Pelabuhan Hati [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:34 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [5]

“Ya, saya mengerti, Elda! Terima kasih untuk perhatianmu pada perusahaan kita. Bersabarlah, nanti dikirim. Kamu baik-baik, ’kan?”

Ucapan Pak Jonathan meredakan emosiku. Kuakui atasanku itu memang memiliki rasa empati.

“Saya baik-baik, Pak.”

“Ya, sudah, saya pastikan pagi ini pesananmu dikirim ke Makassar. Supaya hari ini juga sudah bisa kamu kirim ke Brur Joe.”

“Terima kasih, Pak.”

Telepon kutaruh kembali. 

“Bu, kemarin sewaktu Ibu ke Manado, Haji Muhtar datang ke sini. Beliau mengambil 30 botol vaksin ND. Katanya ia butuh sekali. Saya sendiri telepon Ibu, tapi Ibu tak bisa dihubungi. Akhirnya, tanpa persetujuan Ibu, saya berikan barangnya. Untung saja vaksin ND saya tahu, Bu. Nah, saya kan belum bisa buat surat jalannya, jadi saat itu saya meminta tanda pembelian barang di kertas biasa seperti ini yang ditandatangani Haji Muhtar. Ibu tidak marah, ’kan?”

Aku tersentak, menatap Wati yang menyodorkan selembar kertas padaku. Kutarik napas dalam. Hmm… begini repotnya jika kantor kutinggal ke luar kota!

“Terima kasih, Wati. Untung ada kamu di kantor ini. Kamu bungkus dalam styrofoam dan diberi es batu seperti biasa, ’kan?”

Wati mengangguk.

“Oke, taruh surat tanda pembelian barang sementara ini di atas meja kerjaku. Sekarang aku harus pergi ke titipan kilat dan jasa kargo untuk mengirim semua pesanan ini, lalu ke bank untuk menyetor giro,” ujarku, sambil menepuk pundaknya.

Dari kantor pengiriman jasa via kargo, aku langsung menuju peternakan Haji Yusuf di Pangkajene. Haji Yusuf adalah peternak kaya yang masih keturunan ningrat. Kompleks peternakannya sungguh luas. Di kompleks peternakannya terdapat satu rumah peristirahat¬an, lengkap dengan kolam renang dan lapangan tenis serta kebun buah-buahan. Haji Yusuf memang selalu tinggal di rumah peristirahatannya ini, walau ia memiliki rumah mewah di Kota Makassar.

“Assalamu’alaikum…,” aku mengetuk pintu kayu rumah panggung, rumah peristirahatan Haji Yusuf.

“Wa’alaikum salam,” kudengar jawaban dari dalam, dan tak lama wajah Haji Yusuf menyembul dari celah pintu yang dibukanya. “Ah… Dokter Elda!”

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Ke mana saja, Dok. Saya cari-cari dari beberapa hari yang lalu, dan saya titip pesan pada Dokter Admiral jika bertemu Dokter Elda supaya datang ke sini!”

“Maaf, Pak Haji, saya kebetulan baru semalam pulang dari Manado. Tapi, Dokter Admiral memang menyampaikan pesan Pak Haji. Maka itu, saya hari ini datang kemari.”

“Mari masuk, Dokter Elda!”

Aku menurut.

“Tifa, buatkan Dokter Elda minum, ki!” Haji Yusuf menepuk pundak seorang remaja putri yang kemungkinan adalah cucunya yang tengah duduk di sofa. “Itu, susu cokelat hangat, biar Dokter Elda sehat!”

Gadis itu mengangguk dan langsung ke dalam. Tak lama kemudian secangkir susu cokelat hangat pun tersaji di hadapanku, ketika aku tengah asyik mengobrol dengan Haji Yusuf, membicarakan program untuk bibit anak ayam yang akan masuk dan Haji Yusuf ingin mencoba produk vaksinku.

“Silakan diminum, Dokter Elda.”

“Terima kasih.” Aku menyeruput susu cokelat hangat, minuman yang paling sering disajikan jika aku mengunjungi peternakan di wilayah Makassar ini. 

“Jadi Dokter Elda, pokoknya saya ingin Dokter Elda buat program lengkap, untuk vaksinasi, juga program pencegahan koksi dan cacingan serta vitamin untuk ayam petelur saya itu.”

