Pelabuhan Hati [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:39 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [7]

“Kantor pusat kan tidak main-main membuka cabang di Sulawesi, Da.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, Pak, apa bisa juga dikirim tenaga seorang vaksinator untuk sementara waktu stand by di Makassar?” pintaku. “Masalahnya begini, Pak…, saya lihat beberapa peternakan masih banyak yang perlu mendapatkan bimbingan untuk mengetahui lebih dalam masalah proses persiapan dan cara vaksinasi yang benar. Mungkin kami perlu tenaga vaksinator untuk memberikan training pada peternakan di sini. Ya, kira-kira untuk tiga bulan saja, Pak. Bisa?”

Pak Jonathan tak menjawab.

“Please, Pak. Itu akan sangat membantu proses pemasaran produk kita di sini. Saya ingin membuktikan bahwa perusahaan kita tak hanya sekadar menjual produk, tetapi memberikan servis yang selangkah di muka dibandingkan perusahaan lain.”

“Okelah, saya akan bicarakan dengan Pak Julius. Tapi, yang pasti, saya setuju dengan ide ini, dan saya akan perjuangkan agar Pak Julius juga setuju.”

“Terima kasih, Pak. Satu lagi pertanyaan, berarti untuk yang di Manado, nanti saya yang mengantar ke sana, Pak?”

”Ya, kamu yang antar dan kamu yang mencari tempat kos untuk anak buahmu di sana, berikut memperkenalkan peternakan di sana.”

“Siap, Pak! Tapi, bagaimana dengan kendaraan operasional untuk orang yang bertugas di Manado, Pak?”

“Kita akan kirim kendaraan langsung dari Jakarta ke Manado, alamat tujuannya ke rumah kerabat Pak Julius. Jadi, nanti kamu tinggal ambil di sana. Karena itu, orang yang akan bertugas ke Manado mesti menunggu berita dari Jakarta, apakah kendaraan yang di Manado sudah dikirim ke sana atau belum. Selama kendaraan belum ada, stand by saja dulu di Makassar.”

“Tapi, nggak lama-lama, kan, Pak?”

“Kita usahakan secepatnya, Elda.”

“Baguslah. Karena kita juga butuh orang secepatnya untuk pegang Manado.”

“Saya mengerti, Elda.”

“Terima kasih, Pak.” 

“You’re welcome. Take care, Da.”

Telepon kututup. Kutarik napas panjang. Lega.

Pagi-pagi sekali aku sudah check out dari hotel dan langsung kusetir mobilku ke Sidrap. Aku pergi ke peternakan Haji Aziz yang meneleponku semalam, mengabarkan ada masalah di peternakannya. Tiba di sana, kupasang masker dan langsung menuju kandang bersamanya.

Ternyata, ayam tiga belas minggunya memang benar terkena serangan wabah tetelo. Aku mendiagnosis dari perubahan fisik post mortem ayam-ayam mati yang kuperiksa, juga dari ayam sakit namun yang belum mati.

“Kematian sudah menurun, Dok, pagi ini.”

“Memang sudah berapa hari wabah terjadi, Pak Haji?”

“Sudah hari keempat sekarang, Dok. Awalnya mati ratusan, Dok!”

“Kenapa Pak Haji baru telepon saya kemarin?”

“Karena ayam ini kan pakai program saya sendiri, Dok. Saya hanya pesan vaksin campur-campur dari produk mana saja. Jadi, saya mau minta tolong sama dokter hewan segan begitu, ji.”

“Pak Haji Aziz… lain kali jangan begitu, telepon saja segera jika ada masalah. Oh, ya, boleh saya lihat program vaksinasi yang Pak Haji buat sendiri itu?”

Haji Aziz tersenyum malu.

“Tetapi, jangan Ibu Dokter Elda kritik program saya, ya?”

“Pak Haji, apa salah kalau kritik atau saran yang mungkin saya katakan untuk kebaikan peternakan Pak Haji? Daripada ayam banyak yang mati, kan Pak Haji sendiri yang rugi.”

Haji Aziz mengangguk-angguk, lalu mengambil program yang tergantung di tembok.

“Ini, Dokter Elda.”

Aku mencermati program yang ditulis tangan dalam kertas itu.

