Pengantin Luka [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengantin Luka [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:12 Rating: 4,5

Pengantin Luka [8]

Aku ingat sesuatu. Kubuka cepat–cepat proposal yang kemarinbosku berikan. Proyek yang akan kutangani, nama direkturnya sama dengan namayang baru saja aku dengar  dari mulut si mantan kakak kelas norak ini.Dialah VIP person titipan bosku yang akan bekerja sama dalam pembuatan viladengan bosku. Oh, Tuhan, tamatlah riwayatmu, Sekar. Dia yang kini harus kautemani dan layani sebagai partner bisnis pentingmu. 

“Orang ini VIP person, ya, Sekar,” begitu bosku mengingatkan saat tadi akuberpamitan untuk datang  makan siang plus meeting ini.

Aku memperbaiki dudukku. Menepis jauh–jauh rasa terkejut yang baru sajamenderaku. Tuhan menjawab doaku, suara yang kudengar di telepon kemarin memangbukan mantan lelakiku. Mantan kakak kelasku ini Ia kirimkan sebagai gantinya. 

 ”He, ehh pantas kemarin kayak kenal suaranya. Kamu, toh?” Aku menyeruputiced cappuccino, sambil berusaha menenteramkan hati.

”Yes, I am. Lama nggak jumpa, ya, apa kabar kamu? Kita bisa ngobrol santai dulukan sebelum bahas soal rencana investasiku di vila bosmu?” 

Dia memanggil waitress, memesan minuman yang sama denganku. 

”Baik, Pak.” Sejujurnya, agak canggung bibirku memanggilnya demikian. Tapi,bagaimana lagi, aku tak boleh memandangnya sebagai mantan kakak kelasku lagi.Dia seorang investor penting, 
dan aku harus profesional.

Dia tertawa lagi, kali ini sambil menggeser duduknya mendekatiku. Kami tak lagiberhadap–hadapan, tapi bersisian, hanya 15 senti kini jaraknya dariku.Sampai–sampai wangi parfumnya tercium jelas olehku. 

”Jangan panggil Pak, tua sekali kedengarannya. Kita cuma beda usia 2 - 3tahunan kan, Sekar? Just call me Arya, please,” pintanya.

”Kamu sudah menikah, Sekar?” 

Kugelengkan kepala dengan tak semangat. Haruskah setiap partner bisnis lelakiyang kutemui menanyakan itu? Apa bedanya buat mereka statusku. Kulihat sekilasdia tersenyum, aku tak peduli untuk apa ia pertontonkan senyum indahnya itu. 

”Kamu sadar nggak Sekar, kamu itu  makin menarik sekarang. Makin dewasadan anggun,” gombalnya dengan tampang sok serius. 

Aku memperlihatkan tampang tak acuh. Dia pikir aku apa, dia pikir mungkin akuakan terbuai oleh kata-kata gombalnya. Dia tentu tak tahu, bagaimanabertahun–tahun lalu pernah ada lelaki yang memujiku lebih darinya, namunlihatlah, toh, akhirnya lelaki itu bertekuk lutut pada wanita lain. Kalau sajabukan karena alasan pekerjaan, sudah kutinggalkan meja ini. Seketika rasa muakdan jengkel menderaku.

”Kita mulai saja meeting-nya, ya, Pak.” Aku menghidupkan laptop-ku, dan mulaimenjabarkan semua hal yang kupikir patut ia ketahui sebelum berinvestasi penuhpada proyek vila kami.

”Oke, apakah segala urusan proyek vila ini nantinya kamu yang akan tangani?” 

Lagi–lagi aku dibuatnya naik pitam. Kutarik napas sedikit. Panjang lebar akupresentasi, dia malah tanyakan hal yang tidak prinsip itu.

”Ya, Pak. Bos saya akan ke Singapura beberapa minggu ini. Jadi, sementarabeliau tidak ada, semua urusan kantor menjadi tanggung jawab saya, termasukproyek ini,” jelasku.

