Pulang [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:23 Rating: 4,5

Pulang [3]

Sejak saat itu Meiska punya kebiasaan baru, diam-diam mencari dan menemui Anton yang suka juga menyendiri di danau selewat siang. Seperti juga siang itu. Meiska berenang diam-diam, berusaha meredam suara sekecil apa pun. Diseberanginya ceruk itu menuju ke rerimbunan rumpun bambu, tempat biasanya Anton berada. Meiska tak mencopot dasternya. Entah kenapa, berhadapan dengan laki-laki muda bermata teduh itu, timbul rasa malunya.

“Aha…!” teriak Meiska, saat muncul dari permukaan air. Ia mencoba mengejutkan dan menangkap basah Anton yang sedang sibuk dengan kotak abu-abunya. 

Pemuda itu luar biasa kaget. Sejak Meiska sering muncul tiba-tiba, Anton jadi suka berpindah-pindah tempat menyendiri, berharap tak bersua dengan gadis muda yang menggelitik hatinya itu. Ia pun mulai memasang kewaspadaan baru untuk tak begitu gampang ditemukan. Tapi, Meiska telah lama berubah menjadi gadis yang gesit dan gampang menyelinap, pun di kedalaman danau. Tak sulit baginya menemukan Anton.

Melihat si gadis muncul tiba-tiba, Anton segera menutupi kotak abu-abunya dengan plastik hitam yang selalu dibawanya “Bikin kaget saja, Dek.”

Meiska tertawa. Ada sesuatu dari laki-laki muda ini yang membuat Meiska merasa aman berada di dekatnya. Anton tak seperti laki-laki lain yang biasanya dengan sengaja menatapnya dengan sorot mata lapar. Kebiasaannya yang suka menyendiri dan sikap anehnya yang begitu rapat menyimpan kotak abu-abunya membuat hati Meiska tergelitik. Di antara sekian banyak daya tarik yang ada padanya, Meiska sangat menyukai sorot matanya. Pemuda ini memiliki sorot mata teduh seperti yang dipunyai mbah buyutnya.

“Mas… kenapa, sih, Sampean (kamu) jauh-jauh merantau ke Papua?” tanya Meiska, beberapa saat setelah duduk di samping Anton. Ditekuknya lulutnya dan ditatanya sedemikian rupa daster basahnya untuk menyamarkan lekuk tubuhnya.

Anton melengos, mencoba menghindar dari menjawab pertanyaan ini. Beberapa saat kemudian ditatapnya Meiska. Sejak awal ingin ia bertanya mengapa juga gadis secantik ini sampai tersasar ke lokalisasi di Papua? Kesempatan ini akhirnya tiba. Meiska yang membuka jalan baginya. 

“Sampean (kamu) juga, Dek, kenapa merantau jauh ke sini?” Anton berusaha menghindari kata pekerja seks komersial.

Kali ini Meiska yang melengos. Matanya menerawang jauh ke depan. Alam raya terpampang di depannya. Coba ditelurusinya danau perawan yang sejak bertahun-tahun begitu diakrabinya. Meiska menarik napas panjang. Ingin ia melupakan masa lalunya. Penggalan kisah indah masa kecilnya adalah milik pribadinya yang paling dalam. Kini pertanyaan lembut laki-laki muda ini justru mengusik ketenangannya. Apa yang tersisa dari masa lalunya?

Ia ingat benar saat itu. Simbok-nya yang terbiasa berangkat pagi-pagi ke kebun apel, tak beranjak dari ranjangnya. Ia tak hendak ke sana hari ini. Juga esok dan esoknya lagi. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya dengan sepenggal kebun apel kecil di sebuah desa kecil di wilayah Malang yang menjadi tumpuan hidup keluarga. 

Musim lalu ia telah meminjam dana untuk membeli obat-obatan bagi pohon apel-pohon apelnya pada seorang rentenir. Betapa sintingnya ketika ia mendapati barang-barang yang sangat dibutuhkannya itu melonjak tinggi harganya. Padahal, pohon apel tak akan bertahan hidup tanpa benda-benda ajaib itu. Betapa lebih sintingnya lagi, ketika didapatinya harga jual apel anjlok di pasaran. Kejadian berikut sudah bisa diduga, keluarga sederhana ini terbelit utang mencekik yang sulit terbayarkan.

“Nggak ke kebun, Mbok?”

Simbok hanya mengelus rambut anak gadisnya dengan wajah mendung. Inilah awal yang membuat gadis ini memutuskan merantau ke Surabaya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bila kemudian kesasar sampai Papua, ini cerita lain lagi yang merupakan rangkaian panjang kisah klise para gadis seperti dirinya yang terdampar di tempat seperti ini. 

“Ini karena Parmin,” jawab Meiska ketus, saat akhirnya terlempar ke kekinian. Teringat ia akan kakak temannya sesama pembantu, yang menawarinya pekerjaan sebagai pelayan toko di Makassar. 

