Perjalanan dalam Kabut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perjalanan dalam Kabut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:16 Rating: 4,5

Perjalanan dalam Kabut

DEBUR ombak terdengar berkejaran. Suara itu seperti telah menyatu dengan denyut jantungnya sendiri. Tak pernah henti. Terus berdebur. Terus berdenyut. Menyadarkan bahwa ternyata ia masih hidup. Meski semula, sejak niat pertama melayarkan raga yang tengah didera hampa, ia mengira akan segera mati ditelan hujan badai Laut Jawa.

’’Buktinya kau masih bisa sampai ke sini, Le,’’ suara pamannya mengiang. Itu percakapan sewaktu ia pertama kali singgah di kediaman Raden Umar Sa’id.

’’Itu berarti kau masih diberi kesempatan. Jangan sia-siakan kesempatan itu, mengerti?’’

’’Aku sampai di sini karena marah, Paman. Bukan karena yang lain. Tolong jangan pengaruhi aku untuk hal-hal yang lain,’’ elaknya.

Sang paman langsung tertawa, seraya bangkit dari duduk, ’’Siapa yang menggerakkan, siapa yang digerakkan, dan untuk apa digerakkan, kau akan segera tahu nanti. Kemarahanmu itu, sementara lah saja, anakku. Aku tahu, sebenarnya kau ke sini hanya karena ingin melihat pemandangan indah kan?’’ lelaki itu berjalan ke tubir bukit, seolah sengaja agar Amir Hasan dapat menemukan permadani hijau berselimut kabut putih yang menghampar di bawah sana.

Amir Hasan, pemuda yang sempat membuat pangling pamannya itu hanya diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri seraya melawan gigil akibat sergapan hawa puncak Gunung Muria yang dingin.

’’Kau marah karena romomu?’’  Tebakan jitu Raden Sa’id seperti tangan yang membuka penyumpal pancuran. Cerita pun segera mengucur deras dari bibir Amir Hasan. Terselang-selingi kalimat bahwa romonya egois, kolot, tak mengerti anak muda. Lelaki muda itu tak memberi sedikit jeda untuk pamannya bisa menyela.

Semuanya bermula ketika romonya mendapatkan panggilan dari Raden Fatah, yang konon demi mengemban tugas memimpin jemaah haji ke Mekkah. Agar proses belajar-mengajar di pesantren tetap lancar, Raden Ja’far Shodiq memberi kepercayaan kepada Amir Hasan untuk menggantikan posisinya sebagai pemegang kendali pesantren.

Amir Hasan tak pernah berpikir seserius itu. Ia bahkan sering beranggapan bahwa dirinya belum cukup umur, dan pesantren bukanlah hal penting yang mesti diperhatikan. Karena itulah ia membebaskan siapa pun untuk melakukan apa pun yang diinginkan, termasuk menutup kitab-kitab kuning untuk sementara waktu, hingga romonya pulang. Bukankah dalam belajar, mestinya juga ada jeda waktu untuk sekadar menghibur diri demi melawan bosan? Namun ternyata itu tak berlaku bagi romonya. 

’’Sifat itu dibentuk dari pembiasaan. Bagaimana kau bisa mengatur banyak orang jika kau sendiri tak bisa merubah kebiasaanmu sendiri? Apa kau pikir mereka datang ke tempat ini agar dapat bersenang-senang, begitu?’’ romonya pulang dengan amarah, setelah mendapatkan pengaduan dari beberapa santri yang tak suka dengan polah tingkah Amir Hasan selama memimpin pesantren.

Tapi Amir membantah, bahwa seharusnya di sela jam belajar bolehlah seorang santri melepaskan diri dari kepenatan. ’’Apa kau pikir mereka sama dengan dirimu?’’

Amir tetap kukuh mempertahankan pendapat, bahwa semua idenya kemarin tak ada yang salah. Ia memang sengaja membuka jam adu laga bagi santri setiap pekannya, demi mencari teman terbaik yang bisa dijadikan teman bermain kanuragan. Ia juga memberi kebebasan untuk tak mengikuti pelajaran yang tak disukai, sehingga berkuranglah jumlah santri yang mengaji pada jam-jam pelajaran tertentu. Mereka justru penuh saat Amir Hasan memamerkan kebolehannya bermain gendhing, adu laga, adu renang di Kali Gelis, hingga adu berburu. Jumlah ‘murid’ Amir pun mendadak mengalahkan jumlah murid beberapa guru pengganti yang sudah ditunjuk sang romo. Berangkat dari kenyataan itulah Amir berkesimpulan bahwa beberapa aturan yang diterapkan romonya sungguh tak berpihak kepada para santri. Lagipula, kenapa juga kemarin beliau memercayakan amanat itu kepadanya kalau hanya berakhir kemurkaan?

Mendengar itu, semakin terbakarlah Raden Ja’far Shodiq. ’’Jika kau tak bisa mengikuti aturan-aturanku, pergilah saja sana! Tak usah jadi anak Ja’far Shodiq lagi!’’

