Pengantin Luka [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengantin Luka [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:05 Rating: 4,5

Pengantin Luka [5]

Aku mengemudikan mobil dengan gamang. Untunglah siang menjelang sore itu Denpasar tidak sepadat biasanya. Nyaliku  makin ciut manakala setan melankolis membayangiku. Bayangan Bli Gus selalu setia hadir manakala aku melewati tempat–tempat yang pernah kami datangi bersama. 

Mengapa semua seakan tak bersahabat dengan lukaku. Bahkan rasa– rasanya aroma mobil ini pun kuciumi wangi parfumnya. Bli Gus, wanita tanpa kastamu ini akan sulit membuangmu dalam hidupnya, meski jelas–jelas panah tajammu telah mencabik cinta dan harga dirinya.
Cinta itu apa…?

Sama sekali tak pantas disebut anugerah, apalagi mukjizat.

Cinta itu sakit. Cinta itu perih. Cinta itu pengkhianatan. Cinta itu kamu, malaikat berwajah tampan rupawan, namun pembunuh. Dan cinta ternyata tak cukup ampuh menawarkan luka.

Jadi berhenti bilang cinta adalah keajaiban. Berhenti mengagungkan cinta di depanku, jika tak mau kuludahi. Pikirkan dulu sebelum bilang cinta tak mengenal batasan. Karena cintamu akhirnya berhenti. Aku bukanlah perempuan kastamu yang pantas kau perjuangkan cintanya. 

Kutulis kalimat bodoh itu pada selembar kertas, lalu membuangnya di depan rumah Bli Gus. Masa bodoh jika ia menganggapku gila atau terobsesi padanya. Aku menginginkan ia mengetahui luka ini. Aku tidak mau semuanya hanya selesai dengan kata maaf. Tidak segampang itu membuangku.

Pukul 11 malam…

Angin malam Pantai Kuta mulai mengusik lamunanku. Untunglah Circle K malam itu tak seramai biasanya. Hanya ada aku dan beberapa turis asing yang sedang pemanasan untuk melanjutkan malam mereka di klub-klub di seputaran Legian. Malam ini grup band Kerispatih manggung di Kamasutra. Gea dan Nina menungguku di sana, lengkap dengan tiket masuk gratis.

Terharu jika menyadari betapa dua sahabatku itu berjuang keras mengeluarkanku dari ratapan kehilanganku. Bahkan, mereka rela menonton konser Kerispatih tanpa pacar masing–masing demi tak membuatku mati gaya. Lima menit lalu mereka memastikan lewat SMS agar aku datang. 
Kutenggak habis sisa kopiku. Pahit itu…aroma itu…entah berapa lama tak aku nikmati. Kali ini kutandaskan minuman itu tanpa omelan dari Bli Gus. Ampuun, aku ingat dia lagi. Selalu ada sesuatu yang mengingatkanku padanya. Ahhh, baru kusadari, betapa banyak bagian hidupku telah terisi akan segala hal tentangnya.

Aku di tengah histeria lantunan lagu–lagu mellow Kerispatih....

Sesekali kupejamkan mata. Aku benci mengakuinya lagi dan lagi, ingat Bli Gus. Ingat dulu saat ia mengejekku doyan mendengarkan lagu–lagu patah hati. “Awas nanti kamu terpengaruh sama cerita lagunya. Salah–salah jadi terobsesi dan kejadian di kehidupan nyata.” 

“Biarin, Bli Gus nggak romantis,” belaku, sengit.

Lalu semua akan berakhir dengan aku larut dalam dekapannya. Pelukannya... ciumannya… belaiannya. Mengapa semuanya menjadi nyata lagi bersamaan dengan lagu–lagu yang dilantunkan oleh salah satu grup band favoritku ini. Arghhh, aku frustrasi lagi. Pun ketika aku berada di tengah keramaian ini. Aku merasa asing. Kesepian. Percuma semua usaha Gea dan Nina. Tidak semudah itu mengeluarkanku dari semuanya.

Bipppp.... Bipppp... Bippp grrttttttt....

