Pulang [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:29 Rating: 4,5

Pulang [6]

Kabut pagi menyelimuti seluruh permukaan danau, membuat bumi terasa basah dan segar. Di ufuk timur semburat pertama sinar mentari mulai muncul ke alam raya. Sinarnya membentuk seleret panjang cahaya jingga sampai ke angkasa. 

Meiska membeliakkan mata. Inilah kabut pagi yang coba dicarinya selama ribuan hari di waktu-waktu yang salah. Kini seluruh jagat raya menyajikan keindahannya sendiri, putih, kelabu, dingin sekaligus menenteramkan. Meiska bernapas dalam-dalam, mencoba merasai kesegaran pagi. Di sebelahnya duduk Anton yang mencakung dengan canggung.

Meiska menyapu wajah pemuda itu. Tampak olehnya keseluruhan sosok Anton. Begitu muda, tampan, tegas sekaligus lembut. Belum pernah dalam hidupnya ia merasakan kerinduan yang memabukkan seperti saat ini. ”Mas sedang mikir apa?”

Anton menunduk. Diamatinya wajah Meiska yang tengah bersandar di bahunya. Rasa letih yang sangat terekam pada matanya. Anton tahu betul, demi saat ini, gadis muda ini rela memundurkan waktu tidurnya. Pagi adalah malam yang kelewat larut bagi Meiska. 

“Ndak kangen rumah, Meis?”

Meiska mendesah. Ingatannya segera melayang pulang dan mendarat pada sepetak kebun apel milik bapak dan simbok-nya. Saat kedua orang tuanya belum terjerat utang, kebun apel itu terlihat hijau sempurna. Itu menggambarkan optimisme dan keriangan keluarga sederhana ini. Meiska suka memandangi buah-buah apel bergelantungan di cabang-cabang pohon. Air liurnya keluar saat mengingat gerumbul buah apel Ana yang berwarna merah cerah, tapi rasanya luar biasa asam.

Rasa rindu memenuhi dadanya. Rindu akan kampung halaman dan seluruh isinya. ”Kangen tentu.”

Anton menguatkan hati. Sejak awal kedatangannya ke tempat ini, ingin ia menyampaikan yang satu ini. Puluhan hari telah berlalu. Ia belum mendapatkan kesempatan. Kini kesempatan itu datang tiba-tiba. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

“Ndak pingin pulang?”

Meiska terkesiap. Ditegakkannya tubuhnya. Ditatapnya wajah Anton lekat-lekat. Ada kesungguhan dalam kata-katanya. Meiska segera memalingkan wajah. Disapunya seluruh danau. Kabut pelan-pelan naik membuat bukit di seberang menjadi terlihat hijau kekuningan.

“Pulang?”

”Ya. Pulang.”

”Entahlah, Mas,” jawab Meiska gagap.

”Ini persoalan niat, Meis. Kalau kamu sungguh-sungguh menginginkannya, kamu pasti bisa pulang.”

Rasa ngeri menjalari dada gadis ini. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek untuk dilalui. Entah kenapa, setelah sekian waktu Meiska mulai mencintai tempat ini. Meiska merenung dalam-dalam. 

Vero heran melihat hasil kerja Meiska terhadap cakalang asap yang tengah disuwir-suwirnya. Cakalang yang telah diasap itu seharusnya disuwir-suwir, disobek-sobek, kasar, sebesar kelingking orang dewasa. Seharusnya Meiska tahu itu. Tapi, lihatlah hasil kerjanya kali ini. Meiska terus menyuwir lagi, lagi, dan lagi sampai suwiran itu menjadi luar biasa halusnya. Meski tidak berkenan, Vero membiarkan saja kerja amburadul itu. Vero tahu benar, bila sedang gundah, segala sesuatunya berakhir dengan chaos bagi Meiska. 

“Ver....”

“He-em.”

“Pernah terpikir untuk pulang?”

Vero menatap sahabatnya penuh kasih. Tujuh tahun bersama, sejak dari Sorong dulu, membuat keduanya bagai dua saudara sejiwa. Pulang, bagi wanita seperti mereka, bisa bermakna ganda. Pulang bisa berarti benar-benar pulang ke rumah orang tua di kampung halaman. Tapi, pulang pun bisa berarti berhenti dari pekerjaan maksiat ini. 

Vero mencoba menebak maksud pertanyaan Meiska dengan makna yang kedua. Dalam kasus dirinya, ia 
belum nenemukan cantelan yang tepat untuk ’pulang’. 

“Kenapa? Ada yang su ajak ko untuk kawinkah?”

