Pelabuhan Hati [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:28 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [2]

“Kalau vaksinnya ada, Bu?”

“Ada, Pak. Namun, jika kasusnya seperti ini, agaknya pemakaian vaksin sudah terlambat. Nanti, jika Bapak mau, pada ayam yang baru masuk, saya bersedia membuatkan program vaksinasi lengkapnya, boleh memakai produk saya, namun tak masalah jika Bapak menginginkan memakai vaksin produk lain.”

Daeng Rafi tersenyum simpul. “Baik nanti saya pikirkan, Dok!”

“Saya mengerti, Pak. Vaksin saya memang produk baru di Sulawesi ini, meski di Pulau Jawa sana termasuk produk yang populer di kalangan peternak dan kualitasnya tak perlu diragukan lagi.
Namun, berkualitas tinggi seperti mana pun, sesungguhnya pengaturan program yang tepat dan kontrol yang berkesinambungan dari dokter hewan itu yang utama. Dan saya janjikan hal itu menjadi prioritas program saya, Pak.”

Daeng Rafi mengangguk-angguk.

“Baiklah, sudah hampir magrib, saya permisi pulang. Bapak juga mau memberikan obat pada ayam-ayam yang sakit, ’kan? Telepon saya saja, jika Bapak membutuhkan bantuan… kapan pun!”

“Terima kasih, Dokter Elda.”

“Sama-sama, Pak!”

Kularikan mobilku sambil tak hentinya kuberdoa, semoga Daeng Rafi kelak mau menggunakan program vaksinasiku, menggunakan produkku. Beginilah memang liku-liku pekerjaanku sebagai kepala cabang perusahaan obat hewan, yang segalanya masih kutekuni seorang diri, alias mbabat alas, di bumi Sulawesi ini. 

Dulu, di Jabotabek, aku lebih mudah menawarkan produkku. Di sini, di tempat yang orang nyaris tak mengenal produkku, aku memang jauh harus lebih bersabar, namun tetap berusaha keras agar peternak bisa per¬caya pada produkku. Dengan kiat tak memaksa dan menggurui pada peternak, namun memberikan pengertian akan produk baru dengan tulus, serta selalu siap turun tangan menghadapi berbagai kasus, aku percaya, cepat atau lambat produkku akan dikenal baik oleh para peternak di sini, seperti di Jabotabek. 

Malam belum terlalu tua, ketika aku selesai menelepon beberapa peternak di sekitar Makassar, untuk menanyakan kondisi ayam-ayam mereka yang sudah menggunakan program vaksinasi dan obat-obatan produkku. Tiba-tiba ponselku berdering.

“Hai… Bang!” sambutku ceria pada Admiral Siregar, seniorku berbeda tiga angkatan ketika kuliah di kedokteran hewan dulu, yang menghubungiku.

“Apa kabar, Da?”

“Baik-baik, Bang! Ada apa, nih, sudah lama nggak main ke sini, nggak telepon pula!”

“Kalau begitu kita jalan, yuk, ke Losari.”

“Ayo!”

“Kujemput, ya?”

Hatiku mendadak berbunga-bunga diajak Bang Iral ke Losari. Tak kusangka, laki-laki Batak yang dulu senior galak di kampusku, bahkan dinobatkan sebagai senior paling galak ketika masa orientasi itu, kini menjadi kolegaku.

Cukup lama aku tak pernah bertemu dengannya, hingga akhirnya kami berjumpa lagi, ketika aku dan Pak Julius menanti boarding pesawat yang akan menerbangkan kami ke Makassar.

“Kamu Elda, ’kan?” seorang lelaki menepuk pundakku saat itu.

Aku menoleh dan mengerutkan kening, mencoba mengingat siapa lelaki itu.

“Aku Iral, Admiral Siregar! Kakak kelasmu dulu!”

“Bang Iral?!” teriakku spontan, tak peduli entah berapa pasang mata menatapku, termasuk Pak Julius yang tersenyum-senyum melihat kami.

“Kamu mau ke Makassar, Da?”

Aku mengangguk.

“Aku juga mau ke sana. Aku baru selesai meeting di Jakarta, dan sekarang harus balik ke Makassar. Aku dinas di sana. Untuk apa kamu ke Makassar, Da?”

“Aku pindah tugas ke sana, Bang!”

