Pulung [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulung [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:00 Rating: 4,5

Pulung [2]

“Mbak Rintan, sudah malam, mengapa tak keluar? Simbok sudah sediakan air panas untuk mandi.”

“Ya, Mbok. Sebentar lagi,” jawabku, tanpa beranjak dari kursi.

“Nanti airnya keburu dingin.”

“Baiklah, saya akan mandi sekarang, Mbok.” 

Dengan malas aku beranjak, tak ingin mengecewakan Mbok Yekti yang telah susah payah memasak air untukku. 

Bukan hanya itu, ketika aku bersiap ke kamar mandi, ternyata ia pun sudah menyiapkan teh panas di meja depan televisi. Aku menyeruput sedikit, merasakan nikmatnya teh buatan Mbok Yekti. Wanita sepuh itu telah berpuluh tahun mengabdi di sini. Sejak Mas Wisnu lahir hingga beranak dua. Tentu ia lebih mengenal rumah ini daripada aku. Betapa aku terharu waktu itu. Pada hari ketika Ibu meninggal, ia terus di sampingku. Menjagai dan menghiburku. Dan betapa meluap terima kasihku, karena ia tetap bersedia tinggal di sini. Ia kasihan padaku, karena hanya seorang diri menghuni rumah besar ini. 

Tempat inilah yang mempertemukan jodohnya, sekaligus membuatnya menjadi janda. Suaminya tukang setor dagangan batik yang dihasilkan rumah ini. Lalu jatuh cinta pada penjaga kios Pasar Klewer. Mungkin ia kawin lari dengan wanita itu. Karena, menurut Mbok Yekti, ia tak pernah pulang lagi setelah kedoknya diketahui ibuku. 

Mbok Yekti seperti menggantikan ibuku, meringankan kerepotanku dan membantu menyiapkan segala keperluanku. Sering, karena kesibukan yang menumpuk, aku lupa memberinya uang belanja, tapi ia tak pernah meminta. Baginya, tetap diizinkan tinggal di rumah ini dan mengurusku, itu sudah sangat membahagiakannya. Begitu katanya, ketika suatu hari aku memintanya supaya mengingatkan, jika aku lupa memberi uang belanja.
Aku sering memergoki ia memandangku lama, ketika duduk sambil nyakrik, memilah-milah batik menurut motif yang diproduksi di rumah ini. Atau, ketika aku melepas penat dengan nonton televisi. 

Ketika aku bertanya apa yang sedang ia pikirkan tentang aku, ia hanya menjawab, “Den Rintan hebat. Den Rintan adalah pahlawan bagi buruh-buruh batik di rumah ini. Karena, Den Rintan ternyata mewarisi bakat Ndoro Puteri. Makanya, tidak heran, kalau buruh-buruh di kebon sangat hormat dan sayang pada Den Rintan.”

“Begitu, ya, Mbok?”

“Iya. Masih ingat dulu waktu Ndoro Puteri bicara, bahwa Den Rintan ujian, Pakde Karto dan Pakde Marji puasa Senin-Kamis, nyenyuwun, mohon pada Gusti Allah supaya Den Rintan sukses. Kemarin, sewaktu Den Rintan meresmikan Rumah Batik, seluruh kebon mengadakan doa pada malam sebelumnya. Supaya usaha yang dirintis Den Rintan berjalan dengan baik. Rezekinya lancar. Karena, lancar bagi Den Rintan artinya juga lancar bagi para buruh itu.”

“Ah, Mbok. Mana bisa saya hidup tanpa pakde-pakde dan mbokde itu. Jelas saya tidak mungkin bisa hidup tanpa Yu Par atau yu-yu yang lain.”

“Itulah! Seperti yang Simbok bilang. Den Rintan hebat.”

“Mbok, dari tadi, kok, manggilnya pakai ‘Den’ terus. Kan sudah saya katakan berkali-kali, panggil saya Mbak, atau Rintan saja. Jangan pakai ‘Den’!”

“Baiklah. Tetapi, Simbok memanggil begitu karena Den Rintan keturunan Kanjeng Tumenggung Rekso Darmo.”

“Tumenggung juga manusia biasa. Nyatanya Romo bisa meninggal. Romo punya kelemahan. Bahkan, Mas Wisnu bilang, Romo meninggal karena ternyata Romo mengidap penyakit....”

“Sudah... sudah, Den Rintan. Tak perlu diingat lagi!”

“Ah, Simbok ini. Kalau masih memanggil ‘Den’, saya tidak akan meladeni.”

