Saronen - Baut - Penebar Sauh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Saronen - Baut - Penebar Sauh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Saronen - Baut - Penebar Sauh

Saronen*

Bagaimana menerjemahkan suaramu
di tengah badai yang makin sering menegur
tidurku?

Padahal telah kumulai tirakatku di gua garam
kesunyian mengasinkan separuh per-
jalananku
menyempurnakan rasa waktu yang beku
hingga beribu buih menjelma kata dan udara

Kucari kembali nadamu di antara daun gugur
lembab jerami atau mungkin terjal batu
yang keras lelantun kidungnya mengokohkan
warna langit di mataku

Namun yang kutemukan selalu saja perem-
puan tua
menjinjing arsip-arsip lusuh
tempat ayah-ibuku dulu menyematkan cita-
citanya
yang terlalu muluk dan istimewa

Sekarang perempuan tua itu persis berdiri di
depanku,
katanya, ìmulut zaman tak lagi memiliki bibir
yang indah
untuk meniupkan saronenmu.

Dan aku hanya terdiam
mengelus debur yang makin garam
dalam darahku

Kebumen 2015

*Saronen; alat music tiup tradisional Madura.

Baut

Telah kutemukan lubang paling jeram pagi ini
tempat segala peluh dan keluh menyatu
membentuk putaran-putaran waktu yang
makin rekah

Kau berkata kalau kita perlu membuat
lingkaran
dari lendir mimpi yang tertahan di bibir gelas
lalu menunggu seorang pengelana datang
yang gemar melacak setiap bubung keting-
gian
dengan peralatan seadanya

Tanyaku, mengapa tak kita masuki sendiri
lubang itu
sebelum matahari menyeberangi gemuruh
laut
yang selalu lupa menundukkan keningnya di
pagar pantai?

Dan kau tersenyum, menyemburkan debu-
debu jalanan
yang terus menusuk laut hingga kerang dan
karang
melingkarkan geleparnya di kedua tanganku
sebelum akhirnya mereka menelusup masuk
menjadi maut dalam diamku

Kebumen 2015.

Penebar Sauh

- D Zawawi Imron

Di bawah rembulan yang bangkit
dari tujuh lembar air laut
ia mengobral aroma garam
kemudian dilecutnya punggung ombak
dengan seutas rambut istrinya
yang dicabut dari datar hari yang gemetar

Langit membentang arah
dua butir bintang terpuruk
ke dalam bau amis
yang dikekalkan pagi, kopi dan juga puisi

kita harus berlabuh
menurunkan segala yang bernama kebim-
bangan, ucapnya

Lalu matahari tumbuh
dari serakan sampah dan pasir
sinarnya memungut jejak kaki
mengabadikannya dalam senyum para istri
yang terus melambai dari kutub-kutub sunyi

Kebumen 2015.

Salman Rusydie Anwar, lahir di Sumenep 1981. Bergiat pada Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Forum Sastra Kuwarasan Kebumen.. Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi puisi bersama, antara lain; Herbarium (2007). Kini tinggal di Banjareja, Jawa Tengah. (92)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 15 November 2015

0 Response to "Saronen - Baut - Penebar Sauh"