“Pak Haji, untuk pencegahan koksi, Pak haji mau dengan vaksinasi atau pemberian obat?” tanyaku penasaran, sambil menaruh cangkir kembali ke meja setelah kuteguk habis.

“Menurut Dokter Elda, yang mana yang terbaik, dari segi biaya dan keberhasilannya?”

“Kalau memakai vaksin memang jauh lebih aman, Pak Haji, dibandingkan dengan pencegahan yang hanya memakai obat-obatan saja. Harga lebih mahal sedikit, namun tingkat pencegahan lebih akurat.”

“Kalau begitu, kita pakai vaksin saja.”

Aku mengangguk. “Terima kasih untuk kepercayaan Pak Haji yang mau mencoba program dan produk saya.”

“Ya, dulu ayam yang masuk ke saya pakai program Dokter Gustaf, tapi saya kecewa karena Dokter Gustaf jarang datang kemari, setelah saya memakai produknya. Jadi, untuk ke depannya, saya coba program dan produk Dokter Elda. Saya harapkan Dokter Elda bisa lebih baik dalam mengontrol ayam-ayam saya.”

Aku mengangguk.

“Saya usahakan pelayanan yang terbaik untuk ayam Pak Haji Yusuf. Doakan juga, akhir bulan depan, kantor saya mengirim dokter hewan untuk membantu kerja saya di sini, Pak Haji. Sementara ini kan saya masih sendiri. Jadi, saya terkadang harus menengok ayam ke Pare-Pare, Sidrap, Pinrang bahkan juga ke Manado. Tapi, sungguh saya akan usahakan paling tidak seminggu sekali saya ke sini menengok ayam Pak Haji. Pak Haji kan juga ada kartu nama saya, jadi Pak Haji bisa telepon saya ke kantor atau ponsel, jika ada masalah.”

“Terima kasih, Dok! Boleh saya minta kartu nama Dokter Elda lagi, sepertinya yang dahulu Dokter berikan pada saya terselip entah di mana, ji.”

Aku mengangguk, dan segera merogoh sebuah kartu nama dari saku kemejaku. Kuberikan kartu namaku pada Haji Yusuf. “Oh ya, saya akan buatkan programnya, dan besok saya akan kemari untuk mengantar program yang sudah jadi. Oke kalau begitu, saya pamit dulu, Pak Haji. Assalamu’alaikum.”

Pukul 09.00, Minggu pagi. Aku baru selesai menelepon para peternak dan poultry shop di sekitar Manado dan Kotamobagu, untuk mengecek apakah pengiriman pesanan sudah diterima dengan baik. Untunglah, semua lancar. Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ada telepon dari Haji Yusuf.

“Dokter Elda? Dokter bisa ke peternakan sekarang, ji?” suara Haji Yusuf dengan logat khasnya kudengar di seberang sana.

“Sekarang, Pak Haji?”

“Ya.”

“Saya memang sudah janji, siang ini akan ke peternakan Pak Haji. Semalam saya sudah buatkan program kesehatannya. Apa ada ayam yang sakit, Pak Haji?” mendadak aku dibuat resah.

“Ah… tidak, ji. Saya hanya mau mengenalkan Dokter Elda dengan cucu pertama saya yang nanti akan mengurus peternakan ini.”

Seketika aku bisa menarik napas lega. Namun, demi Haji Yusuf yang amat kuhormati, aku segera saja melarikan mobil ke arah Pangkajene, tempat peternakan Haji Yusuf berada.

“Dokter Elda!” Haji Yusuf tengah berada di halaman depan rumah peristirahatannya, ketika aku datang. Dengan sumringah, aku diajak naik ke rumah panggung yang terbuat dari kayu terbaik di sini.

“Duduk, Dok! Nauval… kenalkan, ini Dokter Elda datang,” dia memanggil nama seorang pria muda yang tak lama muncul dari dalam. “Dokter Elda, ini Nauval, cucu pertama saya. Dia insinyur peternakan juga, dan baru datang dari Jawa,” ujarnya, penuh rasa bangga. “Nanti dia yang mengurus peternakan ini, karena pertengahan bulan nanti, saya ke Malaysia, menengok anak saya yang tinggal di sana.”

Aku tercengang. “Wah… berapa lama Pak Haji ke Malaysia?”


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [5]"