Pengantin Luka [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengantin Luka [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:14 Rating: 4,5

Pengantin Luka [9]

Tidak cukup setahun, dua tahun, atau berapa lama punmembuatku beranjak dari trauma itu.

Apakah terlalu berlebihan, jika aku menjaga baik–baik hatiku, setelah seseorangyang pernah sangat aku harapkan meninggalkanku menuju pelaminan, namun tanpaaku sebagai mempelai wanitanya? Arya atau lelaki mana pun mungkin akanmelakukan itu lagi. 

Aku tak ingin terluka lagi. Bukankah beberapa tahun ini telah baik kulakukantanpa pasangan. Sudah aku atasi semuanya tanpa ada laki-laki dalam hatiku, lalubuat apa kini aku bersuami.

”Sekar, apa yang sudah terjadi padamu sampai–sampai kamu sedingin ini? Akurindu Sekar-ku yang kukenal semasa SMA dulu. Tidakkah kamu sadar sangat banyakkakak kelasmu yang diam–diam selalu mengamati dan mengagumi segala tingkahlakumu dulu. Termasuk aku,” tanya Arya sambil memandangku dengan mata penuhtanda tanya. 

Aku hanya mampu terdiam. Aku tak punya keberanian untuk  menatap mataArya. Aku takut jika nantinya mataku hanya akan memperlihatkan kebencian yangseharusnya tak tertuju padanya, lalu akan melukai Arya pada akhirnya.

”Arya, hidupku sudah baik begini. Aku sudah bahagia dengan pekerjaanku danteman–temanku. Aku tidak mau merusaknya, jika kuputuskan untuk berkeluarga,”kilahku.

Arya tertawa. Ia mengajakku berjalan menyusuri pantai yang  makin gelap.“Apakah kamu akan melajang selamanya ? Apa nggak ingin punya suami dananak–anak ?” tanyanya, seolah menitipkan pertanyaan untuk teman tidurku, bukanuntuk kujawabkan padanya kala itu.

Aku diam. Bahkan terus diam sampai mobilnya berhenti di depan pagar rumahku.Dia hanya membukakanku pintu, tanpa menyampaikan apa–apa lagi. Ia usap lembutkepalaku. Dan mobilnya menghilang di ujung jalan. Aku memikirkan lamaran Arya.Apakah yang kurang darinya. Dia lelaki Hindu seagama denganku. Sama–samaberasal dari Denpasar. Akan memudahkan aku untuk masuk dalam lingkungankeluarganya. Dia pengusaha sukses. Dan baik.

Apa yang kucari? Bukankah tidak mungkin menunggu ’dia’ datang kembali dalamhidupku? Jika hari itu datang, pasti tak akan ada yang sama lagi, termasukhatiku padanya. Luka yang ’dia’ tinggalkan terlampau dalam dan menyakitkan,membuat hatiku selalu ngilu, jika mengingatnya.

Berbulan-bulan setelahnya....

Seisi rumahku bersukacita. Setiap sudut sibuk dengan persiapan masing –masing.Aku hanya mengamati segala yang terjadi lewat jendela yang sengaja kubukalebar–lebar. Wicak terlihat semangat memasang klangsah. Dia tersenyum saat matakami beradu.

”Deg–degan, ya.” Nina tiba–tiba sudah duduk di sisi ranjangku.

Aku hanya tersenyum simpul. ”Gea mana?” tanyaku.

”Masih cari parkir. Kamu sudah coba kebayamu? Pasti kamu cantik besok,”katanya.

”Apakah yang aku lakukan sudah benar?” Aku menatap sahabatku itu denganpandangan tak menentu.

”Hei, apa maksudmu? Jangan pikir yang aneh–aneh. Dia pilihan yang tepat, diasangat mencintai kamu, Sekar,” Nina meyakinkanku, sembari mengamati lekat–lekatwajahku.

”Apakah salah jika aku melakukan semua ini tanpa cinta sedikit pun? Hatikujustru sama sekali tak merasakan apa-apa.” 

”Sekar, ini sudah berjalan berapa tahun, sih. Kenapa kamu masih saja mengingat masalalu itu? Nggak adil buatmu terus mengingat ’dia’. Ingat kan, betapa ’dia’dengan mudah meninggalkanmu menikah dengan perempuan lain, bahkan denganteganya memintamu menjadi MC resepsinya. Meskipun, itu juga andil dariketololanmu, masih saja mau mengikuti apa yang ia katakan.” Nina memandangkuserius. Gea datang, ia hanya duduk diam di antara kami. Mengamati aku denganpandangan iba.

”Teruskan acara ini, Sekar. Tidak akan sulit mencintai Arya, he’s a perfectman.” 

Lalu, sehari setelahnya aku keluar dengan balutan kebaya dan kemben berwarnaemas. Dadaku terasa sesak bukan karena lilitan stagen yang terlalu kencang,tapi karena kulihat wajah Arya yang sangat sumringah menyambutku. Rasa bersalahmenyerangku.

”Tuhan, maafkan lakonku hari ini, aku hanya ingin memberikan menantu yang baikuntuk keluargaku...,” desisku, dalam diam.

Semua ritual siang itu sama sekali tak mendapat konsentrasiku. Aku terusberusaha sekuatnya menahan turunnya air mataku. Sejak hari ini akan menjadi takbenar lagi jika aku mengingat ’dia’. Pasti akan susah sekali menggantilamunanku dengan Arya sebagai tokoh utamanya.

Arya menggenggam tanganku lembut, tapi sangat erat. Kudengar kul–kulbertalu–talu, tanda kami sah sebagai suami-istri. Selesai sudah semuanya. 

Aku sama sekali tak mengundang ’dia’. Tapi, Gea dan Nina menemaniku terus, jugaWicak. Hanya dua sahabatku yang tahu bagaimana gejolak perasaanku saatmenjalani dan menyelesaikan ritual demi ritual pernikahan ini. Wicak tak bolehtahu bahwa tak ada cinta dalam pernikahan ini.

”Terima kasih, Sekar,” bisik Arya padaku. Dia tersenyum lagi, dengan lesungpipinya yang selalu membuatnya tampak tampan dan memesona sejak pertama kaliaku mengenalnya.
Kupaksakan sebuah senyum untuknya. ”Terima kasih juga, Arya,” jawabku, lemah.

Selesai. Tak akan pernah ada ’dia’ lagi dalam otakku kini. Meski akan selaluada dalam hatiku. (tamat)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pengantin Luka [9]"