Pelabuhan Hati [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:36 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [6]

“Ya… kalau bosan di sana, saya kembali ke sini, ji. Biar sajalah, anak muda seperti kalian yang urus peternakan ini nanti, bukan begitu?” Haji Yusuf tersenyum-senyum, membuat aku tak habis mengerti apa sesungguhnya maksud senyum dan ucapannya itu.

Pria muda yang bernama Nauval itu tersenyum padaku. Wajahnya manis. Tangannya terulur kepadaku.

Aku pun berdiri dan membalas uluran tangannya. 

“Oh, ya, Dokter Elda, tolong kalau ada masalah dengan ayam di sini, jangan segan-segan untuk datang kapan pun, ya! Tolonglah agar Nauval cucuku ini dibantu. Dia memang insinyur peternakan, tapi kan belum berpengalaman seperti Dokter Elda, ki.”

Aku mengangguk-angguk. “Tentu Pak Haji, saya akan usahakan.”

“Terima kasih, Dokter Elda!” untuk pertama kalinya, kudengar suara Nauval, pria manis itu.

“Oh, ya, mana program vaksinasi untuk bibit ayam yang rencananya masuk besok?” tagih Haji Yusuf, sambil menepuk pundakku.

“Ah, ya, ini dia, Pak Haji,” kuserahkan saja selembar program vaksinasi yang telah kukerjakan semalam, yang kutaruh dalam sebuah map. Pak Haji Yusuf dan Nauval yang duduk bersebelahan, membuka map itu.

“Jadi itu program lengkap, mulai pertama ayam masuk, juga program revaksinasi setelah ayam produksi, juga saya cantumkan di sana. Tak lupa jadwal pemberian vitamin dan obat cacing,” jelasku, panjang lebar.

“Wah… lengkap sekali, ya! Terima kasih, Dokter Elda.” Pak Haji Yusuf memberikan lembaran program vaksinasi itu pada Nauval.

“Nauval, kalau ada yang tak jelas, silakan nanti bisa tanya pada saya atau menelepon juga boleh,” balasku pada Nauval, yang tampak malu-malu hanya mengangguk dan tersenyum. 

“Ah, sampai lupa… mana minuman untuk Dokter Elda, ji? Nauval, ke dalam ki, dan suruh Tifa membuatkan susu cokelat hangat dan jangan lupa bawakan biskuitnya untuk Dokter Elda.”

“Oh… sudah, tak usah repot-repot, Pak Haji.” Aku menjadi rikuh sendiri.

“Ah, tak apa-apa, Dokter. Nanti jangan buru-buru pulang dulu, ji. Di belakang sana, pohon rambutan sedang lebat buahnya. Nanti Dokter Elda bisa petik untuk bawa pulang ke rumah.”

Aku tak menyangka Haji Yusuf begitu menyambut baik kedatanganku hari ini. Setelah minum susu cokelat hangat, pria tua itu menyuruh Nauval mengajakku ke kebun belakang untuk memetik rambutan. 

Aku tak kuasa menolak keramahan keluarga Haji Yusuf ini. Bersama Nauval yang membawa keranjang, aku melangkah menuju kebun belakang, tempat pohon rambutan tengah berbuah lebat. 

“Dokter Elda, dari Bogor, ya?” Nauval berhenti dan menungguku di jalan tanah menanjak yang agak licin oleh hujan semalam. Tangannya terulur untuk membantuku agar tak terpeleset, namun aku menggeleng dan bisa melampauinya tanpa kesulitan yang berarti.

“Ya, dulu saya kuliah di Bogor. Hmm… tahu dari Kakek, ya?”

Nauval mengangguk. “Kakek Yusuf, banyak cerita semalam.”

Aku tersenyum. “Nauval kuliah di mana?”

“Bandung. Peternakan, Unpad.”

“Cocoklah. Peternakan ini memang membutuhkanmu.”

“Sebetulnya, aku malas mengurus peternakan ini. Aku lebih suka bekerja di Bandung atau Jakarta. Tetapi, berhubung Kakek memaksa, aku berhenti dari pekerjaanku di sebuah kantor penelitian di Jakarta.” Ada rasa tertekan yang dapat kusimpulkan dari nada bicaranya.

“Agaknya Kakek sangat mengharapkan dirimu menjadi penerus dalam mengelola peternakan ini.”

“Sepertinya begitu.”

“Jadi, bersiaplah untuk itu. Kasihan juga kalau Kakek kecewa.”

