Pulung [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulung [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:03 Rating: 4,5

Pulung [3]

Memang, selain Mbok Yekti dan kedua kakakku, Bagaslah orang yang mendukungku. Yang selalu menaruh perhatian kepadaku. Dulu, ketika aku membangun rumah batik yang kunamai Putri Kencana ini, ia banyak memberikan waktunya untuk mengurus tukang, memantau pembangunan. Bahkan, ketika aku membutuhkan dana mendesak, ia merelakan tabungannya. 

Hubungan selama tiga tahun yang telah terjalin, tepatnya setahun sepeninggal Ibu, membuatku kembali mendapatkan kemanjaan. Aku begitu percaya padanya dan rasanya tak mungkin aku jatuh cinta lagi selain dia. Sepertinya aku sudah hentikan langkah, karena telah menemukan yang kucari. Dia anak sulung, sedangkan aku bungsu. Mbok Yekti bilang, menurut hitungan Jawa, itu sangat klop. Cocok! Ya! Aku memang merasa cocok dengan Bagas. 

Tetapi, suatu hari pendapatku tentang hubungan kami berubah. Sebenarnya, aku takut mengatakan, tetapi harus kuakui bahwa aku jatuh cinta lagi. 

Awalnya hanya pertemuan biasa. Aku mengenalnya, ketika ia datang mengantarkan turis asing berkunjung di rumah batikku. Saat itu menjelang malam. Lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan. Ia bersama tamunya tampak lelah dalam balutan kaus oblong. Seperti kebanyakan pemandu, penampilannya biasa saja. Jauh dari necis, tetapi secara keseluruhan ia adalah pria yang menarik. Ketika berbicara, bahasa Inggris-nya begitu fasih dan enak didengar. 

Aku mengamati mereka berdua. Sekilas ia menolehku. Jika melihat cara dia memandang, barangkali ia menyangka aku pengunjung juga. Ia masih berbincang dengan kawan turisnya, saat aku datang mendekat. 

“Ada yang bisa saya bantu? aku bertanya. Ia menatapku dan turis itu juga memandangku. Ada senyum tipis di garis bibirnya. 

“Terima kasih. Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik rumah batik Putri Kencana ini? 

“Saya sendiri pemiliknya.

“Oh, kebetulan sekali! katanya, senang. “Namaku Pulung. Lalu ia memperkenalkan kawan turisnya. “Dia Fritz, kawan saya dari Belanda. Moyangnya orang Indonesia. Dulu juga perajin batik dan sekarang ia ingin melihat-lihat kreasi batik yang dulu pernah ditekuni moyangnya di kota ini.

“Oh! Menarik sekali.

“Tolong, Ibu...?

“Rintan. Nama saya Rintan, kataku, mengenalkan diri. 

“Begini, Ibu Rintan, saya kurang menguasai batik dan segala keunikannya. Tolong bantu saya memberi informasi untuk Fritz. 

Dengan senang hati aku menjawab banyak pertanyaan pria itu dan teman turisnya. Dari cara bertanya, mereka sepertinya memiliki keingintahuan besar tentang batik. Maka kujelaskan tentang proses pembuatan batik yang sangat makan waktu. Tentu saja proses itu kuhafal di luar kepala. 

“Kalau yang ini motif mega mendung. Ia menyimpan sejarah dan riwayat. Merupakan perkawinan dua budaya. Sunan Gunung Jati menikah dengan Putri Campa dari Cina. Jadi mega mendung lahir dari dua perbedaan yang disatukan. Mereka masih berjalan pelan mengikutiku. 

“Baik, Ibu Rintan. Sekarang, tamu saya ini ada keperluan. Ia ingin meminang gadis Indonesia, dan ia ingin mengenakan batik saat acara nanti. Bisakah bantu kami memilihkan mana yang tepat?

“Satriyo manah. Ambil untuk acara penyerahan peningset. Batik itu menggambarkan bahwa seorang lelaki telah berhasil memanah hati gadis pujaannya. Atau... wahyu tumurun. Dikenakan pada acara midodareni, malam menjelang pernikahan. Dan jadikan itu pengingat, kenang-kenangan. Wahyu tumurun adalah wahyu yang turun dari Yang Mahakuasa kepada dua hati yang akan disatukan. 

Mereka tampak puas dengan penjelasanku tentang dua jenis batik yang kusodorkan. Hasilnya, kedua motif itu pindah dari lemari kayuku ke tangan Fritz.

“Ibu Rintan, bolehkah saya meminta kartu nama Anda? 

“Tentu saja boleh, kataku mengangguk, dan mengambil selembar kartu nama motif kawung warna cokelat tua.

