Saksi Kayu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Saksi Kayu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:45 Rating: 4,5

Saksi Kayu

SUHARTI tidak pernah mengira: kayu-kayu yang sering dipungutinya setiap hari akan menyeretnya ke lembah kemurungan. Tak pernah berpikir pula ketika membakar batang kayu kering untuk menanak nasi, ia pun sedang menanak nasibnya sendiri. Tiga potong kayu yang menyeret mimpi buruk  ke hadapannya. Begitulah. Pagi itu setelah ia menanak nasi di dapur, datang dua orang dengan tubuh tegap. Bengis mereka melontarkan pertanyaan. Menyudutkan pula.

"Kau sudah mencuri barang milik orang lain, wanita tua!"

"Mencuri?"

"Jangan belagak bodoh! Kau harus ikut kami!"

Suharti yang kebingungan, pasrah digelandang ke kantor polisi. Bahkan ia yang tak pernah masuk kantor polisi, lekas tubuhnya bergetar. Apalagi saat ia didudukkan di depan mesin ketik, dan seorang polisi menatapnya tajam. Hatinya menggigil.

Tanya polisi itu, "Nama?"

"Suharti."

"Kesalahan?"

Wanita tua itu tercenung. Ia belum mengerti, mengapa ia dibawa ke kantor polisi. Gelisah dua manik matanya menatap. Peluh pun bercucuran dari kening dan tubuhnya.

Sahutnya linglung. "Aku tidak tahu!"

Mendadak polisi itu bingung. Ia mengerling ke arah dua pria  berbadan tegap yang membawa  Suharti.

"Dia mencuri kayu di kebun haji Samsul!"

"Aku tidak pernah mencuri!"

"Tidak ada pencuri yang mau mengaku, Pak!"

"Tetapi aku memang tidak mencuri!"

Polisi itu semakin bingung dengan dua laporan tersebut. Sedangkan Suharti mulai tersedu-sedu. Menangis. Wanita itumerasa difitnah oleh dua orang tersebut. Perdebatan pun tak terelakkan. Dua orang itu kukuh mengatakan, Suharti sering mencuri potongan-potongan kayu milik Haji Samsul. Bahkan setiap hari wanita itu acap memunguti kayu-kayu kering tanpa seizin pemiliknya. Akan tetapi kukuh juga Suharti dengan pendiriannya, ia tak pernah merasa mencuri. Ia memang sering mencari kayu untuk memasak, tetapi ia tidak pernah mengambil kayu milik Haji Samsul.

***
HAJI Samsul datang ke kantor polisi. Pria yang dikenal kikir itu dengan lantang membenarkan laporan. Mendengar tuduhan itu tangis Suharti pecah. Wanita berumur senja itu tidak pernah menyangka tindakannya yang sering memunguti kayu di luar kebun Haji Samsul, menyeretnya ke lembah penistaan. Namun melihat bantahan-bantahan yang dilakukan Suharti, polisi mulai menaruh curiga. Apalagi Haji Samsul yang tidak memiliki saksi lain. Polisi mengutusnya untuk mencari saksi tambahan.

"Tetapi wanita tua ini mencurinya!"

"Kami tetap membutuhkan saksi untuk mempertegas laporan Bapak!"

Akhirnya, Haji Samsul menarik diri. Mereka pulang mencari saksi di kampung. Sedangkan Suharti ditahan di penjara.

***
HAJI Samsul kebingungan mencari saksi. Tidak ada satu pun orang yang mau memberikan laporan kepada polisi. Bahkan tercetus kabar kalau ia rela membayar mahal bagi orang yang mau membantunya menjebloskan Suharti ke penjara. Ia ingin melunasi dendamnya di masa lalu, ketika keluarga Suharti pernah menggagalkan niatnya mencalonkan diri sebagai pejabat pemerintah.

Dahulu, Tarno, suami Suharti, memang pernah membuatnya sakit hati.  Ia dengan tegas membocorkan niatnya menelan sendiri uang anggaran kampung untuk biaya kampanye. Karena perangai buruknya, orang-orang mulai tidak memercayainya. Tidak seorang pun yang mau memilihnya. Bahkan beberapa sawahnya harus dijual untuk menutup kerugian. Merasa sakit hati, haji Samsul ingin membalaskan dendamnya. Akan tetapi dendam itu baru dapat ia lakukan setelah Tarno meninggal akibat sebuah penyakit aneh. Semacam teluh.

Karena merasa kebingungan mencari saksi mata dan ia tidak mau kalah lagi, akhirnya ia nekat membawa potongan-potongan ranting ke kantor polisi.

"Aku sudah membawa saksinya!"

"Silakan bawa masuk."

Dua orang pria tegap membawa potongan-potongan ranting kering. Satu persatu mereka mendudukkan ranting-ranting di kursi.

"Apa maksudnya ini? Kau memermainkanku!"

"Ranting-ranting ini akan menjadi saksi!"

Kau gila!"

Polisi itu menatap dengan wajah setengah berang ke arah Haji Samsul.

Sahut Haji Samsul. "Kalau tidak dicoba mana kita tahu!"

Ragu-ragu polisi itu mulai menanyai ranting-ranting kayu kering. Polisi tersebut merasa gila.

Tanya polisi, "Apakah kau mengenal wanita itu?"

Seperti ada keajaiban yang dilemparkan Tuhan, ranting-ranting kayu bergerak-gerak. Pun kemudian mengeluarkan suara.

Sahut ranting-ranting kayu serentak. "Iya kami mengenalnya!"

Mendengar jawaban itu suasana kantor polisi yang tenang pecah. Semua orang memandang penuh tanya. Haji Samsul pun tak menyangka rencana gilanya akan benar-benar menjadi nyata. Polisi itu gugup.

"Apakah wanita tua itu mencuri kayu-kayu di kebun Haji Samsul?"

"Tidak! Wanita itu tidak mencuri. Ia hanya mengambil kayu di luar kebun Haji Samsul."

Kilah haji Samsul. "Kayu-kayu itu berkata bohong!"

"Pria itulah yang berbohong! Seharusnya Anda tangkap koruptor itu! Ia pernah mencuri uang warga hingga ratusan juta. Ia hanya ingin menghapus jejaknya dengan mencelakakan Suharti." Kayu-kayu kering berteriak, memaparkan kesaksiannya.

***
BEGITULAH. Polisi tetap menjebloskan Suharti ke penjara. Bahkan ia meringkus ranting-ranting kayu karena dianggap memberi kesaksian palsu. Wanita tua itu dianggap telah mencuri kayu milik Haji Samsul. Dan tak ada orang yang dapat mengira peristiwa yang sebenarnya. Semua seperti lelucon. Karena hukum manusia memiliki caranya sendiri yang jauh lebih tak masuk akal daripada kisah pendek ini. (k) ❑ 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 1 November 2015
  

0 Response to "Saksi Kayu"