Pulung [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulung [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:07 Rating: 4,5

Pulung [5]

Aku pulang dengan hati patah berkeping. Sekeping buat Pulung, keping lain telanjur terpaut pada Bagas. Sudah kuduga hari-hari selanjutnya aku kerepotan mengatasi perasaan kangen yang amat sangat. Juga menghadapi desakan Bagas dan ibunya yang terus meminta kepastian tentang pernikahan. Tak kusangka hariku demikian rumit. Aku tahu, kerumitan itu bersumber pada hati. Pada keinginan.

Rasanya akhir-akhir ini aku memiliki kebiasaan baru. Waktu longgar yang biasa kupakai membaca majalah atau menonton TV, sekarang kugunakan duduk-duduk saja di beranda atau di pendapa. Memikirkan perjalanan hidup yang rasanya kini sampai pada persimpangan. Aku harus memilih dan menerima apa pun konsekuensinya.

Begitu juga dengan petang ini. Ketika aku duduk memangku tangan, membiarkan pikiran berkelana, Mbok Yekti datang membawakan teh panas dan emping melinjo manis kegemaranku.

“Mbak Rintan, maaf, Simbok mengganggu. Cuma mau bilang, persediaan beras hanya tinggal untuk besok,” katanya, sambil meletakkan nampan di meja.

“Astaga! Mbok, maaf, saya sampai lupa soal-soal begitu. Saya terlalu bergantung pada Simbok sehingga tak pernah memikirkan semua itu. Saya juga lupa belum memberi uang belanja buat Simbok.”

“Sudah, kok, Mbak Rintan.”

“Kapan?”

“Hmm... memang bukan Mbak Rintan yang memberi, tetapi Mas Bagas. Dia sangat maklum kalau Mbak Rintan lupa. Tetapi, kalau soal beras habis, Simbok tidak berani bilang pada Mas Bagas.” 

Aku terenyak. Ah, Bagas, Bagas yang kuabaikan ternyata begitu perhatian hingga persoalan kecil....

“Mbak Rintan, Simbok mengamati akhir-akhir ini Mbak Rintan murung terus. Dan....”

“Kenapa, Mbok?”

“Mbak Rintan makin kelihatan kurus, tidak mengurus badan. Lihat saja! Ini sudah hampir pukul delapan malam, Mbak Rintan belum mandi. Iya, tho?” 

Aku hanya tersenyum. 

“Itu! Mata Mbak Rintan tampak cekung. Sepertinya tidur selalu larut malam. Kerja, ya, kerja, Mbak. Tetapi, harus tetap cantik. Atau....”

“Apa lagi? Simbok sukanya bikin tanda tanya terus.”

“Mbak Rintan pusing memikirkan hari pernikahan? Simbok mengerti, karena Mbak Rintan harus mengurusnya sendiri. Andai saja Simbok bisa membantu.”

“Ah, Simbok sudah sangat membantu, kok. Saya tak bisa membayangkan seandainya di rumah ini tidak ditemani Simbok.”

“Tapi, Mbak Rintan itu pintar dan mandiri. Tentu Ndoro Kakung dan Ndoro Putri, kalau masih ada, pasti bangga pada anak bungsu tumenggungan ini.”

“Mbok..., saya sedang bingung.”

“Memang apa yang dibingungkan, Mbak?”

“Simbok pernah jatuh cinta?”

“Tidak.”

“Ha? Pasti bohong!”

“Tidak. Simbok tidak bohong. Simbok tidak pernah berani naksir orang. Mbak Rintan ini bertanya, kok, aneh.”

“Iya. Kalau menurut Simbok, bagaimana seandainya saya sudah punya kekasih, lalu jatuh cinta lagi pada lelaki lain?”

“Jangan, Mbak!”

“Kenapa?”

“Kasihan yang ditinggal. Kasihan Mas Bagas. Pasti nanti Mas Bagas akan sedih dan merana seperti saya. Mbak Rintan tahu kan dulu suami Simbok lari dengan wanita lain?”

“Sakit, ya, Mbok?”

“Suuaakit sekali, Mbak. Apa, sih, kurangnya Mas Bagas?”

“Dia sangat baik. Cuma....”

“Sudah! Pokoknya kalau Mbak Rintan meninggalkan Mas Bagas, Simbok mau pulang ke desa saja.”

“Ha...ha... ha... kenapa? Katanya, tidak mau pulang ke desa. Mau¬nya di sini sampai tua. Bagaimana ini?”

“Ya... Simbok tidak tega pada Mas Bagas.” 

Wanita sepuh ini tampak sungguh-sungguh. Sebab, ia berkata demikian sambil menahan air mata yang hampir menitik di sudut mata tuanya yang keriput.

“Ya, sudah, Simbok istirahat dulu, ya! Ini uang untuk beli beras.” 

Ia beranjak. Menerima uang dari tanganku dan berlalu.

