Pelabuhan Hati [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:40 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [8]

“Hai, Nauval!” sapaku sore ini, ketika aku tiba di kandang kompleks peternakan Haji Yusuf. “Ayam-ayam saya sehat, ’kan?”

Nauval tersenyum. Pria itu tengah berkeliling menengok ayam di kandang batere. Aku menyusulnya ke sini setelah tadi di halaman parkir diberi tahu pegawainya bahwa ia berada di sini, dan disuruh menyusulnya ke sini.

“Ayam-ayam Dokter Elda?” tanyanya, bingung.

“Maksud saya, ayam-ayam yang memakai program saya.”

“Sehat, Dok! Ayam yang lain juga sehat. Oh, ya, Dokter Elda dapat salam dari Kakek.”

“Oh…  wa’alaikum salam. Kapan Kakek akan pulang ke Makassar?”

Nauval angkat bahu. “Selama beliau betah di sana, ya, akan terus di sana. Kalau sudah bosan, beliau akan pulang ke sini.”

Aku tersenyum. “Tanpa Kakek, saya percaya kamu juga bisa mengelola peternakan ini!” aku menyemangatinya.

“Amin. Dokter Elda mau menengok ayam yang memakai program dari Dokter Elda?”

Aku mengangguk. Kami lalu melangkah bersama menuju kandang lain.

Dibantu Wati, akhirnya pukul 11 malam aku selesai mengisi dua kamar tidur yang masih kosong dengan perabotan sederhana di rumah kontrakan ini. Lemari pakaian, tempat tidur beserta kasur dan bantal-gulingnya yang telah dilengkapi seprai dan sarung bantal guling, serta sebuah meja kerja beserta kursinya lengkap dengan alat tulis kantor seperlunya telah tertata rapi.

Tadi pagi, Pak Jonathan menelepon bahwa besok sore teman-teman yang akan membantu kantor cabang di sini akan datang. Untunglah, akhirnya selepas magrib tadi, toko furniture telah mengirim perabotan yang kupesan, lengkap dengan tukangnya untuk memasang perabotan pesananku.

Setelah semua urusan selesai, aku langsung membersihkan badan, lalu makan malam bersama Wati dan langsung masuk kamar. Kujatuhkan tubuhku di pembaringan, sementara di luar kudengar Wati tengah menonton televisi. Kutatap langit-langit kamar. Dalam kesendirianku seperti ini, tanpa kesibukan lagi, aku merasa sunyi. Aku merasa kosong.

Perlahan air mataku bergulir. Sedih, sungguh sedih hatiku saat ini. Entahlah, aku tak tahu mengapa tiba-tiba perasaanku seperti ini. Mungkinkah aku khawatir dengan kehadiran teman-teman esok? Khawatir jika kesibukanku akan berkurang dengan kehadiran teman-teman, sedangkan aku benci keadaan itu. Karena, tanpa kesibukan seperti saat ini, aku sungguh merasa sunyi!

Kubunuh rasa sunyiku dengan bangkit dari pembaringan. Kuhapus pipiku yang basah, lalu kunyalakan laptop dan duduk di meja kerjaku. Kubuka file laporan pengeluaran keuangan bulanan. Kuraih semua nota pembelanjaan untuk mengisi dua kamar tidur tadi. Kumasukkan satu per satu dalam laporan keuangan.

Tiba-tiba ponselku bergetar di meja. Kulirik sesaat. Bang Iral. Hatiku langsung berdegup. Ya… Bang Iral menghubungiku, setelah selama ini kami lama tak berkomunikasi, apalagi bertemu!

Aku menggigit bibir. Untuk apa lagi dia menghubungiku malam-malam begini? Bukankah dia sudah memiliki pendamping di rumah kontrakannya itu?

Tanpa ragu, kubiarkan ia meninggalkan missed calls lagi di ponselku. Kuteruskan kesibukanku dengan memasukkan bon-bon pembelian perabotan ke dalam laptop. Ponselku kembali bergetar. Kali ini tampaknya sebuah pesan singkat masuk.

Selamat Ulang Tahun, Elda. Semoga selalu sehat, energik, sukses, dan bahagia. Amiin. Salam, Bang Iral.

Aku tersentak. Kutoleh kalender di dinding. Oh, my God! Hari ini aku ulang tahun. Bagaimana mungkin aku lupa?

