Pelabuhan Hati [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:30 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [3]

“Kenapa tersenyum?”  aku mendadak sensitif.

“Dari dulu kamu memang gadis yang unik dan menarik, Da! Hebat Lexi bisa menjadi sang penakluk!”

“Bang, kumohon jangan sebut nama itu lagi, atau aku enggan berkawan denganmu!”

Bang Iral menoleh ke arahku.

“Jadi nggak butuh aku lagi, nih?” godanya. “Hmm… ancaman yang curang! Tentu saja kamu nggak mau berkawan denganku lagi, karena hampir semua peternakan di Sulawesi ini sudah mulai kau kenal!” 

“Bang Iral, begitu, sih…!” ujarku, kesal. “Aku sudah berusaha melupakan, bahkan hingga lari ke sini, tapi Bang Iral malah membicarakannya terus.” Kutinju saja lengan kiri seniorku itu. Namun, tangan kiri Bang Iral lantas menangkap tangan kananku dan memegangnya erat. Aduh, jantungku jadi berdebar keras. Debar-debar yang sulit kumengerti. 

Aku menarik tangan kananku. Beringsut dari tangannya.

“Awas, ya… jangan sebut-sebut dia lagi!” Sekali lagi kutinju lengan kirinya. Bang Iral mengaduh kesakitan.

“Oke… oke…,”  katanya kemudian, sambil menghentikan mobilnya di tempat parkir, karena kami telah tiba di tepi Pantai Losari.

“Kau mau makan apa? Es pallubutung? Es pisang ijo? Atau pisang epek?”

“Semuanya!” jawabku enteng, sambil turun dari mobil.

“Rakus kali!”

“Biar!”

Bang Iral mengacak-acak rambutku. Entah gemas, entah sayang, aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku merasa nyaman.

Ponselku berdering. Bang Iral! Segera saja kutepikan mobilku sejenak.

“Ada apa, Bang?”

“Kau ke mana, Da? Aku di kantormu!”

“Jalan, Bang. Cari order ke Pare-Pare, Sidenreng-Rappang, Pinrang dan Enrekang.”

“Sendiri?”

“Ya, memangnya mau terus-menerus merepotkan Bang Iral!”

“Aku tak merasa direpotkan, Elda!”

“Ya, tapi cukuplah sekali diberi petunjuk lokasi oleh Bang Iral, selanjutnya aku sendiri yang harus berjuang. Bang Iral kan nggak terima gaji dari kantorku.”

“Berapa hari kau di sana?”

“Tiga hari, Bang!”

“Hati-hati, Da! Menginap di Sidrap saja, di rumah Bu Haji Ilyas.”

“Memang aku mau menginap di sana, bersih dan aman, ’kan? Seperti Abang bilang!”

“Hati-hati, Elda!”

Ucapan itu benar-benar menyejukkan hatiku.

“Telepon aku, kalau ada apa-apa.”

“Ya, Bang. Titip-titip kantorku juga, ya, Bang! Wati sendirian.”

“Oke!”

Telepon kututup, lalu dengan penuh semangat kularikan mobil menuju Pare-Pare. Di kota ini kubidikkan senjata ampuh pemasaranku pada beberapa poultry shop besar, dan juga pemilik peternakan ayam petelur. Aku mendapatkan pesanan, walau tak terlalu besar.

Dari Pare-Pare aku melaju, menuju Sidrap (Sidenreng-Rappang), yang merupakan basis peternakan ayam petelur. Dari peta yang kubuat sendiri ketika joint visit pertama bersama Bang Iral, akhirnya aku bisa berkunjung ke setiap lokasi peternakan di daerah ini.

“Assalamu’alaikum, Pak Haji Muhtar!” Aku mengetuk pintu rumah peternak, yang menurut Bang Iral, peternak ayam petelur terkaya di Sidrap ini.

“Aih… Dokter Elda! Dengan siapa, ji?” Peternak itu berdiri di depan pintu, matanya menatapku lekat dan tersenyum ramah.

“Sendiri, Pak Haji. Biasa, mau menawarkan vaksin dan obatnya pada Pak Haji Muhtar.”

Haji Muhtar mengangguk-angguk.

“Ah… mana Dokter Iral, ki?”

“Beliau di Makassar.  Saya kan harus jalan sendiri, Pak Haji.”

“Mari masuk, Dok!” ajaknya kemudian.

Aku tak menolak. Begitu menaruh badanku di sofa empuk ruang tamu, aku langsung mengeluarkan beberapa brosur dan daftar harga dari file folder di tanganku.

“Bagus harga telur hari ini, ya, Pak Haji!” Aku mulai beraksi. Berhadapan dengan peternak, mau tak mau memang harus pintar berbicara, terutama tentang kondisi harga, entah harga telur, pakan, DOC (anak ayam umur sehari) yang kadang-kadang mengalami fluktuasi.

“Benar, Dok. Sedang bagus untuk seminggu ini. Kebetulan produksi telur ayam saya juga sedang di puncak-puncaknya, ji!” Pak Haji Muhtar menatapku.

