Peti Mati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Peti Mati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:23 Rating: 4,5

Peti Mati

SIANG itu, Samdhi, seorang perajin peti mati yang sudah sangat tua dan terlampau pikun. Akibatnya sering lupa, apakah ia sudah makan atau belum? Bahkan dengan nama dan usianya sendiri. Ia duduk melamun di beranda rumahnya. Di samping tempat ia duduk, beberapa peti mati berjajar dan bertumpuk rapi, berselimut debu-debu setebal bedak seorang pelacur. Bangunan hotel-hotel baru menjulang tinggi, membuat rumah Samdhi tampak teronggok yang hanya merusak pemandangan saja.

Entah karena kepikunannya atau memang sudah terlalu lama, Samdhi lupa kapan terakhir kali menerima pesanan. Akhir-akhir ini pekerjaannya hanyalah melamun. Pelanggan-pelanggannya yang dulu setia, kini lebih memilih datang ke toko baru di kampung sebelah. Mereka menggunakan mesin yang sangat canggih. Tidak seperti ia yang hanya mengandalkan alat-alat sederhana dan kedua tangannya yang telah payah sehingga membuatnya beberapa kali kena semprot pelanggan karena pesanan yang tak kunjung jadi. 

Namun, ia sepenuhnya sadar dan mengakui. Jika dibandingkan dengan milik toko baru itu, peti-peti mati buatannya memang terlampau kuno dan ketinggalan zaman. Tak ada ukiran-ukiran indah. Tak ada nilai seninya.

***
Kemarau panjang seakan tiada berujung. Meski sedang tidak bekerja, tubuh rapuh Samdhi tetap saja basah oleh keringat. Bukankah seharusnya sudah musim hujan? Samdhi mencoba mengingat-ingat, tapi kepalanya malah terasa pusing. Beberapa kendaraan dan orang yang tidak ia kenal memenuhi jalan depan rumahnya yang dulu sepi. Suasana menjadi begitu gaduh karena bunyi klakson yang tidak mau berhenti. Tapi Samdhi tidak peduli. Ia tak lagi peduli pada kota yang telah menjadi begitu asing baginya. Panas, macet dan tidak lagi nyaman.

Sebenarnya, Samdhi juga tidak begitu khawatir dengan kelangsungan hidupnya. Tak ada lagi harapan-harapan yang ingin ia wujudkan. Sudah lama ia hidup sebatang kara. Sejak ditinggal mati istrinya, hidupnya menjadi begitu akrab dengan kesepian, kesederhanaan, bahkan kesengsaraan. Kini ia hidup hanya untuk sekadar menunggu mati. Hanya saja, ia belum terbiasa melewatkan hari tanpa mengerjakan apa-apa. Sungguh, sejujurnya ia sudah bosan melamun. 

***
Tanpa terasa senja tiba. Cahayanya begitu hangat ketika menerpa wajah tua Samdhi. Ia tersenyum, teringat sesuatu. Pernah suatu ketika, di tepi rel kereta, ia duduk berdua dengan almarhum istrinya. Mereka berdua sama-sama fans fanatik senja.

"Tahukah engkau, Sayangku. Dari mana sesungguhnya cahaya senja itu berasal?"

Istrinya hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Memangnya dari mana?"

"Dari lantai surga yang bocor," jawabnya serius. 

"Hahaha...," Istrinya tertawa, "Dasar! Ada-ada saja."

"Aku serius. Buktinya, salah satu bidadarinya bisa turun dan menemaniku duduk di sini."

"Ahhhh, Sayang..."

Senyum manis dan pukulan-pukulan manja saat itu masih tersimpan rapi di ingatannya. Wajahnya begitu cantik, dan tak pernah berkurang sedikit pun sampai terakhir kali ia melihatnya di pemakaman. Ah, betapa ia sangat merindukannya. Ingin rasanya ia segera menyusulnya ke surga. Menikmati senja di pinggir rel kereta. Hanya berdua dengannya.

Tapi,apakah di surga ada senja dan rel kereta, ya? Lagi-lagi Samdhi tersenyum. Entah mengapa ketika mengenang masa-masa indah itu, dadanya terasa begitu hangat. 

***
Sampai pada akhirya, terdengar suara yang mengagetkan Samdhi. 

"Selamat sore, Pak."

Dipandanginya tamu yang datang tiba-tiba itu. Meski pandangan matanya sudah mulai kabur, namun samar-samar Samdhi masih bisa melihat sosok yang entah sejak kapan telah berdiri di hadapannya. Seorang lelaki tua. Sekilas nampak mirip dengannya. Mungkin mereka seumuran. Bedanya, tamu itu masih terlihat segar. Badannya tegap dan tampak sehat. Pakaiannya serba putih. Begitu rapi. Wajahnya bercahaya.

Wah, pasti orang kaya, pikir Samdhi polos.

"Jika bapak tidak sedang repot menerima banyak pesanan, bolehkah saya memesan peti mati di sini?" Tanya tamunya sopan.

Samdhi tertegun. Mencoba mengingat-ingat sesuatu. Aneh, ia merasa tidak asing dengan suara tamu itu. Tidak, bukan hanya suara, tapi juga wajah dan tatapannya. 

Ah, mungkin pernah bertemu di suatu tempat, pikirnya sederhana.

"Ehm, berapa ukurannya, Pak? Panjang dan lebarnya?"

"Kebetulan ini untuk saya sendiri. Jadi, silakan bapak ukuran saya," jawab tamunya santai.

Samdhi kembali tertegun. Terlihat begitu bingung, juga tak tahu harus berkata apa. Melihatnya seperti itu, tamunya malah tersenyum ramah dan menepuk pundak Samdhi dengan halus.

Di saat yang hampir bersamaan, gerimis datang mengetuk-ngetuk genteng rumah samdhi. Suara ketukan-ketukan hujan yang lembut, mengingatkan pada suara istrinya saat membangunkannya di pagi hari. Kini, entah mengapa, perasaan Samdhi mendadak menjadi jauh lebih tenang.

"Apakah salah jika saya ingin mempersiapkan kematian saya sendiri? Sebaik mungkin. Sejak dini?"

"Ehm..., emh..., emh..., tentu saja tidak," jawab Samdhi tergagap-gagap, "Sebentar, akan saya ambilkan alat pengukurnya di belakang."

Tak lama kemudian Samdhi telah hilang di balik pintu rumahnya. Kepikunannya memang sudah benar-benar kelewatan. Sampai-sampai ia tidak mengenali dirinya sendiri. Di tengah-tengah suara hujan yang semakin menderas, tamu itu --yang sebenarnya adalah maut yang sedang menyamar--berusaha sekuat tenaga, menahan dri agar tidak tertawa saat melihat Samdhi sibuk mengukur tubuhnya sendiri. Membuat karya terakhirnya: sebuah peti sederhana untuk kematiannya yang sunyi.

***
Sementara itu, nun jauh di surga, istri Samdhi tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya saat melihat langit yang semakin gelap. Ia memang sudah terlampau lama menunggu. Menenggelamkan diri sepenuhnya di dalam lautan waktu. Hingga tak terhitung lagi berapa banyak kereta yang telah lewat di hadapannya. Dalam hari ia terus berkata, "Cepatlah, Sayang. Cepatlah datang. Karena sebentar lagi senja akan berganti malam..." []-o

Wonosari, 5 September 2014 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Azwar R Syafrudin
[2] pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 15 November 2015 


0 Response to "Peti Mati"