Pulung [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulung [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:05 Rating: 4,5

Pulung [4]

Karena kakak-kakak ipar terus mendesak, akhirnya aku ganti baju juga. Meski kami hanya makan sup jagung, bakmi, dan nasi goreng spesial masakan Mbok Yekti, kami serasa makan di restoran. Malam itu di rumah sangat ramai, meriah, dan semua itu membuatku sungguh berterima kasih pada keluargaku. Aku bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian. Dan tentu saja terima kasih itu juga kuberikan pada Mbok Yekti. Juga Bagas. Bagas yang sering mengajak Mbok Yekti bersekongkol untuk memberi kejutan padaku. Aku yakin ini semua memang idenya. 

Bagas... andai kau tahu bahwa besok aku akan menemui seseorang yang tanpa kusangka telah melahirkan cintaku. Andai kau tahu....

“Ayo, pokoknya semua masakan Simbok harus dihabiskan, Mbok Yekti sibuk melihat siapa tahu ada yang perlu ditambah.
Hingga jauh malam, di rumah masih ramai.

“Bagas, kapan kalian akan menikah? Jangan terlalu lama menunda!” Mas Wisnu membuka pembicaraan tentang hubunganku dengan Bagas.

“Ah, itu, sih, terserah Rintan maunya kapan, Mas.”

“Terlalu lama pacaran tidak baik. Kalau kalian sudah merasa saling cocok, tunggu apa lagi?”

“Bagaimana, Dik Rintan?” Mbak Sita menatapku.

“Iya, pasti kami akan pikirkan.”

“Jangan cuma dipikir saja!” Mas Indra menyahut. Mereka tak tahu bahwa saat ini hatiku sedang tertawan oleh seseorang hanya dengan pandangan pertama. Perjumpaan yang hanya beberapa menit. 

Tanpa terasa, malam sudah menunjuk pukul sepuluh. Kakak-kakaku pulang karena anak-anak sudah mengantuk, tetapi Bagas masih tinggal.

“Rintan, bapak dan ibuku ingin bertemu kamu besok, kamu bisa ke sana, ’kan?”

“Besok? Bagaimana kalau lusa? Karena aku telanjur ada janji dengan rekan yang membutuhkan batik bukan hanya sekadar barang, tetapi juga beberapa penjelasan.”

“Rintan, jika menuruti pekerjaan, tak akan ada habisnya. Terus terang, Ibu sudah ingin kita segera menikah.” Aku diam. Sebenarnya aku tahu maksud pembicaraan ini. Tetapi... Pulung....

“Ya, sudah, lusa juga tidak apa-apa.” 

“Terima kasih untuk pengertianmu, Bagas.”

“Jam berapa kamu janjian dengan rekanmu?”

“Sore. Dia akan menelepon memastikan kedatangan.” 

Bagas hanya manggut-manggut. Dan, aku berjuang menyembunyikan debar dan bayangan Pulung.

“Bagas, sudah larut malam. Aku lelah. Bisakah...?”

“Oke... oke... aku akan pulang sekarang. Terima kasih. Selamat malam.” Ia menciumku. 

“Terima kasih kadonya,” kataku. 

Ia hanya mengangguk dan berlalu.

Semenjak siang hatiku diserang gelisah. Ada rasa takut kalau-kalau Pulung menggagalkan pertemuan. Semua bisa saja terjadi. Atau, tiba-tiba aku yang harus menggagalkan, entah karena apa. Tetapi, daripada aku terbawa gelisah tak menentu, sebaiknya aku merencanakan lokasi, seandainya Pulung meminta ngobrol di luar. Bukan di rumah batik ini. 

Ternyata dugaanku benar. Ketika Pulung datang pada petang seperti yang dijanjikan, ia meminta ngobrol di luar.

“Kafe Alang-Alang. Tempat itu tak jauh dari sini. Bagaimana?”

“Setuju,” katanya, senang. 

Kami datang ke kafe itu. Setelah memesan menu, kami langsung bicara pada pokok persoalan, yaitu menyampaikan pesanan batik dari Fritz untuk keluarga besannya. Tetapi, ternyata pembicaraan itu bukan hanya seputar batik yang sedang berjuang tetap hidup dan dicintai oleh negerinya, tetapi merembet juga tentang pengalaman-pengalaman kami yang menyenangkan dan menyedihkan. Tentang pekerjaan dan teman-teman. Tentang bioskop dan buku-buku bacaan. Lalu ketika pembicaraan merembet tentang keluarga, kuceritakan bahwa kedua orang tuaku sudah meninggal. 

Tanpa sadar pembicaraan terus terseret-seret. Hingga ia menceritakan tentang maksudnya menjatuhkan pilihan pada Solo, ketika dinas pariwisata menawarkan pilihan Bali atau Solo.