“Mbok....” 

Mbok Yekti menghentikan langkah mendengar panggilanku.

“Jangan katakan apa-apa pada Bagas atau kakak-kakak.”

“Baik. Asalkan Mbak Rintan tidak jadi jatuh cinta lagi.” 

Aku tersenyum dengan kalimat itu. Dengan persyaratan yang sungguh lucu didengar. Begitu sederhana pikiran Mbok Yekti. Memaknai jatuh cinta dengan demikian lugu. 

Tetapi, pesan atau tepatnya permintaan Mbok Yekti, ternyata sulit sekali kuturuti. Nyatanya, aku dan Pulung malah saling menelepon dan mengirim pesan. Bahkan, kami berani pergi berdua. Aku tahu, Bagas menangkap gelagat itu. Sering kudapati ia sudah duduk di pendapa, ketika aku pulang dari Rumah Batik. Seolah ia menepis ketakutannya sendiri bahwa aku akan berkhianat.

Maafkan aku, Bagas, jeritku dalam hati.

Begitu kuatnya sosok Pulung, begitu menarik jalan hidupnya. Begitu mengharukan kisah hidup keluarganya. Sehingga, aku sangat ingin berkenalan dengan seorang wanita yang pernah menikah dengan keris dan dari rahimnya telah lahir seorang pria yang memukau, memikat, dan menjeratku sedemikian rupa. Masih begitu jelas dalam ingatanku, bagaimana mata itu menatap kala berkata, “Rintan, bibir dan matamu mirip sekali dengan ibuku. Kau cantik sekali. Sungguh berat untuk mengakui dan percaya bahwa kau sudah memiliki kekasih. Aku cemburu.” 

Tetapi, kenyataan bahwa aku telah memiliki kekasih, tak membuat kami putus komunikasi. Bahkan, kami makin sering menelepon. Pada malam kesekian, ketika aku dan Pulung berbincang di telepon, saling menceritakan hari kami masing-masing, ia terus bercerita seperti biasa: sangat menarik. Lalu, Pulung kaget saat mendengar permintaanku untuk boleh menemui ibunya, yang menurutnya ia adalah wanita paling perkasa dan tangguh. 

“Apa yang ingin kau dapatkan dari ibuku, Rintan?”

“Aku ingin sekadar berkenalan dan berbincang. Boleh, ‘kan? Aku ingin membuktikan omonganmu bahwa mataku mirip ibumu.” 

Akhirnya ia memang mengizinkan. Setelah sejam berkereta Pramex jurusan Solo-Yogyakarta, aku dan Pulung naik andong hingga sampai di rumahnya. Wanita itu kurus, kecil, namun kecantikan khas Jawa-nya masih tersisa pada wajahnya. Ah, seandainya ibuku masih hidup, barangkali sudah setua wanita ini. Hanya, tentu keadaan akan sangat jauh berbeda, karena secara materi ibuku tak kekurangan. Sedangkan wanita ini? Ia hanya memiliki Pulung seorang.

“Silakan istirahat dulu. Biar Ibu siapkan makan siang seada¬nya.” 

Wanita itu ramah, namun pandangannya dingin. Seolah menyembunyikan luka yang amat perih. 

“Nak Rintan asli Solo, ya?” dia bertanya usai menyiapkan makanan.

“Ya, Bu.” 

“Pulung sering bercerita tentang Nak Rintan.” 

Aku tersenyum saja. Tak tahu harus berkata apa.

“Nak Rintan tinggal di mana?”

“Di Kauman. Dekat keraton.” 

Wanita itu manggut-manggut. Sisa waktu siang itu banyak aku habiskan berbincang dengan Pulung, karena ibunya sudah menyibukkan diri di dalam.

Pada suatu malam, Pulung meneleponku. Memberi kabar bahwa ibunya sakit. Aku sangat ingin datang berkunjung dan menengok keadaannya. Sekalipun, barangkali, tak ada yang bisa aku lakukan, aku ingin menengoknya. Tetapi, tak kukatakan pada Mbok Yekti atau Bagas bahwa kepergianku ke Yogya bukan untuk urusan bisnis. 

Ketika aku sampai di rumahnya, aku melihat wanita itu hanya berbaring di kasur dengan mata terpejam. Selimut menutup tubuhnya hingga dada. Aku datang mendekat, menjamah kaki dan membetulkan selimutnya yang tersingkap pada kakinya. Pulung hanya menatapku. 

“Ada Rintan datang mengunjungi Ibu,” bisik Pulung, seraya mendekat ke telinga ibunya. 

Tetapi, wanita itu bergeming. Hanya membuka mata sebentar, lalu menutup lagi. Aku menghela napas. Teringat saat-saat terakhir ibuku membelai rambutku. Mengusap-usap punggung tanganku, sebelum akhirnya meninggalkan dunia menyusul Romo.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indah Darmastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Pulung [5]"