Perempuan Berambut Panjang dan Lelaki Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Berambut Panjang dan Lelaki Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:01 Rating: 4,5

Perempuan Berambut Panjang dan Lelaki Sunyi

SEPERTI dalam puisi, ia menangis di tengah hujan. Agar airmatanya menyatu dalam rintik air dari langit itu dan orang-orang akan mengira ia baik-baik saja. Tetapi, siapakah namanya?

Malam ini aku terjebak di warung kopi. Hujan yang makin deras hampir saja membuatku lupa kalau ini sudah dini hari. Penunggu warung pun, kelihatannya sudah tertidur dari tadi. Sepi. Tak ada suara apa pun kecuali suaraku sendiri.

‘’Duh, orang-orang pada ke mana ya. Hujan tengah malam pula.’’ Padahal itu hanya gumaman belaka.

Perempuan itu seperti tak punya selera untuk bangkit dari duduknya. Dari sebuah batu besar dekat pohon cemara, di dekat gawang lapangan sepak bola. Rambutnya yang panjang dibiarkan kelihatan panjang. Tidak digelung. Aku ingin memanggil, tetapi tubuh ini terasa gigil. Gigi gemerutuk dan mata disengat kantuk. Biarkan saja ia di sana. Biarkan saja aku di sini.

Aku biarkan ia sendirian di sana. Apa toh urusanku padanya? Aku tak mengenal. Atau barangkali pernah kenal, tapi lupa. Ah, sudahlah. Apalagi dari mana ia berasal. Sungguh naif apabila aku tiba-tiba datang dan bertanya, misalnya: 
‘’Kok sendirian? Di mana suamimu?’’ iya kalau ia punya suami, kalau belum, pertanyaan ini pasti perlu diralat.

‘’Hujan-hujan begini, nggak kedinginan, Neng?’’ pastilah nanti aku dibilang sok akrab dan tentunya nyari perhatian. Ah, malas. Lagipula tak ada payung di sini, aku sedang tak selera mengganggu orang yang sendiri. Aku sedang tak ingin basah-basah malam ini.

Kuambil rokok dari bungkusnya. Kuambil satu. Dan memang dibungkus rokok itu cuma tinggal satu. 
Kusulut dengan perlahan. Waktu ini, yang hangat hanyalah nyala korek api. Asap rokok hanya sekedar asap. Tak ada pengaruhnya. Kuhembuskan asap dan membumbung ke atap. Seperti menghembuskan sebuah kesia-siaan. Sialan juga di sini aku terjebak rasa sepi. Rasa dingin yang menusuk pori-pori.

Aku melihat lampu-lampu yang semakin kelihatan buram. Hujan deras yang membuatnya begitu. Pohon-pohon jadi sekaku tugu. Aku melihat langit yang kelam namun tak berpetir. Ada juga ternyata masa-masa seperti ini: langit yang kelam, dengan deras hujan, namun tak berpetir. Aku kembali melihat batu besar di dekat pohon cemara, di samping lapangan sepak bola. Di mana perempuan itu?

Cepat sekali ia pergi.

***
Namaku Lihen. Tapi orang-orang memanggilku Cok Pintal. Tidak tahu kenapa. Namamu siapa? Kurang lebih seperti itulah aku memperkenalkan diri.

‘’Namaku Elisa, aku menyukai sunyi.’’

Aku menatapnya dengan luka. Dengan mata yang duka. Kok, ada perempuan secantik ini menyukai sunyi. Jangan-jangan ia sufi. Jangan-jangan ia penyair perempuan yang hilang sebagai diri. Ah, tidak. Aku pernah mendengar tutur kata orang: jangan membayangkan sesuatu yang bukan-bukan jika berdekatan dengan perempuan. Nanti urusannya bisa panjang.

Tetapi, Elisa ini memang sangat pendiam. Sekitar setengah jam, di antara kita tak ada pembicaraan.

‘’Kamu dari mana, Elisa? Kenapa malam-malam begini masih di taman sendirian?’’ kataku. Ragu-ragu. Memulai lagi pembicaraan.

‘’Aku sedang menunggu.’’ Jawabnya singkat. Jawaban yang menurutku kurang tepat.

‘’Ehm, menunggu siapa?’’

‘’Menunggu waktu.’’

‘’Maksudmu?’’

‘’Menunggu waktu membawa seseorang yang katanya akan menikahiku?’’

Aku tersentak. Sungguh puitis benar. Jangan-jangan ia memang penyair sungguhan. Aku ingin bertanya apakah ia menyukai puisi, tapi itu pertanyaan yang konyol dan kurang tepat kuutarakan malam ini. Singkatnya, ia menunggu seseorang yang sudah berjanji akan menikahinya.

‘’Lihen,’’

Aku kembali tersentak. Lamunanku buyar. Ia memanggilku. Sungguh, ia memanggil namaku. ‘’Ya, Elisa. Ada apa?’’

‘’Apakah benar katanya di taman ini, orang-orang menunggu memang hanya untuk disia-siakan penantiannya?’’

