Perempuan Penunggu Laut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Penunggu Laut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Perempuan Penunggu Laut

SETIAP senja, setiap matahari tenggelam, ketika warna jingga masih menggantung, aku selalu membayangkan dia akan muncul perlahan-lahan dari laut, berjalan ke pantai berpasir putih, dan dengan segala basah yang masih menempel di rambutnya, baju putih yang membungkus tubuhnya, dan celana jins pendek yang tak penuh menutup kedua pahanya, dia akan naik ke atas rumah papan di mana aku sudah menantinya.

Tetapi senja ini, entah mengapa, tak seperti senja-senja sebelumnya, dia tak terlihat keluar dari air laut dan berjalan menyusuri pasir pantai.Juga tak ada jejak kakinya yang meninggalkan pasir di pintu depan, karpet ruang tamu, juga kamar tidur. Tidak juga ada jejaknya ke arah kamar mandi di dalam kamar.

Dia benar-benar tak datang hari ini seperti yang diucapkannya kemarin sebelum meninggalkan pintu, berjalan menuju pantai, masuk ke laut, dan hilang bersama cahaya matahari.

“Mungkin aku tak datang besok.“

“Kamu berjanji akan menemaniku setiap hari selama aku di sini,“ kataku sambil menarik tangannya.

“Kadang-kadang, ada hal yang tak terduga dan tiba-tiba. Tapi kupastikan, besok aku tak datang...“

“Kenapa?“ “Tak bisa kuceritakan kepadamu.“

“Apakah semalam aku menyakitimu?“ Dia menggeleng. “Barangkali kita harus bisa belajar untuk memahami apa pun yang terjadi.Termasuk jika tiba-tiba aku tak bisa datang menemui atau tiba-tiba dalam waktu yang lama kamu tak bisa menemuiku.“

“Aku akan memberikan seluruh waktuku untuk bersamamu.“

Dia menggeleng. Kedua telapak tangannya memegang kedua pipiku, kemudian mencium bibirku. “Aku juga menginginkan itu, tapi mungkin apa yang kita inginkan akan berbeda dengan apa yang terjadi.“

“Aku akan menyusulmu ke dasar laut, “ suaraku terdengar emosional.

“Mungkin sebelum sampai dasar laut, ikan-ikan sudah menghabiskan dagingmu. Kemudian ikanikan besar akan menelan tulang-tulangmu hingga tak tersisa.“

“Kau akan menyelamatkanku jika ikan-ikan itu menyerangku.“

“Aku tak bisa selalu ada untukmu...“

Dia kemudian melangkah meninggalkan pintu, berjalan menuju pantai, masuk ke laut, dan hilang bersama cahaya matahari.

Aku merasa kehilangan yang sangat. Tubuhku menggigil dan aku harus bekerja keras agar air mataku tak tumpah. Apakah aku akan kehilangan dia lagi seperti sekian tahun lalu ketika air bah menghantam kotanya dan membawanya pergi dari hidupku?
“Aku akan tinggal di dasar laut bersama ikanikan, cumi-cumi, dan bintang laut. Mainlah jika engkau ada waktu,“ katanya dalam sebuah mimpiku sesaat setelah gempa menghancurkan kotanya dan air bah menjadikan kota paling utara di tanah Perca itu menjadi danau besar.

*** 
Ini cerita tentang sebuah pertemuan. Kau juga akan menemukan serpihan-serpihan kesepian.Juga tentang hidup yang saling meninggalkan.Saling meninggalkan. Bukan hanya ditinggalkan, melainkan juga meninggalkan.

“Aku jatuh cinta pada radio sejak kecil,“ katanya suatu kali. Apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar seorang perempuan seperti dia menyukai radio?
“Radio 2 band merek National masih kusimpan hingga kini. Masih terawat dengan baik. Suaranya masih jernih seperti ketika ayah membelikannya untukku dulu. Seperti masih baru.“

Aku mendengarkan ceritanya dengan saksama pada sebuah senja di taman bunga dekat kompleks perumahan kami.

“Pasti sering kamu dengarkan lagu-lagu dangdut kesukaanmu ya?“ Aku menggodanya.

“Jarang sekali. Kalau mendengarkan lagu dangdut, cukup dari rumah tetangga yang setiap hari memutarnya dengan suara yang sengaja dikeraskan.Saat pertama kali ayah membelikannya, kugunakan 2 jam untuk mendengarkan laporan pandangan mata final Liga Indonesia antara PSIS Semarang melawan Persebaya Surabaya yang dialihkan ke Stadion Klabat, Manado.“

“Hahahaha... Dasar kutu bola. PSIS pasti menang, kan?“ “PSIS juara. Ketika itu, Diego Tugiyo menjadi pahlawan.“

Hari itu, lebih separuh waktu pertemuan habis untuk mendengar ceritanya tentang sepak bola, tentang kecintaannya kepada PSIS, pada Roberto Baggio yang khas dengan kuncir kudanya, pada kesedihannya saat kiper harus berhadapan dengan penendang penalti, atau pada tangis haru para suporter saat timnya kalah.Banyak orang mengatakan perempuan yang menyukai sepak bola sangat aneh, tapi aku suka hobinya itu. Setiap berada di Semarang, dia akan selalu datang ke Jatidiri untuk menyaksikan pertandingan PSIS, dalam kejuaraan apa pun.

