Sang Pengarang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sang Pengarang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:39 Rating: 4,5

Sang Pengarang

SEMASA mudanya, pengarang initidak pernah mencapai apa yang diimpikannya. Ia ingin menjadi penulis, menjadi pengarang. Ia bercita-cita menjadi pengarang yang dikenal banyak orang, yang termasyhur namanya.

Ia menulis setiap hari, setiap saat. Isi otaknya hanya menulis. Bagaimana menaklukkan kata-kata. Sampai tak ada lagi ganjalan. Licin. Mengkilat.Suatu tulisan yang dibayangkannya berkilau seperti bintang kejora. Apa yang tidak dicapai hari ini akan ia usahakan dengan bersemangat untuk dicapai esok hari. Ia menyiapkan diri seperti gladiator, harus menang dalam pertarungan berikutnya.

Sangat sulit ia tidur. Pikirannya selalu terganggu. Ingin terus menggosok kata-kata. Hanya saja, kilau bintang tak kunjung muncul dari kata-katanya, kalimatnya, tulisannya. Dibaca sendiri pun tak enak. Apalagi dibaca orang lain. Ia sadar sesadar-sadarnya tentang hal ini. Semua koran dan majalah mengembalikan tulisan yang dikirimkannya.

Sampai akhirnya ia berpikir, tampaknya tulisan adalah berkah dari langit. Hanya turun pada sejumlah manusia terpilih. Ia tidak termasuk satu di antaranya. Lebih baik aku berhenti, pikirnya.

Maka, mulai saat itu ia memasuki pergulatan baru: melupakan cita-cita jadi pengarang. Ia berusaha menghapus bekas pahatan cita-cita di otaknya untuk menjadi pengarang. Sesuatu yang tidak mudah.

Ia keluyuran malam hari. Minum bir dan wine di pub, kafe, restoran.Di salah satu pub bergaya Irlandia yang kemudian menjadi favoritnya, ia bertemu perempuan. Cantik, wangi, makmur. Pendeknya memenuhi seleranya. Seluruh indranya--dari penglihatan, penciuman, sampai saraf paling halus dan mekanisme organ seperti jantung--mengarahkan niat untuk mendekat, meraba, menyatu dengan wanita itu dalam kopulasi.

Mereka berkenalan, lalu bercumbu. Semua berlangsung kilat, sekilat akhir hubungan yang tak berkejuntrungan.Ia tak menyesal. Tak ada perasaan kehilangan. Ia tertarik pada perempuan lain lagi, di tempat lain lagi. Ada remaja belia, muda, dewasa muda, sampai setengah tua. Lengkap kategorinya. Cara bercumbunya beda-beda. Selalu terasa luar biasa di permulaannya. Begitu setiap saat, sampai akhirnya ia merasa bosan.

*** 
Ketika kebosanannya makin besar-termasuk kebosanan pada diri sendiri-ia memutuskan untuk meninggalkan kota. Buat apa tinggal di kota yang kian macet. Lagi pula, ia merasa tidak ada lagi yang dicari. Ia kembali ke rumah peninggalan orangtuanya di desa, di sebuah kota kecil.

Pertama-tama yang dilakukannya di sana adalah berbenah. Rumah ini terlalu lama tak dihuni, hanya dijaga dan dirawat oleh satu lelaki yang mengabdi pada keluarganya sejak kanak-kanak. Hanya pada kesempatan tertentu, ia dan saudara-saudaranya membuat janji, berkumpul bersama di situ, sembari mengenang orangtua yang sudah tiada. Biasanya pada akhir tahun.

Kini ia tergerak untuk memperbaiki rumah pusaka itu. Paling tidak agar agak sesuai dengan cara dan gaya hidupnya yang berubah, tidak persis seperti ia yang dulu lagi. Ya, rumah adalah perpanjangan atau keluasan tubuh sebagai hunian jiwa. Ketika jiwa berubah, hunian jiwa perlu berubah.Tak ada saudara yang berkeberatan dengan niatnya. Bahkan mereka gembira.

Berkembang imajinasinya. Bingkai jendela ia perbesar. Kusen kayu dibiarkan siku tanpa perlu lekukan (para tukang menyebutnya profil), hiasan, atau tetek bengek lain. Tak diperlukan pelituran. Dipadu dengan kaca bening, menggantikan kaca-kaca berwarna sebelumnya. Dengan langkah kecil ini saja, dalam seketika rumah terkesan menjadi modern, bahkan kontemporer. Ia takjub.

Beberapa sekat di dalam rumah yang ia rasa tak diperlukan lagi, ia jebol dan buang. Begitu sekat-sekat hilang, ia terinspirasi untuk menjadikan seluruh ruangan seperti loft—satu ruang besar mirip studio. Idenya terangsang dan terus berkembang. Seluruh lampu ia ganti dengan pendekatan baru untuk memberikan efek pencahayaan yang paling pas. Perabot termasuk lighting ia datangkan dari mana saja. Teman di kota besar yang wira-wiri ke luar negeri membantu mencarikan apa yang ia butuhkan.

Kerja yang menyenangkan. Tak pernah ia merasa sepuas ini. Duduk berlama-lama tanpa melakukan apaapa pun bahkan ia tak merasa bosan.Suasana alam sejatinya tak pernah sama pada setiap detiknya. Selalu ada suasana baru ia rasakan. Untuk ukuran cita rasanya sendiri, ia merasa berhasil menyatukan apa saja yang modern dan kontemporer di rumah ini dengan alam.Ia bermimpi, ayah ibunya tersenyum.

