Pulang [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:32 Rating: 4,5

Pulang [8]

Meiska pucat. Rasa panik yang sangat mendera dadanya membuat keberaniannya muncul. Kemudian sahutnya lagi, nekat, sembarangan, “Sa mo pipis di bulan atau di kutub, terserah sa. Kenapa Kaka ada urus orang pipis?

Segera Meiska melenggang menuju sofa besar di ruang tamu, tempat beberapa laki-laki telah menunggunya. Segera setelah duduk dirabanya jeans pendeknya. Dirasainya jejalan tiket di dalam sana. Ia mendorongnya sedikit, meyakinkan diri bahwa tiket itu tetap tersimpan rapi.

Bari marah benar. Belum pernah dirinya dibohongi sekaligus dikurangajari oleh anak buahnya semacam itu. Bila menuruti kata hati, ingin benar ia menyeret gadis itu membawanya ke kamar mana saja. 

Sekali dua kali memang Bari pernah mendesakkan keinginannya. Tentu ia berhasil. Tapi, Meiska segera melakukan aksi mogok setelahnya. Seminggu penuh ia mengaku sakit. Ketika akhirnya Bari menjenguknya, didapatinya bau bawang merah dan minyak tawon memenuhi kamar gadis berwajah bidadari itu.

Sedemikian rupa sandiwara itu berlangsung, sampai Bapa Gunung yang sibuk membawa sebuah dus besar terbungkus kertas kado merah muda pun, ditolaknya. Bari merasa rugi mendapati kenyataan demikian. Kini, ia tak hendak menentang keras gadis itu. Bari berlalu sambil mengakui kekalahannya untuk sementara waktu.

Pagi menjelang siang kala kapal penumpang Lambelu meniup peluit untuk ketiga kalinya. Para penumpang terakhir buru-buru naik ke atas kapal. Sebaliknya, sebagian pengantar yang masih tersisa di atas kapal buru-buru turun ke dermaga. 

Wisnu menjengukkan kepalanya ke bawah. Di bawah, di dermaga, dilihatnya Anton yang tengah menatap nanar gerbang keluar-masuk penumpang. Ia bersikap sedemikian rupa, seolah tak hendak beranjak dari sana.
Wisnu berteriak dari buritan kapal, “Anton… naik cepat. Tangga mau diangkat.

Telinga Anton tuli.

Beberapa petugas pelabuhan berjalan cepat menuju pinggir dermaga, untuk menyingkirkan tangga penghubung. Saat melintasi pemuda itu, mereka terheran-heran mendapati seorang calon penumpang seperti enggan naik ke atas kapal. “Nyong… (panggilan kepada anak muda) ko mo berangkatkah? Tong mo angkat ini tangga.

Anton menyerah kini. Tak guna lagi menyembunyikan jati diri. Dikeluarkannya laptop-nya dan dibuangnya tas plastik hitam yang sejak awal masa tinggalnya di kompleks telah mampu menyembunyikan benda berjubah abu-abu itu dari penglihatan semua orang. Sambil menenteng laptop, ditapakinya tangga kapal yang akan membawanya ke Jawa. Ia adalah penumpang terakhir yang naik ke atas kapal pagi itu.

Kapal bertolak perlahan meninggalkan pelabuhan Jayapura. Di dermaga para penumpang melambai-lambaikan tangan memberi salam terakhir kepada sanak atau kenalan. Tapi, hati Anton beku. Tak mampu direkamnya kemeriahan pagi itu.

Anton menarik napas panjang dan berat. Tak ada yang bisa dilakukannya kini, kecuali menerima kenyataan. Angin bertiup lembut. Baunya amis sekaligus segar. Ingat benar dirinya akan angin segar yang sama yang pernah dinikmatinya bersama Meiska di tepi danau.

Siang itu Meiska menatapnya sedemikian rupa, seolah belum pernah melihat wajah segar seorang laki-laki muda. Panggil aku Wening, Mas.

Namamu itu?

Ya... Mbah Buyut yang memberikan nama. Nama itu diambil dari namanya, Weningsari. Biar aku bisa halus dan diam seperti dirinya.

Wening, Anton merekam nama itu sepenuh hatinya.

Sesaat terdengar dering nyaring di ponselnya. Anton sedang malas berhubungan dengan siapa pun saat ini. Ponsel itu terus menjerit-jerit, sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya. Sesaat kemudian terdengar dering di ponsel Wisnu.

“Halo… ya, beres, Mas, jawab 

Wisnu, atas panggilan telepon Anggar Wibisono, wakil pimpinan sebuah 

LSM yang tengah menyelidiki women trafficking di Indonesia, khususnya di kawasan timur semacam Papua. Entah pertanyaan apa lagi yang diajukan Anggar, karena Wisnu segera sibuk ber-’ya’ dan 
ber-’beres’ melalui ponselnya.

“Dia baik-baik saja, Mas… ponselnya aktif, kok. Tadi barusan bunyi. Diam sejenak. Kemudian jawab Wisnu lagi, Nggak tahu, ya, Mas. Tempat kami berbeda, sih. Anton di Sentani… di Tanjung. Saya di Hamadi Pantai. Jarak kami tiga puluh lima kilometerlah.

Anton melirik. Ia tahu benar topik yang sedang dibicarakan Wisnu. Tapi, semangatnya telah runtuh untuk melayani siapa pun. Pikirannya menerawang ke mana-mana, sesak dan penat. Ia masih tak percaya kekasihnya telah mengkhianatinya. Bila mengingat segalanya, juga keyakinan yang dipompakannya, rasanya mustahil bila gadis itu tega memalingkan hati.

“Yah… ada keterlibatan aparatlah, Mas. Jelas terbaca ini. Wong akses masuknya cuma dua, bandara dan pelabuhan. Jadi, sebenarnya lebih bisa dan lebih gampang dideteksi, suara Wisnu lagi.

Angin laut bertiup lembut. Burung-burung camar terbang di udara. Ikan-ikan kecil berlompatan riang di permukaan laut. Laut biru jernih tampak di mana-mana, dari buritan juga dari anjungan. Semua orang menyambut keberangkatan kapal dengan riang. Semua orang?

Ya… Mas mau bicara langsung?

Wisnu menjauhkan ponselnya dan mengangsurkannya kepada Anton. Tapi, uluran tangannya terhenti di udara. Belum pernah dilihatnya wajah rekan kerjanya seberantakan itu. Segera diurungkannya niatnya semula. 

“O… anu… bagaimana kalau sebentar lagi Mas telepon? Ya... saya sampaikan nanti.

Kapal penumpang Lambelu langsung meluncur membelah Teluk Humbolt menuju laut lepas. Di salah satu sudut pelabuhan, seorang laki-laki tinggi besar menggeram senang. Dikeluarkannya segepok uang dan diangsurkannya kepada seorang pria berseragam. Setelahnya ia beranjak, memasuki sebuah ruangan, dan menarik seorang wanita muda berwajah bagai bidadari yang tengah terkulai lemas dengan sisa air mata di wajahnya. 

“Ayo, pulang,“ kata si tinggi besar sambil menyeret si bidadari muda keluar wilayah pelabuhan. (tamat)



Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nunuk Y. Kusmiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulang [8]"