Pelabuhan Hati [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Hati [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:42 Rating: 4,5

Pelabuhan Hati [9]

Pria yang biasanya tampak bersemangat itu kulihat tercenung sesaat, namun akhirnya dia mengangkat tubuhnya dari kursi dan pergi meninggalkanku, tanpa sepatah kata pun.

Aku berdiri di depan pintu utama rumah kontrakanku ini, menatap mobil Bang Iral yang pergi. Ada rasa sesal, atas apa yang telah kuucapkan tadi. Namun sesungguhnya, demi Tuhan, aku tak bermaksud melukai hati pria itu. Bahkan, sesungguhnya aku masih mencintainya. Aku terharu karena hanya dia, orang pertama yang ingat hari ini hari istimewaku, hanya… aku kecewa karena dia telah menjadi milik Adela. Dan aku tak bisa memungkiri hal itu, sehingga akhirnya mulutku pun meluncur begitu saja mengeluarkan kata-kata yang mungkin menyakitkannya.

Aku benar-benar menyesali perkataanku. Ketika penyesalan ini mencapai titik puncaknya, kuraih ponselku.

“Bang…,” ujarku, ketika kutahu Bang Iral telah menekan tombol bicaranya, menerima panggilanku.
Tak ada sahutan dari Bang Iral di seberang sana, namun aku tahu ia mendengar suaraku tadi. Aku menarik udara panjang dengan mulutku, lalu perlahan kuembuskan juga lewat mulutku.

“Bang, siapa Adela?” Akhirnya aku mengeluarkan pertanyaan yang mengganggu hatiku ini.

“Elda… ada apa kau ini? Apakah sikap Adela, adikku, tempo hari tak sopan kepadamu?” akhirnya kudengar Bang Iral bersuara. “Aku sungguh tak mengerti dengan sikapmu akhir-akhir ini, hingga yang terakhir tadi kau tega mengusirku, padahal aku sengaja datang pagi-pagi ke rumahmu untuk memberi sedikit perhatianku untukmu.”

Aku tercekat. Oh… jadi Adela, wanita itu, adiknya?

“Maafkan aku, Bang. Percayalah, aku tak bermaksud seperti itu,” ujarku buru-buru, dengan perasaan yang teramat menyesal. “Boleh aku ke rumah Abang sekarang?”

“Apa aku pernah melarangmu untuk datang ke rumah?”

Tak kujawab lagi pertanyaan itu.

Seperti orang gila, segera saja aku bawa mobilku ke rumah Bang Iral. Kulupakan sejenak rutinitas tugas kantor yang semula akan kukerjakan pagi ini. Hatiku sunggguh berdebar-debar di sepanjang jalan, apalagi menjelang tiba di rumahnya.

Kuparkir mobilku di pinggir jalan depan rumahnya. Perlahan aku turun. Kuketuk rumah pria yang telah kulukai itu. Semula pintunya tak kunjung dibuka, tapi akhirnya Adela, wanita yang sempat membuatku cemburu, yang ternyata adiknya itu, muncul membukakan pintu untukku.

“Eh, Kak Elda. Masuk, Kak. Tunggu, ya, Bang Iral sedang mandi.”

Perasaanku makin tak keruan menanti Bang Iral seperti ini. Adela yang meninggalkanku tak lama datang lagi dan menaruh dua cangkir air minum di meja.

“Diminum, Kak. Saya tinggal dulu, ya, sedang mencuci di belakang.”

Aku menggigit bibirku. Aku benar-benar tegang saat ini. Barangkali hampir sama tegangnya dengan ketika menghadapi ujian comprehensive menjadi dokter hewan atau wawancara kerja dulu.

“Hai! Sudah lama kau?” tiba-tiba pria yang kutunggu itu muncul menghampiriku dan duduk di sampingku. Senyumnya yang indah, sungguh makin indah karena ia memakai kemeja hem kotak-kotak biru dan hijau bersanding dengan celana jinsnya. “Sorry, jadi harus menunggu lama, ya! Terus terang saja, aku ke rumahmu tadi selesai salat subuh, jadi aku belum mandi. Sengaja ingin buat kejutan untukmu, Da. Sayang, sampai di sana, tak lama diusir pula!”

Aku tertunduk malu.

“Maafkan aku, Bang. Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu.”

Bang Iral menatapku lekat.

“Hmm… kenapa kau ini, Da. Kau stres, ya, dengan beban pekerjaan yang menumpuk yang harus kau tangani semuanya sendiri sampai kini?” Bang Iral tampak mengkhawatirkan aku. Kutangkap semua itu dari tatapan matanya padaku.

Tentu saja aku menggeleng.

“Lantas kenapa? Aku merasa kau sedikit aneh akhir-akhir ini. Sikapmu padaku juga tak seperti dulu lagi.”
Aku menggigit bibirku.

“Ada apa, sih, kau, Da?” tanyanya, menyelidik.

Aku terdiam.

“Aku mencintai Abang!” akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulutku. “Dan aku kecewa, ketika aku ke sini mau menengok Abang, ada wanita di rumah ini. Kukira dia kekasih Abang.”

“What? Adela? Dia adikku dari Medan, Da!” Bang Iral mengacak-acak rambutku.

Aku tersenyum.

“Da… Da…, asal kau tahu, kau kira hanya kau yang kecewa? Aku pun selama ini frustrasi, karena kukira kau berpacaran sama si Nauval, anak kemarin sore, cucu Haji Yusuf yang kaya raya itu!”

“Sungguh?”

Bang Iral mengangguk.

“Aku lebih dulu mencintaimu, Da. Bahkan sebelum kau…,” Bang Iral tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Sebelum aku apa?” tanyaku, penasaran.

“Ah, aku sudah janji tak akan mengungkitnya lagi, karena kau akan muak mendengarnya, dan kau tak mau berkawan denganku lagi, jika aku mengatakannya.”

Aku mengerutkan keningku. Perlahan, aku mulai mengerti maksudnya. Hatiku bahagia seketika.

“Sudahlah, itu tak penting!” tegasnya kemudian. “Yang jelas, aku lebih dulu mencintaimu, sebelum kau jatuh cinta padaku.”

Aku tersenyum.

“Oh, ya, tadi sebetulnya aku mau memberi sesuatu untuk kau, tapi berhubung aku menjadi orang yang terusir, jadi tak sempatlah kuberikan sesuatu itu!” Bang Iral bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
Tak lama ia kembali duduk di sampingku.

“Ini khusus kubeli untuk kau, hadiah dariku di hari ulang tahun, di tanah Sulawesi ini! Bukalah….”

Bang Iral tersenyum memberikan sebuah kotak padaku. Tanganku bergetar menerima kado kotak kecil dari Bang Iral itu. Terlebih ketika kubuka, dan kulihat di dalamnya. Sebuah cincin bilah rotan emas!

“Menikahlah secepatnya denganku, Elda! Karena di hatimulah, hatiku yang lelah ini, telah lama ingin berlabuh!” (tamat)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Tresnowati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Pelabuhan Hati [9]"