Pulang [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:27 Rating: 4,5

Pulang [5]

Suara merdu Once, vokalis grup band Dewa, dari compact disk, membahana memenuhi rumah besar. Ini Jumat malam. Jam di dinding menunjuk angka sebelas lebih empat puluh lima menit. Sebagian besar tamu belum beranjak pulang. Malam masih terlalu awal bagi mereka. Meiska menggeser sedikit duduknya, menjauh dari Bapa Gunung yang sedari tadi mendekapnya. 

“Bapa ada bawa oleh-oleh dari Jakarta,” bisik Bapa Gunung. 

“Oya… apa itu, Bapa?” Mata Meiska berbinar mendengar kata ’oleh-oleh. Jujur Meiska mengakui, selain uang dan benda-benda, tak ada lagi yang menarik pada diri laki-laki ini.

“Tutup mata.”

”Jangan begitulah, Bapa.”

”Ayolah... ini spesial, Nona.”

Meiska menutup matanya. Riang. Sambil memendam penasaran yang sangat akan oleh-oleh yang akan didapatnya. Meiska tahu betul kebiasaan Bapa Gunung. Bila hendak memberikan hadiah yang sangat khusus, ia selalu meminta Meiska menutup mata terlebih dulu. 

Setelah yakin perintahnya dituruti, Bapa Gunung merogoh saku celana dan menarik keluar sebuah kotak kecil berwarna merah cerah. Dengan gerakan lambat disorongkannya kotak merah itu ke dalam genggaman Meiska. Kemudian bisiknya di telinga  gadis itu, “Nah… sekarang Nona boleh buka mata.”

Pelan Meiska membuka mata. Diangkatnya tangannya. Terkesima. Tertampak olehnya kotak merah cerah berukuran sedang yang baru diberikan Bapa Gunung kepadanya. Dengan hati-hati dibukanya tutup kotak itu. Sesaat Meiska tergagap, “Oh….”

“Bagaimana?” Bapa gunung menanti komentarnya.

Di telapak tangannya terlihat sebuah jam tangan yang luar biasa indah. Ini sejenis jam tangan yang biasa dilihatnya diiklankan di televisi. Meiska tahu itu karena beberapa kali melihat iklannya. 

Sekali lagi Meiska mengamati hadiahnya dan tak habis dibuat kagum karenanya. Ia duduk terenyak di sofa. Meiska tahu benar harga jam tangan ini. Puluhan juta rupiah. Maklum, di setiap bagiannya tertata rapi kristal-kristal swarovsky yang cantik. Meiska menarik napas panjang. Baru sekali ini ia memperoleh hadiah sedemikian besar. 

Meiska berteriak girang. Beberapa gadis yang berkumpul di ruang tamu melirik hadiah mewah di tangan Meiska. Timbul rasa iri dalam diri mereka atas keberuntungan yang selalu datang padanya. 

Sebagian dari mereka telah lama bermimpi bisa mendapatkan keberuntungan yang sama. Hanya, mereka sadar betul, dibandingkan Meiska, mereka kalah jauh. Singkat kata, dibanding Meiska, mereka hanya kelas teri.

Bapa Gunung merasakan kegembiraan itu. ”Nona suka?”

”Suka sekali. Ini luar biasa indah, Bapa.”

Anton menahan napasnya melihat itu. Sudah sering ia masuk ke berbagai wisma-wisma di kompleks lokalisasi itu. Tapi, melihat dengan mata kepalanya sendiri pujaan hatinya berdekatan dengan pria lain, darah mudanya mendidih.

Buru-buru diangkatnya mangkuk-mangkuk bakso yang telah tandas isinya dari atas meja. Ditumpuknya mangkuk-mangkuk itu di atas nampan yang tadi dibawanya. Segera diraihnya botol-botol kecap dan saus. Ditumpuknya juga di samping mangkuk dan segera berlalu dari sana. Sedetik kemudian ia telah terbebas dari neraka itu. Di luar segera saja gelap malam menelannya. Hanya cahaya lampu di lapak-lapak para pedagang yang menyala terus hampir sepanjang malam menjadi penunjuk arah ke mana seharusnya ia menuju.

Anton berjalan bagai terbang. Ingin ia berlalu dari tempat itu, dari Meiska sang pengkhianat, dari Sule dan dari dunia.

“Mas…,” seseorang memanggil. ”Mas....”

Gemuruh di dada Anton menutup indra pendengarannya. Ia tak menyurutkan langkahnya.

“Mas Anton… tunggu.” 