Bujuk Parmin kala itu, ”Gajinya satu juta. Lumayan, ’kan?”

Meiska tergiur. Gaji itu empat kali lebih besar daripada gajinya sebagai pembantu. Ia segera mengatakan ’ya’ atas tawaran Parmin. Sementara Parmin tak menyia-nyiakan kesempatan dengan segera mengontak Bari.

Tapi, Makassar hanyalah nama khayalan, karena di tiket kapal yang dipegangnya, tertera tulisan Sorong. Meiska tak punya wawasan apa pun tentang Sorong. Dalam bayangannya, Sorong adalah nama lain Makassar. Lalu, ia mendapati dirinya terdampar di sebuah kelab malam bersama dua gadis sebaya sesama pembantu, setelah kapal merapat di Sorong. Belakangan baru disadarinya Sorong adalah sebuah kota besar terbarat di Papua. Kapan itu? Meiska tak ingat lagi dan tak ingin mencatat peristiwa apa pun setelahnya.

“Parmin? Kenalan Adek?”

Meiska mengangguk.

“Meiska….” Suara yang sangat diakrabinya memanggilnya. Itu suara serak Vero dari atas. “Meis….”

Meiska mendongakkan kepala. Tak terlihat sosok Vero dari bawah sini. Tapi, suaranya menggema sampai ke kuping dua manusia di bibir danau itu. “Sampean dicariin, Dek.”

“Yo…. sa di sini, ada apa?”

“Dicari Kaka Bari.”

“Huh,” dengus Meiska, sebal. ”Ada perlu apa lagi orang itu.”

Tak urung ia beranjak juga. Tak ada seorang ’anak asuh’ pun yang bisa dan berani melawan perintah mucikarinya. Diseberanginya lagi penggal danau menuju jalan setapak yang menjadi penghubung danau dengan kompleks lokalisasinya. 

”Capat (cepat) e!”

Teriak Meiska, “Sa… datang.”

“Ko dari mana? Mandi-mandi lagi di danau? Ingat... terlalu lama berendam di air bikin telinga rusak,” semprot Bari.

Meiska diam saja. Ia tak hendak berbantahan dengan sang mucikari, ketika laki-laki bertubuh gempal ini sedang kesal.

“Bapa Gunung tadi telepon…. Dong mau ke sini. Jadi ko dandan yang cantik dan jangan bertemu tamu lain,” sambung laki-laki itu, sambil beranjak pergi. Saat sampai di pintu keluar ia berhenti dan membalikkan badan. Ia melihat sembilan gadis di bawah asuhannya yang sedang duduk-duduk di ruang tamu. Ditatapnya mereka dengan sorot mata garang, “Kamorang, (kalian) masih ingat Sarce, toh. Pengorbanan yang sia-sia karena cinta.  Jangan lagi ulangi perbuatan anak itu.”

Siapa yang tidak kenal Sarce. Gadis manis asal Minahasa itu memutuskan untuk jadi istri baik-baik seorang sopir taksi antarkota. Satu setengah tahun kemudian ia kembali dengan anak di gendongan. Si sopir taksi main mata dengan gadis muda perantau baru. Sarce cemburu berat dan memohon untuk kembali ke kompleks. Bari tak berniat menerimanya kembali melihat tubuh subur Sarce dengan lambaian lemak di perut dan lengan atasnya. 

Meiska tak setuju dengan pendapat itu. Dalam kasus Sarce, ini karena suaminya saja yang tetap hidung belang setelah menikah. 

“Ko… ko… ko...,” Bari masih belum puas juga rupanya. Ia berkacak pinggang kini. Rupanya laki-laki tinggi besar itu sedang gusar. Tudingnya kepada para gadis itu, “Para perantau itu kenapa mau jauh-jauh kemari? Kenapa?”

Meiska mendesah, “Taratau.”

Vero mengangkat bahu. Yang lain diam. Mereka tahu benar Bari sedang kesal hati dan tak ingin mendapat masalah karenanya.

“Karena terpaksa. Karena kalah bersaing dengan orang-orang bermutu di daerah masing-masing,” sahut Bari, ketus. 

Bari ingat dengan dirinya sendiri. Sebagai centeng kelas kambing di sebuah lokalisasi di Surabaya, kedudukannya selalu terancam. Inilah sebabnya ia mau saja merantau jauh-jauh dan menjadi penguasa tunggal di kompleks lokalisasi di Papua. Pada akhirnya ia berhasil membangun kerajaan kecil dengan sejumlah mucikari yunior di bawah asuhannya. 

“Juga tukang bakso itu.”

Pipi Meiska memerah ketika jati diri Anton disebut-sebut. Ingin ia menyahut. Tapi diurungkannya niatnya, begitu melihat sorot mata liar Bari.


Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [3]"