Tak kusangka, kejadian itu begitu membekas. Sepanjang sisa waktu, selepas pertemuan sore itu, aku banyak melamunkan seorang lelaki bernama Pulung. Aku tak tahu, apakah aku sedang mengalami kebosanan menjalani hubungan dengan Bagas, atau memang ia terlalu menarik sehingga hatiku tertawan. Diam-diam aku berharap ia kembali mendapatkan kerepotan tentang batik sehingga ia meneleponku dan kami bisa bertemu. Tetapi, ketika aku disibukkan lagi dengan banyak urusan dan pesanan, aku mulai melupakan tentang pertemuan sore itu. Namun, justru pada saat aku mulai lupa, Pulung meneleponku, ketika aku dalam perjalanan pulang dari rumah Bagas.

“Bu Rintan, saya ingin berbincang sedikit tentang batik. Kapan Anda punya waktu longgar?

“Jumat malam. Saya ada waktu.

“Waduh! Hari itu saya yang agak kerepotan. Bagaimana kalau Sabtu malam? 

Aku terdiam

“Maaf, rasanya saya salah menawar hari. Tentu hari itu adalah hari untuk keluarga Anda. Suami dan anak-anak.

“Saya belum bersuami dan belum memiliki anak.

“Ah, kalau begitu berarti waktu itu untuk kekasih Anda. Maaf. Mungkin hari Minggu saja? 

“Baiklah. Saya setuju.

Dan, hari Minggu yang kami rencanakan itu adalah lusa. Dua hari mendatang aku akan bertemu kembali dengan Pulung. Aku tak akan katakan itu pada Bagas, karena pertemuan kami adalah pertemuan bisnis, meskipun sebenarnya aku menginginkan lebih dari itu. Lebih dari pertemuan biasa.

Hari ini aku benar-benar lelah. Pekerjaan begitu menumpuk. Mengatur pesanan kawan yang tinggal di luar Jawa. Juga menyiapkan beberapa potong yang akan dibawa kakak Bagas ke Singapura. Sehingga, selepas isya, aku baru bisa pulang. 

Usai mandi, Mbok Yekti sudah selesai menata meja makan. Aku mengerutkan kening karena melihat banyak sekali yang tertata di sana. Melihatku diam memaku, Mbok Yekti hanya tersenyum.

“Mbok, makanan sebanyak itu, siapa yang akan menghabiskan?

“Ya, mana Simbok tahu, ini semua kan Mas Bagas yang nyuruh.

“Ngapain dia menyuruh menyiapkan makanan sebanyak itu? Tanpa kompromi lagi! kataku, sedikit dongkol, sambil berlalu ke kamar. Ketika aku sibuk memilih-milih kaus, Mbok Yekti mengetuk pintu lagi.

“Mbak, sudah ditunggu Mas Bagas.

“Biar, Mbok. Suruh dia makan dulu semua yang ia pesankan pada Simbok!

“Jangan begitu, tho, Mbak. Mbak Rintan jangan menyulitkan Simbok.

“Siapa yang menyulitkan? Ya, sudah, Simbok makan berdua sana dengan Bagas!

Hening. Tak ada jawaban. Ketika aku menunggu beberapa menit tetap tak ada suara, aku membuka pintu kamar.
Astaga! Di ruang makan telah berkumpul kedua kakakku beserta keluarganya. Juga Bagas. Ketika melihatku keluar, mereka serentak menyanyikan Happy Birthday. Aku terharu. 

“Rintan, selamat ulang tahun. Bagus menciumku, lalu membuka bungkusan itu. Ah, cantik sekali! Sebuah bros perak berbentuk canting. Air mataku hampir saja menetes, ketika Bagas menyematkannya di kausku. 

“Terima kasih, Bagas.

“Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, Rintan, sampai kau lupa tanggal lahirmu sendiri, Bagas berbisik sambil menepuk pipiku. Tak urung kalimatnya membuatku kembali teringat akan raibnya foto kelahiran. Yah, 28 tahun lalu, mestinya ada tukang foto yang mengabadikan saat pertama aku hadir di dalam luasnya dunia. 

Aku berjalan mendekat pada kakak-kakakku. Satu per satu mereka menyalami dan mengucapkan selamat ulang tahun. Tetapi, ketika tiba waktu aku menerima jabat tangan Mbak Sita, kakak ipar, ia geleng-geleng kepala. Sepertinya prihatin memandangku. Tetapi, Yosa keponakanku, langsung nyeletuk, “Tante Rintan, kok, bajunya jelek, katanya.

“Maaf, Sayang, Tante....

“Iya, Dik Rintan. Ganti baju sana! Biar serasi dengan Bagas!

“Maaf, Mbak Ambar, Mbak Sita. Saya benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indah Darmastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulung [3]"