Meiska berlari cepat mengejar Anton, menggamit tangannya. Napasnya memburu. Saat yang digamit bergeming, Meiska berlari ke depan mencoba meredam langkah Anton.  “Mas… maaf… maaf.”

Anton mengernyitkan kening. Wajah pucat Meiska terpantul cahaya rembulan. Riasan tebalnya tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Melihat itu Anton terenyuh. Kesadarannya tiba-tiba mengalir kembali ke dalam dirinya. Sejak awal ia tahu betul pekerjaan gadis ini. Mengapakah kini kecemburuan mampu mencuri kesadarannya membuat dirinya diombang-ambingkan rasa marah?

Anton melunak. Ia menyurutkan langkah. “Ada apa?”

Meiska kehilangan kata. 

Anton menunggu.

Sesaat di ruang tamu rumah besar ia terkesiap melihat kemunculan pemuda itu. Kemunculan tiba-tiba setelah setengah bulan berlalu di tempat yang tak diduganya. Meiska bisa menangkap kemarahan Anton, ketika melihatnya bersama Bapa Gunung. Karenanya, ia minta izin keluar sebentar. Ingin ia menjernihkan apa yang terjadi. Kalau bisa.

Bapa Gunung sempat terheran-heran melihat gadis itu lari keluar halaman.

Saat akhirnya pemuda yang dirindukannya itu benar-benar di hadapannya, Meiska justru kehilangan kata. Saat akhirnya bisa menguasai diri, Meiska berbicara sekadar untuk mengeluarkan jejalan rasa yang menyesakkan dada. “Aku mau ke danau pagi-pagi. Mas bisa?” Kepada Anton, Meiska selalu menggunakan dialek lokal daerahnya. 

Kesadaran Anton kini pulih sepenuhnya. Teringat ia akan cerita Sule. Akan anak-anaknya yang masih keci-kecil yang ditinggalkannya di sebuah kampung miskin di Wonosari, Gunung Kidul, dan istri Sule yang pasti tengah bergulat dengan ladang tandus mereka. 

“Aku ndak bisa, Meis.”

“Kenapa ndak bisa, Mas?” Meiska berkeras. Secara otomatis Meiska menggunakan logat Jawa-nya kembali, ketika berbicara dengan orang sesama sukunya. 

Anton bungkam. Sungguh tidak tepat menceritakan ancaman itu kepada gadis ini. Biarlah ini jadi rahasia Sule dan Anton saja. Tapi, tak ada yang bisa dirahasiakan di kompleks ini. Segala gerak-gerik dan intrik bisa dibaca dengan jelas. Juga oleh gadis cantik berwajah dewi ini.

“Ini karena Kaka Bari, ’kan?”

Anton memilih tetap bungkam.

”Kaka Bari mengancam Mas?

Anton tak ingin berkomentar.

“Mas… jangan takut… Kaka Bari pasti sudah tidur saat kita ke danau.”

Anton menggeleng-gelengkan kepala. Pantulan cahaya bulan memperjelas kernyit di hidungnya dan ketegasan sikapnya. Ini berbeda benar dengan deraan rindu di wajah Meiska. 

“Aku tunggu di tempat biasa. Pukul lima,” putus Meiska akhirnya, sambil berlari kembali ke rumah besar.

Vero menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap suara sekecil apa pun di pagi buta itu. Tak lama terdengar suara kunci diputar perlahan dan derit pintu dibuka dari arah kamar Meiska. Pelan-pelan ia beranjak turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya sendiri. Mengintip. 

Dari kamar yang lain muncul Meiska dengan dandanan lengkap dan baju yang dipakainya sejak semalam. Terlihat Meiska berjingkat, menapak pelan-pelan menyusuri lorong menuju dapur, memutar kuncinya, membuka pintu dapur, menutupnya kembali dan keluar menembus dingin pagi.

Vero mendesah. Seperti perintah Bari, ia harus mengawasi Meiska dan mencegahnya melakukan hal-hal yang tidak perlu. Tidak hanya itu, ia juga harus melaporkan gerak-geriknya yang aneh kapan saja. Vero tahu, tidak biasanya Meiska kelayapan di pagi buta. Seperti juga dirinya, subuh adalah awal tidur sebagian besar penghuni kompleks.
Vero menguap menutup pintu kamarnya dan membaringkan diri kembali ke tempat tidur. Sebelum jatuh ke alam tidur, Vero menggumam sebal, “Orang mo pacaran saja tra boleh. Aneh.”



Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [5]"