“Wah, bisa-bisa tahun depan pergi ke tanah suci lagi, Pak Haji Muhtar ini.”

“Amin....” Peternak itu lagi-lagi tersenyum. “Dokter Elda ada-ada saja.”

“Ayam-ayam, bagaimana? Sehat-sehat?”

“Ayam yang produksi, sih, baik-baik, Dok. Hanya yang umur tujuh minggu, agaknya kurang nafsu makan. Boleh nanti, Dokter Elda mampir dan periksa ke kandang?”

“Kalau begitu sekarang saja. Lebih cepat, lebih baik. Dan bisa langsung diobati, jika ada masalah di kandang, Pak Haji.” Aku menaruh file folder di meja, dan bangkit dari kursiku.

“Baik, Dokter.”

Haji Muhtar menemaniku ke kandang ayam tak jauh dari rumahnya, setelah aku bergegas mengambil tas bedah dari mobilku.

“Sudah diberi vitamin, Pak Haji?”

“Sudah, ki, tapi masih juga tak ada nafsu makan, karena makanan jatah yang kita taruh, banyak bersisa.”

“Ayamnya kurus-kurus, Pak Haji. Mana daftar catatan kematiannya, Pak Haji.”

Haji Muhtar mengambil kertas yang tergantung di tembok.

“Ini, Dok!” Diserahkannya kertas rekapitulasi kematian ayam padaku.

“Tingkat kematiannya tergolong rendah ini, Pak Haji. Tapi, ayam usia tujuh minggu ini seperti ayam lima minggu.”

“Itu dia, ji!”

“Apakah Pak Haji sudah beri obat cacing untuk dosis pencegah¬an cacingan?”

“Rasanya belum, Dok!”

“Boleh saya lihat jadwal program vaksinasi dan pemberian obat untuk pencegahan penyakitnya?”

“Ada, Dok!” Lagi-lagi peternak kaya namun sederhana ini mengambil kertas yang tergantung di tembok. Aku membaca jadwal program.

“Benar, tak ada jadwal untuk pemberian obat cacing sebagai pencegahan. Saya curiga ayam-ayam ini cacingan, Pak Haji. Boleh kita potong barang lima ekor, untuk kita periksa, Pak Haji?”

Haji Muhtar mengangguk, dan memerintahkan seorang anak kandang dengan bahasa Bugis-nya, tak lama anak kandang itu menangkap dan memotong lima ekor ayam dan diserahkannya padaku. 

“Pak Haji, ayam ini terinfeksi cacing pita, lihat cacing-cacing yang berbentuk panjang pipih dan berbuku-buku ini.”

Pak Haji Muhtar ternganga.

“Semua ayam yang saya bedah ususnya ada cacing pitanya. Pantas ayamnya kurus-kurus, diberi vitamin pun tetap saja kurus. Nah, untuk cacing pita, Pak Haji bisa pakai obat niclosamide atau iverwectine, aplikasinya dicampur pakan. Pak Haji ada stok obatnya, ’kan?”

Dari kandang, Pak Haji Muhtar mengajakku menuju kantor peternakan sekaligus gudang obat. Ternyata, ia tak memiliki sama sekali stok obat cacing pita. Tak sia-sialah kedatanganku ke peternakannya sambil membawa stok produkku, yang bisa kujual langsung hari ini. Setelah memberikan instruksi pemakaian, aku pamit.

“Dokter Elda…,” tiba-tiba Haji Muhtar memanggilku, ketika aku hendak masuk mobil. “Kalau nanti dua puluh lima ribu ayam DOC saya jadi masuk, tolong buatkan program vaksinasi dan pencegahan cacingan lengkapnya, ya!”

Aku terbelalak.

“Siap, Pak Haji. Kabari saja kapan tanggal pastinya kedatangan DOC, saya akan buatkan program sebelum ayam datang.”

“Terima kasih, Dokter Elda.”

“Terima kasih untuk kepercayaan Pak Haji Muhtar pada saya!”

Peternak itu tersenyum dan melambaikan tangannya, ketika mobil yang kukemudikan meninggalkan pekarangan rumahnya.

Dahsyat! Teriakku girang dalam hati.

Pesawat yang kutumpangi telah mendarat di Sam Ratulangi. Inilah untuk kali pertama aku melakukan outside duty-ku seorang diri ke Manado. Rencananya, aku akan melakukan jalan darat menuju Kotamobagu, setelah selesai dengan urusan di Manado dan sekitarnya, untuk mengunjungi lokasi peternakan yang sebelumnya pernah kudatangi bersama Bang Iral saat aku menginjakkan kakiku dua bulan pertama di Sulawesi ini. Tentu saja, lagi-lagi dengan berbekal peta sederhana, yang kubuat ketika pergi dahulu!

Perlahan tapi pasti, taksi yang kutumpangi dari luar bandara meluncur, mengantarku menuju kota, menuju Hotel Queen, tempatku menginap.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [3]"