Meiska menengadah, menatap langit-langit dapur yang menghitam karena jelaga. Pikirannya kembali menerawang ke pinggir danau. Kalau saja Anton menanyakan itu, dengan senang hati ia akan pulang, apa pun risikonya. Tapi, Anton, seingat Meiska, hanya membicarakan pulang, pulang yang sebenar-benarnya pulang alias kembali ke rumah bapak dan simbok-nya. 

Meiska menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maksudnya apa? Bolom (belum) ada yang ajak ko kawin?”

Meiska menengadahkan kepala, menatap Vero dengan wajah lugu. Kemudian, jawabnya lirih, “Sa tra tau.”

”Bagaimana tra tau mo bicara pulang?” 

Meiska kembali menggelengkan kepala. Kesedihan kini memenuhi dadanya. 

Vero berpikir keras. Bila demikian faktanya, pulang yang semacam ini sungguh berisiko. Pulang berarti menjadi pengangguran yang punya potensi kembali ke kehidupan miskin melarat di kampung halaman. Tapi, pikiran terakhir ini tak hendak dibaginya dengan Meiska. Melihat wajah berantakan sahabatnya, realitas sekecil apa pun yang coba didesakkan padanya akan membuat hati gadis ini hancur berkeping-keping. 

“Sudah… tra usah pikir macam-macam. Bawa sini itu cakalang... eee… ko su bikin cakalang jadi bubur.” 

Bagai robot Meiska mengangkat wadah berisi suwiran cakalang dan mengangsurkannya kepada Vero. Setelahnya ia kembali duduk di depan pintu masuk ke dunianya yang lain. Vero hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat itu.
“Halo, Nona-Nona… sedang mamasak-kah?” Tiba-tiba Bari sudah muncul di dapur. Dihampirinya Vero yang sedang bersiap menggoreng suwiran cakalang. 

“Su tau ada mamasak, pakai tanya-tanya.”

“Ah, cuma tanya saja, kenapa tra boleh,” jawab Bari, seenaknya. 

Bari tahu benar kekesalan Vero atas keisengannya. Tapi, apa pedulinya. Bagaimanapun, Vero adalah sebagian dari harta bendanya. Dilongoknya isi wadah yang tengah dipegang Vero. Ada suwiran cakalang asap di sana. Ia pasti akan memasak cakalang bumbu rica-rica. Segera terbit air liur Bari. Cakalang masak rica-rica adalah salah satu makanan kegemarannya, 

“Nanti boleh rasa-rasa sadikit?”

Vero mendelik. Tak sudi ia berbagi makanan dengan laki-laki itu. “Ko kaluar… ini tempat khusus wanita.”

“Jadi sa tra bisa minta sadikit?”

“Enak saja.”

Bari mengernyitkan kening sebelum akhirnya ngeloyor pergi dengan hati kesal. Sudah beberapa minggu ini baik Vero maupun Meiska bertingkah aneh-aneh. Ini sungguh mengesalkan hatinya. Sebagai preman profesional, tak hendak ia berpangku tangan. Ia sudah melakukan penyelidikan seksama. Mengerahkan orang-orangnya. Anehnya, ujung-ujungnya bermuara pada Anton. 

Ia tahu, ada ketidakseimbangan yang terbangun sejak kehadiran pemuda itu. Ada sesuatu yang aneh pada pemuda itu. Insting kriminalnya mulai mengendus sesuatu yang lain di balik kehadiran pemuda yang mulai digila-gilai anak asuhannya. Di matanya, Anton terlalu bersih dan santun untuk sekadar menjadi pembantu tukang bakso.

Di sisi lain, Vero mencoba menetralisasi rasa kesalnya. Meski sadar menjadi bagian kerajaan Bari, kedua gadis muda ini tetap menyimpan dendam atas preman asal Banyuwangi ini. Vero punya lukanya sendiri. Demikian juga Meiska. Dulu, di Sorong, Barilah yang merenggut kegadisan Meiska, kemudian menjual kembali ’kemurnian’ Meiska dengan harga tinggi kepada seorang pria tua mabuk dari pedalaman. Setelahnya, Vero mendapati wajah ketakutan, nelangsa dan putus asa Meiska. Ini gambaran wajahnya sendiri setahun sebelumnya di tempat yang sama.

Vero mengamati lorong rumah tempat Bari barusan melintas. Ia mengawasi dengan teliti, memastikan tak ada seorang pun di sana. Kemudian dihampirinya Meiska yang masih duduk tepekur di depan pintu. 

“Ko ditunggu Anton di tempat biasa. Pukul sembilan malam ini.”

“Apa?” Meiska hanya menangkap separuh penjelasan itu.

”Ssst... jangan keras-keras ko bicara. Nanti ada yang dengar.”

Sambil meredam gejolak di dadanya, Meiska bertanya lagi, “Anton mo ketemu sa? Kenapa dong ingin ketemu?”

“Mana sa tau… Anton cuma pesan itu.”


Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [6]"