Kisah Sang Penulis [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:53 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [1]

Rumah itu lengang dan amat mengancam kala dilihat dari luar. Ada pohon mangga di halaman depan yang guguran dedaunannya dibiarkan berserakan tanpa dibersihkan. Di satu sisi yang lain, tampak gazebo dengan cat putih yang sudah agak terkelupas. Ada beberapa tanaman lain yang tidak ia tahu namanya berjejer menghiasi halaman, yang sayangnya tidak begitu terawat, sehingga memberi kesan muram.

Sejak menginjakkan kaki, Abel merasa rumah itu mirip rumah yang tak berpenghuni. Dengan helaan napas yang agak panjang, Abel mendorong pagar tinggi yang menjulang di hadapannya. Pagar itu berderit ketika membuka. Abel mengerutkan kening untuk mengusir kekalutan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Semua yang ia bayangkan beberapa minggu lalu ternyata jauh dari kenyataan. Amat jauh, bahkan.

“Kau yakin ini rumahnya?” 

Abel mengangguk. Dari ekor matanya, Abel dapat merasakan Jeffry mundur dua langkah untuk mengamati rumah itu secara keseluruhan. 

“Nggak salah, nih? Ini lebih mirip rumah hantu daripada rumah orang terkenal seperti dia. Yah, mantan orang terkenal, sih, tepatnya,” gumam Jeffry, sambil mengikuti langkah Abel yang  makin masuk ke halaman.

Seorang wanita, dengan wajah penuh senyum, menyambutnya di pintu. Penampilannya rapi dan kehangatan terpancar dari wajahnya. Wajahnya sangat cantik, hingga Abel bersumpah mendengar Jeffry menahan napas saking terpana. Abel balas tersenyum dan diam-diam menarik napas lega. Paling tidak, penghuni rumah ini tidak terlihat menyeramkan. 

“Saya Annabel Kesturi yang akan menulis biografi Pak Darmian Trisjoyo. Ini rekan saya, Jeffry. Jeffry seorang editor,” kata Abel, seraya memperkenalkan diri. Jeffry mengulurkan tangannya dan mengucapkan namanya. Ia tak lupa menyunggingkan senyumnya yang paling menawan.

“Saya Mariana, adik Mas Darmian,” sahut wanita, yang menurut taksiran Abel berusia sekitar tiga puluhan, dengan senyum terukir. “Mas Darmian sudah memberi tahuku soal kedatangan kalian. Mari, silakan masuk.”

Abel dan Jeffry mengikuti si empunya rumah. Abel kembali menarik napas lega karena bagian dalam rumah ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan kondisi di luar. Ruangannya bagus dan apik. 

Jeffry menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepasang matanya menyiratkan rasa geli. “Kau seperti orang yang kebelet pengin ketemu idolanya,” godanya. Abel ingin menyahut, tapi tiba-tiba muncul seorang gadis muda dari bagian dalam. Kedua tangannya memegang nampan dengan dua cangkir teh manis. Setelah meletakkan minuman untuk kedua tamu tuannya, ia langsung menghilang ke dalam.

“Namanya juga bakal ketemu dengan penulis senior. Sedikit banyak, yah, aku nervous, dong!” Abel berbisik dengan nada sebal. Jeffry menyambut kata-katanya dengan tawa kecil.

“Maaf sudah membuat kalian menunggu.”

Suara bas memutuskan percakapan antara Abel dan Jeffry. Segera, dua pasang mata terpaku pada sosok yang baru hadir. 

Laki-laki itu duduk di atas kursi roda, sehelai kain terlihat menutupi kakinya. Kedua tangannya dipangku di atasnya. Wajahnya agak tirus, mengungkapkan sedikit banyak kepahitan yang mungkin telah dialami si pemilik. Rambutnya lumayan panjang, nyaris menyentuh bahu. Ada beberapa helai rambut putih di bagian pelipisnya. Kacamata berbingkai emas bertengger di batang hidungnya. Yang paling menarik dari keseluruhan wajah laki-laki itu adalah sepasang matanya. Laki-laki itu memang cacat fisik, tapi sorot tajam matanya memancarkan kepercayaan diri yang mampu membuat orang segan padanya.

Bibir laki-laki itu menarik senyum tipis seraya berujar, “Saya Darmian Trisjoyo.”

Abel tidak pernah membayangkan perasaannya akan kacau-balau sehabis bertemu dengan Darmian Trisjoyo. Ia memang belum pernah bertemu dengan penulis yang namanya melambung karena novel-novel suspens yang sedikit dibaluri dengan filsafat itu. 

