Pulang [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:29 Rating: 4,5

Pulang [7]

Meiska belum pernah ke danau malam-malam. Tapi, tak ada yang ditakutkannya untuk ke sana. Terutama, bila untuk menemui Anton. Dengan hati-hati ditapakinya jalan menurun menuju danau. Ia telah terbiasa menapaki jalan ini. Sehingga, telapak kakinya bagai memiliki mata tersendiri.

“Meis…,” bisik seseorang, ketika terdengar langkah kaki mendekat. 

“Mas Anton?” balas Meiska lega, saat mengenali suara itu.

Cahaya bulan menerangi seluruh permukaan danau. Seleret cahayanya yang putih pucat jatuh di sisi barat danau membentuk tangga cahaya ibarat jalan turun para bidadari surga. Kekinian yang tersaji terasa lain, syahdu, hening, damai. 

Meiska menjatuhkan dirinya dalam pelukan Anton. Segera hidung mungilnya menangkap bau yang lain. Bau yang coba diresapinya dengan keseluruhan jiwanya. Bau jantan pria. 

Ditatapnya wajah pria ini. Belum pernah ia merasakan cinta yang begitu besar yang mampu memorak-porandakan hatinya. Biasanya, dialah yang memorak-porandakan hati pria.

Anton meraih Meiska. Memeluknya erat. Melepaskan kerinduan yang menyesakkan dadanya. Sesaat kemudian ia teringat akan tujuan utamanya memanggil gadis ini malam-malam ke danau. Ia melonggarkan dekapannya. Setelahnya sebelah tangannya merogoh kantong celana, mengaduk-aduk sebentar dan menarik sesuatu dari sana. Kemudian coba ditengadahkannya wajah Meiska. Sesaat ditatapnya mata jernih itu. 

“Meis… aku ingin kamu pulang.”

Meiska mematung. Tak tahu apa yang hendak dikatakannya. Coba ditatapnya mata Anton. Tapi, mata itu hanya memancarkan satu hal: kesungguhan. Meiska menarik napas panjang, bingung dan resah. Belum pernah dalam hidupnya ada seseorang yang memberinya perhatian berlimpah. Ini benar-benar jalan menuju surga yang penuh onak dan duri. Jalan ini sungguh membahagiakan sekaligus menakutkan baginya.

“Ini…,” kata Anton, sambil mengangsurkan lembaran kertas dan menjejalkannya ke tangan Meiska.

Meiska mengangkat tangannya. Bingung. “Apa ini?”

“Tiket.”

Meiska mengamati bundel kertas di tangannya. Jawabnya nanar, ”Oya... 

ini tiket.”

”Pulanglah,” tegas Anton. ”Seminggu dari sekarang.”

”Pulang, ya?”

Anton melihat keraguan pada diri gadis itu. “Aku ingin kamu pulang.”

Meiska menatap nanar tiket kapal penumpang yang akan membawanya ke Jawa. Wajahnya pias. Lintasan-lintasan pikiran membuat kepalanya pusing. Setelah tersadar kembali ditatapnya Anton dengan pikiran kalut. “Bagaimana ini? Kenapa harus terburu-buru?”

“Bagaimana apanya? Kamu sudah terlalu lama di sini, Meis. Mas tahu itu.”

Meiska tetap memendam kebingungan yang sangat. Telapak tangannya dingin. Hatinya sama dinginnya. Ternyata janji kebebasan sedemikian menakutkannya.

Anton ingin menepis keraguan gadis itu. ”Percayalah, Meis... pulanglah. Ini kapal penumpang satu-satunya sampai enam bulan ke depan yang berangkat di pagi hari. Ingat baik-baik, Meis. Aku tak mungkin selamanya berada di kompleks. Aku khawatir….”

Meiska menengadahkan wajah berucap seperti gumaman dalam tidur, ”Aku… aku… bagaimana aku bisa pulang seperti ini? Apa kata Bapak dan Simbok?”

”Kenapa dengan bapak dan simbok-mu?” tanya Anton, tak mengerti.

”Lihatlah wajahku… aku ndak punya alis.”

Anton menatap Meiska dengan kebingungan yang lain. Ditelitinya wajah gadis itu. Ada dua alis bagus di sana yang berasal dari hasil ukiran pensil alis sebuah tangan terampil. Saat itu Anton baru tersadar para PSK di kompleks itu umumnya tak beralis. Tapi, apa hubungannya tak beralis dengan keengganan gadis ini untuk diselamatkan?

“Bapak dan Simbok akan menerimamu apa adanya, Meis. Dengan atau tanpa alis.”

”Dulu alisku bagus.”

”Aku percaya.”

Meiska memeluk kembali Anton. Didekatkannya wajahnya ke dada pemuda itu. Pelan tapi pasti kegairahan Anton bangkit. Belum pernah dalam hidupnya ia merasai pelukan sehangat dan sepasrah ini dari seorang wanita muda. Dengan canggung diciumnya bibir kekasihnya itu. 

Meiska meresapi setiap kehangatan yang mengalir dari bibir Anton. Belum pernah dirasakannya ciuman yang begitu memabukkan. Ia bagai meneguk sari madu murni. Begitu segar dan manis.  Ingin Meiska tidur bersama Anton. Mencoba merasainya. Meiska membayangkan, tidur bersama orang yang dikasihi akan lain rasanya. Terlebih di tempat semacam ini, di alam terbuka disinari cahaya redup rembulan dan ribuan gemintang. 

Tapi, Anton tak ingin lebih jauh lagi. Otaknya terlalu tegang memikirkan rencana kebebasan gadis muda ini, sehingga tak ada ruang baginya untuk seks. 

Tangan Anton mengelus rambut Meiska pelan dan lembut seperti memberi perlindungan. Meiska terlelap dalam keterpesonaan yang sangat. Elusan tangan itu mengingatkannya pada elusan tangan mbah buyutnya. Meiska tersedu.

Keduanya bagai hanyut dalam mimpi dan tersadar kembali oleh sebuah suara.

“Meiska…,” seseorang memanggil dari atas. Hati-hati.

Keduanya menajamkan pendengaran. Mengasah kewaspadaan. 

Suara di atas memanggil lagi. “Meiska… Meis… ko di manakah?”

Itu suara yang sangat dikenalnya. Suara panik Vero. “Ya… sa di sini.”

“Capat ko naik. Bari su cari-cari ko. Dong ada marah-marah.”
Meiska buru-buru bangkit, menggenggam erat tiket yang barusan diberikan Anton kepadanya dan menyusupkannya ke balik baju dalamnya. Demi menjaga segala kemungkinan, segera setelah sampai di tanah datar, ia berlari secepatnya memutar menuju dapur rumah besar. Ketika berlari di bawah siraman cahaya bulan, tertangkap olehnya sosok tinggi besar Bari yang tengah berkacak pinggang di teras depan.

Napasnya serasa akan putus, ketika sampai di halaman. Sambil mengatur napas, ia berkata ketus, “Kaka cari sa-kah? Ada perlu apa?

Bari berbalik. Ia menangkap napas panjang pendek gadis itu. Alisnya berkernyit heran. “Ada perlu apa ko bilang? Ko su tau, ada banyak tamu. Ko menghilang ke mana?

“Menghilang ke mana? Sa tra ke mana-mana.

Tra ke mana-mana apa? Ko tra ada di ruang tamu.

Sa pipis.

“Pipis apa? Sa su cari ko sampai ke kamar mandi, ko tra ada di sana.



Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Pulang [7]"