Tahu juga Elisa perihal cerita itu. Di taman ini, katanya -cerita ini aku dengar dari kawanku, setiap orang yang menunggu, memang akan dikhianati. Perjanjian sudah pasti akan diingkari. Entah kenapa,
sudah banyak korbannya. Tetapi, korban-korban itu memang orangnya tidak tahu. Sedangkan Elisa?

‘’Kamu sudah tahu tentang taman ini. Tapi kenapa malah menunggu di sini?’’ heran, aku utarakan pertanyaan.

‘’Maka dari itu, Lihen. Aku ingin membuktikannya.’’ Gila! Sungguh gila. Ada orang semacam ini.

Menanti seseorang untuk disiasiakan.

‘’Aku tak percaya. Itu cuma mitos belaka, Lihen.’’

Aku ingin bicara panjang lebar. Tentang contoh-contoh orang yang menjadi korban di taman ini. Aku sendiri misalnya, setiap kali janjian dengan seeorang untuk ketemuan di sini, pastilah gagal. Orang yang kutunggu tak pernah datang. Akhirnya beginilah jadinya, sampai sekarang aku tak punya pasangan. Aku ingin menceritakan itu, tetapi barangkali cuma dianggapnya konyol. Aku buru-buru pamit.

‘’Semoga berhasil penantianmu.’’ Kataku singkat. Ia tak mengangguk tak juga menjawab. Sorot matanya tajam seolah sebagai jawaban bahwa orang-orang terlalu sentimentil terhadap cerita yang tidak masuk akal.

Keesokannya juga seperti itu. Di sana dan menunggu. Sepuluh tahun kemudian masih tetap begitu. Seperti tak membutuhkan apa-apa kecuali menunggu hampa. Tetapi tidak. Ia menyerah. Sungguh kasihan. Padahal ia kelihatan betul perempuan yang setia dan kesetiaannya tanpa minta balasan. Sungguh jahat laki-laki yang ia tunggu. Sungguh jahat.

Merasa iba, kutemani dirinya berminggu-minggu. Kurang lebih sepuluh minggu. Setelah kurayu-rayu, akhirnya ia mau menikah denganku. Umurnya sudah sekitar tigapuluh lima tahun, dan umurku
sembilan tahun lebih tua darinya. Dunia memang cepat berubah dan cepat berlalu. Dan tentu, di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tak pernah kita tahu.

Setelah kunikahi, ia sering kuajak menonton bola. Duduk bersama di batu besar dekat cemara di samping lapangan. Agar ia mencintai keramaian. Ia bahagia, aku juga. Tetapi kebahagiaan itu singkat
saja. Tak tahu kenapa, pada malam yang biasa, artinya malam yang masih memunculkan gemintang, rembulan, dan tentu saja gelap dan kunang-kunang, ia bunuh diri. Lehernya ia gantungkan di temali yang diikatkan ke wuwung rumahku, yang itu rumahnya juga, sewaktu aku berangkat ke warung kopi.

Mungkinkah ia tidak bahagia bersamaku, dan kelihatan tawanya itu memang berpura-pura? Mungkin saja ia masih memendam dendam pada lelaki yang katanya akan menikahinya. Mungkin saja ia tak menerima takdir ini. Sejak saat itu, aku kembali sendiri. 

Cepat sekali ia pergi.

***
Malam ini juga seperti itu. Perempuan berambut panjang kembali di situ. Seperti menanti seseorang yang memang tak untuk datang. Malam ini seperti malam kemarin, hujan. Musim hujan memang seringkali mengundang hujan malam-malam. Bedanya, sekarang masih banyak orang.

Mungkin sedang terjebak hujan atau memang enggan pulang. Orang-orang itu bergerombol di dalam warung. Aku sendirian di sini, di beranda warung. Ia sendirian di sana, tapi aku tak hendak menemuinya. Untuk apa?

Seperti dalam puisi, ia menangis di tengah hujan. Agar airmatanya menyatu dalam rintik air dari langit itu dan orang-orang akan mengira ia baik-baik saja. Tetapi, siapakah namanya? Aku malah ikut-ikutan menangis. Orang-orang pada memperhatikan. Tapi aku tak perdulikan. Orang-orang memang seringkali sentimental terhadap orang lain menangis yang kelihatannya tanpa sebab. Aku tandaskan kopi. Aku habiskan rokok ini. Biar semua tahu, aku tak punya teman lagi. Sendiri. Seperti perempuan itu yang sedang menunggu. Sendiri.

***
Alangkah malangnya nasib Lihen. Di warung kopi ia menemani sunyi. Setiap malam, ia selalu di warung itu. Warung dekat lapangan bola. Ia terus saja memandangi batu besar di dekat pohon cemara. Orang-orang tak mengerti apa yang dilihatnya. Kadang-kadang ia menggumam sendiri. Kadang menangis sendiri. Dan pandangannya selalu ke situ saja. Seperti memandang sesuatu yang hampa. Maklum saja, ia sudah gila. Tak ingat apa-apa semenjak ditinggal istrinya. (92)

Oktober 2015

Daruz Armedian, mahasiswa filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan aktif mengelola Komunitas Sastra Sunnatunnur (KontraS).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Perempuan Berambut Panjang dan Lelaki Sunyi"