“Lalu, mengapa kamu sedih setiap melihat kiper harus berhadapan dengan algojo penendang penalti?“ “Sepak bola kadang sangat kejam. Kesalahan yang kadang tak dilakukan oleh seorang kiper, tapi kiper harus menanggungnya. Kalau dia mampu menggagalkannya, itu biasa saja. Si penyerang yang akan menjadi pahlawan karena dia pencetak golnya. Tapi kalau dia gagal, dia akan dibilang goblok.“

Aku melongo. Sebegitu jauh dia mencoba masuk dalam filosofi yang memang tak berpihak kepada kiper itu.

*** 
Kecintaannya pada radio yang kemudian membuat dia memilih meninggalkanku. Setelah sekian lama bekerja paruh waktu sebagai penyiar radio di kota kami, hidupnya seolah-olah hanya digunakan untuk mencintai tiga hal, yaitu sepak bola, radio, dan aku. Setiap kami bertemu, ceritanya tak jauh seputar radio, sepak bola, dan rasa cintanya yang katanya terus bertambah padaku.

Suatu hari dia bilang, seorang teman mengajaknya membuat program radio komunitas di Banda Aceh, yang kemudian akan berpindah ke kota-kota lain seperti Pidie, Meulaboh, Kotacane, dan beberapa tempat lainnya. “Boleh ya aku pergi ke sana? Ini program kemanusiaan. LSM temanku di Jakarta mendapat dana untuk membantu memulihkan psikologi masyarakat di sana yang begitu lama tertekan akibat perang.“

“Kalau aku tak mengizinkan?“ “Aku tetap akan ke sana.“

“Kalau begitu tak perlu minta izin padaku, dong.“

“Memang tadi aku minta izin?“ Dia memencet hidungku, kemudian tertawa.

“Kamu kuat jauh dariku dalam waktu begitu lama? Lalu kepada siapa kamu nanti bercerita tentang Roberto Baggio-mu?“ “Kan kita bisa berteleponan, bisa berkirim surat, bisa berkirim e-mail.“ Aku tahu jika dia memiliki keinginan yang mampu mengalahkan keinginannya untuk selalu dekat denganku, berarti itu memang luar biasa baginya.

“Boleh ya?“ katanya merengek manja.

“Lho, katanya tak butuh izinku.“

“Aku kan bercanda.“

Dia kemudian pergi bersama beberapa temannya ke kota itu. Aku mengantarkannya ke Jakarta. Aku juga mengantarkannya ke bandara, melihat pesawatnya lepas landas.

“Jangan nakal ya. Aku pasti kembali. Ingat, saling meninggalkan bukan berarti sebuah perpisahan,“ katanya sebelum masuk ke pintu menuju pesawat.

Aku tak tahu dia mencomot kata-kata itu dari mana. Aku sempat mengacak rambut pendeknya dan memeluknya. “Iya, saling meninggalkan bukan berarti sebuah perpisahan. Jaga dirimu baik-baik,“ bisikku di antara pelukan kami.

*** 
Dia sering menelepon bahwa programnya lumayan berhasil. “Kami masih kerja serabutan. Kadang aku jadi penyiar, kadang jadi programmer.“

Di lain waktu, dia bercerita tentang eloknya tanah ujung itu. “Kamu harus menyusulku ke sini. Nanti kuajak ke Stadion Harapan Bangsa. Kamu pernah lihat Stadion Ali Sami Yen di Instanbul, markas Galatasaray, kan?
Arsitektur Stadion Harapan Bangsa mirip stadion itu. Saat berada di dalamnya, serasa berada di Ali Sami Yen versi mininya.“

Di kesempatan lain, dia bercerita tentang perasaan tenangnya ketika salat di Masjid Baturrahman. “Aku merasa nyaman, tenteram, dan damai di dalam masjid itu. Aku berdoa panjang, salah satunya doa tentang cinta kita. Aku bersyukur bisa mencintaimu.“

Hampir setiap hari dia mengabarkan apa pun aktivitasnya. Hingga pada suatu hari Minggu pagi dia mengatakan tanah yang diinjaknya bergoyang dan pembicaraan di telepon kami terputus.

Aku masih ingat persis mimpiku malam itu ketika aku tahu kabar tentang air bah yang menenggelamkan kotanya. “Aku akan tinggal di dasar laut, bersama ikan-ikan, cumi-cumi, dan bintang laut. Mainlah jika kau ada waktu.“

Itulah yang membawaku ke kota ini, tinggal di sebuah pantai, dan setiap sore menunggu kedatangannya. Aku selalu membayangkan dia akan muncul perlahan-lahan dari air laut, berjalan ke pantai berpasir putih, dan dengan segala basah yang masih menempel di rambut, baju putih yang membungkus tubuhnya, dan celana jins pendek yang tak penuh menutup kedua pahanya, dia akan naik ke atas rumah papan di mana aku sudah menantinya...

Hary B Kori'un telah menerbitkan enam novel. Ia tinggal di Pekanbaru. Novel terkininya ialah Luka Tanah (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hary B. Kori'un
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 22 November 2015 

0 Response to "Perempuan Penunggu Laut"