Pulang [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:11 Rating: 4,5

Pulang [1]

Meiska selalu merindukan kabut pagi. Kabut pagi yang menghubungkan kekinian dengan masa lalunya, desanya, ayam-ayamnya, simbok-nya. Tapi, Meiska selalu gagap dengan waktu. Karenanya, dicobanya mencari sisa-sisa kabut pagi, meski mentari telah lingsir ke arah barat.

Siang itu, kembali Meiska melakukan rutinitasnya setelah bangun tidur, memburu kabut pagi yang masih tersisa. Hati-hati ditapakinya jalan menurun menuju danau. Sepenggal jalan setapak itu terasa licin siang ini. Tadi pagi hujan deras mengguyur seluruh wilayah Sentani, membuat segalanya menjadi basah. Hujan juga turut membasahi jalan setapak yang keseluruhannya berupa tanah lempung kemerahan. Demi menjaga keselamatannya sendiri, diangkatnya dasternya sampai ke lutut, sementara tangannya yang lain mencengkeram juluran cabang mengkudu yang menjorok turun sampai ke tepi jalan setapak.

Danau sepi siang itu. Sedemikian sepinya, sehingga seolah-olah hanya dirinya makhluk hidup di danau yang membentang panjang hingga menembus dua kabupaten. Angin barat bertiup lembut menimbulkan riak-riak halus di seluruh permukaan danau. Meiska menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap nyanyian alam yang terpantul dari perjalanan sang bayu melintasi pokok pohon sagu, pucuk-pucuk daun bambu, dan meliuk tipis menyentuh padang ilalang di wilayah lain di seberang danau menimbulkan suara ’woooo’ yang luar biasa halusnya. 

Pelan tapi pasti, disusurinya jalan berbatu menyisir tepian danau menuju ceruk di sisi kanan dari jalan setapak. Meiska suka ceruk itu. Tempatnya sedemikian elok, melengkung, dengan rerimbunan pohon beringin di atasnya. Membuat siapa pun yang beraktivitas di sekitar ceruk, tak tertangkap oleh mata orang-orang di atasnya.

Meiska mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi, menengok ke segala arah, memastikan tak ada seorang pun di danau, sebelum akhirnya mencopot dasternya. 

Setelah menyampirkan daster dan handuknya di juluran cabang ketapang, ia mencelupkan kedua kaki ke kehangatan air, lalu turun perlahan, mencari tempat landai di dasar danau yang bisa dijejaknya. Air pelan-pelan menelan tubuh mulusnya, menyisakan wajahnya yang sibuk menatap dengan rakus seluruh kekayaan danau.

Sejak menjadi salah satu penghuni lokalisasi ini, tak sekali pun Meiska bosan pada danau ini. Ia suka ceruk ini, mandi paginya yang kelewat siang dan nyanyian alam yang selalu menyuguhkan melodi berbeda setiap hari. 

Meiska mencoba merebut diri sejatinya dengan rutinitas ini. Saat berada di ceruk ia bukanlah Meiska sang primadona, tetapi gadis cilik yang mencoba menelusuri dengan mata jernihnya anak-anak ayamnya pergi mengekor sang induk menembus kabut pagi atau melihat simbok-nya sibuk merawat pohon-pohon apel mereka.

Saat ini telinganya mencoba menangkap suara yang sangat diakrabinya bertahun-tahun lalu, rekaman suara dari masa kecilnya, suara ’krrr... krrr...’ dari induk ayam, memanggil anak-anaknya terkasih. Tapi, hari kelewat siang. Mentari telah lingsir ke arah barat, membentuk bayangan tipis yang condong ke sisi sama. 
Sudah barang tentu tak tersisa kabut apa pun baginya.

Setengah putus asa diturunkannya seluruh tubuhnya ke kedalaman, menyelam di kehangatan air, menangkap ketiadaan bunyi yang menyuguhkan kedamaian yang lain. Saat timbul kembali, matanya menangkap sorot mata laki-laki tengah menatapnya. Mata bulat jernih milik laki-laki asing itu menyorotkan kekagetan yang sangat. 

Meiska terkejut. Laki-laki itu sama terkejutnya dengan sang primadona. Sedetik kemudian laki-laki itu menurunkan matanya, menutup sesuatu yang terlihat seperti kotak abu-abu, memasukkannya ke dalam tas plastik hitam, dan segera berlalu dari sana. Meiska, didorong oleh keterkejutan dan keheranan, berusaha mengejarnya. Tak pernah terjadi ada laki-laki lari terbirit-birit, ketika bersua dengan pekerja seks komersial sepertinya di tempat semacam ini. Segera disusurinya jalan yang barusan ditapakinya, mencoba mengejar sosok asing itu. 

