Pemakaman Pertiwi - Surat-Surat Penantian - Malam di Situ Cisanti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pemakaman Pertiwi - Surat-Surat Penantian - Malam di Situ Cisanti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:16 Rating: 4,5

Pemakaman Pertiwi - Surat-Surat Penantian - Malam di Situ Cisanti

Pemakaman Pertiwi 

getir meritmis pada langit yang kelam
di senja itu, keranda adalah kendara
saat wanita rela tak bernyawa demi maut
serupa cinta yang tak bertaut

sudah cukup lebam di wajah, membekas di hati
karena luka bagai kegelisahan menjadi puisi
darah tak lagi mengalir mengujur di raga
seperti tangis menghabiskan doa

helai putih kafan menenggelamkan badan
mengatupkan mata yang lusuh meronta
seakan tak ada angin mengganggu lelapnya
serupa udara terhimpit kulit bumi

ketika peziarah meninggalkan pemakaman
di telapak yang menjauh satu persatu
hingga tujuh
lapisan bumi mengerat mayat
dalam sayatan tanya malaikat

`apa yang kau lakukan di dunia?'
wanita diam
bercerita sedih dalam lebam
bagai senja yang melegam

angin mendingin dalam gerimis yang ringis
langit berkilat dalam cahaya yang berkarat
menghentak malaikat memecutkan ayat:
`apa yang kau lakukan di dunia? siapa namamu!'

wanita itu bergumam pelan
`namaku pertiwi.'

2011 

Surat-Surat Penantian 

Bertahun sudah kukirimkan surat-surat
menuju sebuah alamat yang dibawa angin
namun tak ada jawaban,
seakan aku dilahirkan menjadi penantian.
Entah kepada apa kutitipkan harapan selain pada kata-kata.

Siapa mampu mengerti bahwa sepi
terbuat dari rindu yang tak ada, engkaukah?
Wahai gerimis di musim paceklik.
Sekian lama kumeringkik di hampar ilalang, Hanya untuk meneriakkan ketiadaan.

Dan musim-musim yang menahun
kulalui dengan surat-surat
menuju alamat yang dibawa angin,
berisi catatan-catatan kecil berisi ingin.

2012-2015 

Malam di Situ Cisanti 

upacara dimulai khidmat dan santun
ketika cerutu, hitam kopi, wangi dupa khas
mengepulkan asap yang menari-nari
tak tentu bagai ikan-ikan berenang tanpa tuju
di sebuah situ, seperti harmoni koor
dalam nyanyian kematian di sebuah gereja
suara angin menyentuh daun-daun saninten, cemara,
pinus, bergantian sepanjang malam

lengking anjing hutan merecah gendang telinga
menerobos sela-sela udara di kepala
dan perlahan berhenti, menandai malam menuju
pagi
orang-orang mengucap mantra
seperti tasbih yang dibaca dalam sujud
dan menanggalkan helai baju satu per satu

serta air tujuh bunga memandikan tubuh
adalah saat untuk mengubah seluruh nasib
bagai pendeta membaptis bayi di muka salib, cahaya purnama menyekap malam
menunggu penasbihan hidup di titik nadir layaknya sang maha menentukan takdir
terus memantra dan menyalakan dupa

lalu mereka pergi ke makam Eyang Dipatiukur
dan kehampaan terpancar di wajah-wajah
ketika malam berganti pagi,
purnama tertutup hitam awan, warna situ
menjadi muram, gerimis turun dengan gamang
upacara selesai di sebuah pemakaman.

2011

Muhammad Romyan Fauzan lahir 6 September.Berkegiatan di Majelis Sastra
Bandung, Komunitas Jendela Kata Kita, Komunitas Malaikat, dan Laskar
Panggung Bandung. Pengajar di Yayasan Pesantren Al-Fatah, Cikembang, Kec
 Kertasari, Kab Bandung.Buku pertamanya adalah sekumpulan esai berjudul
Perempuan dalam Bingkai Budaya Visual. Antologi puisi yang memuat

tulisannya Di Kamar Mandi (62 Penyair Jawa Barat Terkini), Jejak Sajak, 
Senyawa Kata Kita, Wirid Angin, Semar Gugat, Sauh Seloko (Pertemuan

Penyair Nusantara VI), Festival Pawon (Solo).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Muhammad Romyan Fauzan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 29 November 2015

0 Response to "Pemakaman Pertiwi - Surat-Surat Penantian - Malam di Situ Cisanti "