Ruang Anamnesa - Yang Lupa Terlahir dari Rahim - Berkarib Matahari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ruang Anamnesa - Yang Lupa Terlahir dari Rahim - Berkarib Matahari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:11 Rating: 4,5

Ruang Anamnesa - Yang Lupa Terlahir dari Rahim - Berkarib Matahari

Ruang Anamnesa

Kumulai dengan pagi membiru yang
tampak dari wajahmu pucat pasi
memberi arti bahwa jisimmu tengah dilanda
lara.

Lalu aku terka denyut jantungmu yang
makin hari kian pesat mendebar
menggetarkan duduk sunyiku di kursi biru,
matamu terbayang olehku pada lamunan
meninggalkan sejuta kenangan.

Sambil mewirid gulir waktu, aku menunggu
dirimu dari sudut pintu; debar dadaku terpaut
ke ruang penuh haru biru.
“Dimanakah kau yang tengah duduk di kursi
bisu?” aku bersuara dalam kesunyian.
Lantas, tak ada jawaban menenangkan!

Kuberpesan pada angin yang menyusup
lewat jendela rumah orang-orang sakit,
“jangan lagi perintah aku menghitung berapa
banyak nafas yang kutanggalkan juga kut-
inggalkan di puing-puing mimpi, tapi ajarilah
aku caranya mengecap dan mengecup
rindu, agar benar-benar bisa bebas dari
debar sekarat yang kian membelenggu akal
sehat untuk bertemu kekasihku.”
Purwokerto, Septemeber 2015

Yang Lupa Terlahir dari Rahim

: Sa’labah

Suaramu meruntuhkan dinding semesta
yang tengah dibangun tuan raja. Kau ban-
gun bangunan lain di atas kotoran keledai
juga kau cacimaki penghuni rumah yang
tiang-tiangnya rapuh dan hampir rubuh.

‘’Ingatkah dirimu sebuah sabda yang pernah
diutarakan dengan pedar berpendar, saat
memaksa jadi manusia paling gembira?’’
tanyaku.

‘’Tidak tuan, aku hanya ingin jadi manusia
yang tak ditelantarkan sepi, sebab aku ini
fakir dan tak mengerti bahwa gula bisa larut
di secangkir teh manis ini,’’ jawabmu.

Langit memberi kabar, memberi berita
pada saatnya nanti
kau akan merayakan manisnya siksa sampai
lenyap tak bersisa
Dan merepihlah semua udara dari dadamu
yang tak kuasa menatap masa.
Purwokerto, September 2015

Berkarib Matahari

Debu. Sungguh ia memenuhi selingkar
wajahnya, seorang papa dibasuh keringat
payah dan menyunggi harap di emperan
toko. Air. Air. Rintihnya.
Api!. Aku melahap panasnya; terasa men-
geringkan tenggorokan.

Lantas ia gusar menendang kaleng bekas
dan menekur diri dibawah pohon jati tepian
kota, menepis-nepis dan berkeluh meng-
hardik sepi, tersebab telah lama tak jumpa
anak dunia.

‘’Apalah siapalah aku, ibu kuasa menafsir
takdir bagi anaknya di dalam rahim dan
melahirkannya lewat saluran nafas dan
debar jantung?’’

Berapa lagi, yang musti aku hitung
musim yang mendidihkan kepala,
musim yang merana merindu pelukan
hujan; merebah dalam dekap buah hati.
Sedang ia berhari-hari menyulam takdir;
kulit kian melegam berkarib matahari
dan hela nafas tuntas tergenapi.
Purwokerto, September 2015


Muhammad Badrun, lahir di Darmakradenan, Ajibarang - Banyumas, 04 Juni 1994. Kini ia tinggal di Pondok Pesantren Al Hidayah, Karangsuci, Purwokerto - Jawa Tengah dan tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Purwokerto. Bergiat di komunitas Sastra Gubug Kecil (Kobucil). Puisinya dimuat di beberapa media massa dan terhimpun dalam beberapa antologi. Di antaranya Cahaya Tarbiyah (STAIN-Press, 2013), Rodin Memahat Le Penseur (UKM KIAS, 2014), dan lain-lain. Lima puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta dipublikasikan di Zine Indonesian Literary Collective (ILiC) Festival Frankfurt Book Fair tahun 2015 di Berlin - Jerman. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Badrun
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suaar Merdeka" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Ruang Anamnesa - Yang Lupa Terlahir dari Rahim - Berkarib Matahari"