Kalimat itu seolah meruntuhkan langit yang menaungi Amir. Rasanya ia telah benar-benar kehilangan seorang romo. Pernah juga tebersit hasrat untuk kembali pulang ke Kudus. Itu ketika ia tahu ada santri yang diutus romonya menghadap Raden Umar Sa’id demi menanyakan kabar keberadaannya. 

Ternyata romonya tak benar-benar membiarkannya pergi. Ternyata romonya tak benar-benar ingin membuang dirinya. Jadilah Amir Hasan semakin kerasan tinggal di puncak Muria, dengan niat ingin
menyiksa romonya dengan rasa rindu. 

’’Baiklah. Lantas apa yang ingin kau lakukan di sini?’’ Raden Umar Sa’id tersenyum menyadari bahwa kemenakannya hanya berniat ‘memberi ganjaran’ romonya.

Amir Hasan tersenyum puas tatkala sang paman bilang akan memberinya kebebasan. Hari-hari di bulan pertama, ia nikmati kebebasan itu sepuas-puasnya, seolah ingin menebus tahun-tahun sebelumnya di rumah sang romo yang penuh kekangan. Di puncak Muria, kesenangannya berburu bahkan semakin menjadi. Amir juga begitu antusias menggembleng kemampuan kanuragannya dengan sang paman yang juga ahli olah kanuragan. Konon, sang paman pernah mengalahkan Maling Kapa juga Gentiri dengan mudah saat mempertahankan Dewi Sujinah sebelum kemudian menjadi istri. Meski Amir tahu, bahwa kemampuan sang paman kalah jika dibanding kemampuan romonya yang pernah menjadi panglima perang Demak Bintara saat membela diri dari Majapahit, bahkan konon juga pernah ditugasi dewan Wali Songo menghukum mati Syekh Siti Jenar serta Ki Ageng Pengging (murid Siti Jenar) yang juga dikenal memiliki kesaktian.

Entah kenapa romonya justru tak memberinya kebebasan dalam hal itu dan lebih menyuruhnya tekun terhadap kitab-kitab kuning yang membosankan. Berjalan bulan, rasa bosan mulai menggerogoti ketenangan Amir Hasan. Kebebasan yang dulu sempat diinginkannya justru kemudian membuatnya serasa terombang-ambing di atas samudera kekosongan.

Ya, seperti saat ini. Raga Amir Hasan tengah terombang-ambing di atas lautan. Ia biarkan perahu yang menampung raganya terbawa ombak ke mana pun arus menuju. Ia sedang menunggu meski bisa
dibilang tidak menunggu. Ia mulai mengerti tentang apa yang pernah diujarkan Raden Umar Sa’id kepadanya, dulu ketika ia berada dalam masa-masa kritis kebosanan.

’’Hidup itu seperti samudera. Ombaknya tak akan henti silih ganti menerjangmu selama kau masih bernapas. Ragamu perahu. Rohmulah pengemudinya. Kalau pengemudinya tak memiliki kemampuan mengendalikan perahu secara baik, tentu saja ia akan terus terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas. Belajarlah mengemudikan perahumu dulu. Baru kuizinkan kau berlayar ke samudera sana,’’ suara Raden Umar Sa’id timbul tenggelam di antara debur ombak Laut Jawa.

Ia sempat mengira bahwa sang paman hanya berusaha dengan halus menariknya ke dunia yang tak ia sukai itu. Kitab-kitab dan aturan-aturan yang ujung-ujungnya hanya untuk mengikat kedua kaki, tangan, bahkan pikiran. 

’’Nanti setelah kau pergi berlayar bebas, kau akan tahu, Le,’’ jawab Raden Umar Sa’id seolah berjanji bahwa segala hal yang ia ajarkan kepada Amir hasan di puncak Muria akan berguna pada masanya.

***
’’Kau ingin pulang?’’ Amir Hasan menggeleng tegas.

’’Kau tak kangen ibumu?’’ Amir hanya diam, tak mau menemui wajah sang paman.

’’Baiklah. Aku mengerti bahwa jiwa mudamu masih ingin terus melihat seberapa luas dunia ini. Pesanku, jangan lupakan semua yang telah kau pelajari di sini. Aku minta, bawalah teman agar aku tak serta merta kehilangan dirimu, agar aku bisa mempertanggungjawabkanmu kepada Kangmas Ja’far Shodiq.’’

Amir tersenyum mendengar itu. Meski tak mau dianggap seperti anak kecil, tapi ia bersyukur juga.  Setidaknya ia bisa mengajak dua sahabat karibnya untuk mengukur kekuatan seberapa tabah kakinya menjejakkan langkah. Di penghujung musim penghujan yang masih menebarkan hawa dingin, rom-
bongan kecil anak-anak muda itu pun berangkatlah. Keluar masuk dusun, hutan, naik turun bukit, sungai, hingga kemudian berakhir di sebuah pantai yang menghentikan langkah mereka. Tempat yang menjadi ujung dari daratan yang telah mereka jelajahi.

’’Kita namai Jung Poro saja, Gus,’’ usul salah seorang karib Amir Hasan atas empat tak bernama itu. 