“Ya, aku mengerti. Sangat mengerti. Dokter Elda juga siap untuk membantuku, ’kan? Maklumlah, aku tak punya pengalaman. Aku baru lulus.”

Aku mengangguk. “Percayalah, saya akan membantu mengontrol kesehatan peternakan ayam ini.”

Tak lama kemudian, kami tiba di kompleks tanaman buah. Kulihat pohon rambutan yang tak tinggi dengan buahnya yang lebat, sehingga Nauval hanya langsung tinggal memetiknya tanpa bantuan galah. Kulihat pemuda itu memetik rambutan untukku dan memasukkannya dalam keranjang hingga keranjang penuh.

“Sudah, cukuplah!” sergahku, ketika kulihat keranjang itu sudah penuh. “Aku hanya sendiri di rumah bersama Wati, pembantuku. Untuk apa banyak-banyak?”

Nauval menatapku. “Dokter Elda sendiri di sini?”

Aku mengangguk. “Aku merantau di sini. Orang tuaku sudah meninggal semua.”

“I’m sorry.”

Aku hanya tersenyum. Sementara Nauval terdiam lama.

“Hidup ini lucu. Dokter Elda yang dari Pulau Jawa datang merantau ke sini, sementara aku yang orang sini malah lebih senang dan ingin tinggal di Pulau Jawa.”

“Ya… manusia kan punya keinginan yang berbeda, punya motivasi yang berbeda pula.”

“Sudah, ’kan? Ayo, kita kembali ke depan,” ajakku.

Kami melangkah bersama meninggalkan kebun. Nauval membawa keranjang berisi rambutan. “Dokter Elda wanita hebat,” kata Nauval, setelah kami lama terdiam.

Aku terkekeh. “Jangan terlalu memuji begitu.”

“Tapi, aku benar-benar salut untuk keberanian Dokter Elda merantau sendiri di sini.”

“Aku tak pernah merasa sendiri, selalu ada teman yang bisa menjadi saudara di mana pun kita berada, bukan?”

Kepala pria muda di sampingku ini mengangguk, tanda setuju pada pendapatku.

Tiba di tanah tanjakan yang licin, Nauval melompat lebih dahulu dan menaruh keranjangnya. Ia berbalik, berdiri menungguku, tangannya terulur untuk membantuku. Tetapi, seperti tadi, aku tak mau menerima kebaikannya. Sialnya, untuk kali ini sepatuku yang mengikat tanah membuatku meluncur dan hampir saja aku terpeleset, kalau saja Nauval tak cepat menarik tanganku dan memelukku.

Spontan tubuhku merapat di dadanya.

“Hey…!” kudengar suara Bang Iral yang datang ke arah kami.

Aku buru-buru melepaskan diri, ketika kulihat wajah Nauval begitu dekat dan tengah menatapku. Aku yang masih terkaget-kaget, karena hampir celaka, menjadi lebih kaget lagi saat kutoleh, Bang Iral sudah menghampiri kami. Perasaanku jadi tak keruan. Aku takut sekali Bang Iral salah mengerti atas apa yang dilihatnya.

“Terima kasih telah menolongku!”  ujarku, dengan perasaan malu. “Hampir saja aku jatuh.”

Nauval hanya tersenyum.  

Bang Iral menatap kami sambil tersenyum, senyum yang tak bisa kuanalisis apa artinya!
Entah mengapa, sudah dua minggu sejak pertemuan pertamaku dengan Nauval itu, aku menjadi sulit untuk menghubungi Bang Iral. Ponselnya selalu tak aktif, pesan singkatku pun tak pernah dibalas. Ketika kuhubungi telepon kantornya, sekretarisnya selalu mengatakan pria Batak itu tak ada di tempat.

Aku tengah termenung sendiri di sebuah kamar hotel di tengah Kota Pare-Pare sore ini. Tiba-tiba ponselku berdering.

“Ya, Pak Jonathan. Ada apa?”

“Kamu di mana?”

“Pare-Pare, Pak.”

“Ya, ampun! Sabar, ya, Da. Sebentar lagi, akan datang anak buahmu untuk membantumu di sana. Ada tiga dokter hewan. Satu untuk Makassar. Satu untuk Pare-Pare dan sekitar. Satu untuk Manado. Lalu satu orang untuk pegawai administrasi kantor. Semua akan kami kirim ke Makassar dulu. Nanti, tugasmu mengantar, mencarikan tempat kos dan membimbing mereka satu per satu ke daerahnya masing-masing.”

“Finally.....”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [6]"