Pulang [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:24 Rating: 4,5

Pulang [4]

“Ko, pacaran deng (dengan) Antonkah?” tanya Vero, habis Bari berlalu.

Pacaran? Kata apa itu? Tapi, Meiska mengakui bahwa dirinya merasakan getar-getar yang aneh, ketika berdekatan dengan satu-satunya laki-laki yang sejauh ini tidak berniat menjamah tubuhnya. “Taratau.”

“Bagaimana taratau. Setiap hari kalian  ketemu di danau.”

Meiska mengangkat bahu dan berlalu meninggalkan rasa penasaran yang sangat di benak teman-temannya.

“Tong su jatuh cinta, tho,” komentar seorang gadis, entah siapa.

”Hak asasi itu.”

“Betul... tapi Anton itu cuma pembantu tukang bakso. Jadi dong semiskin-miskinnya laki-laki. Sa tra suka begitu.”

Meiska berenang diam-diam. Di akhir ceruk ia menarik napas dalam-dalam, menyelam dan melesat naik dengan luwes ke bawah rerimbunan pohon bambu. Sesaat kemudian Meiska membuka matanya dan tertegun. Tempat itu kosong. Tak dijumpainya sosok yang dicarinya. Ini kali kesekian sejak pertemuan terakhir mereka dan Anton tak berada di sana. Meiska mendesah resah. Ia berenang kembali ke ceruk, naik ke permukaan dan berjalan ke daratan. Kali ini tujuannya jelas menuju ke tempat tinggal para pedagang.

Tak boleh ada satu pun manusia yang meremehkan para pedagang. Berkat para pedaganglah nadi kehidupan berdenyut. Para pedagang menyusup ke mana-mana, ke daerah rawan, ke medan perang, dan ke kompleks-kompleks lokalisasi. Juga di sini. 

Entah sejak kapan para pedagang itu ada. Bisa jadi mereka ada bersamaan dengan berdirinya lokalisasi ini. Mereka datang dari berbagai tempat di Indonesia. Meski memiliki beragam dialek bahasa dan kebiasaan hidup berbeda, semuanya berjuang demi tujuan yang sama: mengumpulkan rupiah untuk hidup.

“O… lihat siapa yang datang,” celetuk seorang laki-laki yang sedang tidur-tiduran santai di sudut barak.
“Mimpi apa tong semalam, ditengok bidadari?” katanya lagi.

Meiska tak peduli. Ia terlalu sering mendengar komentar nakal sehingga kupingnya sudah terbiasa. 
Disapunya barak dengan matanya. Tak didapatinya sosok yang dicarinya. Meiska keluar. Diputarinya barak menuju ke lapak-lapak pedagang berada. 

Meiska bersua Sule di Lorong. Sule kaget dan mencoba menghindar dengan pura-pura tak tahu kehadirannya. Sesaat Sule hendak berbalik, tapi sudah terlambat.

“Pak,” gamit Meiska, menghentikan Sule yang tengah memanggul sekarung tepung tapioka. Laki-laki paruh baya ini adalah majikan Anton. “Bapak lihat Antonkah?’

Sule memandang Meiska dengan mimik ngeri, “O… eh....”

Meiska mengernyitkan kening, mencoba memahami jawaban Sule yang terdengar samar-samar. Sule balik menatapnya. Tertampak olehnya wajah rindu Meiska yang coba ditutup-tutupinya. Sule pernah muda dan pernah merasakan jatuh cinta. Timbul rasa kasihan Sule kepadanya. 

Di sisi lain, Meiska merasa sehati dengan Sule, karena berasal dari Jawa. Tak peduli bahwa Meiska datang dari Malang dan Sule berasal dari wilayah bernama Banyumas yang bahasa dan dialeknya sudah sangat berbeda. Sehingga, dalam keseharian keduanya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia agar bisa saling mengerti. Solidaritas kedaerahan itu begitu terasa bagi para perantau seperti mereka di daerah ini.
Hati Sule luruh. Akhirnya ia menunjuk ke satu arah, “Di sana.”

Maka, di sinilah Meiska. Duduk tepekur di bangku panjang, di balik barak para pedagang, menunggui Anton yang sedang sibuk membanting-banting adonan bakal butiran bakso. Meiska menunggu saat yang tepat untuk bicara. 

Setelah menunggu beberapa waktu, kesempatan itu akhirnya tiba. “Mas ndak ke danau lagi?”

“Ndak sempat, Dek. Mas Sule banyak pesanan.”

