Pelabuhan Hati [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:32 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [4]

Ada telepon dari Bang Iral.

“Hei, Bang! Apa kabar?”

“Tadi aku telepon ke kantormu. Kata Wati, kau ke Manado? Kenapa nggak bilang-bilang? Kalau tahu mau ke sana, kan kita bisa sama-sama.”

“Maaf, Bang. Bukan aku nggak mau bareng Abang, aku ingin mandiri. Masa setiap ke Manado numpang mobil kantor perwakilan Abang terus, dan aku mau ganti biayanya Abang selalu menolak. Nggak enak, Bang.”

“Ah, kau ini, macam orang lain saja, Elda!” omelnya.

Aku tersenyum sendiri.

“Sampai kapan kau di sana?”

“Ssecepatnya urusan selesai, Bang! Abang mau menyusul ke sini?” tanyaku, dengan sepenuh harapan dia akan menjawab ‘ya’ saat itu.

”Nggak, aku ada banyak pekerjaan di sini. Barangkali tiga bulan ke depan aku baru ke sana.”

Dalam hati aku benar-benar kecewa. 

“Kau jalan sama siapa, Da?”

“Sewa mobil, Bang. Sopirnya bernama Om Yance, baik dan sabar orangnya!” jawabku. 

“Ya, sudah. Hati-hati, ya! Jangan lupa makan, kau suka lupa makan kalau sudah keasyikan kerja!”

Lagi, dan lagi… perhatiannya itu sungguh menyejukkan hatiku. Tiba-tiba saja air mataku menggenang karena terharu.

Pukul delapan tepat, Om Yance sudah menjemputku di lobi, membawaku mendatangi beberapa poultry shop di Manado. Kemudian, kami ke Airmadidi, Kakas, dan Langoan menjenguk peternakan-peternakan ayam, juga peternakan babi yang telah kudatangi dahulu bersama Bang Iral. Lumayan juga aku mendapatkan pesanan berupa obat-obatan dan vaksin, sehingga beberapa pesanan itu nanti bisa kukirim ke alamat perwakilan kantor Bang Iral di Manado dan mereka yang akan menolongnya mengirim ke peternak di sini. 

Menjelang sore, aku mampir di peternakan ayam berskala besar milik Brur Joe. Awalnya, ketika aku menawarkan program vaksinasi padanya, ia menolak. Namun, toh, pada akhirnya Brur Joe memberiku order seratus botol triplevaksin ND, EDS’76, IB. Ini adalah vaksin untuk mencegah 3 penyakit sekaligus, yaitu tetelo, penyakit egg drop syndrome (penyakit yang membuat ayam petelur menurun produksinya hingga 20%-40%), dan penyakit bronkitis. Vaksin ini berharga eceran termahal di antara vaksin yang kujual. Jadi, sudah pasti omzetku lumayan meledak bulan ini.

“Oh, ya, Dokter Elda sudah makan?” tanya Zus Helen, istri peternak kaya itu.

“Ah, sudah… sudah, terima kasih, Zus.”

“Makanlah dulu di sini, saya buat omelet.”

Aku tak kuasa menolak kebaikan Zus Helen. Ditemani dua anaknya yang sudah remaja, kunikmati omelet buatan wanita cantik itu.

Bang Iral melambaikan tangan, saat melihatku melangkah ke arahnya di Bandara Hasanuddin malam ini. Semalam, dia memang janji akan menjemputku sepulang dari Manado. Serta-merta ia mengambil alih ransel yang kugendong, juga tas tangan berisi berbagai file folder.

“Sukses?”

“Semuanya lancar, karena karunia Tuhan, Bang! Manusia kan hanya bisa berusaha dan berdoa.”

Bang Iral tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

“Itu yang kusuka darimu, selalu membumi!”

Kami meninggalkan bandara yang terletak di Maros, meluncur menuju Makassar.

“Kamu sudah makan?”

“Sedikit, di pesawat tadi, soalnya rasanya kurang sedap!”

“Kalau begitu, kita makan di Losari. Mau?”

Aku mengangguk pasti.

Tiba di Losari, Bang Iral memesan dua piring nasi goreng.

“Oh, ya, kau dicari Haji Yusuf. Dia titip pesan padaku, agar kau membuatkan program vaksin untuk bibit ayamnya yang akan masuk dua puluh ribu, Senin depan.” Bang Iral menatapku, ketika aku tengah melahap nasi goreng di tepi Pantai Losari.

“Sungguh?”

“Besok kau ke sana saja, Da!”