Pertemuan tak terduga itu menyebabkan Pak Julius yang rencananya akan berada di Makassar selama lima hari, akhirnya hanya tiga hari, karena Bang Iral membantu kami mencari rumah kontrakan untuk rumah sekaligus kantor cabang ini. Tak sampai hanya di situ, Bang Iral yang telah tiga tahun bergulat menjual obat hewan dan vaksin di Sulawesi itu, juga membantuku membeli segala keperluan kantor dan rumah baruku ini, mulai dari membeli sendok hingga genset.

“Genset penting, Elda. Karena di sini kadang-kadang terjadi pemadaman listrik. Vaksin yang kau jual bisa rusak, jika listrik padam dalam waktu yang lama. Akibatnya, program vaksinasimu bisa jadi gagal, dan peternak akan komplain padamu!” Itu nasihatnya di telepon, ketika ia tahu di rumah kantorku ini hanya ada lemari pendingin, tanpa disertai genset. Bang Iral kemudian menemaniku membeli genset. 

Begitulah Bang Iral, selalu siap sedia menolongku. Yang kusuka, ia tak menganggap diriku sebagai kompetitornya. Ia tak takut kehadiranku mengganggu roda penjualan produknya, yang sejenis dengan produkku.

“Hidup, mati, dan rezeki itu sudah ada yang mengatur! Tak masalah banyak produk baru di lapangan, malah bagus memberikan banyak pilihan bagi peternak!” komentarnya enteng, ketika kutanya pendapatnya akan pengaruh kehadiran produkku bagi produknya nanti di sini.

Bang Iral juga tak segan-segan mengajakku joint visit mengenal lokasi peternakan ayam, sapi potong dan babi di sekitar Makassar, Pare-Pare, Sidrap, bahkan hingga ke Manado dan Kotamobagu. Bayangkan saja, aku belum pernah menginjakkan kakiku sebelumnya di pulau ini. Sudah pasti pengetahuanku mengenai kantong-kantong peternakan di daerah ini benar-benar blank. Barangkali aku memang salah satu wanita ‘gila’, nekat, yang berani menerima tantangan dari perusahaan untuk menjadi kepala cabang, yang untuk sementara waktu (entah sampai kapan) harus bekerja seorang diri menjual produk dan menangani semua urusan kantor dengan segala persoalannya di sini.

Bel di ruang depan berbunyi nyaring, menghentikan lamunanku. Aku bergegas ke depan. Bang Iral membukakan pintu samping kemudi untukku, aku segera masuk, dan tak lama mobil ini melaju menuju Pantai Losari.

“Jadi, bagaimana bisnismu?”

“Lumayan, tetapi aku harus mencoba lebih keras untuk mencapai target.”

“Hebat kau, Da! Tidak kusangka kau wanita perkasa, berani bertualang.”

“Ah… Bang Iral, bisa saja! Kapan lagi? Kesempatan jarang datang dua kali, makanya selagi ada kesempatan, cepat kuambil. Abang juga tahu kan, almarhum orang tuaku hanya petani kecil di Cianjur. Abang juga tahu, semasa kuliah dulu, aku terpaksa menjadi guru privat bahasa Inggris, juga menjadi penyiar radio paruh waktu, agar bisa makan selama kuliah. Karena, beasiswa yang kudapat sungguh pas-pasan!”

“Aku tahu banyak tentang dirimu, Da. Termasuk kesetiaanmu pada Lexi, anak jurusan tanah itu, yang akhirnya meninggalkanmu, ‘kan?”
Tenggorokanku mendadak kering. Kepalaku jadi pening. Jadi, Bang Iral yang selama ini di Makassar, juga tahu kasusku dengan Lexi? Dari mana ia tahu? Mengapa ia sampai tahu? 

Aku menghela napas, mencengkeram gerahamku. Lexi! Mengapa nama itu harus lagi kudengar, meski aku lari ke sini, bersusah payah mengubur dalam-dalam semua kenangan! Setelah selama di Makassar ini aku merasa memiliki kehidupan lain yang lebih menyenangkan, walau penuh tantangan! 

“Kamu ke sini untuk lari dari kenyataan, ’kan?” pertanyaan Bang Iral menelisik.
“Entahlah!” jawabku, tak acuh. “Yang jelas, aku memang ingin mencari suasana baru di sini, selain menikmati promosi atas kerja kerasku selama ini di Tangerang!” 

Bang Iral tersenyum.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [2]"