Pengantin Luka [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengantin Luka [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:10 Rating: 4,5

Pengantin Luka [7]

Senang tak terkira. Sepanjang jalan pulang dari perusahaanini seperti kurasakan lagi ribuan kunang–kunang menggelitik perutku. 

Hai...aku Sekar, si sekretaris direktur....

Tak hentinya aku mengulang–ulang kalimat itu sambil tak lupa dengan senyumsempurnaku. Tak sabar ingin kusampaikan ini pada Wicak, Nina, dan Gea. Mereka,orang–orang yang bersaksi penuh atas hidupku belakangan ini. Bahkan pekerjaanini juga atas andil dorongan terus–menerus semangat dari mereka. Meski saat ituWicak jauh di Batam.

Pulang kerja, kalian aku tunggu di pantai biasa, ya....

Aku kirim SMS itu sekaligus pada Nina dan Gea. Setelahnya kutelepon Wicak. 

”Sekarang kamu paham kan, kamu adalah perempuan cerdas. Pekerjaan ini layakkamu dapatkan. Konsentrasilah pada karier barumu. Nikmati dan pelajarisebanyak–banyaknya. Selamat merayakan hidup barumu, nona sekretaris direkturyang manis. Wi harus jadi orang pertama yang kamu traktir dengan gajipertamamu, ya.” Suara kakakku satu–satunya itu terdengar sungguh antusias. 

Lagi–lagi kurasakan ribuan kunang–kunang itu bermain di perut dan dadaku. Adabahagia yang membuncah. Tapi, belum lengkap sebelum Nina dan Gea tahu. Taksabar kutunggu mereka. Pantai begitu tenang, dan matahari perlahan bersiaptertidur. 

Mereka berlari–lari kecil menghampiriku. Tak kukatakan apa–apa, hanya kurangkulmereka bergantian. ”Thanks, ya. Aku dapatkan pekerjaan itu, sekretarisdirektur,” uraiku, senang.

”Wahhh...  selamat, ya, Non. Asyik, traktir, ya, gaji pertama,” Ninamenatapku antusias.

”Akhirnya kita bertiga sekarang sudah punya karier masing–masing, ya, meskipunkantormu jauh. Tapi, tak masalah Sekar, yang terpenting sekarang saatnya kamumemulai hidup yang baru,” nasihat Gea, diikuti tatapan setuju Nina.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di pantai itu. Diam–diam aku masih merasaada seseorang yang kurang dalam kebahagiaanku. Tidak ada ucapan selamat dariBli Gus. Sial. Bukankah aku baru saja akan memulai sesuatu yang baru, namunselalu saja embel–embel masa lalu datang memberondongku.

Di rumah....

Hanya ada aku dan tik–tok bunyi hujan di luar sana. Harum tanah mulai tercium.Kuambil sebuah dupa wangi lotus kegemaranku. Di depan Padmasana aku bersimpuh.Aku bercerita pada-Nya, berterima kasih atas hadiah yang ia kirimkan hari inipadaku.

12 Mei....

Pukul 9 pagi. Aku sudah memarkir mobil kesayanganku di parkiran kantor barukuyang luas. Aku disambut seorang staf bagian personalia. Aku diperkenalkan padaseisi kantor. Dan berakhir di ruangan pribadiku. Di lantai 2 dekat denganruangan direktur. Aku nyaris tak yakin ruangan ini adalah bilik pribadiku.Semua fasilitas lengkap ada di sana. Ini dia duniaku yang baru. Ada harapansegar melintas di hari pertamaku. Perusahaan jasa kontraktor ini cukup punyanama di Bali, dan kini aku menjadi bagian di dalamnya. Pencapaian yang bagus.

”Ini semua pasti akan membantuku melupakanmu, Sayang...,” kataku, membatin.

Setahun pertama kulewati. Aku tak butuh terlalu lama’menguasai’ arena kerjaku. Meskipun tak terlahir sebagai gadis jelita, akulihai menarik perhatian orang, terutama kaum pria. Tapi, aku berusaha kerasuntuk selalu berhati-hati.

Aku mulai banyak menjalin relasi. Proyek–proyek besar yang dikerjakan langsungoleh bosku mulai diserahkan padaku. Alhasil, aku seolah bermetamorfosis menjadi binatang pekerja. Berangkat ke kantor pukul 9 pagi, lalu baru beranjak pulangpukul 9 malam. Itu pun masih sesekali kuhabiskan malam dengan beberapa relasikerja yang agak dekat denganku.