Hening yang membekukan. Anton kembali pada pekerjaannya, mengangkat adonan bakso yang sebagian besarnya adalah kanji basah berbumbu dan membantingnya ke dalam baskom berulang-ulang. Baskom itu melenting ke atas sebelum berdebam turun menimbulkan suara ribut. 

Anton tahu, di kotanya para pedagang bakso tak lagi membuat adonan dengan cara semacam ini. Ada sejumlah pengusaha penggilingan daging di sana. Ke sanalah para pedagang bakso itu menuju. 

“Sampai kapan?”

“Hah?’

“Pesanannya… sampai kapan?”

Anton menghentikan pekerjaannya. Keringat menetes dari keningnya, punggungnya. Tetesan keringat yang lain mengalir turun dari pucuk hidungnya. Laki-laki ini benar-benar banjir keringat, yang mampu melelehkan hati Meiska. 

Tanpa menatap, Meiska mendengar suaranya. Rendah. Ragu-ragu,  “Ndak tahu aku… coba Adek tanya langsung ke Mas Sule. Dia yang tahu.”

Meiska menyerah. Kesan dingin yang menguar dari ucapan Anton, menyurutkan hati Meiska. Ia segera berdiri dan berlalu. Setindak dua tindak Meiska berhenti dan menoleh, “Kalau sudah ndak… eh... Mas masih mau ke danau? Maksudnya kalau sudah ndak repot?”

Anton mengangguk. Gamang. 

Hari menjelang pagi, ketika Sule membuka realitas yang lain. Ini tentang Meiska. Di pagi buta itu Sule bertutur dalam bisik, dibarengi rasa ngeri yang terpendam. Bahwa Meiska itu tambang uang terbesar Bari. Kehadiran Bapa Gunung adalah salah satu dampaknya. Karena, bukan Bapa Gunung satu-satunya pemuja Meiska. 

Bapa Gunung, pejabat teras tertinggi di salah satu pedalaman Papua, terhitung sebagai pelanggan boros. Ia sering membawa oleh-oleh apa saja di akhir lawatannya ke berbagai kota besar di Indonesia.

Ini cerita basi sebenarnya. Tapi, dampaknya nyata. Bari kecipratan rezeki tentu. Salah satunya? Pesta. Bapa Gunung kerap membawa serombongan pejabat untuk berpesta. Semua terlibat dan ikut kecipratan rezeki: Bari, para gadis yang lain, dan para pedagang. Sejujurnya, pesta itu membuahkan hasil berlimpah hanya dalam semalam ke berbagai pihak. 

Sule menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Ia termasuk beruntung, karena bisa menyewa ruang sempit yang bisa dipakai berdua dengan Anton. Sehingga, ia bisa terhindar tidur di barak berbau apak bersama pedagang lain. Di pagi buta ini ancaman Bari terdengar nyata baginya.“Ton… kalau bisa, kamu hindari Meiska.”

Suara bergetar Sule membuat bergidik seluruh tubuh Anton. Ia perantau baru. Sementara tempat ini begitu asing baginya. Tempat ini, sebagaimana lokalisasi lain di seluruh dunia, punya nilai-nilainya sendiri di luar nilai-nilai orang normal. Sampai saat ini Anton tak tahu persis sejauh mana keabnormalan itu berlaku.

Anton mengangguk dalam gelap.

Sule tahu betul kegusaran Bari. PSK yang sedang jatuh cinta bisa merusak keseimbangan. Kalau jatuh cinta pada langganan kaya, masih wajar.  Tapi, jatuh cinta pada laki-laki miskin semacam pembantu tukang bakso yang tak akan mengalirkan fulus, sungguh itu kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. 

Dalam kasus Meiska, dampaknya jelas. Mulai muncul dalam dirinya rasa malas melayani para pelanggan. Ini sudah terjadi. Sudah dua kali Meiska mangkir menemui Bapa Gunung dengan alasan sedang datang bulan dan sakit kepala. Akibatnya jelas. Pemasukan menurun. Tak heran bila Bari kerap marah-marah akhir-akhir ini.

Sule membayangkan ngerinya bila terusir dari tempat ini. Berjualan di sini bisa mendatangkan keuntungan dua kali lipat dibanding di luar kompleks. “Kalau bisa, ndak usah ke danau dulu.”

Anton terkesima dalam gelap. Muncul rasa penasarannya. Selain Sule, siapa lagi yang tahu kebiasaan-kebiasaannya?


Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [4]"