“Hei… tunggu!”

Pria asing itu tak mengacuhkannya. Ia pergi sambil mendekap tas plastik hitamnya erat-erat di dadanya.
Meiska terus memanggilnya. ”Hei... hei... tunggu... tunggu sebentar!”

Laki-laki itu tak berniat menghentikan langkah.

Saat sampai di atas, di dataran luas tempat lokalisasi itu berdiri, tak didapatinya sosok yang dicarinya. Sosok laki-laki muda dengan mata terkejut yang misterius itu seolah-olah raib ditelan bumi. Justru yang tampak adalah sorot mata kagum tiga laki-laki pedagang bakso dan mi goreng yang tengah sibuk menyiapkan dagangannya di salah satu sudut kompleks.  

Meiska tersadar akan keberadaannya. Di satu sisi, ia tahu entah telah berapa banyak laki-laki yang menikmati tubuhnya dan hafal setiap bagiannya. Tapi, momen ini adalah bagian dari upacara. Bagian dari kesendiriannya yang paling pribadi. Ia tak ingin siapa pun menikmati dirinya dan tubuhnya, meski tanpa disengaja. 

Dipelototinya mereka. Rasa kesal yang sangat mendesak-desak di dalam dadanya, “Apa lihat-lihat!?”

Ketiganya kaget. Tidak biasanya seorang pekerja seks komersial marah ketika diperhatikan. Tapi, mereka tahu betul Meiska dan kebiasaan ganjilnya. Maklum, mereka pun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari danau dan lokalisasi ini. Entah kenapa, menangkap aura mistis gadis muda itu, ketiganya memalingkan wajah dan dengan salah tingkah kembali menyibukkan diri ke pekerjaan semula. 

Meiska kembali ke danau, terpeleset sedikit di jalan setapak menurun, menimbulkan garis-garis merah di salah satu bagian pahanya. Tapi, ia tak peduli. Sampai di ceruk, diambilnya handuknya. Dengan sembarangan dikeringkannya tubuhnya, memakai kembali dasternya dan berjalan cepat ke rumah besar.

Ia berpapasan dengan Vero yang tengah menenteng seekor cakalang besar menuju dapur. Meiska menyusulnya. Sesungguhnya di luar jam operasional, rumah-rumah di tempat lokalisasi yang tersebar merata di wilayah ini, tak ubahnya seperti tempat tinggal para perumah tangga pada umumnya. Vero, sahabatnya seprofesi, mulai sibuk dengan kebiasaannya yang lain selepas bangun tidur. Memasak. 

Vero terlihat berantakan siang itu. Rambutnya awut-awutan. 

T-shirt tipisnya melorot menampakkan sebagian besar buah dadanya. Celana pendeknya sama kusutnya dengan rambutnya dan terpasang miring pada pinggangnya yang tak bisa dikatakan langsing itu. Melihatnya seperti ini, apa bedanya Vero dengan ibu rumah tangga jorok lainnya yang sedang sibuk memasak di dapur? 

Kemarin pagi ia sudah berpesan pada Yitno, si pedagang ikan, untuk membawakannya seekor cakalang. Ia ingin mengolah cakalang ini dengan bumbu woku khas daerahnya. Vero meletakkan ikan segar itu di baskom, meraih pisau besar dari dinding dan segera berjongkok di lantai. 

Meiska mengekornya dan ikut-ikutan berjongkok di sampingnya. Disentuhnya cakalang itu dengan telunjuknya. Dagingnya kenyal. Dibukanya salah satu bagian kepalanya. Insangnya terlihat merah segar, menandakan ikan itu baru ditangkap nelayan semalam.

“Ko (kamu) kenal laki-laki…,” Meiska berhenti, tergagap. Ingin ia menambahkan keterangan yang ini, “Laki-laki dengan mata terkejut, tetapi teduh….” Tapi, kalimat terakhir ini hanya berputar-putar di otaknya.

“Apa? Laki-laki mana? Ada banyak laki-laki di sini mulai dari yang godek, gendut, sampai yang kerempeng.”

“Laki-laki...,” Meiska berhenti lagi. Sulit memang mendeskripsikan sosok laki-laki asing yang telah menggetarkan hatinya dalam kata-kata. ”Trada (tidak), ah….”


Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [1]"