“Pak Haji, menurut saya, program vaksinasi ini kurang aman, terutama saat ayam usia dua belas minggu, semestinya Pak Haji sudah melakukan vaksinasi ulang, sementara Pak Haji baru jadwalkan pada nanti saat usia tiga belas minggu. Makanya, saat ayam usia tiga belas minggu, ayam ini sudah terinfeksi, sebelum Pak Haji beri vaksin, ’kan?”

Haji Aziz terbelalak.

“Benar, Dok! Saya baru mau vaksinasi, ayamnya sudah kena penyakit.”

“Itulah. Jadi, untuk vaksinasi tetelo sebaiknya memang ketat, Pak Haji.”

Pak Haji Aziz mengangguk-angguk.

“Sudahlah, besok-besok buatkan saya program yang ketat dan aman, ya, Dokter Elda.”

Aku mengangguk pasti. “Saya siap membantu, Pak Haji!”
Lama tak berjumpa dan bicara dengan Bang Iral membuatku sungguh rindu. Dalam kesibukanku yang nyaris tiada henti, siang ini kusempatkan mampir ke kantornya. Aku ingin menuntaskan rasa penasaranku atas ketakacuhan Bang Iral padaku akhir-akhir ini. Ia tak pernah mau menerima teleponku maupun meneleponku. Ia juga tak membalas SMS-ku maupun mengirim SMS padaku, apalagi mampir ke rumah kantorku. Ada apa dengan Bang Iral?

“Pak Admiral ada, Mbak?” tanyaku kepada resepsionis kantornya.

“Pak Admiral sudah dua hari tak masuk, sakit.”

Aku tersentak. “Sakit apa?”

“Saya kurang tahu.”

“Di rumah sakit atau di rumah?”

“Mungkin di rumah.”

“Oh, ya, sudah. Terima kasih, saya akan menengoknya di rumah kalau begitu.”

Aku segera melarikan mobilku ke rumah kontrakan Bang Iral. Tak lupa sebelumnya aku mampir ke toko buah untuk membawakan buah tangan untuknya. Tiba di sana, langsung kuketuk pintu rumahnya.

Aku terkaget-kaget ketika seorang wanita muda dan cantik membukakan pintu. Siapakah dia? Kekasihnyakah? Tapi, mengapa baru hari ini aku bertemu dengannya? Mungkinkah karena Bang Iral sakit, wanita ini datang untuk menemaninya?

“Selamat siang, ada Bang Iral?”

“Maaf, Bang Iral sakit dan sedang tidur. Anda siapa?” wanita itu tersenyum, menatapku tajam.

“Saya Elda, temannya. Kalau sedang tidur, saya titip ini saja untuknya. Katakan saja dari Elda, dan sampaikan salam saya, semoga Bang Iral cepat sembuh.” 

Ragu-ragu wanita itu menerima keranjang buah yang kuulurkan padanya.

“Permisi, saya langsung pergi. Banyak yang harus saya kunjungi.”

Wanita itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Sesekali kuhapus air mata yang akhirnya menggelinding di pipiku ini, sambil menjalankan mobilku. Ah, betapa menyakitkan bertemu dengan wanita tadi. Pasti dia kekasih Bang Iral. Apa kubilang! Aku mengomeli diriku sendiri. Semestinya kamu tidak jatuh hati padanya, Elda! Kalau sudah begini, kamu mau lari ke mana lagi? Berharap kantor mau membuka cabang di Papua, dan meminta pindah ke sana untuk mencari suasana baru dan berharap bisa melupakan Bang Iral? Forget it! Di sini saja kau belum setahun, dan tugas masih menumpuk! Salahmu sendiri, mengapa menyukai pria itu! Pria yang santun dan baik hati, namun hanya menganggapmu seorang sahabat, tak lebih!

Kubelokkan mobilku menuju Pantai Losari. Entahlah, rasanya aku ingin menenangkan hatiku sesaat, setelah selama ini kuisi setiap hariku untuk bekerja dan hanya untuk bekerja.

Tiba-tiba ponselku berdering. Buru-buru aku meraihnya. Bang Iral! Tapi, aku tak lagi bernafsu untuk menjawabnya. Untuk apa? Dia, toh, sudah milik wanita tadi, wanita yang ada di rumahnya!

Kudiamkan saja ponsel yang berdering hingga meninggalkan missed calls 5 kali dari penelepon yang sama. Bang Iral! Inilah untuk pertama kalinya, kuhabiskan sisa hariku di tepi Pantai Losari hingga matahari ditelan sang samudra di ufuk barat sana. Sendiri, sunyi, sedih!


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [7]"