“Besok aku banyak pekerjaan, Bang. Mengirim pesanan yang kudapat dari Manado dan Kotamobagu. Lalu, aku harus menyetor uang tagihan piutang ke bank, dan ini kan akhir bulan, artinya aku harus membuat segala macam laporan untuk kantor pusat. Laporan keuangan, stok, pembelian, penjualan….”

“Hmm… benar-benar ibu kepala cabang kau sekarang, Da!” potongnya cepat.

Aku tercekat.

“Abang kan enak, jadi kepala cabang pegawainya banyak! Aku kan sendiri, Bang. Semuanya harus kutangani sendiri.”

“Mau kubantu membuat laporan, besok? Biar kau bisa datangi Haji Yusuf. Dia ingin bertemu denganmu, Elda.”
Aku menggeleng.

“Tak perlu, semua sudah risiko yang harus menjadi tanggung jawabku. Kalau begitu, besok aku sempatkan mampir ke rumah Haji Yusuf. Ah, ya, besok aku juga akan menelepon Pak Jonathan, menagih janji-janji kantor pusat untuk kantor cabang ini.”

Bang Iral tersenyum simpul.
“Capek, ya, jadi kepala cabang tanpa pegawai!”

“Benar, tapi pengalaman seperti ini tak bisa kudapat di bangku kuliah mana pun, Bang.”

Bang Iral mengangguk-angguk.

“Oh, ya, Bang, aku beli oleh-oleh untuk Abang, kacang goyang dan bagea dari Manado.” Kutatap Bang Iral yang tengah menatapku. Mata kami beradu. Jantungku meletup-letup, spontan kualihkan tatapku. Aku takut, perasaanku padanya hanya membuahkan kekecewaan yang dalam bagiku, manakala pria di hadapanku ini tak menaruh perasaan yang serupa denganku. Aku pun takut, jika ia bisa membaca isi hatiku!

Pagi-pagi aku mengirim fax ke kantor pusat agar mengirimiku seratus lima puluh botol vaksin ND EDS’76 IB segera hari ini. Aku tak lupa juga mengirim SMS dengan berita yang sama pada Pak Jonathan, agar sales manager itu juga turut memantau bagian pengiriman agar bisa segera mengirim pesananku, sehingga tak mengecewakan pelangganku.

Kubuat surat jalan pesanan yang kudapatkan selama outside duty-ku ke Manado dan sekitarnya, juga pesanan dari Kotamobagu. Lalu dibantu Wati, aku segera mengepak vaksin pesanan peternak dan poultry shop itu, dalam dus styrofoam yang tentu saja tak lupa kuberi es batu di dalam setiap kemasannya agar kondisinya terjaga. Kutulis alamat tujuan pengirimannya dengan  spidol.

Tiba-tiba telepon kantor bernyanyi. 

“Elda, kamu hebat dapat order banyak, ya!” suara Pak Jonathan terdengar di seberang sana.

“Itu untuk pesanan Brur Joe di Manado. Saya semalam pulang dari Manado, setelah dinas ke Manado dan sekitarnya juga ke Kotamobagu. Kebetulan tadi saya cek stok vaksin ND EDS’76 IB hanya ada dua puluh lima botol. Jadi, saya minta seratus lima puluh, yang seratus akan saya kirim ke Manado, yang lima puluh untuk tambahan stok di sini.”

“Good!”

“Tapi, jangan good-good saja, dong, Pak,” protesku to the point pagi ini. “Ngomong-ngomong, kapan saya mau dikirim dua dokter hewan lagi untuk ditempatkan di Manado dan Pare-Pare? Lalu, bagaimana pula dengan staf administrasinya? Kapan pula mobil ekspedisi dikirim?” tembakku panjang lebar. Pak Jonathan terkekeh.

“Sabar, Elda. Semuanya akan datang, paling cepat akhir bulan depan. Lima dokter hewan sudah kita tes. Minggu ini final tesnya, lalu mereka training dua minggu di peternakan ayam Pak Julius, dan seminggu kemudian training di lapangan untuk pelatihan marketing-skill bersama saya dan technical advisor yang senior.”

“Mohon kalau bisa lebih cepat, Pak. Peternak di Manado dan Pare-Pare kan juga ingin servis kita, bukan hanya beli vaksin atau obatnya saja. Saya ke sana kan hanya bisa dua atau tiga bulan sekali, beda kalau ada orang kita yang di sana kan, Pak? Kita bisa melayani dengan lebih memuaskan pelanggan, dan otomatis akan dapat order lebih maksimal. Lagi pula, kalau saya masih sendiri dan harus dinas ke Manado, atau Pare-Pare, sudah pasti peternakan langganan yang di Makassar akan terabaikan. Bahaya, jika kebetulan terjadi kasus, dan yang datang justru dokter hewan lain yang menawarkan produk lain, habislah kita!”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [4]"