“Kenapa? Begitu menarikkah Solo sehingga kamu memilihnya? Bukankah Bali begitu kuat menarik turis?”

“Justru itu kurang menantang. Karena tanpa upaya banyak, Bali sudah menarik minat. Pantainya, budaya, dan tari Pendet-nya, juga mistisnya. Tetapi, Solo, aku ingin memperkenalkan bahwa Solo pun memiliki cita rasa yang sangat berpotensi ditawarkan pada turis. Selain....”

“Selain apa?”

“Aku ingin mencari ayahku.”

“Memang ke mana ayahmu? Mengapa harus dicari?”

“Ah, sebenarnya aku sangat sungkan jika harus menceritakan hal tersebut.”

“Oke, kalau begitu tak perlu diceritakan,” kataku.

“Rintan, kamu merasakan ditunggui Ayah, meski hanya belasan tahun. Aku? Aku sama sekali tidak. Bahkan, aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah ayahku seandainya bertemu. Tetapi, aku masih ingat saat dia datang, lalu menggendongku semasa kecil dulu.”

“Memangnya ayahmu...?”

“Pernikahan ibuku tergolong aneh, Rintan. Karena saat hari pernikahan itu, Ibu yang sudah berdandan bersanggul hanya pasrah menunggu pengantin laki-laki yang tak kunjung datang. Tetapi, ah... setelah lama ditunggu ternyata hanya beberapa utusan yang datang membawa keris sebagai pengganti pengantin laki-laki, yaitu ayahku.”

Aku terdiam. Aku tahu, Ibu pernah bercerita bahwa terkadang bila seorang bangsawan menginginkan seorang perempuan biasa, cara menikahinya hanya dengan keris, karena bangsawan merasa terlalu tinggi derajatnya untuk datang kepada keluarga pengantin perempuan. Mendengar cerita Ibu, hati kecilku geram, hanya segitukah nilai seorang perempuan yang dicintai? Hanya segitukah harkat perempuan ditandai?

Adat terkadang memang tidak adil.

“Mengapa kamu diam?”

“Ah, tidak. Saya hanya membayangkan seperti apa upacara itu.”

“Bukan upacara. Itu hanya tontonan bahwa Ibu dan keluarganya tak berdaya menghadapi laki-laki bangsawan. Yang menganggap derajatnya....”

“Tapi, akhirnya pengantin laki-laki itu datang, ’kan?” potongku.

“Iya, dong! Buktinya aku lahir.”

“Dan sekarang kamu masih lebih baik, karena kamu masih punya ibu, sedangkan aku sama sekali tak punya.”

Pulung. Baru dua kali aku bertemu, rasanya sudah mengenalnya sedemikian lama. Ia simpatik, baik, dan bersahaja. Ketika pembicaraan makin seru, ponselku berdering.

“Rintan, kamu sedang di mana? Aku sudah lama menunggumu di rumah.” 

“Aku masih bersama rekan.”

“Berapa orang di sana?”

“Banyak orang,” jawabku sembarang. Buktinya, memang pengunjung kafe ini banyak, kok. Ia segera menutup telepon setelah mengatakan, “Aku menunggu sampai kau pulang.”

Ketika aku menutup telepon, Pulung menatapku sambil berkata, “Mengapa tiba-tiba murung?”

“Tidak apa-apa.”

“Maaf, siapa yang meneleponmu?”

“Kekasihku.”

“Oh, sebaiknya kita lekas pulang saja. Nanti jika ada waktu saya akan mampir ke rumah batikmu.”

“Oke. Bisa kuminta nomor teleponmu?” pintaku hati-hati. Ia menyebut beberapa digit, lalu aku pamit pulang. Tetapi, ia tak segera beranjak.

“Kamu tidak ingin pulang?”

“Aku masih ingin di sini. Menikmati malam seorang diri sambil... menyesali mengapa kamu sudah memiliki kekasih.”

“Kau ini!” aku tahu dadaku berdebar keras.

“Maaf, lupakan kalimat tadi. Saya hanya bercanda. Lupa bertanya, siapa nama kekasihmu?”

“Bagas. Bagaskoro.”

“Nama yang bagus. Pasti dia seorang laki-laki yang baik.”

“Tentu saja.”

“Penuh pengertian dan bertanggung jawab, ’kan?” Ia menatapku lekat. Aku balas menatapnya. Ada debar terasa menyambar.

“Ya. Dia seperti yang kamu katakan. Baik. Sangat baik malah.” 

Ia manggut-manggut dengan mata tak lepas padaku. Sedikit senyum pahit tercetak di belah bibirnya yang cokelat. 

Tanpa getar ia berkata, “Salamku untuk dia, Rintan.” 

Lalu, ia melambaikan tangan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indah Darmastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulung [4]"