Sebelum menjadi penulis paling produktif --demikian media memberinya label, karena Abel mampu menerbitkan dua novel dalam satu tahun-- Abel sudah menjadi pembaca setia novel-novel Darmian Trisjoyo. Hingga saat ini, sudah ada empat novel Darmian Trisjoyo yang terbit di tanah air sejak ia memulai novel pertamanya hampir delapan tahun lalu. 

Novel pertamanya bahkan sudah diangkat ke layar lebar. Namun, sejak kecelakaan jalan tol yang dialaminya tiga tahun lalu, Darmian tidak lagi menerbitkan satu novel pun. Kecelakaan itu merenggut nyawa seorang teman dan juga membuatnya cacat dari pinggang ke bawah. Selain itu, tangan kanannya juga tidak dapat berfungsi baik, walaupun telah dioperasi sebanyak tiga kali. 

Abel ingat berita-berita di surat kabar maupun di televisi tentang kecelakaan nahas itu. Disebutkan dalam berita bahwa teman yang tewas dalam kecelakaan itu bernama Hariman. Ia kekasih adik perempuan Darmian Trisjoyo yang bernama Mariana. Ada gambar Mariana yang sangat kecil waktu itu. Berita itu cukup menghebohkan para penggemarnya, termasuk Abel. Setelah beberapa bulan, berita tentang Darmian perlahan-lahan menghilang. Berita terakhir yang Abel baca adalah bahwa Darmian Trisjoyo terpaksa pulang pergi Jakarta-Singapura untuk rehabilitasi.  

Sejak dulu, Darmian Trisjoyo sudah terkesan misterius dan tidak bersedia mengumbar kehidupan pribadinya di media. Abel sendiri menganggapnya sebagai salah satu faktor penarik hati pembaca. Apakah sang penulis juga sama misterius dan penuh pesona seperti tokoh laki-laki pemeran utama di dalam novel-novelnya? 

Hingga detik ia bertemu Darmian, Abel tak pernah menyangka ternyata sosok Darmian adalah sosok nyata dari tokoh rekaannya.

“Pihak penerbit sebenarnya menghubungi saya dua bulan lalu. Itu pun karena saya bertemu dengan Mbak Irna secara kebetulan. Gara-gara bincang-bincang singkat itu, Mbak Irna akhirnya melontarkan pertanyaan, ‘Kenapa tidak mencoba menulis autobiografi?’” Kata-kata itu meluncur dari Darmian.

Sesungguhnya, pertanyaan yang sama telah berputar-putar di kepala Abel, yang ternyata juga membuat kedua alis mata Jeffry bertaut waktu itu. Mengapa tidak menulis autobiografi saja? Mengapa harus meminta penulis lain untuk menulis biografinya? Bukankah kalau ia mengeluarkan autobiografi, besar kemungkinan Darmian akan mendapatkan kembali perhatian dari para penggemarnya? Sebuah gebrakan yang amat dinantikan setelah sekian lama vakum.

“Tapi, saya agak kewalahan gara-gara kondisi tubuh saya sekarang. Ada masa-masa yang kurang nyaman bagi saya, sedangkan untuk menulis, saya harus duduk berjam-jam… Jadi, saya pikir kenapa tidak membuatnya jadi biografi saja?” lanjut Darmian Trisjoyo. Abel mengangguk-angguk. 

“Dan saya dengar dari pihak penerbit, Nona Annabel sudah pernah membaca semua novel saya,” kata Darmian lagi. Ada nada sedikit menyelidik di sana. Abel tersenyum.

“Ya, saya penggemar Anda. Saya suka sekali dengan gaya Anda menulis.” Abel tersenyum. Darmian menatapnya lama, nyaris membuat Abel salah tingkah.

“Gaya saya menulis?” Darmian bertanya. Suaranya terdengar tertarik.

“Benar! Saya benar-benar suka Anda!” sahut Abel, dengan penuh semangat. Jeffry tiba-tiba terbatuk. Abel segera menyadari kesalahannya. Ia buru-buru mengoreksi, “Hmm, maksud saya, bukannya saya suka pada Anda, tapi saya suka pada novel-novel Anda! Eh, tapi saya juga bukannya tidak suka pada Anda! Aduh, aku ngomong apaan, sih?”

Darmian dan Jeffry tertawa melihat Abel yang jumpalitan. Wajah Abel langsung merona karena malu. 

“Oke, saya paham,” Darmian mengangguk-angguk, masih dengan senyum simpul di bibirnya. “Saya senang ternyata yang akan mengerjakan biografi saya kenal dengan novel-novel saya. Saya pikir, kita pasti bisa bekerja sama.”

Abel mengembuskan napas dan tertawa lega. Suasana kaku kini mencair. “Saya juga berharap begitu.”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [1]"