”Baiklah, kamu kembali ke kantor. Sampaikan pada bosmu, saya 100% jamin akanjadi investor proyeknya. Kalian siapkan saja draft kerja samanya. Masalah lebihlanjut, saya akan telepon langsung bosmu secepatnya.” Tegukan terakhircappuccino-nya ia selesaikan dengan sedikit senyuman yang tak kumengerti.


Aku hampir melonjak kegirangan. Bonus di akhir bulan sudahterbayang berkat keberhasilanku meloloskan proyek ini. ”Baik, terima kasih PakArya. Sampai ketemu lagi. Saya akan siapkan surat-suratnya dulu.” Kali inikuberikan ia sedikit senyumanku. Kami berjabatan tangan, lalu berpisah saatmobil kantorku tiba di pelataran coffee shop. 

”Sempurna, Sekar. Kerja yang sangat bagus,” puji bosku, sesaat setelah akuselesai menyampaikan hasil meeting-ku dengan Arya. Senyum bapak dengan 5 anakitu sumringah. 

”Terima kasih, Pak. Saya tunggu instruksi Bapak selanjutnya untuk proyek ini.”

Sejak meeting siang itu, aku dan Arya  makin seringbersama. Bahkan, hingga larut malam. Aku mulai salut dengan semangat kerjanya.Dia sungguh serius dan fokus saat kami melakukan meeting demi meeting. 

Bosku sangat jarang ikut dalam pertemuan kami, dia nyaris mendelegasikanseluruhnya padaku. Hanya sesekali ia menelepon dari Singapura untuk memantauperkembangan proyeknya. ’Dendam’-ku semasa SMA kepadanya perlahan mulaiterkikis. Aku mengubah status dendam itu menjadi kenakalan semasa remaja.

”Saya pikir, bulan depan pembangunan bisa dimulai, ya. Semua syarat hukum sudahkita lengkapi,” katanya, pada meeting yang kami lakukan sambil menikmati makanmalam di sebuah restoran seafood di tepi Pantai Kedonganan.

”Ya, biar besok saya bicara dulu dengan bos. Kalau beliau setuju, kita mulaisaja, biar tahun depan sudah mulai operasional,” ungkapku, menyetujui usulnya.

Dia tersenyum dengan lesung pipi yang membuat dia  makin tampan. ”Nggaksalah memang aku kerja sama dengan kamu Sekar. Setelah pembangunan dimulai, akubersiap dengan ’proyek’ keduaku,” katanya, sembari menekankan kata ’proyek’dengan intonasi aneh. 

Aku menatapnya tak mengerti, lalu melanjutkan menghabiskan kerang dengan bumbupedas manis favoritku. Kami buru–buru beranjak menuju pantai saat matahariberanjak turun. Arya meminta seorang pelayan restoran untuk memotret kamidengan latar belakang sunset. Sesudahnya, Arya langsung mengatur agar foto itumenjadi wallpaper di ponselnya.

”Apa kamu mau jadi istriku, Sekar?” Arya menatap lurus mataku. Ada pengharapanbesar yang ia coba perlihatkan.  Kurasakan dadaku berdesir. Refleks akumengingat kejadian bertahun– tahun lalu, ketika ’dia’ juga melamarku di pantai,meski bukan pantai ini. Wajah ’dia’ dan Arya sama berharapnya ketika mengajukanlamaran itu. Bedanya, bertahun–tahun lalu ada cinta yang membara bergejolakdalam diriku pada ’dia’, tapi sore ini yang aku rasakan untuk Arya tak lebihhanya kasih bagi sahabat.

”Hmm, aku salah bicara, ya?” tanya Arya, ketika aku tak juga mampu mengucapkansepatah kata.

”Kita tak punya alasan untuk akhirnya menikah, Arya. Kita bukan pasangankekasih. Selama ini kita hanya teman bekerja, dan kuanggap kamu sebagai teman.”Ada gejolak perlawanan yang kurasakan.

Luka itu terbuka lagi. 

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pengantin Luka [8]"