi tersenyum girang. Wajahnya yang tadi agak menegang, tampak mulai sumringah.

“Saya naik motor, Dokter.”

“Ya, sudah, kita berangkat masing-masing saja sekarang.”

Kusabet kunci mobil dan melesat menuju Sungguminasa, tempat peternakan ayam Daeng Rafi. Tiba di sana, aku segera memakai masker penutup hidung. Di dekat kandang, aku disambut oleh beberapa bangkai ayam yang telah disiapkan oleh pegawai kandang. Sebelum melakukan bedah post mortem pada bangkai ayam-ayam itu, kuminta Daeng Rafi untuk menemaniku melihat kondisi ayam di kandang yang terkena penyakit ini, juga mengevaluasi program vaksinasi dan pengobatan yang telah dilakukan pada ayam-ayam ini.

“Menurut saya, ayam-ayam ini agaknya terkena infeksi parasit koksidia, Pak. Namun, agar lebih pasti, saya akan membedah ayam-ayam yang mati, dan kalau boleh, saya minta lima ekor ayam hidup yang tampak lemas, sebagai pembanding untuk diperiksa.”

Daeng Rafi mengangguk-angguk.

“Bapak pernah berikan program pencegahan untuk koksidiosis?”

Lelaki itu menggeleng. “Paling hanya program vaksinasi tetelo dan pemberian vitamin saja, Dokter.”

“Semestinya ayam juga diberi program pencegahan untuk kasus koksidiosis. Bisa melalui vaksinasi, bisa juga pemberian obat dengan dosis pencegahan, Pak. Karena, penyakit koksidiosis menurunkan daya tahan tubuh, sehingga kadang-kadang program vaksinasi tetelo atau lainnya yang sudah dijalankan, juga bisa mengalami kegagalan sehingga meskipun ayam sudah divaksin tetelo,  masih juga terinfeksi.”

Daeng Rafi kembali mengangguk. Aku lalu melakukan pemeriksaan fisik luar pada beberapa bangkai ayam, kemudian baru melakukan bedah post mortem. Kuperiksa bagian alat pernapasan yang tak kulihat ada perubahan mencolok di situ, lalu bagian lambung ayam pun ternyata baik-baik saja. Namun, ketika kubuka bagian usus dengan gunting bedah, tampak jelas perdarahan di sana.

“Diagnosis saya, ayam-ayam ini memang terkena koksidiosis, Pak!” ujarku kemudian. “Oh ya, mana ayam yang lemas-lemas? Bisa dipotong dulu, lalu akan saya periksa.”

Daeng Rafi memerintahkan pegawainya untuk mencomot tiga ekor ayam yang tampak lemas di kandang. Aku segera melakukan pemeriksaan fisik luar, lalu dilanjutkan dengan pembedahan pada semua ayam lemas yang telah dipotong itu. “Lihat, Pak. Sama gejalanya yang terjadi dengan ayam yang mati tadi, ’kan?”

“Lalu bagaimana, Dok?

“Kita obati dengan amprolium atau sulfadiazine. Bapak ada obatnya? Kemudian, jangan lupa bangkai-bangkai ayam ini segera dibakar dan dikubur dalam-dalam, agar tak menular ke kandang lain.”

Aku mencuci tanganku dan gunting bedah serta pinset dengan sabun disinfektan yang selalu ada di dalam tas bedahku. Daeng Rafi menantiku. Kami kemudian melangkah bersama menuju gudang stok obat-obatan dan vaksinnya.

“Saya kebetulan baru mencoba usaha ternak broiler ini, Dokter. Ya, baru setahun inilah, jadi saya belum berpengalaman. Obat-obatan pun saya belum tahu semuanya.” Kudengar penjelasannya yang kali ini sungguh berbeda dari  nada bicara saat pertemuannya denganku sebelumnya.

“Tak apa, Pak. Walau Bapak nggak pakai produk saya, sebagai dok¬ter hewan, saya tetap akan membantu Bapak. Juga siapa pun yang membutuhkan pertolongan saya.”

“Dok, ini stok obat-obatan saya.” Daeng Rafi menunjukkan rak berisi bermacam obat dan vitamin yang sudah dibelinya.

“Nah, diobati dengan ini, Pak!” Kuambil sebuah kaleng yang isinya mengandung amprolium. “Lihat petunjuk dosis untuk pengobatannya. Saya sarankan ayam-ayam yang di kandang lain yang belum tertular penyakit, sebaiknya diberi obat yang sama dengan dosis pencegahan. Ini Bapak lihat, ada kan petunjuk dosis pencegahannya.”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [1]"