Penebusan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penebusan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:56 Rating: 4,5

Penebusan

MAYAT hidup, itulah pantulan yang dikabarkan cermin padaku. Helai demi helai rambutku sudah berubah sepucat lobak. Lipatan halus seolah berlomba memenuhi kulit wajah ini. Kurasakan ngilu yang tak kunjung reda, seakan puluhan rayap tengah sibuk menggerogoti tulang. Kiranya tinggal menanti seluruh organ tubuhku pensiun. Bahkan, mungkin sisa umuku tak lagi mencapai bilangan tahun. Sebagian memoriku mulai minggat satu per satu, tapi tidak dengan kesalahan terfatal dalam riwayatku.

Sekian lama kuabaikan khotbah yang mengagungkan pengakuan dosa maupun hukum pidana. Dalam aturanku, jika aku menghilangkan sesuatu, maka aku bakal menggantinya dengan sesuatu yang minimal sepadan. Namun, bila itu saja belum cukup adil, aku terpaksa mengundi nasibku sendiri. Mana sebaiknya, mendekam dalam penjara atau mati sia-sia?

***
Yokohama, 20 tahun silam…

Aku menikahi Yukari pada pertengahan musim semi. Di usiaku yang telah lewat kepala empat akhirnya aku sukses menyandang status suami. Bagiku, pernikahan bukanlah prioritas. Aku terlampau sibuk menghabiskan masa muda dengan bekerja keras. 

Lain bagi Yukari, ini adalah pernikahan keduanya. Ia janda kesepian yang baru saja kehilangan putri kecilnya, Sora. Bocah delapan tahun itu menyusul ayahnya yang pergi setahun lebih dulu akibat kanker. Aku ingat, betapa depresinya Yukari saat hari pemakaman Sora. Ia tidak meraung. Tidak pula terisak seperti kerabat lainnya. Ia duduk tenang dengan setelan serbahitam. Tetapi, ekspresinya tak dapat mengelabui. Sorot mata hampa yang tak henti mengucurkan air mata, tertumbuk pada peti jenazah Sora.

Di tengah prosesi tiba-tiba ia naik ke lantai dua. Karena merasa janggal, aku membuntutinya. Benar saja, Yukari nyaris terjun dari balkon jika aku terlambat mengapainya. Entah lantaran iba atau memang aku berhasrat padanya. Seketika terlintas, aku harus memperistrinya, lalu memberinya buah hati supaya ia tak sampai bunuh diri.

Sebagai tetangga tak sulit bagiku, mendekati Yukari. Namun, bukan perkara mudah meluluhkan hatinya. Barangkali karena ia ditinggal mati kala cintanya masih pagi. Aku senantiasa menjanjikan kehidupan baru nan sempurna. Termasuk hal-hal sepele untuk menggenapi kriterianya. Ia sangat menyukai lelaki bercambang, maka aku mulai jarang bercukur. Ia mendambakan suami humoris, maka aku belajar melucu. Juga sewaktu ia mensyaratkan agar sementara tinggal di rumah yang penuh kenangan. Meskipun, segala usahaku tak membuat Yukari lupa pada mendiang suaminya, serta Sora.
Dua tahun berselang lahirlah putra pertama kami. Bayi mungil itu memiliki gundu mata sejernih retina ibunya. Ia mewarisi bibir tipis serta hidungku yang sedikit bengkok. Sebetulnya aku sudah menyiapkan beberapa nama: Junrou, Kou, Masaki, Touya. Sayang, Yukari tidak menyukainya. 

“Sebagai ayah, namamu akan melekat padanya sampai mati. Bagaimana kalau aku menambahkan nama kecil… Shota?”

“Hmm…,” pikirku sejenak, “Shota?”

“Boleh?” rautnya memelas. 

“Baiklah, asal bukan Sora.” Aku mengalah untuknya yang telah bertaruh nyawa dalam proses persalinan. Dan, sebagai luapan kegembiraannya, Yukari menghadiahkan kecupan di bibirku.

Kali pertama aku menggendong darah dagingku. Kupandangi wajah malaikat kemerahan itu seraya memainkan jemari lembutnya. Mata sipitnya mengerjap, seolah ia sedang mengenali ayahnya.

“Shota… Shota...”