*** 
Saat purnama cahaya bulan leluasa masuk rumah melalui kisi-kisi kaca.Ia padamkan seluruh lampu. Tak ada yang bisa menandingi warna perak kepucatan yang jatuh ke lantai, membawa bayang-bayang pucuk cemara dan daun-daun bambu.

Bayangan kadang bergerak, seperti mega ditiup angin. Kalau dulu kelelawar hanya hidup dalam khayal romantik, kini makhluk itu benar-benar hadir, menyatroni rumah.

Tentu saja bulan purnama tidak datang setiap malam. Pada bulan tilem alias saat malam mencapai puncak kepekatan, hitam malam tak kalah kemampuannya menghadirkan pesona.

Ia menyalakan lilin-lilin di chandelier kuno yang ia dapatkan dari sebuah pasar loak. Tubuh dan bayang-bayang menyatu dalam pantulan cahaya lilin, menjadikan malam serasa begitu dekat dengan diri sendiri, bisa dimilikinya sendiri. Ternyata begitu mudah memiliki malam, begitu pikirnya. Cuma dengan lilin.

Gesekan sayap belalang mengeluarkan bunyi nyaring, memberikan perasaan hangat bahwa di sekeliling sini ada banyak teman, makhluk hidup dari serangga sampai burung malam. Paling ia sukai dan sering membikinnya tertawa dalam hati adalah suara burung hantu.

Bunyinya seperti orang tersedak. Tokek, entah bersembunyi di sudut mana dalam rumah, kadang memecahkan keheningan dengan suaranya yang agak serak dan bergetar. Pasti bapak tokek atau ibu tokek, karena ada juga suara yang lebih kecil. Itu anak tokek.

Ia mulai tahu, untuk menangkap ini semua kita harus menyelaraskan diri seirama malam yang merangkak pelan. Tak boleh ada ketergopohan.

Ia melakukan praktik coba-coba, melakukan segala sesuatu dengan serbapelan. Mengangkat gelas dengan pelan. Menggerakkan tangan secara pelan, begitu pula kaki, pinggang, pundak, dan lain-lain.

Praktik coba-coba ini mencengangkan.

Baru kali itu ia merasa kenal yang namanya tangan, pundak, pinggang, kaki. Meski selama ini semua itu bagian dari tubuhnya, sebagaimana juga bagian dari tubuh semua orang, sebenarnya selama ini ia kurang mengenalnya. Seolah-olah tangannya mengangkat gelas, padahal sebenarnya pundaknya yang bekerja. Ketika beban berat harus diangkat, ia membungkuk, berniat mengangkat, tumpuan beban tanpa disadari berada di pinggang. Itu rupanya yang sering menimbulkan sakit pinggang. Dengan mengenal secara baik tubuh berikut bagian-bagiannya, ia menjadi tahu, bagaimana memecahkan tenaga.

Temuan sederhana itu membuatnya bahagia. Ia terus melakukan pencarian lewat tubuh sendiri, setahap demi setahap, menuju persendian, otot, urat, saraf--termasuk organ-organ dalam seperti jantung, limpa, ginjal, dan lain-lain. Bagaimana prosesnya, ia tak sanggup menjelaskannya. Hanya dengan praktik, hanya dengan lelaku, katanya. Hidupnya bergairah. Pada setiap tarikan napas ia merasa menemukan keajaiban. Adakah itu yang disebut inspirasi, tanyanya pada diri sendiri.Seperti debur ombak yang terusmenerus menyapa dan mendatangi pantai, semua hal rasanya bisa ia tuturkan. Sungai di belakang rumah, burung branjangan berbulu biru yang suka bertengger di pohon waru, musang yang suka mondar-mandir, burung kecil yang menabrak kaca, semaput tapi bisa diselamatkannya dengan meneteskan air padanya, dan banyak lagi, termasuk janda di sana, yang menjemur beha dan celana dalam di halaman rumah.

*** 
Tangannya terbimbing untuk menulis.Kali ini ia menuliskannya di langit, di air, di udara. Tak ia pedulikan siapa yang mampu membacanya.

Kumbang dan serangga-serangga lain membantu mengembangkan apa yang ditorehkannya di udara menjadi kuncup-kuncup bunga, sebelum kemudian mekar penuh menjadi bunga warna-warni. Wanginya tersebar ke mana-mana.

Orang tiba-tiba mengenalnya sebagai pengarang: sang pengarang dari rumah di atas bukit Pancawati. Sebagian memuja-mujanya. Kemasyhuran mendadak ia dapatkan, tanpa ia ketahui dari mana datangnya, dan tidak pula ia pedulikan apa gunanya. Orang mencaricarinya.

*** 
Tak jelas ada hubungan dengan apa yang ia perbuat atau tidak, perlahanlahan menulis di udara dilakukan banyak orang. Muncul semacam tren: orang menulis umumnya dengan kalimat pendek-pendek. Banyak kata diungkapkan dengan singkatan.Apa saja mereka tulis: tentang cinta, kerinduan, kesepian, dan semua hal yang berhubungan dengan melankolisme, makanan, petunjuk hidup sehat, agama, politik, kutipan bakul jamu, hujatan, caci maki, dan lain-lain.

Udara yang tadinya bersih berangsurangsur menjadi kotor oleh kata-kata.Bikin sesak napas. Karena udara kotor, kualitas kehidupan merosot. Banyak orang menderita sakit--termasuk sakit jiwa.

Melihat ini semua, demi menjaga kehidupan, ia berjanji tak akan menulis lagi.

Ciawi, 2015 Bre Redana, menulis cerpen dan novel.Bukunya, Blues Merbabu (2011)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bre Redan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Sang Pengarang"