Namun, siluetnya dalam hatiku belum mampu aku alihkan. ’Dia’ masih di sana,duduk tenang menempati bilik hatiku. Terkadang aku merindukannya. Mengharapkanada pertemuan tak terduga dengannya. 

Setiap kali ada pria yang mendekatiku, dengan cepat aku menjauh. Aku tak begitupaham apakah ini karena traumaku yang terlampau berat, ataukah isyarat bawahsadarku bahwa aku tak ingin ada sosok lain yang menggantikannya. Entah.

”Sekar... ke ruangan saya, dong,” suara bosku terdengar di ujung telepon.

Gelagapan kuambil buku agendaku. Gontai aku melangkah. Hawa dingin ACmenyambutku.

”Ya, Pak?” Aku bersiap mencatat instruksi bos. Kulihat ia menulis sambilmembuka lembar demi lembar sebuah proposal.

”Saya mau kamu ambil alih proyek ini,” dia menyerahiku setumpuk proposal yangtadi ia baca.

“Dan tolong urus tiket saya buat ke Singapura minggu depan. Saya mau liburandengan istri. Saya titip kantor, ya.” Bosku beralih dari kursi kebesarannya.Dia mengambil minuman ringan kaleng dari kulkas pribadinya.

Aku pamit. Di ruanganku, kubaca proposal itu. Kutekan nomor telepon yangtertera di sana. Aku membuat janji dengan suara di seberang sana untuk bertemusaat makan siang besok. Suaranya menarik. Tapi, sepertinya suara itu tidakasing lagi. Suara khas lelaki yang akrab di telinga, sekilas seperti mantanlelakiku. Aku berdoa, semoga bukan  ‘dia‘.

Aku kembali lagi pada layar komputerku. Terbenam lagi pada tumpukan file–filedan histeria telepon–telepon yang tak ada putusnya. Sampai malam lagi– lagidatang. Aku rindu dua sahabatku. Sejak aku bekerja, jarang sekali kami bisajalan bertiga lagi. Kami hanya masih menjaga komunikasi dengan berkirim SMSatau e-mail. 

Pekerjaan ini sungguh menyita semua perhatianku. Menyenangkan, karena inimembuatku mempersedikit waktu ingat akan ‘dia‘. Menyedihkan, karena aku jauhdari dua sahabatku, dari Wicak yang  makin jarang kutelepon, juga darikehidupan ingar–bingar bagi seorang wanita berumur 22 tahun yang sesungguhnya.

 Pada sebuah coffee shop di seputar Pantai Kuta....

Untunglah tidak macet. Sopir kantor yang mengantarku, aku persilakanjalan–jalan sejenak sembari menunggu aku selesai meeting. Aku masih punya waktu10 menit sebelum rekan bisnisku datang. 

“Hai... Sekar?” suara bariton itu mengagetkanku.

Kutengadahkan kepala mencari si sumber suara. Jika ada yang tak kuharapkanuntuk kutemui lagi di sisa akhir hidupku selain Bli Gus, dialah orangnya.Mantan seniorku semasa SMA yang pernah mempermalukanku dengan mencium seenaknyakeningku saat perayaan ulang tahun sekolah, hingga mengundang riuh tak hanyateman seangkatanku, tapi juga para kakak kelas dan guru–guruku. Ya, ampuun,orang itu kini berdiri beberapa sentimeter di depanku. Tidak terlalu berbedadengan gayanya saat SMA dulu. Masih tetap tampan dan gagah.

”He... ehhh ngapain di sini, kamu bukannya di Jakarta?” Akusama sekali merasa tak perlu berbasa-basi untuk mempersilakannya duduk. Rasamalu semasa SMA gara–gara ulahnya yang norak,  tiba–tiba kurasakan begitudekat.

”Sekar... Sekar.... kamu masih saja seperti dulu. Judes. Tapi, itu yangmembuatmu cantik dan menarik. Boleh aku duduk di sini menemanimu?” pintanya,tanpa peduli pada sikap tak bersahabatku.

”Maaf, lagi nggak butuh teman duduk, Mas. Saya sudah ada janji dengan orangyang lebih penting dari kamu, dan kursi itu buat dia,” jawabku, masih denganwajah judes. Sama sekali tidak ada senyum.

Dia tertawa sejenak, memamerkan deretan giginya yang bersih. Juga lesung dikedua pipinya. “Sial, ini laki-laki... kalau saja dia nggak beraksi norak waktu SMA dulu, pasti sampai tamat SMA aku akan terus memujanya,”  kataku,membatin.

“Akulah yang kamu tunggu, Sekar. Perkenalkan, namaku Gede Arya Putra Nugraha.”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Pengantin Luka [7]"