***
Shinjuku, 10 tahun lalu…

Mula-mula, kupikir akan sulit membujuk Yukari pergi ke Yokohama. Aku menyiapkan beragam rayuan untuk membuatnya turut serta. Di luar dugaan, ia sepakat. Kami pindah ke pusat kota setelah aku naik jabatan. Kujamin berlipat kemewahan dengan membelikannya sebuah mansion. 

Hari ini tepat sepuluh tahun pernikahan kami. Sengaja kuambil cuti tanpa sepengetahuan Yukari, demi mencari hadiah yang cocok untuknya; sebuket mawar berikut gaun violet yang kubeli di Distrik Shibuya.

Aku bersiap mengejutkannya. Kupelankan ayunan langkah ketika menjelajahi rumah yang terlihat sepi. Namun, sesuatu menahanku agar tetap berdiri di luar kamar Shora sambil menguping.

“Maaf, Bu.”

“Ini soal yang mudah! Kau bahkan tidak bisa mendapat nilai lima puluh!”

“Maaf, hiks…”

“Kenapa kau tidak bisa seperti Sora, hah?!”

Darahku tersirap pasca mendengar kalimat barusan.

“Aku sudah belajar, tapi…”

“Bodoh!”

Tangis Shota semakin keras. Aku refleks menghamburkan belanjaan. Kupergoki sisi lain Yukari saat membuka pintu geser. Beruntung aku lebih sigap. Telat sedetik saja, tangan Yukari pasti telah mendarat di wajah anakku.

“Ternyata benar. Pipi Shota yang merah itu bukan karena terjerembab, kan?” Aku masih mencengkeram tangan yang nyaris menyakiti Shota. Bukannya merasa bersalah, ia malah balik menyerangku. Leherku tak selamat dari kukunya yang runcing. Perih sekejap. Kurasakan sesuatu mengalir setelahnya. Kali ini aku kelepasan menampar Yukari. Peringatan tersebut berhasil membuatnya terduduk lemas.

“Shota putraku! Jangan samakan dia seperti anak dari lelaki penyakitan itu!”

Yukari mengatup rapat kedua telinganya disertai mata terpejam. Ia menangis penuh sesal. Tak berbeda dengan Shota yang tampak sangat ketakutan. Aku biarkan Shota meringkuk di sudut ruangan, menyaksikan apa yang ayahnya perbuat. Suatu saat ia akan mengerti, aku sekeras ini demi membelanya.

Yukari bersimpuh di bawah kakiku. Aku acuhkan permohonan maafnya sekalipun air mata itu kian berderai. Ia beringsut perlahan, mendekati Shota yang masih enggan mengangkat wajahnya. Direngkuhnya tubuh mungil Shota, disusul ciuman pada pipi dan mercu kepala. Bocah lelakiku lekas memeluk erat ibunya, bagaikan tiada dendam. 

***
Hingga tiga musim terlewati keadaan membaik kembali. Kami bercanda ria menikmati piknik di bawah guguran sakura seperti keluarga lain yang bahagia. Yukari makin menunjukkan rasa cinta layaknya seorang ibu. Aku lega, terutama setiap melihat tawa lebar di bibir Shota.

“Ibu tidak pernah memukulmu lagi, kan?” Aku memanfaatkan kesempatan untuk menginterogasi Shota sewaktu Yukari mengambil kamera.

“Kalau nilaiku jelek, aku akan minta maaf, lalumenghibur ibu yang sedang marah. Sampai ibu tertawa geli,” terang Shota. 

Aku mengacak poninya yang mulai menutupi mata. “Seperti apa? Tunjukkan pada Ayah.”

Shota menggeleng, mulutnya asyik mengulum permen loli. Kemudian ia tersenyum seraya memamerkan lesung di pipi bakpaonya. “Rahasia.”

Beberapa minggu setelahnya aku pulang kantor lebih cepat karena terserang demam tinggi. Tampaknya Yukari tak membaca pesanku agar menjemput di stasiun. Meneleponnya pun percuma, belasan panggilanku terabaikan. 

Aku tiba di rumah dengan kondisi tubuh yang hampir tumbang. Sayup-sayup terdengar alunan musik dari lantai dua. Suara petikan shamisen yang khas. Miyako odori (tarian bunga sakura). Aku bergegas naik ke kamar Shota untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi.
Kepalaku terasa berat. Dadaku sesak. Peluh berleleran. 

