Pelor Kebosanan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelor Kebosanan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Pelor Kebosanan

DIAM-diam tatapan mata itu seperti menikam.

Sekujur tubuh saya dijalari oleh suatu keanehan. Saya tidak mengerti kenapa lelaki kurus itu menatap saya begitu lama. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah mengenal dia. Bahkan melihat pun baru pertama kali ini. Dan tatapan mata itu adaalah pelampiasan rasa rindu yang tertimbun berpuluh-puluh tahun.

“Kau adikku,” katanya dingin.

Dia mendekati dan duduk di samping saya, di bangku panjang tempat menunggu bus. Terminal semakin tenggelam dalam keriuhan orang-orang.

“Tunggu, siapa Anda?” Saya memotong dengan pertanyaan curiga. Dia hanya tersenyum. Menggeser tubuhnya dan mengibaskan rambutnya yang sepundak. Dia kembali menatap saya. 

“Kau seperti adikku,” ulangnya dengan suara yang makin dingin. “Aku rindu sekali setelah bertahun-tahun tidak berjumpa dengannya.”

“Aku tidak pernah punya urusan dengan kecengengan orang lain.”

Saya membuang muka, berusaha menepiskan segala perasaan yang memenuhi pikiran. Kecemasan dan kekalutan bercampur baur.

“Aku menyesal sekali. Namun sedikitpun aku tidak gemetar ketika menghunus pedang peninggalan ayah dan menebaskan ke batang lehernya.”

Oh! Tanpa sadar saya menutup wajah dengan telapak tangan. Tatapan mata lelaki itu kembali meluncur dengan kekuatan magis. 

“Aku membunuhnya karena bosan.”

“Bosan?” tanya saya (mungkin) dengan mata membelalak.

Sungguh tidak masuk akal. Mana mungkin seorang kakak membunuh adiknya sendiri karena bosan. Orang ini tentu sudah gila.

“Tidak! Tidak!” saya histeris. “Jangan teruskan cerita itu. Anda pasti sedang mabuk. Di sini bukan tempat yang tepat untuk menceritakan pengalaman buruk.
Entahlah tiba-tiba saya ingin menangis. Semoga saya tidak sedang bermimpi. Saya benar-benar membenci lelaki sinting ini.

“Aku tidak ingin kebosananku berubah menyerangku dan balik membunuhku. Dan sebelum itu terjadi aku harus mengambil sikap dengan membunuh dia,” ia terus bercerita tanpa menghiraukan saya. “Ketika polisi menangkapku, aku sama sekali tidak memberikan perlawanan. Kemudian tanpa melalui peradilan macam-macam aku dikurung di penjara ibu kota. Aku tidak tahu dan memang sengaja untuk tidak mengetahui berapa lama aku harus tinggal di dalam penjara,” ujarnya meracau. “Tetapi yang jelas aku telah bertahun-tahun berada di sana hingga aku semakin bosan. Maka, dengan otakku yang cemerlang, kuputuskan kabur dari tembok bangunan tua itu.”

“Pelarian! Kau seorang buron! Kau harus kutangkap dan kuserahkan ke polisi” ancam saya. Dan orang itu tetap tenang. Dingin.

“Silakan,” tawanya santai.

Anehnya, saya tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya.

“Ketahuilah bahwa sebentar lagi kota ini akan dilanda wabah penyakit bosan. Penyakit yang saya derita ini akan menyebar seganas raja singa dan AIDS. Hati-hatilah. Tapi aku tidak yakin orang-orang akan terselamatkan.”

Betapa enteng orang ini berkhotbah. Nyaris tanpa ekspresi, tanpa bebaan ketakutan oleh akibat rumor yang disebar. “Mereka melampiaskan rasa bosan itu dengan membunuh keluarganya, kekasihnya, sahabatnya, dan siapa saja sebelum penyakit itu membunuh dirinya sendiri.”

“Cukup!”

“Siapa namamu, sih?” tanyanya sinis. 

“Apa urusanmu dengan nama orang lain? Kita tak pernah memiliki urusan dan kepentingan. Maaf, sampai ketemu lagi.”

Saya masuk ke dalam bus, dan meninggalkan terminal.

“Hai, tunggu! Kau jangan sembrono. Jawab dulu pertanyaanku. Kalau tidak kamu akan kubunuh. Wajahmu akan aku kuliti dan kusimpan lidahmu dalam almari.”

“Tak murah membeli nyawa saya.”

“Bukan nyawa. Hidup sekarang telah menjadi barang murah.”

“Aku tidak takut.”

“Sebentar. Bukan perkelahian yang aku inginkan. Jawablah pertanyaanku, meski sebetulnya aku sudah tahu jawabannya. Aku hanya ingin tidak semakin bosan berbicara denganmu, Gunadi,” katanya.

“Dari mana kau tahu namaku?” Ia tidak menjawab.

Dia tahu nama saya. Tampaknya ia sangat menikmati kemenangan ini. Dan sikapnya semakin meneror saya. Tiba-tiba rambut saya dibelai dan saya dipeluk erat. Dengan jelas saya mendengar dadanya yang berdegap. Air matanya menetes hangat di pundak saya menghancurkan rasa rindu yang bergumpal-gumpal.

Terminal sedari tadi tetap belum berubah. Tersuruk-suruk dalam sihir keramaian. Saya pun sadar telah tersihir oleh lelaki ini. Saya lepaskan pulukan itu dan lari ke dalam bus yang telah siap berangkat duluan. 

***
Bosan? Lelaki itu membunuh adiknya karena bosan. Dan sebentar lagi kota ini akan terancam wabah penyakit bosan. Ini sangat menakutkan.

Pikiran saya kacau. Suara mesin bus berdenyar-denyar. Saya mengusap pundak dan kehangatan air mata orang itu masih terasa. Aneh, lelaki macam itu masih bisa menangis dan terharu.

Sorot mata yang dingin itu tak mampu saya lepaskan. “Lelaki misterius. Siapa dia sebenarnya?” batin saya penasaran.

Mungkinkah suatu saat saya akan membunuh Mena, istri saya, hanya karena rasa bosan? Mungkinkah saya membunuh Gela, anak saya yang minis itu, hanya karena bosan?

Belum sempat membuang pikiran-pikiran kotor itu, mendadak bus di depan saya terjungkal ke bawah jembatan setelah menabrak sebuah sedan.

Darah menyembur mewarnai sungai. Sebagian penumpang tewas dan lainnya luka-luka. 

Kengerian belum juga tuntas. Lelaki penjara dengan wajah berlumur darah berusaha keluar dari himpitan daun pintu mobil. Separoh tubuhnya terjerat tak dapat dilepaskan dengan sisa tenaganya.

“Kau pikir sopir bus itu telah mengantuk?” tanyanya ketika saya ingin menolongnya.

“Tidak,” jawab saya. “Saya tahu di kepala sopir itu terdapat bekas tembakan.”

“Akulah yang menembaknya. Aku bosan dengan perjalanan yang tak pernah sampai. Aku tidak ingin kehilangan diriku terlalu lama di tengah perjalanan. Aku ingin sampai sebelum rasa bosan itu lebih dulu membunuhku.”

Saya semakin tak mengerti. Pikiran saya sangat kalut. Pistol yang masih digenggamnya itu saya rebut. Di detik berikutnya dua pelor telah bersarang di jantungnya.

“Sekarang, sampailah perjalanan Anda,” teriak saya. (36)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jimat Kalimasadha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 27 Oktober 1996

0 Response to "Pelor Kebosanan"