’’Inilah ujung  daratan yang kita tempati. Inilah ujung dari petualangan kita, Gus.’’

’’Tentu saja kita akan terus ke depan,’’ sahut Amir Hasan.

’’Menyeberangi lautan, Gus?’’

’’Kalau kau takut, kau boleh pulang ke pesantren lagi,’’ ejek Amir Hasan.

’’Kami sebenarnya hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang Raden cari dalam perjalanan ini?’’ karib yang satunya lagi bermaksud membela kawannya.

Amir Hasan diam, tak mau jawab. Dia memang merasa belum menemukan sesuatu yang dapat memenuhi ruang kosong dalam dadanya. Meski sakit hatinya dengan sang romo sudah hampir hapus terlupakan. Tak ada yang mengerti tentang hal itu. Sebenarnya ia tak hendak memaksa kedua karibnya untuk ikut perjalanan dalam kabut ini. Tapi mereka memang karib yang setia.

Kekosongan itu semakin menguar tatkala hujan badai mengacaukan pelayaran mereka di suatu malam. ’’Kita pulang saja ya, Gus,’’ ujar salah satu karib, yang terdengar seperti rengekan seorang anak kecil di telinga Amir.

Bahkan ketika badai itu mengirim berduyun ombak yang sepakat hendak menenggelamkan perahu mereka, Amir tetap berkeras dengan pendirian. Perjalanan itu harus terus ke depan, pantang surut balik ke belakang. Tapi pertanyaannya-sama seperti yang pernah ditanyakan dua karib setianya itu, sebenarnya apa yang ia cari dalam perjalanan tersebut? Harta? Jelas bukan lantaran itu. Ketika perahu mereka berhasil menepi ke sebuah pulau yang tiba-tiba muncul dari balik kabut sehabis hujan badai, mereka bahkan tidak memiliki apa pun yang bisa dirampok oleh serombongan orang yang mengaku sebagai perompak. Ia sering tersenyum sendiri ketika ingat orang-orang liar itu tak percaya dan memaksa Amir beserta dua karibnya melucuti pakaian demi menemukan keping emas atau uang yang disembunyikan. Tak ayal duel pun terjadi, tak peduli jumlah lawan yang tak seimbang. Ketika orang-orang liar itu takluk-setelah kalah duel, dan menyatakan rela menyerahkan hidup mati mereka kepada
Amir Hasan, saat itulah jawaban itu tiba-tiba muncul. Tumbuh, dan semakin tumbuh memenuhi dada Amir Hasan.

’’Sekarang kalian pulanglah. Tolong ceritakan keberadaanku di sini kepada Paman Umar Sa’id. Sampaikan rasa terima kasihku karena beliau telah mengajariku ilmu kanuragan sekaligus ilmu kehidupan. Katakan bahwa aku sudah menemukan apa yang aku cari selama ini. Dan aku akan menetap di sini.’’

Di atas perahunya yang mengapung, Amir Hasan tengah merunut masa lalunya. Ia tak lagi sedang dalam perjalanan sekarang. Ia juga tak sedang memancing atau menjala ikan seperti semua muridnya yang kemudian berubah haluan menjadi nelayan. Tak ada lagi kejahatan di pulau tak bernama itu. Kini semua saling berlomba menyuburkan kebaikan. Sejak kepulangan dua karibnya beberapa hari
silam, Amir Hasan memang selalu menunggu. Menunggu yang kadang tak sekadar menunggu.

Pagi itu, kebahagiaan akhirnya datang menghampiri. Sebuah perahu yang bergerak mendekat membuatnya termangu. 

’’Gus AmirÖ?!’’ sebuah teriakan yang ia kenal ketika jarak tak lagi menjadi masalah bagi penglihatan. 

’’Jadi inikah pulau kremun-kremun itu?’’ tanya Raden Umar Sa’id setelah memuaskan rasa kangen dengan sang keponakan. ’’Aku hampir tak percaya, bagaimana bisa kau malah betah tinggal di tempat sesepi ini?’’

Cerita pun meluncur deras dari bibir Amir Hasan. Bahagia kentara benar terasa ari nada bicaranya.

’’Apa kau tak ingin pulang menemui romomu?’’ sela Raden Umar Sa’id. 

Tiba-tiba bibir Amir Hasan mengatup. Cukup lama. Kedua matanya tergenang air mata. ’’Apa kau tak ingin menikah? Setelah mengetahui keberadaanmu, kabarnya Kangmas Ja’far Shodiq langsung mencarikan calon istri buatmu’’

Kalimat itu langsung bersambut tawa dari semua yang hadir. Cahaya pagi begitu cerah menyinari pulau itu. (92)


Nur Hadi lahir di Jepara,1 Januari 1982. Tahun 2010, ia masuk nominasi Krakatau Award. Cerpennya pernah dimuat di berbagai media massa di Tanah Air dan sejumlah kumpulan cerpen. Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya Akademi Menulis Jepara. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam (Nur Hadi)
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 1 November 2015

0 Response to "Perjalanan dalam Kabut"