Entah gemuruh seperti apa yang kurasa. Menyaksikan tingkah anak lelakiku dan ibunya. Shota mengenakan kimono, rambutnya berhias aneka pita, serta mukanya penuh riasan. Keduanya tampak riang, terlebih Yukari yang dengan lembutnya mendandani Shota.

“Berputar, lalu menarilah,” perintah Yukari sambil bertepuk tangan. “Ahaha, imut sekali. Mainkan kipasmu, Sho-chan.”

Sekuat kuredam emosi agar kepalan tanganku tidak menghampiri pipinya. “Ibu macam apa kau?!”
Mereka tersentak ketika menyadari kehadiranku. Yukari mematung tanpa kata. Ia tergugu, tangannya perlahan menghapus bedak dan gincu di wajah Shota.

“Ikut Ayah! Ibumu mulai gila!” Aku menarik pergelangan Shota, setengah kuseret, tak peduli bocah itu merengek kesakitan.

Yukari terus menghalangi kepergianku bersama Shota. Ia bahkan menggigit tanganku sampai terluka. Shota tak kalah merepotkan. Dia berontak dan berteriak memanggil ibunya. Tangannya kencang menggenggam kayu penyangga. Dengan sedikit usaha aku berhasil membawanya paksa. Namun, nasib baik tidak berpihak padaku. Aku terperanjat lantaran kakiku belum menapak sempurna pada anak tangga.

Tubuhku terpelanting dari lantai dua. Sempat kudengar bunyi “kraakk” pada lututku, sebelum akhirnya tergolek tak berdaya. Yukari dan Shota tampak histeris di sisiku. Pandanganku kabur. Suara mereka makin lesap. Tiba-tiba semua gelap. 

***
Tochigi, saat ini…

Anak-anak di jalan sana seolah mengingatkanku pada Shota. Gelak tawa tanpa dosa. Suara gaduh setiap memasuki rumah. Derap kaki yang berirama. Semangat mengalahkanku kala bermain game. Cerita tentang teman sekelas, guru yang konyol, atau klub seni di sekolah. Kenyataannya, sekarang telingaku harus terbiasa menangkap bunyi mobilnya ketika parkir di halaman.

Kedua kakinku lumpuh total. Keluargaku cerai-berai, karierku berantakan. Tiada yang tersisa, uangku habis untuk biaya pengobatan dan perceraian. Entah berapa kali kuutarakan niat menetap di rumah lansia, tapi Shota bersikeras menolak.

“Ayah, aku pulang.”

Usai meletakkan bungkusan di atas meja, perlahan langkahnya menghampiriku. Ia membenahi posisiku di kursi roda. Jemarinya tampak sangat hati-hati menggerakkan kukunya yang lancip mengilap saat memijit pundakku. Ia berdiri persis di belakangku, menatap pantulan bayangan kami di jendela, lantas tersenyum. Senyumnya mengingatkanku pada foto bocah perempuan yang senantiasa terselip di dompet Yukari.

“Ayah sedang apa? Aku beli ramen kesukaan Ayah. Ayo kita makan.”

Ia membungkuk, kemudian mengalungkan lengannya pada leherku. Aku tetap bungkam, bukan karena kehilangan kemampuan bicara secara normal, melainkan tak berselera menanggapi ocehannya. Rambut lurusnya tergerai di dadaku. Lengan yang semakin erat merangkulku itu sedikit kurus, mulus tanpa bulu. Perutku terasa mual ketika aroma parfumnya menyengat hidung. Rasa sesalku kian memuncak saat melihat gelang perak dengan bandul “Sho-chan” melingkari tangannya.

“Maaf, aku jarang menjenguk Ayah. Aku sibuk mengurus pernikahan ibu bulan depan.” Darahku mendidih. Gigiku bergemelutuk. Jantungku terasa nyeri.

Yukari. Perempuan tak tahu diri itu membuatku murka. Bagusnya sejak dulu kuungkap saja siapa pelaku tabrak lari Sora sesungguhnya. Lebih baik membusuk dalam penjara daripada tersiksa atas pilihan bodohku membahagiakannya. ***

Wi Noya, penulis tinggal di Jakarta.  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wi Noya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 15 November 2015


0 Response to "Penebusan "