Perlahan kembali kubaca pesan singkat Bang Iral itu. Tak bisa kupungkiri, aku bahagia. Demi Tuhan, Bang Iral menjadi orang pertama yang ingat dan memberikan selamat akan hari kelahiranku, padahal aku sendiri pun lupa! Perlahan rasa haru membanjir di hatiku atas perhatian kecil dari pria itu. Hmm… andai saja dia belum memilih wanita itu, andai saja dia tahu betapa aku mencintainya, andai saja dia tahu betapa aku teramat sedih dan menangis sendiri di tepi Pantai Losari karena tahu sudah ada wanita lain di rumahnya.... 

Masih pukul setengah enam pagi di hari ulang tahunku ini, ketika tiba-tiba bel di depan tampaknya dipijit seseorang berkali-kali.

Aku yang telah mandi dan rapi, langsung keluar dari kamar dan membuka pintu.

“Morning, Da!” kulihat Bang Iral, tersenyum di depan pagar.

“Hei!” sambutku, namun tak seceria biasanya, sambil mencabut kunci dari pintu, karena kunci gembok pagar bersatu di gantungan kunci yang sama dengan kunci pintu utama rumah ini.

“Tadi malam aku telepon kau, tapi tak kau jawab. Lalu aku kirim SMS, kau sudah baca?” serbunya.

“Belum,” dustaku. “Maaf, aku capek, jadi semalam tidur cepat!”

Sempat kulihat wajahnya tampak kecewa, tapi aku tak peduli. Aku sibuk membuka gembok pagar.

“Ayo, masuk, Bang!” ajakku, ketika pintu pagar telah kubuka.

“Hei!” dia menepuk pundakku. Tangan kanannya terulur. “Selamat ulang tahun!”

Aku pura-pura kaget. Meski sesungguhnya, pesan singkatnya semalam sudah terlebih dulu membuatku kaget.

“Terima kasih!” aku membalas uluran tangannya, sambil tersenyum. “Terima kasih untuk perhatian Abang.” Perlahan tapi pasti kutarik tanganku dari genggaman tangannya, yang sesungguhnya amat nikmat kurasakan. ”Ayo, masuk, Bang!”

Kutemani Bang Iral duduk di ruang tamu, setelah sebelumnya kutinggalkan sejenak untuk membuatkan secangkir teh manis hangat dan roti dengan selai cokelat untuknya.

Ia langsung menyeruput teh yang kubuat.

“So… how is your business?”

“Lancar-lancar saja.”

“Senang mendengarnya.” Ia menaruh cangkir ke meja. “Kenapa handphone-mu akhir-akhir ini, Da? Aku nggak bisa menghubungi kau atau kau yang nggak mau kuhubungi?”

Lidahku tercekat. “Eh…, yang nggak mau menerima teleponku itu Bang Iral!” protesku kemudian. “SMS pun tak pernah Bang Iral balas.”

“Oh, ya?” Dia tersenyum-senyum, seperti tak berdosa. Lalu mengalihkan pembicaraan. “Kau tempo hari ke rumah, ya? Adela yang bilang padaku, ketika aku sakit. Thanks untuk parsel buahnya, ya, Da.”

Aku hanya mengangguk pelan. Jadi wanita itu bernama Adela!
“Jadi, ada acara apa di hari ulang tahunmu? Mau traktir aku makan di mana, Da?” tembaknya langsung.

“Nggak ada acara apa-apa, Bang. Lagian sekarang ini aku nggak berani lagi ajak makan Abang,” ujarku, bernada ketus.

Bang Iral menatapku dalam. “Memang kenapa?”

Aku terdiam.

“Oh… aku tahu, kau sudah punya hubungan istimewa dengan Nauval, anak Haji Yusuf yang kaya itu, ya? Jadi, kau tak lagi mau jalan dengan aku, karena tak enak padanya, ’kan?”  tembaknya seketika.

Mendadak wajahku terasa menghangat.

“Ah… siapa yang bilang?!” Aku benar-benar emosional kini.

“Aku!”

“Jangan bicara sembarangan, Bang! Maaf, ya… aku nggak ada hubungan istimewa dengan Nauval, juga dengan pria lain!” protesku, berang. “Termasuk Abang!” 

Bang Iral ternganga. Aku tak tahu kenapa, barangkali saja ia tak menyangka bahwa aku ternyata sanggup memuntahkan kemarahanku di hadapannya saat ini, ketika apa yang diucapkannya tak berkenan di hatiku.

Kami saling terdiam lama.

“Sudahlah, Bang. Abang kan mau ke kantor, aku pun masih banyak pekerjaan mengepak vaksin untuk kukirim ke peternakan Haji Yusuf dan Cendrawasih Poultryshop,” tegasku kemudian, memecah kesunyian di antara kami. “Terima kasih, Abang ingat hari ulang tahunku.”


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pelabuhan Hati [8]"