Wicak. Besok bisa tolong jemput aku di airport? Ntar aku SMS lagi schedule flight-ku. Akhirnya aku boleh cuti panjang, Bali I’m coming… Ada banyak oleh-oleh buat kamu.

Aduuh… apa kata Wicak kalau tahu aku keluyuran malam–malam. Kugamit lengan Nina dan Gea menuju pintu keluar Kamasutra, padahal Kerispatih baru selesai dengan lagu keempatnya.

”Apaan, sih, Sekar, masih panjang, tuh, konsernya!” protes Gea, sambil bersiap masuk lagi.

”Aku pulang duluan. Kakakku datang besok. Aku harus jemput dia pagi-pagi,“ jelasku, setengah panik. Kutinggalkan mereka, kami berpisah di parkiran Kamasutra.

Aku tidak memutuskan pulang. Sudah pukul 3 dini hari, pesawat Wicak akan tiba pukul 8 pagi. Aku beli beberapa bungkus permen mint. Mengunyah banyak–banyak, sambil menatap pantai. Masih setia bermain dengan bayangannya. Sungguh, aku tak pernah bisa melupakannya.

Di perjalanan menuju Bandara Ngurah Rai....

Apa yang harus aku jawab, jika Wicak tanyakan Bli Gus. Bukankah saat dua tahun lalu mengantar Wicak ke bandara untuk bertolak ke Batam, ada Bli Gus menemaniku. Bahkan, Wicak wanti–wanti pada lelakiku itu agar menjagaku baik–baik. Ia memercayakanku pada seorang sahabat yang ia yakini tepat buatku.

Bli Gus nggak bisa ikutan Wi, dia ada urusan kantor....

Ohhh aku nggak sempat bilang, Wicak balik hari ini.......

Atau, sudahlah Wi, nggak usah bahas dia lagi. Sebentar lagi dia akan jadi suami orang. Dia sudah membuang adikmu ini dari hidupnya....

Fiuhhh...  susahnya memilih jawaban yang menenteramkan hati. Mobilku hampir memasuki parkiran bandara. Dag-dig-dug... hatiku kian tak menentu.

”Sekaaarrr...!” Kami berangkulan erat. Sungguh damai hati berada dalam dada kokohnya. Hanya lelaki ini dan Bli Gus yang senang memanggilku Sekar dengan nada panjang. Dia mengusap–usap kepalaku lembut.  Seolah mendapatkan secercah embuh ketenangan, aku langsung merebahkan kepala ke dadanya. 

”Kamu kurusan, Sekar?” seperti biasanya, dia selalu memanggil namaku utuh, matanya memicing mengamati ubun–ubun sampai kakiku.

Aku mengambil beberapa tas bawaannya. ”Pulang dulu, katanya Wicak cuti panjang. Kita punya banyak waktu buat ngobrol,” saranku.

Kami mampir di sebuah warung tenda nasi pedas di Jalan Raya Tuban. Untunglah ada dua kursi kosong. Kami sama–sama diam menandaskan makanan. 

Lagi–lagi aku menarik napas dalam. Entahlah, sepertinya ada sebongkah batu yang ingin sekali kutanggalkan, namun sia–sia. Jalan di depanku  makin padat, hari  makin siang. Geliat Kuta tampaknya memang baru dimulai pada malam hari.

”Ada apa, Sekar? Wicak baru tinggalkan kamu 2 tahun, berapa banyak ceritamu yang terlewati oleh kakakmu ini?” Ia menyeruput habis teh panasnya. Lalu menggeser duduknya, menyampingiku.

”Hmmm... oke, Wicak tahu tempat yang bisa membuat kamu ceritakan semuanya,” katanya, lalu membayar makanan.  Aku dilarangnya mengemudikan mobil. Dia mengarahkan mobil ke arah Pantai Kuta.

Ahhhh... Wicak, tempat ini memang tempat favoritku, tapi juga tempat yang akan menyakitiku karena akan mengingatkanku pada lelakiku lagi.

”Apa ?” tanyanya lagi. Kami kini sudah duduk bersisian, tidak begitu jauh dari bibir pantai. Udara tidak begitu dingin.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Pengantin Luka [5]"