“Iya. Mbak Rintan, baiklah. Tetapi, harusnya Mbak Rintan percaya bahwa Ndoro Kakung....”

“Saya tetap saja ingat. Sebab, kata Mas Wisnu, Romo sakit karena banyak berhubungan dengan bermacam wanita.” Aku memotong kalimat Simbok. Wanita sepuh itu menunduk dalam. Lalu kemudian memandangku lagi dengan lembut.

“Ah, Ndoro Kakung itu priayi yang baik, Mbak Rintan.”

“Tetapi, mengapa tega berhubungan dengan wanita lain? Tanpa memedulikan perasaan Ibu?”

“Sudahlah, Mbak Rintan. Tidak usah mengungkit lagi. Ndoro Kakung dan Ndoro Puteri sudah tenang di alam sana.” 

Mbok Yekti akan terus menenangkan perasaanku. Ia memang suka mengingat dan mengucapkan betapa baik Romo dan Ibu.

Tetapi, suatu hari, ketika aku berbaring di sofa karena kelelahan setelah seharian bekerja di Rumah Batik, Simbok datang memijit kakiku. Seperti biasa, ia akan menceritakan banyak hal. Mendongeng tentang desanya, tentang zaman Londo atau tentang kenakalan kakak-kakakku semasa kecil. Lalu, seperti mendapat kesempatan, aku memintanya bercerita, bagaimana suasana ketika aku dilahirkan.

“Maafkan Simbok, Mbak Rintan. Rasanya Simbok sudah lupa. Semuanya lupa bagaimana Mbak Rintan ketika lahir. Apalagi, soal Den Bagus Wisnu dan Den Bagus Indra lahir. Maklum, sudah tua. Pikun.” Ia berkata sedikit gugup. Mbok Yekti lalu bergegas ke belakang dengan alasan mau memanasi sayur. Aku menjadi gelisah. Seolah ia enggan kuajak ngobrol lagi. Padahal, aku tahu betul, tentu banyak yang dia ingat tentang rumah ini. 

Aku akui, memang perasaanku terganggu, ketika suatu sore Bagas datang ke rumah saat aku sedang membersihkan album-album itu dengan kemoceng. Bagas menyempatkan membuka-buka, lantas kami berdua membuka-buka dan membahas foto-foto itu. Ia banyak komentar tentang masa kecil kami. Namun, ketika ia tak mendapati foto kelahiranku, ia menggoda dengan berkata, “Jangan-jangan kamu bukan anak Romo dan Ibu. Jangan-jangan kamu anak pungut, Rintan.”

“Kalau ternyata iya, bagaimana?”

“Aku tidak jadi meminangmu,” katanya, sambil tertawa. 

Aku tahu ia hanya menggoda, namun kalimat itu sangat manjur, membuatku ingin mencari foto kelahiranku. Tapi, satu-satunya orang yang tinggal di rumah ini, yang tahu banyak tentang keluarga ini, sudah mengaku pikun, meski usianya belum genap enam puluh tahun.

Berbeda dari Bagas, kekasihku itu tak pernah lagi mengingat, apalagi mengungkit soal foto. Sebenarnya, aku tahu Bagas biasa bercanda, meskipun kesehariannya selalu dipaksa berpikir serius. Sebagai seorang manajer di developer perumahan, ia dituntut inovatif dan sanggup bersaing. Tetapi, perkataannya sore itu, entah mengapa, tak bisa kuanggap canda saja. Sehingga, aku masih sering terganggu dengan kalimatnya. Ia tak jadi meminangku, seandainya aku hanya anak pungut keluarga tumenggungan. Ketika sekali lagi aku membicarakan tentang itu, ia kaget.

“Bagaimana mungkin hanya karena kalimat candaku itu kamu begitu resah, Rintan? Mestinya kamu pikir, bisa saja saat kamu lahir tukang foto yang dipanggil Romo berhalangan datang. Atau, tukang foto itu datang tapi hasilnya rusak. Sudah! Tak ada gunanya kamu memikirkan itu. Asal kamu tahu, Rintan, seandainya benar kamu bukan anak kandung Romo-Ibu, aku tetap mencintaimu. Tetap menikah denganmu dan akan memiliki anak-anak dari rahimmu. Maafkan aku kemarin bercanda. Aku tidak bermaksud serius, aku hanya bercanda. Mulai sekarang kamu tidak perlu memikirkan lagi. Oke?”

Aku mengangguk. Resahku berangsur hilang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indah Darmastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Pulung [2]"